Dianggap sampah tanpa bakat. Dikhianati oleh seniornya sendiri. Dan dipaksa menyaksikan kematian sang guru di depan mata.
Hiraisin hanyalah murid terbuang di Sekte Awan Putih yang dianggap tak punya masa depan karena meridian tubuhnya terluka. Namun, di tengah gempuran brutal pasukan Raja Kegelapan, darah Hiraisin menetes di atas hulu pedang patah berkarat—membangunkan rahasia purba yang lama tertidur.
Segel di tubuhnya hancur. Petir dari langit menyambar, membakar meridiannya dan membangkitkan legenda yang telah lama punah: Pedang Kilat.
Kini, dengan luka pengkhianatan di dada dan percikan listrik yang sanggup merobek malam, Hiraisin memulai perjalanan darah. Di hadapannya berdiri jutaan pengikut iblis, para jenderal mengerikan, dan Raja Kegelapan yang menguasai takhta dunia.
Satu tebasan telah lahir. Dan kegelapan tak akan pernah sama lagi.
"Saat dunia dikuasai bayang-bayang, kilat adalah satu-satunya keadilan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astrius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabut Kematian & Pembantaian Legiun Bayangan
Matahari pagi terhalang total oleh tebing-tebing karang raksasa yang menjulang tinggi bagaikan deretan tengkorak manusia yang membeku dalam jeritan. Di dasar Lembah Tengkorak, udara bertiup kencang membawa aura kebusukan yang amat pekat. Tanah di bawah telapak kaki mereka berwarna hitam keabu-abuan, gundul tanpa sebatang rumput pun yang sanggup tumbuh, dipenuhi oleh serpihan tulang-belulang kuno dan zirah-zirah berkarat sisa pertempuran masa lalu.
Namun, ancaman paling mematikan dari lembah ini bukanlah medan tanahnya yang tandus, melainkan Kabut Pembusuk Jiwa—sebuah lapisan kabut tebal berwarna ungu kehitaman yang menggantung rendah sejauh mata memandang. Kabut beracun ini merupakan wujud nyata dari sihir kegelapan Abyss yang diciptakan untuk mengikis Dantian, merusak pembuluh darah, dan membakar jiwa siapa pun yang menghirupnya.
SZSSSH!
Begitu Hiraisin, Liora, dan Kapten Roderick melangkahkan kaki melewati gerbang tebing lembah, kabut ungu kehitaman itu mendadak bergeliat hidup bagaikan kawanan ular berbisa, meluncur deras hendak menggulung tubuh mereka.
"Mutiara Es, pemurni samudera!" seru Liora sigap.
Gadis tabib itu menancapkan tongkat kayu serojanya ke tanah, sembari mengalirkan Qi Seroja Kehidupan secara masif ke dalam Mutiara Es Jiwa Samudera. Seketika itu juga, mutiara kristal yang melayang di udara memancarkan lingkaran gelombang es dingin bersuhu nol mutlak.
CLANG-FROST!
Ketika kabut racun pembusuk menyentuh kubah perak kebiruan dari Mutiara Es, partikel-partikel racun tersebut membeku seketika di udara, berubah menjadi serpihan kristal es racun berwarna kehitaman yang gugur dan pecah berderai di atas tanah. Udara di dalam kubah pelindung mereka terasa teramat sejuk, segar, dan jernih dari segala benturan sihir pembusuk.
"Kerja bagus, Liora," puji Kapten Roderick seraya menggenggam pedang besar Runa miliknya dengan erat. Matanya yang tajam mengawasi kegelapan di balik kabut. "Tapi bersiaplah... kita tidak sendirian di sini."
KRRRRRAK! KRRRRRAK!
Suara gemeretak tulang dan benturan zirah besi bergema dari segala penjuru lembah. Tanah hitam di bawah kaki mereka bergetar hebat. Dari balik reruntuhan batu dan lapisan tanah tandus, ratusan—bahkan ribuan—tangan-tangan tengkorak berwarna hitam legam menerobos keluar!
Mata tengkorak-tengkorak itu menyala dengan pendar api jiwa berwarna merah darah. Tak hanya pasukan tengkorak biasa, dari balik kabut racun melangkah pula ratusan Ksatria Bayangan Abyss—makhluk-makhluk raksasa berzirah baja hitam tanpa wujud fisik murni, yang memegang tombak ganda dan pedang besar beracun.
"Ini adalah Legiun Bayangan milik Valthor..." gumam Roderick seraya mengetatkan kuda-kudanya. "Mereka adalah prajurit-prajurit gugur yang jiwanya diperbudak oleh sihir kematian!"
"Hancurkan mereka hingga tak menyisakan abu!" raung sebuah suara bertumpuk yang memantul dari balik tebing. Legiun bangkai itu menerjang maju bagaikan gelombang pasang hitam yang siap menelan kubah pelindung Liora!
"Biar aku yang membuka jalan!" seru Kapten Roderick penuh semangat bertarung.
Ksatria veteran itu melompat ke garis depan. Pedang besarnya memancarkan Runa perlindungan dan dorongan angin raksasa. Dengan satu ayunan melingkar yang dahsyat, tebasan gelombang angin Roderick memenggal puluhan tengkorak dan meremukkan zirah-zirah ksatria bayangan di barisan terdepan!
BOOM! BOOM!
Namun, keajaiban mengerikan terjadi. Serpihan tulang yang hancur dan zirah yang retak kembali menyatu di atas tanah. Dipacu oleh kabut racun dan energi sihir Valthor, pasukan bangkai itu langsung bangkit kembali seolah tidak pernah terluka sedikit pun!
"Hah?! Mereka tidak bisa dihancurkan dengan serangan fisik biasa?!" teriak Roderick kaget saat sebuah tombak bayangan hampir saja menggores bahunya.
"Serangan biasa tidak akan sanggup memutus benang sihir jiwa hitam yang mengendalikan mereka!" tegur Hiraisin dari belakang.
Pemuda itu melangkah maju membelah garis pertahanan. Tangan kanannya bertengger kokoh di hulu Pedang Kilat Purba. Matanya terpejam sejenak, merasakan aliran tiga elemen purba yang kini membanjiri meridian tubuhnya secara harmonis.
Api murni untuk membakar benang sihir kegelapan.
Es nol mutlak untuk menghentikan regenerasi fisik mereka.
Dan Petir Purba untuk memusnahkan sisa-sisa jiwa jahat Abyss sampai ke akarnya!
"Sinergi Tiga Elemen... Kilat Es-Api Purba!"
CRACKLE-FIRE-FROST!
Saat Hiraisin menarik bilah pedangnya keluar dari sarung, sebuah ledakan energi tiga warna meletup dahsyat dari tubuhnya! Bilah bajanya dipenuhi pusaran kilat ungu-keemasan, lidah api merah keemasan yang membara anggun, dan pendar kristal es biru yang amat tajam.
Sensasi wibawa purba yang teramat menekan membuat seluruh Legiun Bayangan di hadapan mereka terhenti sejenak secara naluriah.
"Jurus Sinergi Tiga Elemen: Badai Teratai Tri-Elemen Purba!"
SZSSSH-BOOOOOOM!
Hiraisin mengayunkan pedangnya dalam bentuk tebasan melingkar penuh. Sebuah badai energi raksasa berbentuk teratai tiga warna meluncur kencang membelah lautan pasukan bangkai!
Reaksi berantai ajaib terjadi secara seketika saat tebasan itu menerjang:
Lidah Api Purba membakar habis benang-benang sihir kegelapan yang menghubungkan jiwa bangkai dengan kabut Valthor. Hawa dingin Es Purba langsung membekukan sel-sel tulang dan zirah mereka menjadi kristal rapuh. Dan pada detik terakhir, racikan Petir Purba meledakkan kristal es tersebut menjadi abu halus yang terbang tertiup angin!
CRACKLE-CLANG-BOOM!
Hanya dalam satu ayunan pedang, ratusan tentara bangkai dan ksatria bayangan di area seluas ratusan meter musnah total secara permanen! Tidak ada tulang yang bisa menyatu kembali, dan tidak ada zirah bayangan yang sanggup bangkit dari abu pemurnian tersebut.
Kapten Roderick membelalakkan matanya penuh kekaguman. "Luar biasa... gabungan tiga elemen itu benar-benar meniadakan kemampuan regenerasi mereka!"
"Jangan lengah!" peringat Liora seraya mempertahankan kubah pemurni. "Masih ada ribuan lagi di depan!"
Benar saja, dari kedalaman lembah yang lebih gelap, gelombang pasukan bangkai kedua menerjang keluar. Kali ini, mereka dipimpin oleh belasan Penglima Tengkorak Bersayap—monster raksasa yang terbang melintasi kabut racun, menghujani kubah es Liora dengan tombak-tombak darah beracun.
"Hiraisin, fokuslah membakar kabut di atas! Aku dan Roderick akan menahan garis bawah!" seru Liora seraya mengibaskan tongkatnya. Benang-benang energi es meluncur mengikat kaki-kaki penglima bersayap di udara, menahan pergerakan mereka.
"Diterima!" jawab Hiraisin cepat.
Pemuda itu menjejakkan kakinya ke tanah, meluncur ke udara bagaikan Kilat Merah-Emas. Di udara, Hiraisin memutar tubuhnya dengan kecepatan melampaui suara, menciptakan gelombang tebasan beruntun yang membentuk jaring api dan petir.
"Tebasan Kilat Api: Hujan Panah Purba!"
FLASH-FLASH-FLASH!
Puluhan tebasan petir membara meluncur bagaikan hujan meteor jatuh, menembus dada belasan Panglima Tengkorak Bersayap tepat di inti energi mereka. Ledakan demi ledakan api keemasan membakar habis makhluk-makhluk terbang itu sebelum sempat menyentuh geladak kubah Liora.
Sementara itu di darat, Kapten Roderick mengamuk bagaikan singa. Dengan dorongan gelombang es yang disalurkan Liora ke pedangnya, Roderick membantai sisa-sisa ksatria bayangan yang mencoba menerobos dari sisi samping.
Pertempuran sengit itu berlangsung selama hampir setengah jam. Lembah yang tadinya dipenuhi jeritan iblis dan raungan bangkai perlahan-lahan kembali hening. Asap abu pemurnian membubung tinggi ke udara, sementara lautan tentara bangkai yang tak terbatas itu kini telah rata menjadi tanah kristal yang bersih dari sihir jahat.
Hiraisin mendarat pelan di samping Liora dan Roderick, menyarungkan kembali Pedang Kilat Purba-nya dengan gerakan anggun. CTAK!
Pendar Runa tiga warna di pedangnya perlahan menyurut, menyisakan kehangatan sejuk di meridian tangan Hiraisin. Meski napasnya sedikit memburu, penguasaannya terhadap Sinergi Tiga Elemen kini jauh lebih stabil dibandingkan saat di Jantung Kawah Api.
"Kau makin mahir mengendalikan tiga energi itu sekaligus, Hiraisin," ujar Roderick seraya menyapu darah hitam iblis dari zirah pelindung dadanya.
"Ini berkat kestabilan Mutiara Es yang dijaga Liora," jawab Hiraisin tulus, menatap Liora yang tampak sedikit menyapu peluh di dahinya. "Tanpa aura pemurni dari mutiara itu, kabut racun di lembah ini pasti sudah mengganggu konsentrasi bertarungku."
Liora tersenyum lembut. "Kita sudah menembus pertahanan garis depan mereka. Lihat ke utara..."
Liora menunjuk ke arah ujung lembah. Di sana, kabut racun ungu telah tersingkap sebagian, memperlihatkan sebuah struktur raksasa yang berdiri megah di atas tebing batu karang: Altar Tengkorak Raksasa.
Altar yang terbuat dari ribuan tulang monster purba itu memancarkan pendar cahaya merah darah yang amat pekat. Di puncak altar, melayang sebuah pusaran energi kegelapan yang membara, di mana sesosok pria tinggi berjubah hitam dengan mahkota tengkorak sedang melayangkan tangannya ke atas artefak keempat: Pecahan Jiwa Purba.
Jenderal Valthor si Pembawa Bayangan telah menanti mereka di sana.
"Kalian terlambat, tikus-tikus kecil..." suara dingin Valthor bergema menembus lembah, membawa aura ketakutan spiritual yang teramat pekat. "Ritual pencemaran Jiwa Purba ini... telah mencapai tahap akhir!"
Hiraisin menggenggam hulu pedangnya semakin erat, matanya menatap tajam sosok Jenderal Abyss tersebut. "Perjalanan kita tidak akan terhenti di sini, Valthor!"