Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 - KAISAR CEMBURU
Setelah kejadian teh beracun itu, satu hal yang paling berubah bukan hanya tatapan para pelayan padaku.
Tapi tatapan Kaisar Segara El-Bhumi.
Jika dulu dia hanya lewat di depan Paviliun Mawar ku dengan alasan memberi makan ikan, sekarang dia punya alasan baru. Setiap sore, dia pasti datang ke paviliun ku dengan membawa setumpuk laporan kerajaan yang harus dia baca.
"Aku butuh tempat yang tenang untuk membaca laporan. Di kamarku terlalu berisik karena angin dari taman," katanya dingin, lalu duduk di kursi rotan di teras paviliun ku tanpa minta izin.
Padahal kamarnya adalah kamar paling tenang di seluruh istana.
Mbok hanya tersenyum-senyum melihatnya. Aku pura-pura tidak peduli, tapi jantungku selalu berdebar kencang setiap dia ada di dekatku. Aroma cendana dan lautnya itu selalu membuatku sulit konsentrasi.
Pagi ini, ketenangan itu pecah.
Suara genderang perang ditabuh dari gerbang utama istana. Bukan genderang perang yang menandakan musuh menyerang, tapi genderang kehormatan yang menandakan tamu agung dari kerajaan lain datang.
Seorang utusan berlari masuk ke Paviliun Mawar ku dengan napas terengah-engah.
"Gusti Permaisuri! Gusti Permaisuri harus segera ke Balairung Langit! Pangeran Mahkota dari Kerajaan Samudra Biru datang! Dia membawa lamaran!"
Lamaran? Untuk siapa?
Aku yang masih memakai gaun tidur putih sederhana dan bibir tanpa lipstik, langsung diganti gaun resmi berwarna biru langit oleh Mbok dengan tergesa-gesa. Gaun ini adalah gaun permaisuri yang paling indah, hadiah dari Segara dua hari lalu setelah kejadian racun. Katanya, "Biar rakyat tidak mengira permaisuriku miskin dan hanya punya satu gaun."
Aku berjalan menuju Balairung Langit dengan langkah gugup.
Balairung sudah penuh. Di singgasana hitamnya, Segara El-Bhumi duduk dengan wajah datar seperti biasa. Tapi aku bisa melihat rahangnya yang sedikit mengeras. Dia sedang menahan emosi.
Di tengah Balairung, berdiri seorang pria muda yang sangat tampan, tapi dengan ketampanan yang berbeda dari Segara. Jika Segara tampan seperti dewa yang dingin dan tajam, pria ini tampan seperti matahari pagi yang hangat.
Dia memakai jubah putih dengan hiasan mutiara biru. Rambutnya dikuncir setengah, senyumnya ramah.
Begitu melihatku masuk, mata pria itu langsung berbinar.
"Jadi ini yang namanya Permaisuri Kahiyang Gayatri Ayuningtyas yang kecantikannya sampai terdengar ke Kerajaan Samudra Biru? Pantas saja Kaisar Segara menjaganya sangat ketat," katanya dengan suara yang lantang dan penuh pujian. Suaranya terdengar tulus, tidak seperti pujian palsu para bangsawan di istana ini.
Aku bersimpuh di depan singgasana, di samping Segara.
"Perkenalkan, Gusti Permaisuri. Nama saya Pangeran Tirta Anantya, Pangeran Mahkota Kerajaan Samudra Biru," kata pria itu, masih menatapku tanpa berkedip. "Saya datang jauh-jauh ke sini bukan untuk urusan politik. Saya datang karena saya mendengar cerita tentang Permaisuri Ajaib yang bisa menyembuhkan demam dengan obat dewa dan membuat pewarna bibir yang tidak luntur. Saya... saya ingin melamar Gusti menjadi selir utama saya di Kerajaan Samudra Biru. Saya akan memberikan 100 peti emas dan 3 pulau sebagai mas kawin."
Satu Balairung langsung hening total. Semua orang menahan napas.
Melamar permaisuri orang lain di depan kaisarnya sendiri? Itu adalah penghinaan terbesar di seluruh Kerajaan Langit. Itu sama saja dengan mengajak perang.
Aku bisa merasakan hawa dingin yang sangat menusuk keluar dari tubuh Segara di sampingku. Tangannya yang ada di atas sandaran singgasana mengepal begitu keras sampai buku-buku jarinya memutih.
Mbok yang berdiri di belakangku langsung gemetar ketakutan.
Aku menatap Pangeran Tirta. Wajahnya memang tampan dan ramah. Tawarannya juga sangat menggiurkan. 100 peti emas dan 3 pulau. Jika aku adalah Kahiyang yang asli yang dibenci dan ingin kabur dari istana ini, mungkin aku akan langsung menerima.
Tapi aku adalah Kahiyang dari abad ke-21. Aku tahu, jika aku menerima lamaran ini, bukan hanya aku yang akan mati, tapi seluruh Kerajaan Langit akan berperang.
Sebelum Segara sempat bicara dengan amarahnya yang meledak-ledak, aku mengangkat kepala dan tersenyum.
Senyum dengan bibir merah delima ku yang sudah menjadi ciri khasku.
"Pangeran Tirta Anantya, terima kasih atas pujian dan lamaran yang sangat terhormat itu," kataku dengan suara yang tenang dan santai, persis seperti gaya anak abad ke-21 yang menolak orang dengan halus. "100 peti emas dan 3 pulau memang sangat banyak. Tapi..."
Aku melirik Segara di sampingku. Wajahnya masih dingin dan keras.
"Tapi saya sudah terdampar di sini, di Kerajaan Langit. Dan di sini, saya sudah punya... tukang pembuat teh pribadi yang hanya mau membuatkan teh untuk saya jika saya memintanya sendiri," kataku, mengarang alasan yang sangat manusiawi dan sedikit mengada-ada.
Semua orang di Balairung mengerutkan kening mendengar alasan anehku.
Pangeran Tirta juga bingung. "Tukang pembuat teh pribadi?"
"Ya," jawabku sambil menatap Segara dengan sengaja. "Kaisar Segara El-Bhumi. Kemarin beliau membuatkan saya teh mawar sendiri karena takut saya diracun lagi. Jika saya pindah ke Kerajaan Samudra Biru, siapa yang akan membuatkan saya teh yang aman setiap pagi?"
Satu Balairung langsung menahan tawa. Tidak ada yang berani tertawa keras, tapi semua bisa melihat telinga Kaisar Segara El-Bhumi yang perlahan-lahan memerah lagi.
Segara menoleh menatapku dengan tatapan kaget. Dia tidak menyangka aku akan menggunakan kejadian teh kemarin sebagai alasan menolak lamaran.
Pangeran Tirta terdiam sebentar, lalu tertawa lepas. Tawa yang hangat dan tulus.
"Ah, saya mengerti. Saya kalah sebelum berperang. Ternyata rumor itu benar, Kaisar Segara memang menjaga permaisurinya dengan sangat baik," katanya sambil membungkuk hormat. "Baiklah, saya menerima penolakan Gusti dengan lapang dada. Tapi izinkan saya tetap tinggal di istana beberapa hari sebagai tamu. Saya ingin belajar tentang obat dewa Gusti itu."
Segara yang dari tadi diam dan menahan amarah, akhirnya bersuara. Suaranya dingin dan tegas.
"Pangeran Tirta boleh tinggal sebagai tamu. Tapi Paviliun Tamu yang paling jauh dari Paviliun Mawar akan disiapkan untuk Pangeran," katanya.
Semua menteri langsung mengerti. Kaisar cemburu.
Setelah sidang selesai dan Pangeran Tirta diantar ke paviliunnya, hanya tinggal aku dan Segara di Balairung yang sudah sepi.
Segara berdiri dari singgasananya dan berjalan mendekatiku.
"Tukang pembuat teh pribadi?" ulangnya, dengan nada yang sulit diartikan. Antara kesal dan... geli.
Aku mengangkat bahu dengan santai. "Habis mau bilang apa lagi? Masa aku bilang aku menolak karena telinga Gusti akan merah jika aku pergi?"
Wajah Segara yang tadinya dingin, tiba-tiba... dia tertawa kecil. Tawa yang sangat pelan, hampir tidak terdengar, tapi nyata. Untuk pertama kalinya sejak aku terdampar di sini, aku mendengar Kaisar Tanpa Hati itu tertawa karena aku.
"Kau ini benar-benar... tidak seperti permaisuri mana pun yang pernah kutemui, Kahiyang Gayatri Ayuningtyas," katanya pelan.
Dia mengulurkan tangannya. Aku mengira dia akan marah.
Tapi dia hanya merapikan anak rambutku yang terlepas dari sanggulku dengan gerakan yang sangat lembut.
"Kau memang hanya alat politik. Tapi mulai hari ini, tidak ada seorang pun, bahkan Pangeran Mahkota Samudra Biru sekalipun, yang boleh membawamu pergi dari sini tanpa izinku," bisiknya.
Jantungku berdebar kencang. Bukan karena takut. Tapi karena untuk pertama kalinya, kata-kata posesifnya itu terasa... ngena sekali di hati.
Di kepalaku, Sistem berbunyi pelan.
[KETERTARIKAN KAISAR SEGARA EL-BHUMI +18% - TOTAL 85%]
[STATUS: CEMBURU BRUTAL - BARU PERTAMA KALI DALAM SEJARAH KERAJAAN LANGIT]
Aku menatap punggung Segara yang berjalan keluar dari Balairung. Langkahnya tegak, tapi kali ini tidak terlihat kesepian. Terlihat seperti seorang pria yang baru saja memenangkan sesuatu yang sangat berharga.
Dan aku, Kahiyang yang hanya berniat menolak lamaran dengan alasan santai, malah membuat Kaisar itu semakin tidak ingin melepaskanku.
Bersambung...