NovelToon NovelToon
DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.

Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.

Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.

Talak.

Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.

Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.

Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Ketika Penyesalan Tak Datang

Angin sore kembali berembus pelan, menyapu dedaunan kering di sekitar makam yang masih merah. Suasana semakin lengang, menyisakan duka yang menggantung di udara.

Pak Hasan dan Bu Aida masih berdiri di hadapan Raya. Wajah mereka dipenuhi rasa bersalah yang tak tertutupi. Sementara Raya berdiri dengan tenang, meski jelas terlihat betapa rapuh hatinya saat ini.

Pak Hasan kembali menunduk dalam. “Nak Raya… kami benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi. Kesalahan anak kami… terlalu besar.”

Raya terdiam sejenak. Tatapannya kembali jatuh ke pusara ayahnya. Napasnya naik turun, menahan gejolak yang terus berusaha ia redam.

Perlahan, ia mengangkat wajahnya.

"Om… Tante…” suaranya lembut, tapi kali ini terdengar lebih tegas.

"Saya tidak menyimpan dendam kepada Ayah dan Ibu. Juga kepada siapa pun yang tidak terlibat dalam kejadian ini,” ucapnya pelan. “Saya tahu… tidak semua orang menginginkan hal ini terjadi.”

Bu Aida langsung menangis lagi, bahunya bergetar hebat.

Raya melanjutkan, kali ini dengan sorot mata yang berbeda—lebih dalam, lebih kuat.

"Tapi untuk Mas Kamil…” ia berhenti sejenak. Rahangnya mengeras, menahan luka yang kembali menganga.

"Untuk saat ini, saya tidak bisa mengatakan saya memaafkannya,”

Pak Hasan tersentak kecil. Dadanya terasa semakin sesak.

Raya menatap lurus ke depan, bukan kepada mereka, melainkan seolah berbicara pada takdir yang telah menghancurkan hidupnya dalam sekejap.

"Apa yang dia lakukan… bukan sekadar kesalahan,” lanjutnya lirih namun tajam. “Itu adalah kedzaliman.”

Suasana mendadak terasa semakin dingin.

"Saya serahkan semuanya kepada Allah,” sambung Raya. “Biarlah Allah yang membalas apa yang telah dia lakukan kepada saya… dan kepada almarhum ayah saya.”

Air mata kembali jatuh di pipinya, tapi kali ini ia tidak berusaha menyekanya.

"Saya yakin… Allah Maha Adil.”

Pak Hasan memejamkan mata, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi. Kata-kata itu menghantamnya jauh lebih keras daripada amarah atau teriakan.

Karena yang dihadapi mereka bukan kemarahan…

melainkan luka yang diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan.

Raya kembali menunduk ke arah makam ayahnya.

"Saya menerima semua ini sebagai takdir,” ucapnya pelan. “Mungkin… ini sudah jalan hidup saya. Dan mungkin juga… ini cara Allah menunjukkan bahwa kami memang tidak seharusnya berada di dunia yang sama.”

Ia menarik napas panjang, mencoba menguatkan diri.

"Keluarga kami hanya keluarga sederhana… tidak punya apa-apa. Sementara keluarga Om dan Tante… memiliki segalanya.”

Senyum tipis terukir di bibirnya, namun begitu menyakitkan untuk dilihat.

"Jadi… tidak perlu merasa terlalu bersalah. Mungkin sejak awal… saya memang tidak pantas berdampingan dengan Mas Kamil. Saya gak tahu diri, gak menolak perjodohan tersebut.”

Bu Aida langsung terisak lebih keras, hampir kehilangan keseimbangan. Pak Hasan segera memapah istrinya, tapi dirinya sendiri pun nyaris runtuh.

Ucapan Raya bukan hanya penolakan halus—melainkan luka yang dibungkus dengan keikhlasan.

Dan justru karena itulah… rasa bersalah itu menjadi berkali-kali lipat lebih menyakitkan.

***

Amanda berdiri di ambang pintu apartemennya, menatap punggung Kamil yang perlahan menjauh. Tangannya masih menyilang di depan dada, wajahnya datar tanpa ekspresi berarti. Tidak ada senyum, tidak juga kesedihan. Hanya perasaan hambar… dan sedikit rasa tidak nyaman yang ia tahan sendiri.

Sejak awal, hatinya memang belum pernah benar-benar terbuka untuk pria itu.

Kamil terlalu memaksa.

Terlalu ingin memiliki.

Dan hari ini… Amanda seperti melihat sisi paling gelap dari dirinya.

Menikahi seorang wanita, lalu menalaknya saat itu juga.

Baginya, itu bukan sekadar kesalahan. Itu adalah kebiadaban yang dibungkus atas nama cinta.

"Ok ya, Manda, aku pulang dulu. Besok ke kantor aku jemput, kita bareng.”

Suara Kamil terdengar ringan, seolah tak terjadi apa-apa hari ini. Seolah ia baru saja melewati hari biasa.

Amanda menghela napas pelan sebelum menjawab.

"Gak usah, Mas. Aku terbiasa pergi dan pulang kerja bareng Amel.”

Nada suaranya lembut, tapi jelas. Ada jarak yang sengaja ia ciptakan.

Kamil terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. Senyum yang menurutnya meyakinkan… tapi bagi Amanda, justru terasa memaksa.

"Tapi pikirkan lagi pinangan aku ya, Man. Ingat… aku sudah menalak wanita yang baru saja kunikahi. Semua ini bukti kalau aku cuma cinta sama kamu.”

Kamil menatapnya dalam. Penuh harap. Penuh keyakinan… yang terasa aneh.

Amanda tidak membalas tatapan itu.

Ia justru memalingkan wajahnya.

Ada rasa risih yang menjalar pelan di dalam dadanya.

Bukti cinta?

Tidak.

Di matanya, itu bukan bukti cinta. Itu bukti bahwa Kamil mampu menyakiti orang lain tanpa rasa bersalah… demi keinginannya sendiri.

Dan itu… menakutkan.

"Udah malam, Mas. Hati-hati di jalan,” ucap Amanda singkat, berusaha mengakhiri percakapan.

Kamil mengangguk, meski terlihat sedikit kecewa. Namun ia tidak memaksa lagi. Ia berbalik, melangkah santai menuju mobilnya.

Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar menyala.

Amanda tetap berdiri di tempatnya, memperhatikan dari kejauhan.

Mobil itu perlahan menjauh… hingga akhirnya hilang dari pandangan.

Baru setelah itu, Amanda menutup pintu apartemennya.

Klik.

Suasana langsung hening.

Ia menyandarkan punggungnya di pintu, memejamkan mata sejenak.

"Apa yang sebenarnya dia pikirkan…” gumamnya lirih.

Bayangan wajah seorang wanita yang bahkan belum pernah ia temui terlintas di benaknya.

Wanita yang hari ini… menjadi korban.

Menjadi istri… hanya untuk beberapa menit.

Lalu… menjadi janda dalam hitungan waktu yang bahkan belum sempat disebut sebagai pernikahan.

Amanda menggeleng pelan.

"Kalau dia bisa melakukan itu ke orang lain… apa jaminannya dia gak akan melakukan hal yang sama ke aku nanti?”

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Tanpa jawaban.

Sementara itu…

Di jalanan kota yang mulai lengang, mobil Kamil melaju dengan kecepatan stabil. Lampu-lampu jalan berderet, menemani perjalanan malamnya.

Di dalam mobil, Kamil justru tampak begitu santai.

Sebuah lagu diputar pelan, dan ia ikut bersenandung kecil.

Tidak ada rasa bersalah.

Tidak ada penyesalan.

Yang ada hanyalah perasaan puas.

Puas karena ia merasa telah membuktikan sesuatu.

"Sekarang kamu pasti percaya, Manda…” gumamnya sambil tersenyum.

Tangannya mengetuk-ngetuk setir mengikuti irama lagu.

Baginya, apa yang ia lakukan hari ini adalah pengorbanan.

Pengorbanan atas nama cinta.

Ia tidak pernah berpikir… bahwa di balik“pengorbanan” itu, ada hati yang hancur. Ada keluarga yang terpukul. Ada seorang wanita yang hidupnya berubah dalam sekejap.

Sesampainya di rumah, Kamil memarkirkan mobilnya dengan santai. Ia bahkan masih bersiul kecil saat keluar dari mobil.

Langkahnya ringan, seolah tak memikul dosa apa pun.

Pintu rumah terbuka.

Namun begitu ia masuk…

Suasana yang berbeda langsung menyambutnya.

Sunyi.

Tegang.

Dan… dingin.

Tidak seperti biasanya.

Kamil mengernyitkan dahi.

"Kenapa sepi banget…” gumamnya.

Belum sempat ia melangkah lebih jauh, suara berat tiba-tiba terdengar dari ruang tengah.

"Kamil.”

Langkahnya terhenti. Suara itu… tidak asing. Dan nadanya… penuh amarah yang ditahan. Perlahan, Kamil menoleh.

Di sana…

Pak Hasan sudah berdiri dengan wajah merah padam. Di sampingnya, Bu Aida duduk dengan mata sembab, bekas tangis yang belum benar-benar kering.

Dan di atas meja…Sebuah foto pernikahan yang baru saja terjadi pagi tadi… tergeletak begitu saja. Menjadi saksi bisu… dari kehancuran yang baru saja dimulai.

Kamil menoleh dengan tatapan tak percaya saat suara ayahnya menggema di ruang tengah.

"Anak kurang ajar! Baru pulang setelah membuat wajah ayah ibumu ini malu di hadapan semua orang.”

Belum sempat Kamil membuka mulut—

"Plak!”

Tamparan keras dari Pak Hasan mendarat tepat di pipinya. Kepalanya terhuyung ke samping. Suara itu menggema, memecah keheningan rumah yang sejak tadi terasa menekan.

Kamil memegang pipinya yang terasa panas. Matanya menatap ayahnya dengan sorot tidak terima.

"Papa… menampar aku hanya untuk membela wanita kampung itu?” ucapnya dengan nada sinis.

Ucapan itu seperti menyulut api yang sudah lama ditahan.

"Wanita yang kamu bilang kampung itu… jauh lebih bermartabat dibanding kamu.” bentak Pak Hasan, suaranya bergetar menahan amarah.

Namun Kamil tidak mundur. Bukannya sadar, ia justru tersenyum miring.

"Pelet apa yang dia pakai, sampai Mama dan Papa ngebet banget bermenantukan dia?”

"Cukup, Mil!” suara Bu Aida pecah di sela tangisnya.

Wanita itu bangkit dari duduknya, langkahnya goyah. Matanya sembab, wajahnya pucat karena terlalu banyak menangis.

"Mil… harusnya kamu menolak kalau memang gak mau dijodohkan. Kami juga gak pernah memaksa kamu…” ucapnya lirih, suaranya bergetar hebat.

Kamil terdiam sesaat, tapi bukan karena tersentuh.

Tatapannya masih keras.

Pak Hasan kembali bersuara, kali ini lebih dalam, lebih berat… penuh kekecewaan.

"Iya!, kalau gak setuju, kamu bilang! Bukan bikin malu seperti itu!” suaranya meninggi. “Kamu tahu gak akibat perbuatan kamu tadi?”

Kamil mengernyit.

"Apa maksud Papa?”

Suasana mendadak berubah.

Tangis Bu Aida pecah semakin keras. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar.

Pak Hasan menarik napas panjang, seolah butuh tenaga besar untuk mengucapkan kalimat berikutnya.

"Akibat perbuatanmu…” suaranya mulai serak, "…dua orang jadi janda. Dan tiga orang jadi yatim.”

Jantung Kamil seperti berhenti sesaat.

"Maksud Papa?” ulangnya, kali ini nadanya tidak lagi setinggi tadi. Ada sedikit kegelisahan yang mulai merayap.

Bu Aida menurunkan tangannya dari wajahnya. Air matanya terus mengalir tanpa henti.

"Pak Santoso…” suaranya terputus oleh tangis, "…meninggal dunia, Mil.”

Seolah petir menyambar di siang bolong.

Kamil membeku.

"Meninggal…?” gumamnya pelan, tidak percaya.

"Dia kena serangan jantung… di perjalanan menuju rumah sakit, dia meninggal. ” lanjut Bu Aida dengan suara hancur.

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Untuk pertama kalinya sejak ia melangkah masuk ke rumah itu… Kamil kehilangan kata-kata.

Bayangan wajah Pak Santoso yang tadi pagi masih duduk di kursi akad… terlintas di benaknya.

Wajah seorang ayah yang penuh harap, yang menitipkan putrinya dengan tangan gemetar, yang bahkan belum sempat benar-benar tersenyum bahagia, kini—sudah tiada.

Langkah Kamil mundur satu tapak.

Namun anehnya… bukan penyesalan yang pertama kali muncul di wajahnya.

Melainkan kebingungan… dan sedikit ketidakpercayaan.

"Gak mungkin…” gelengnya pelan. “Itu bukan salahku…”

Pak Hasan tertawa pahit. Tawa yang lebih menyakitkan daripada amarah.

"Bukan salah kamu?” ulangnya lirih. "Kalau bukan karena kamu yang menalak anaknya di depan semua orang… dia gak akan jatuh. Dia gak akan kena serangan jantung.”

Setiap kata terasa seperti pukulan.

"Dia meninggal dengan membawa rasa hancur sebagai seorang ayah.” suara Pak Hasan meninggi lagi. “Dan kamu bilang itu bukan salah kamu?!”

Kamil terdiam.

Rahangnya mengeras.

Namun egonya… masih berdiri tegak.

"Aku gak nyuruh dia mati.” jawabnya dingin.

Kalimat itu membuat Bu Aida terisak semakin keras.

Sementara Pak Hasan menatap putranya dengan mata yang kini tidak hanya marah, tapi juga penuh kekecewaan yang dalam.

"Kamu… bukan cuma gagal jadi suami,” ucapnya pelan namun tajam, “kamu juga gagal jadi manusia, Mil.”

Kalimat itu menggantung di udara. Menusuk lebih dalam dari tamparan tadi. Dan di sudut ruangan,

foto pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan, kini berubah menjadi simbol dari tragedi yang merenggut segalanya.

1
aku
ini kisahnya komil kah jadinya???? 🙄
Nana Geulise
buat kamil : iya jangan dilepas amanda biar tahu dulu topengnnya amanda.🫢🫢🫢
partini
pasti berjodoh dong kalian serasi 1000%,,Thor raya ngilang terus deh gantian dong Jagan begundal itu terus sinopsisnya kan kan raya kebanting cerita nya kamil
Anonim
nanti kan langsung headshot
Anonim: hah??? Ochinchin??
total 4 replies
lLy trililly
thour jngan terllu kbnyakan hidup enak s kamil ma Mandah Najiis bngett..mending balik ke Raya ja
sunaryati jarum
Malah kamu untung Mil,Manda sudah bunting.🤣🤣🤣 🤭 balasan kau terima lewat Amanda Kamil
sunaryati jarum
Semoga klarifikasi kamu bisa menjawab teka- teki / penasaran kenapa mau saja dijodohkan.
Nana Geulise
udah sikat aja mil jgn ragu bekas aldo beserta bonus anak...kalian tunggu aja tabur tuai...lebih sakit dari yang ditetima keluarga raya...🫢🫢🫢😁
partini
aduh mil mil ga usah banyak mikir gas lah nikahi cepet dapat bonus loh kecebong mantan pacar cakepppp👍
falea sezi
keluarga kamil aja. bego semua
falea sezi
woy tolol jelas2 nginep masak main gundu/Curse//Curse/ bloon g ketulungan. penampilan aja kayak. lacur
sunaryati jarum
Jika Kamil benar mencintaimu apapun keadaannya diterima
partini
semoga berjodoh dengan pak Akmal kalau dia masih single sih
partini
dihhh Amanda bego kamu harus nya bikin tidur bersama dulu baru jerat gitu loh cara Kunti bogel pada beraksi ga pro kamu
sunaryati jarum
Diberi barang ORI berkualitas malah milih barang bekas dan murahan .
Arieee
😡nikahin Sono amanda🤣biar cepet dapet anak🤣
partini
akhirnya kalian bersatu emang betul" pasangan yg cocok dunia akhirat
mantappp
sunaryati jarum
Kamu orang sok Kamil,di perusahaan keluarga saja tidak bisa beradaptasi.Untuk.Amanda ,benar kata ibu Aldo dan saudara Kamil,kau wanita yang tidak bisa menjaga martabat kamu sendiri.Keenakan Aldo hanya menanam benih.Minta Kamil menutup aibmu, untuk membuktikan cintanya mau tidak,tapi kamu harus terus terang jika hamil anak Aldo atau pria lain
sunaryati jarum
Ya sekarang.jadia saja kalian sudah sama-sama sendiri
Lee Mba Young
pantes Kamil bgitu kluarga nya punya perusahaan dan saat berbuat Salah masih di Bantu ma kluarga smp ibunya mati pun gk Ada penyesalan.
yg Salah kluarganya kn berarti Cara didik nya Salah, haruse biar di penjara kemarin itu atau gk usah di topang keuangan biar nyari kerja tanpa dekengan kluarga.
Anonim: keluarga Tolol emang 🤣👉
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!