Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.
Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Hari ini tanggal 12 Februari, artinya dua hari sebelum hari Valentine, papan pengumuman di kantor dan papan iklan di taman kota mulai penuh dengan spanduk warna-warni. Di area taman bermain yang besar — tempat yang punya bianglala raksasa berwarna merah dan putih, komidi putar, dan lampu-lampu hias yang menyala cantik saat malam — sedang disiapkan sebuah acara khusus untuk menyambut hari kasih sayang.
Di tengah-tengah area panggung, sebuah ring tinju sederhana didirikan.
Spanduk besar tertulis jelas:
*TURNAMEN TINJU AMATIR*
hadiah utama: kalung berlian
Aku berhenti di depan papan pengumuman itu. membaca tulisan itu berulang kali.
"kalung berlian??" ucapku pelan.
Tanpa pikir panjang, Aku mendaftar. Tidak ada yang tahu. Bukan Roxy yang mendaftar, tapi Maxy — dengan nama aslinya, dengan identitas aslinya.
Hari H tiba. Udara pagi terasa hangat, penuh warna. Taman ramai sekali — pasangan yang berjalan beriringan, anak-anak yang berlari mengejar balon, suara musik yang diputar dari panggung. Bianglala berputar perlahan di kejauhan, kabin-kabin kecilnya berkilau terkena cahaya matahari. Ring tinju berdiri di area terbuka, tali-tali terpasang, penonton mulai mengelilingi area itu.
Aku berdiri di area pendaftaran, mengenakan celana pendek olahraga dan sepatu kets sederhana. menunggu giliran, jantungku berdebar bukan karena takut bertanding, tapi karena takut Shella datang melihatku seperti ini. Dan takut kalau kalah — kalau kalah, Dia pulang dengan tangan kosong.
Tapi takdir sepertinya punya rencana lain. Saat Aku sedang memanaskan tubuh, tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing.
"Kamu mau lihat jadwalnya sampai kapan?"
Itu suara Shella. Aku berbalik perlahan. Shella berdiri tidak jauh dari ring, mengenakan pakaian santai berwarna lembut, rambut dikuncir rapi. Di sebelahnya ada dua teman kerjanya. Mereka sedang berjalan-jalan menikmati suasana Valentine.
"Dug.. Dug.. Dug.." suara jantungku terdengar sangat keras.
"Menjauh, jangan kearah sini" batinku berkata sambil menunduk.
Lalu, sebuah panggilan merdu membuatku mendongakkan wajah.
"Maxy? Kamu ngapain di sini?" tanyanya bingung, lalu melirik ring tinju di belakangnya. "Kamu... kamu mau ikut bertanding?"
"Sial..!" bisiku didalam hati sembari menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Eh... Shella.. iya. Kebetulan daftar kemarin."
"Tinju, Maxy? Kamu pernah bertanding sebelumnya?" tanyanya, nada suaranya mulai terdengar cemas.
"Pernah latihan sendiri. Bukan yang profesional kok. Cuma amatir," jawabku sambil tersenyum tipis.
Shella menatapku lama, lalu menghela napas pelan. "Hati-hati ya. Jangan dipaksain. Kalau nggak siap, mundur aja."
"I..iya..," ucapku pelan dengan nada terbata-bata
Shella mengangguk pelan, lalu mundur sedikit ke pinggir ring. "Aku nonton dari sini ya. Tapi janji, kalau terluka, langsung berhenti!"
"Hmmm" Aku mengangguk, lalu kembali ke area pemanasan.
Lima menit setelahnya, Petugas mengumumkan giliranku naik ke ring, Aku berdiri di sudut area, lalu perlahan melepas kemeja olahraga yang kukenakan.
Gerakanku pelan, sederhana dan biasa saja. Tapi saat kain itu terlepas dari bahuku, "Wooooo" suara pelan takjub terdengar dari arah pinggir ring — termasuk dari Shella.
-Badan Maxy bukan sekadar tegap. Bahu lebar, lengan kekar dengan otot yang terdefinisi jelas dari rutin berolahraga pagi dan kerja fisik ringan sehari-hari. Datar perutnya rata, terlihat jelas six-pack yang terbentuk dari disiplin, bukan dari kemewahan. Garis otot di dadanya terlihat alami, sehat, kuat. Kulitnya sedikit berkeringat, memantulkan cahaya matahari pagi.
Aku melihat, Shella mematung di tempat. Matanya tak berkedip menatapku. Entah apa yang dia pikirkan.
"Selama ini Aku melihat Maxy selalu dengan kemeja rapi, tertutup, sederhana. Aku tidak pernah menyangka di balik pakaian sederhana itu tersembunyi tubuh yang begitu kuat, begitu terawat, begitu... gagah" ucap batin Shella.
Shella buru-buru menurunkan pandangan, tapi matanya kembali melirik lagi tak lama kemudian.
DING!
Hubungan dengan Maxy: 22% (+2%)
Hubungan dengan Roxy: 23% (-2%)
Sumber: Penampilan fisik yang tak terduga, keberanian, dan tekad yang tulus.
Aku kaget, saat membaca pemberitahuan dari Sistem. "ternyata Shella kagum melihat bentuk tubuhku" Aku tersenyum dalam hati.
"Ting" bunyi bell langsung menyadarkan lamunanku.
Pertandingan dimulai. Maxy VS Marcel.
Lawanku sedikit lebih tinggi, lebih berat, dan terlihat lebih berpengalaman. Detik pertama, Aku langsung terpojok, harus bertahan dengan cepat. "Bukk.. Bukk.!" Pukulan lawan terasa berat di pelindung tubuh.
Tapi Aku tidak mundur. mencoba menghindar, mencari celah, menunggu momen yang tepat. tidak berani main kasar — dia tidak mau melukai orang lain, tapi dia juga tidak mau pulang tanpa hadiah.
Ronde demi ronde berlalu. Keringat membasahi seluruh tubuhku. Napasnya memburu, paru-paru terasa perih. "Bukkk..!" Di ronde terakhir, lawan mendaratkan pukulan keras ke wajahku.
Bibirku terbelah, darah menetes pelan ke sudut mulut. Kepala terasa pening sejenak. Tapi di tengah kabut itu, Aku melihat Shella di pinggir ring — menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, cemas, dan tidak berkedip.
Itu yang memberiku tenaga. Bukan untuk menang demi hadiah, tapi untuk membuktikan bahwa Aku punya sesuatu yang bisa kuberikan — usahanya, perjuangannya, dirinya sendiri.
Aku mengumpulkan sisa tenaga, melangkah masuk, dan "Braaakkk..!" pukulanku mendarat tepat ke rahang bawah yang terbuka -Over Cut.
Lawan terhuyung mundur, Aku melanjutkan dengan hook kiri, hook kanan dan pukulan perut, terus menerus.. sampai akhirnya suara bell menghentikan kami.
"Ting" pertandingan berakhir.
Aku duduk dipojok ring menunggu penilaian dari juri dengan napas tersengal.
"Pemenangnya adalah saudara Maxy" —dengan selisih poin yang sangat tipis.
"Wooooooo..!!" Penonton bersorak pelan. Aku berdiri di tengah ring, dengan napas yang masih berat, darah di bibir masih mengalir pelan, tangan kananku terangkat, senyum tipis terukir meski wajah masih terasa nyeri.
Petugas menyerahkan kotak beludru kecil kepadaku. Aku membukanya. Di dalamnya, kalung berlian mungil berkilau lembut di bawah cahaya matahari. Sederhana, tidak mewah berlebihan, tapi indah.
Perlahan Aku turun dari ring, berjalan mendekati Shella yang masih berdiri di tempatnya. Matanya masih terlihat kaget, campur aduk antara lega dan marah.
"Maxy..." suaranya bergetar pelan.
Aku mengulurkan kotak itu ke arahnya. "Ini... buat kamu. Selamat hari Valentine, Shella...!"
Shella menatap kalung itu, lalu menatap wajahku — bibir yang berdarah, keringat yang menetes, mata yang menatapnya tulus dan dalam. Dan tiba-tiba matanya berkaca-kaca.
"Kamu gila ya?" ucapnya, suaranya meninggi sedikit, tapi terdengar bergetar.
"Buat apa kamu kayak gini, Maxy?"
"Buat apa kamu bertanding, nyakitin diri sendiri cuma buat kalung ini?"
"Aku nggak butuh kayak gini! Aku nggak minta kamu bertanding, aku nggak minta kamu terluka!" bentak Shella dengan nada marah dan kecewa.
"Aku tahu kamu nggak minta," jawabku pelan, tenang, meski bibir terasa perih saat berbicara.
"Aku tahu Roxy bisa kasih kamu barang mahal dengan sekali bilang".
"Aku tahu Pak Arif bisa ajak kamu makan di restoran mewah kapan saja".
"Aku nggak punya uang sebanyak itu, Shella. Aku cuma pegawai administrasi. Gajiku pas-pasan. Tapi aku juga mau kasih kamu sesuatu yang berharga" ucapku lirih sembari menatap mata Shella.
"Sesuatu yang aku perjuangkan sendiri dengan tenagaku, dengan usahaku, bukan cuma ambil dari dompet. Aku mau kamu tahu, kalau aku kasih sesuatu ke kamu, itu bukan cuma soal harganya. Tapi soal seberapa berat aku berjuang buat dapetinnya." lanjutku pelan menjelaskan.
Shella terdiam. Air mata mulai menetes di pipinya, tapi dia buru-buru mengusapnya. "Tapi kamu bisa terluka parah, Maxy! Kalau tadi pukulannya lebih keras? Kalau kamu pingsan di ring? Kamu nggak mikir itu?"
"Aku mikir. Tapi aku juga mikir... aku mau jadi orang yang bisa diandalkan buat kamu, bukan cuma orang yang kamu temui di kantor."
"Dan Aku....." hening sejenak, mulutku seakan terkunci. "Dan Aku.. Hanya ingin kamu tahu, bahwa aku ada di sini, dan aku berjuang buat kamu dengan caraku sendiri."
"Kalau kamu nggak mau terima, aku ngerti kok. Tapi tolong... pahami maksudku dan jangan marah." ucapku lirih sembari menundukkan wajah.
Shella menatapku lama, lalu perlahan mengulurkan tangan mengambil kotak itu. Dia membukanya lagi, menatap berlian kecil yang berkilau itu.
"Aku terima..." ucapnya pelan, suaranya masih bergetar. "Bukan karena kalungnya. Tapi karena kamu berjuang kayak gini. Tapi janji ya? Lain kali jangan kayak gini lagi. Kalau kamu mau kasih sesuatu, kasih saja yang sederhana. Yang penting dari kamu."
"Aku janji," jawabku lembut dengan senyuman cerah yang mungkin bisa mengalahkan matahari.
Shella memandangku, lalu perlahan mendekat, menyeka darah di sudut bibirnya dengan tisu kecil yang dia ambil dari tas. Gerakannya lembut, penuh perhatian, matanya menatap lekat-lekat.
"Kamu ini... bikin orang emosi sekaligus terharu," gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
DING!
PEMBERITAHUAN SISTEM
Hubungan dengan Maxy: 25% (+3%)
Hubungan dengan Roxy: 20% (-3%)
Sumber: Pengorbanan tulus, kejujuran tentang keterbatasan, dan keberanian menunjukkan diri apa adanya. Kenaikan signifikan karena momen murni sebagai Maxy.
Mereka berjalan meninggalkan taman bersama. Bianglala masih berputar perlahan di kejauhan, lampu-lampu mulai menyala seiring matahari yang mulai turun. Shella memegang kotak kalung itu erat di tangannya. Sepanjang jalan menuju tempat pulang, dia tidak banyak bicara, tapi langkah kakinya beriringan dengan Maxy, jaraknya dekat, seolah tidak mau berjauhan.
Sesampainya di halte bus yang akan mengantar Shella pulang, dia berhenti dan menatap Maxy.
"Terima kasih ya, Maxy. Beneran makasih," ucapnya lembut, matanya masih merah sedikit. "Dan... hati-hati pulangnya. Istirahat ya, biar lukanya cepat sembuh."
"Kamu juga. Hati-hati di jalan," jawabku.
Shella tersenyum pelan, lalu naik ke bus. Sebelum pintu tertutup, dia menoleh dan melambaikan tangan sekali lagi. Aku berdiri di sana sampai bus itu hilang di tikungan jalan.
Aku tidak tahu apakah Shella benar-benar marah atau justru terharu lebih dalam dari yang dia tunjukkan. Tapi satu hal yang Aku tahu — hari ini Aku tidak menyembunyikan siapa Diriku. Tidak pakai topeng, tidak pakai uang sistem, tidak pura-pura jadi orang lain. Aku cuma Maxy yang berjuang dengan apa yang Aku punya.
Itu saja. Dan mungkin itu sudah cukup untuk mulai membuktikan bahwa Aku layak diperjuangkan.