NovelToon NovelToon
Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:969
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Jendela Stasiun

Hari Sabtu siang datang dengan langit Kota Bimantara yang tampak bersih setelah diguyur hujan selama dua hari berturut-turut.

Di dalam kamar kos berukuran tiga kali tiga meter di Jalan Melati, Keira berdiri di depan cermin kecil yang menggantung di dinding, merapikan letak kerudung abu-abunya yang dipadu dengan gamis sederhana bermotif garis-garis tipis.

Di atas meja plastik di sudut ruangan, buku sketsa bersampul hitam tebal tersimpan rapi bersama amplop coklat berisi honor pertama dari proyek zine independen. Ponsel retaknya bergetar di atas tumpukan diktat kuliah, menandakan pesan masuk dari Amara yang mengingatkan kembali jadwal pertemuan mereka pukul dua siang di kafe dekat stasiun.

Keira menarik napas dalam-dalam, merasakan udara segar yang menyusup ke dalam rongga dadanya. Ada debar kecemasan yang bergelayut di benaknya bukan hanya karena ia akan kembali menemui sahabat yang sempat menegurnya keras beberapa waktu lalu, tetapi juga karena bayang-bayang masalah kantor Davin yang terus menghantui pikirannya sepanjang malam. Namun di saat yang sama, ada kelegaan kecil yang membuncah. Hari ini, ia melangkah keluar bukan sebagai bayangan transparan dari seorang kekasih, melainkan sebagai seorang perempuan yang memiliki kehidupan dan dunianya sendiri.

Pukul dua kurang sepuluh menit, Keira sudah tiba di kafe dekat stasiun. Tempat itu tidak terlalu ramai; alunan musik instrumental dari pengeras suara kafe berpadu dengan suara bising kereta komuter yang melintas di jalur rel tak jauh dari sana.

Amara sudah lebih dulu duduk di sudut ruangan, mengenakan jaket denim kasual dengan cangkir es kopi susu di hadapannya.

Begitu melihat Keira melangkah masuk, Amara langsung melambaikan tangan dengan penuh antusias.

"Kei! Sini!" sapa Amara riang.

Keira tersenyum, lalu menghampiri meja tersebut dan duduk di kursi plastik yang berhadapan langsung dengan sahabatnya.

"Udah lama nunggu, Mar?" tanya Keira sambil meletakkan tas selempang kecilnya di atas pangkuan.

"Enggak kok, baru lima belas menit," jawab Amara sambil tersenyum lebar. "Wah, senang banget akhirnya kita bisa ketemuan lagi. Lu sehat kan, Kei? Muka lu kelihatan lebih segar, tapi jujur ya, kayaknya ada banyak banget hal yang lagi lu simpan sendiri di kepala."

Mendengar ucapan Amara yang begitu peka, Keira merasakan tenggorokannya mendadak keluh.

Selama ini, ia memang terbiasa memendam segala kecurigaan, ketakutan, dan rahasia tentang Davin seorang diri di dalam kamar kos.

"Kelihatan banget ya kalau aku lagi banyak pikiran?" tanya Keira pelan sambil tersenyum pahit.

Amara menghela napas, menatap sahabatnya lekat-lekat. "Banget, Kei. Kita kan udah temenan bertahun-tahun, aku hafal banget muka lu kalau lagi nutupin sesuatu. Ada masalah lagi sama Davin?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, menohok tepat di titik pertahanan Keira yang paling rapuh. Di hadapan Amara satu-satunya orang di luar sana yang tahu betapa tertekannya ia dalam hubungan tersebut pertahanan Keira perlahan-lahan runtuh.

Dengan suara bergetar dan tatapan menerawang ke arah luar jendela kafe di mana kereta melintas, Keira akhirnya mulai bercerita. Ia tidak menceritakan seluruh detail rumit tentang manipulasi anggaran atau ancaman audit investigasi pusat secara gamblang; ia menceritakan apa yang dirasakannya. Tentang bagaimana dunia kerja Davin kini merangsek masuk ke dalam kehidupan pribadi mereka, tentang kecurigaan yang kian menumpuk, tentang ancaman-ancaman terselubung yang membuat Davin berubah menjadi sosok yang penuh ketakutan, dan tentang amplop coklat berisi honor ilustrasi serta proyek zine yang menjadi satu-satunya tempat pelarian di mana ia bisa bernapas lega.

Amara mendengarkan cerita itu dengan seksama tanpa memotong sedikit pun. Tidak ada nada menghakimi, tidak ada kalimat makian seperti, “Udah kubilang dari dulu!”, atau “Kenapa lu masih bertahan sama dia?”.

Amara hanya mendengarkan dengan tatapan penuh empati, membiarkan Keira menumpahkan segala beban batin yang selama ini terkurung di balik dinding kos Jalan Melati.

"Kei..." ucap Amara lembut setelah Keira menyelesaikan ceritanya, meraih tangan sahabatnya di atas meja dan menggenggamnya erat-erat. "Lu hebat banget udah bisa bertahan sampai sejauh ini. Dan jujur, aku bangga banget pas dengar lu diam-diam udah mulai menggambar lagi, dapet apresiasi, bahkan ngasilin uang sendiri dari karya lu."

Air mata yang sejak tadi mendesak di pelupuk mata Keira akhirnya tumpah juga. Ia menunduk, menyeka air matanya dengan ujung kerudung, merasakan kehangatan luar biasa dari genggaman tangan Amara.

"Aku takut, Mar..." bisik Keira parau. "Aku takut kalau apa yang disembunyikan sama Davin itu ternyata jauh lebih buruk dari yang aku bayangkan. Dan aku takut kalau suatu hari nanti, aku enggak punya cukup keberanian buat milih jalanku sendiri."

Amara meremas tangan Keira lebih erat lagi. "Pelan-pelan, Kei. Lu enggak harus mutusin segalanya hari ini juga. Tapi ingat satu hal: apa pun yang terjadi nanti di luar sana, lu sekarang udah punya tangan dan pikiran lu sendiri. Lu bukan lagi perempuan yang cuma bisa nunggu di sudut kamar."

Obrolan sore itu berlanjut dalam kehangatan persahabatan yang tulus. Sebelum mereka berpisah menjelang pukul lima sore, Amara mengeluarkan sebuah benda kecil dari dalam tasnya sebuah buku catatan sketsa berukuran saku dengan sampul kulit sintetis berwarna coklat tua.

"Nih, buat lu," kata Amara sambil menyodorkan buku sketsa itu ke hadapan Keira. "Supaya kalau lu lagi suntuk di kos atau lagi pengen coret-coret di jalan, lu bisa bawa benda ini ke mana-mana. Jangan biarkan bakat lu berhenti di kamar doang, ya."

Keira menerima buku sketsa kecil itu dengan perasaan terharu yang teramat sangat. Ia memeluk buku itu erat-erat ke dadanya, mengucapkan terima kasih dengan suara bergetar penuh rasa syukur.

Sementara itu, di tempat yang jaraknya beberapa kilometer dari kafe tersebut, suasana di ruang kerja pribadi Davin di lantai dua puluh gedung Jalan Sudirman jauh dari kata damai.

Hari Sabtu seharusnya menjadi hari libur bagi sebagian besar pegawai kantoran, namun bagi Davin, akhir pekan ini adalah batas waktu krusial sebelum tim auditor independen pusat menggelar peninjauan lanjutan pada senin pagi.

Davin duduk seorang diri di balik meja kerjanya yang luas. Lampu ruangan dimatikan sebagian, menyisakan temaram cahaya dari layar komputer yang menampilkan salinan data laporan keuangan proyek cabang Bandung. Di hadapannya, secangkir kopi hitam yang sudah dingin mengepulkan sisa-sisa uap tipis yang tak tersentuh.

Pikiran Davin berkecamuk hebat pasca-sidang verifikasi hari Jumat kemarin.

Ia tahu persis bahwa pertemuannya dengan auditor dan argumen prosedural yang ia lontarkan di ruang rapat tidak akan mampu meredam dokumen pembanding yang dipegang oleh Nadia. Selama perempuan itu masih berada di dalam tim dan memegang salinan sah catatan historis tersebut, ancaman investigasi menyeluruh hanya tinggal menunggu waktu untuk menghancurkan seluruh kariernya.

Davin tidak bisa lagi menunggu atau berharap pada keberuntungan. Ia harus mengambil langkah tegas untuk memastikan bahwa dokumen tersebut kehilangan kekuatannya sebelum hari Senin tiba.

Dengan gerakan tergesa-gesa, Davin merogoh saku jasnya, mengambil ponsel kantornya, lalu mencari kontak bagian administrasi arsip pusat yang memiliki akses terhadap log data kepegawaian.

Panggilannya tersambung setelah beberapa kali dering.

"Halo... selamat sore, Pak. Maaf mengganggu akhir pekannya," ucap Davin dengan nada suara yang diusahakan setenang mungkin, meski jemarinya bergetar hebat. "Saya Davin dari divisi keuangan.

Terkait persiapan verifikasi lanjutan hari Senin besok, saya butuh bantuan pengecekan data administratif penempatan staf atas nama Nadia Paramita... apakah ada catatan mutasi atau evaluasi kinerja sebelumnya yang bisa kita jadikan acuan formal untuk peninjauan internal divisi?"

Di ujung sambungan telepon, suara petugas arsip menjawab dengan ragu-ragu, menjelaskan bahwa penarikan data personalia memerlukan prosedur resmi dan izin dari kepala bagian sumber daya manusia.

"Saya butuh secepatnya, malam ini juga kalau bisa, karena ini menyangkut kelengkapan arsip darurat pimpinan," potong Davin dengan nada suara yang mulai meninggi, kehilangan kesabarannya.

"Lakukan saja sekarang, nanti surat pengantarnya saya susulkan hari Senin pagi."

Setelah sambungan telepon itu ditutup dengan paksa oleh Davin, ia menyandarkan tubuhnya ke kursi putar, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Ia tahu tindakannya mulai melanggar batas aturan administrasi yang berlaku, namun di kepalanya saat ini, tidak ada lagi ruang untuk memikirkan etika korporat. Yang ada hanya satu obsesi gelap: melumpuhkan perlawanan Nadia sebelum perempuan itu meruntuhkan seluruh dunia yang telah ia bangun.

Menjelang petang, pukul setengah enam sore, Keira tiba kembali di kos Jalan Melati. Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Percakapannya dengan Amara dan hadiah buku sketsa kecil di dalam tasnya memberikan suntikan energi batin yang luar biasa besar.

Ia membuka pintu kayu kamar kos, menguncinya dari dalam, lalu meletakkan tas selempangnya di atas meja plastik. Ia mengeluarkan buku sketsa pemberian Amara, mengusap sampul kulitnya dengan penuh rasa kagum, lalu meletakkannya berdampingan dengan buku sketsa utamanya.

Namun, ketenangan sore itu tidak berlangsung lama.

Beberapa menit kemudian, suara deru motor matic Davin terdengar memasuki halaman kos Jalan Melati. Ketukan tiga kali di pintu kayu menyusul sesudahnya suara yang kini tidak lagi hanya membawa kelelahan, melainkan juga aura kegelisahan yang pekat.

Keira dengan cepat merapikan meja, menyembunyikan buku sketsa kecil pemberian Amara ke dalam laci, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya. Ia membuka pintu kayu tersebut.

Davin berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang tampak sangat berantakan. Jas kantornya disampirkan begitu saja di bahu, kemejanya kusut, dan wajahnya pucat pasi dengan lingkaran hitam yang jelas di bawah matanya.

"Sore, Sayang," sapa Davin dengan suara parau yang terdengar lelah, langsung melangkah masuk dan merengkuh tubuh Keira ke dalam pelukan.

Keira membalas pelukan itu, merasakan sekujur tubuh kekasihnya sedikit bergetar. "Sore, Vin... Kamu dari kantor ya? Hari Sabtu kok masih kerja?" tanya Keira lembut, berusaha menyembunyikan rasa curiga yang mulai merayap di dadanya.

Davin melepaskan pelukan, menatap wajah Keira lekat-lekat dengan sorot mata yang menyembunyikan sesuatu yang besar. Ia tersenyum tipis senyuman lelah yang dipaksakan.

"Iya, Kei... Ada beberapa urusan mendesak yang harus diselesaikan sebelum minggu depan," jawab Davin lirih, mengusap pipi Keira penuh kasih sayang. "Tapi sekarang aku udah di sini. Di sini... tempat aku bisa istirahat."

Keira mengangguk kecil, membalas senyuman itu di bibirnya. Namun di dalam batinnya, ia tahu persis bahwa ketenangan yang dicari oleh Davin di kamar kos ini hanyalah sebuah pelarian sementara dari badai besar yang sedang ia ciptakan sendiri di luar sana. Dan di bawah tumpukan diktat kuliah di sudut meja, map salinan dokumen audit Nadia tetap tersembunyi menjadi saksi bisu atas pertarungan sunyi yang kian mendekati puncaknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!