Dulu ia Kaisar Pil Jiwa Bintang. Penguasa Sembilan Benua.
Tetapi, satu tusukan dari murid kesayangannya, membuat ia mati. Sekarang, Murid itu naik tahta menjadi Dewa Alkemis yang disembah seluruh benua.
500 tahun kemudian, Lin Xuan terbangun.
Bukan di singgasana. Tapi di tubuh seorang sampah. Tubuh dari Tuan Muda Keluarga Lin yang meridiannya hancur, menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Tunangannya menghina, pamannya meracuni dan semua orang menunggu ia mati.
Mereka salah besar.
Karena di dalam jiwanya, Kuali Naga Hitam yang berkarat ikut bangkit. Di kepalanya, ingatan 500 tahun teknik alkimia bertarung yang bisa membakar langit tidak hilang.
Lin Xuan tidak mau sekadar bangkit. Ia mau berburu 18 Api Surgawi. Mengubah tubuh cacatnya menjadi kuali hidup.
Mengubah bahan sampah menjadi pil dewa. Dan naik lagi ke Benua Ke-9 untuk satu hal:
Menagih darah dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Formasi Ledakan Sembilan Istana
Tiga hari berlalu.
Bagi warga Kota Awan Merah, tiga hari ini terasa seperti ketenangan sebelum badai. Desas-desus menyebar ke seluruh kota, bahwa Tuan Muda cacat Keluarga Lin telah menggagalkan pemberontak di keluarganya, dan mengumumkan perang terhadap Keluarga Zhao.
Banyak yang menganggap Tuan Muda Keluarga Lin itu sudah gila. Karena Keluarga Zhao saat ini sedang berada di puncak kejayaannya.
Sementara itu, Pemimpin Zhao Wuji kabarnya selangkah lagi memasuki Pembentukan Fondasi. Melawan mereka sama saja seperti semut melawan gajah.
Namun, di Halaman Bambu Hijau, Lin Xuan tidak peduli sedikit pun dengan omongan orang orang.
Di atas meja batu, tergeletak sembilan bendera kecil dari Kayu Besi Seratus Tahun. Ia mengukir rune-rune kuno di permukaan kayu keras itu dengan Api Teratai Bumi Terdalam.
Setelah selesai, ia menuangkan cairan Raksa Merah yang dicampur Pasir Petir Api ke rune tersebut.
"Selesai," ucap Lin Xuan sambil meletakkan bendera kesembilan. Wajahnya agak pucat, namun matanya memancarkan kepuasan.
Mengukir Formasi Ledakan Sembilan Istana dengan kultivasinya sekarang sungguh menguras jiwa.
Di luar, terdengar langkah kaki berat yang berbaris seragam.
Lin Xuan membuka gerbang. Di pelataran, lima puluh penjaga Keluarga Lin berdiri berbaris tegak. Tidak ada lagi penjaga lemah di antara mereka.
Semuanya kini berada di Tingkat 4 dan 5. Sementara Penatua Pertama Lin Zheng dan Kedua Lin Wu yang berdiri di depan bahkan telah mencapai Tingkat 7 yang sempurna.
Ini adalah pasukan yang cukup kuat untuk ukuran Benua bawah. Kedua penatua itu akhirnya menatap Lin Xuan seakan menatap seorang dewa.
"Tuan Muda, Pasukan Darah Besi Lin siap menerima perintah!" lapor Penatua Pertama.
Lin Xuan menatap langit malam yang tanpa bintang.
"Malam ini, tidak ada negosiasi," ucapnya tenang, namun niat membunuhnya membuat suhu di sekitarnya seketika anjlok. "Siapa pun dari keluarga Zhao yang mengangkat senjata, bunuh sampai habis. Kita bersihkan keluarga sampah dari Kota Awan Merah malam ini."
"Siap, Tuan Muda!!" lima puluh suara meraung bersamaan.
****
Di Kediaman Keluarga Zhao.
Berbeda dengan Kediaman Keluarga Lin yang sederhana, Kediaman Keluarga Zhao berdiri seperti benteng perang. Dinding luarnya setinggi delapan meter, tersusun dari batu granit hitam yang sulit dihancurkan.
Di atas tembok gerbang utama, puluhan pemanah elit telah bersiap, dengan anak panah yang telah dilapisi racun.
Di tengah mereka berdiri Zhao Wuji, sang Pemimpin Keluarga Zhao.
Di sampingnya, Zhao Kuang berdiri pucat dan gemetar. Tak jauh dari sana, Zhao Tian duduk di kursi roda, wajahnya penuh kebencian akibat meridiannya yang telah hancur.
"Pemimpin, mereka telah datang," lapor seorang pengintai yang melompat naik ke atas tembok.
Dari ujung jalan gelap, terdengar langkah kaki yang teratur. Tak lama kemudian, Lin Xuan berjalan pelan memimpin barisan lima puluh penjaga Lin.
Melihat jumlah pasukan Lin yang hanya sedikit itu, Zhao Wuji tertawa hingga tawanya bergema memenuhi seluruh jalan keluarga Zhao.
"Hanya lima puluh orang? Hahaha. bocah sialan, nyalimu besar, tapi otakmu kosong!" teriak Zhao Wuji dari atas tembok. "Zhao Kuang bilang kau menyembunyikan kekuatan, Tapi hari ini kau menantang keluarga Zhao disini itu sama saja mencari mati.!"
Zhao Wuji mengangkat tangannya. Tanah seketika bergetar. Tirai cahaya kuning keemasan yang tebal muncul dari dalam tanah, menyelimuti seluruh Kediaman keluarga Zhao setengah lingkaran.
"Ini Dinding Besi tingkat Menengah! Tiga orang yang berada di Tingkat 9 menyerang selama tiga hari pun tidak akan sanggup menembusnya!" sombong Zhao Wuji. "Di dalam keluarga Zhao, aku memiliki dua ratus anggota elit. Kalau kau berlutut sekarang, merangkak, dan menjilat sepatu anakku yang kau lukai, mungkin akan kubiarkan kau mati dengan tenang!" Suaranya menggelegar mengarah ke arah Lin Xuan di kejauhan.
Zhao Tian di kursi roda ikut berteriak, "Ayah, Jangan langsung dibunuh, Potong dulu uratnya, biar aku siksa pelan-pelan!"
Barisan Keluarga Lin sempat terhenti. Penatua Pertama Lin Zheng menelan ludah. "Dinding Besi... Tuan Muda, ini akan menguras banyak Qi kalau kita mencoba menghancurkan nya dengan paksa. Bagaimana kalau kita mundur dan mencari celah lain?"
Lin Xuan berhenti dua puluh meter dari gerbang yang dilindungi cahaya kuning itu. Wajahnya sama sekali tenang .
"Mundur? Hanya karena tempurung kura-kura usang ini?" Ia mendengus sinis. "Di mataku, ini bahkan tak pantas disebut Formasi pelindung. Ini seperti peti mati emas yang kalian bangun untuk dirinya sendiri."
Lin Xuan kemudian mengangkat tangan kanannya. Di sela-sela jarinya, sembilan bendera kayu kecil tiba-tiba muncul.
"Zhao Wuji, kau bertanya kenapa aku hanya membawa lima puluh orang?" Suaranya datar. "Karena aku tidak datang untuk berperang. Aku datang untuk memusnahkan kalian"
WUSH!
Dengan lambaian tangannya, ia melemparkan sembilan bendera itu ke udara, seketika bendera itu menancap di sembilan titik berbeda di sekeliling gerbang Zhao, membentuk formasi sembilan bintang yang mengelilingi Dinding Besi.
Melihat itu, Zhao Wuji tertawa meremehkan. "Hanya potongan kayu? Hahaha, bocah bodoh!"
Lin Xuan tersenyum melihat Zhao Wuji. Ia menjentikkan jarinya, mengirimkan setitik kecil Api Teratai Bumi Terdalam ke udara, yang seketika pecah menjadi sembilan percikan api dan menyambar ujung setiap bendera.
"Sembilan Istana. Meledak."
Setelah api biru itu menyentuh bendera, Raksa Merah dan Pasir Petir Api di dalam ukirannya bereaksi brutal terhadap panas ekstrem Api Surgawi.
Sembilan titik itu saling terhubung, menarik paksa energi dari Dinding Besi milik Keluarga Zhao dan membalikkannya dalam sekejap.
Yang terjadi setelahnya adalah...
Boomm!!!!!
Ledakan dahsyat merobek kegelapan malam Kota Awan Merah. Gelombang api merah bercampur petir menyapu seluruh gerbang utama.
Dinding Besi yang dibanggakan Zhao Wuji hancur seperti dihantam palu raksasa. Tak berhenti di situ, ledakan itu turut menghancurkan gerbang granit hitam setinggi delapan meter hingga berubah jadi puing puing yang beterbangan.
Puluhan pemanah di atas tembok bahkan tak sempat menjerit sebelum tubuh mereka hangus terbakar. Seluruh pelataran depan Kediaman Zhao disapu badai api, puluhan anggota elit mereka tewas dalam hitungan detik.
Tanah berguncang hingga terasa oleh warga di ujung kota.
Ketika asap tebal dan debu perlahan menghilang, yang tersisa hanyalah pemandangan yang mengerikan. Gerbang megah itu lenyap, digantikan kawah raksasa yang masih mengepulkan asap.
Di tengah kawah, Zhao Wuji berdiri dengan jubah harimaunya yang hangus. Sebagian wajahnya berdarah terkena serpihan batu. Andai ia tak segera mengaktifkan Qi Setengah Langkah Pembentukan Fondasi nya, ia pasti sudah tewas.
Namun orang-orang terdekatnya tak seberuntung itu. Zhao Kuang terkubur di bawah reruntuhan, sementara Zhao Tian terlempar dari kursi rodanya, tak sadarkan diri dengan luka bakar yang parah.
"Tidaaaak.Bentengku." Zhao Wuji meraung histeris, matanya merah membara melihat lebih dari separuh pasukan anggotanya musnah hanya karena beberapa potong kayu.
Di seberang kawah, pasukan Lin yang terlindungi tirai Qi Lin Xuan berdiri terpaku. Penatua Pertama dan Kedua menelan ludah dengan ngeri.
Mereka baru sadar malam ini, musuh paling menakutkan di dunia bukanlah pasukan besar, melainkan seorang anak muda dihadapannya.
Dari balik kepulan asap, Lin Xuan melangkah pelan memasuki wilayah Zhao, menginjak puing gerbang mereka. Jubah abu-abunya bahkan tak tersentuh debu sedikit pun.
"Tempurungmu sudah pecah, Zhao Wuji," ucapnya dingin, sambil menghunuskan pedangnya. Pedang itu seketika memerah, dialiri Api Napas Naga. "Sekarang tunjukkan padaku kehebatan Setengah Langkah Pembentukan Fondasi-mu yang selama ini kau banggakan itu."