NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Kini mereka berdiri di ruang kerja. Untuk pertama kalinya sejak Vivi masuk ke rumah itu, Baskara terlihat benar-benar marah. Bukan kesal. Bukan kecewa biasa. Marah. Lembar ujian itu tergeletak di meja.

"Apa ini?" Sean diam. "Ayah tanya, apa ini?" Masih diam. "Kamu sakit waktu ujian?" Sean menggeleng. "Ada soal yang tidak bisa dikerjakan?" Sean mengangguk. Baskara membeku. "Bisa? Jadi kamu sengaja?"

Sean menatap meja. Tidak menjawab. Tetapi diamnya adalah pengakuan.

Baskara mengusap wajahnya. Jelas berusaha menahan emosi. "Sean. Ini bukan ujian mendadak. Kamu belajar berbulan-bulan. Sebelumnya nenek membantu kamu, lalu Vivi membantu kamu setiap malam." Sean masih diam. "Kenapa kamu sia-siakan?" Nada suara Baskara mulai meninggi. Sesuatu yang sangat jarang terjadi. Bahkan Saka yang mendengarkan dari balik pintu langsung menelan ludah. Karena mereka hampir tidak pernah melihat ayah mereka marah seperti ini.

Sean perlahan mengangkat kepala. Matanya mulai memerah. Tetapi bukan karena takut. Melainkan karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang bahkan tidak ia pahami sepenuhnya. "Karena aku tidak mau."

Baskara terdiam. "Apa?"

"Aku nggak mau."

"Kamu merusak masa depanmu sendiri hanya karena tidak mau?"

Sean mengepalkan tangan.Dan tiba-tiba semua yang selama ini ia pendam keluar begitu saja. "Karena ini pertama kalinya Ayah marah padaku!" Ruangan langsung sunyi. Baskara membeku. Begitu juga Vivi yang sejak tadi berdiri di dekat pintu. Sean bernapas cepat. Seolah setelah kalimat itu keluar, ia tidak bisa menghentikannya lagi. "Dulu waktu Mama masih ada..." Suaranya mulai bergetar. "Ayah nggak pernah marah seperti ini."

"Sean..."

"Sekarang Ayah marah." Matanya mulai berkaca-kaca."Karena Tante Vivi belajar sama aku. Karena tes ini. Karena semuanya."

Baskara tidak langsung menjawab. Karena untuk pertama kalinya ia sadar Ini bukan tentang ujian. Bukan tentang sekolah. Bukan tentang lembar jawaban kosong. Sean sengaja gagal. Bukan karena malas. Tetapi karena sedang berteriak. Dengan caranya sendiri. "Kamu pikir Ayah marah karena Vivi?" Suara Baskara jauh lebih pelan sekarang.

Sean tidak menjawab. Tetapi ekspresinya sudah cukup. Ya. Ia memang berpikir begitu.

Baskara menatap anak sulungnya lama. Lalu perlahan duduk di kursi. Tiba-tiba ia terlihat jauh lebih tua. Lebih lelah. "Sean." Anak itu tidak bergerak. "Ayah marah karena kamu menyakiti dirimu sendiri."

Sean mengernyit. "Apa?"

"Kamu mampu mengerjakan ujian itu. Tapi kamu memilih menghancurkannya. Dan itu membuat Ayah marah."

Vivi yang sejak tadi diam akhirnya mulai mengerti. Ini bukan pemberontakan sekolah. Ini bukan kenakalan anak. Ini adalah kecemburuan. Ketakutan. Dan rasa kehilangan yang belum pernah benar-benar dibahas.

Sean takut. Takut kalau semakin dekatnya Vivi dengan keluarga mereka akan membuat hubungan Ayah dan dirinya berubah. Dan hari ini Ketakutan itu meledak dalam bentuk yang paling tidak masuk akal. Sean menunduk. Air matanya akhirnya jatuh. Satu. Dua. Lalu semakin banyak. "Aku nggak mau Mama dilupakan..." Kalimat itu keluar sangat pelan. Tetapi terdengar jelas oleh semua orang.

Dan saat itulah Baskara akhirnya memahami akar dari semua masalah ini. Bukan Vivi. Bukan sekolah. Bukan tes. Melainkan seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang masih takut kehilangan ibunya untuk kedua kalinya. Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu terjadi Baskara menyadari bahwa bukan hanya Vivi yang harus diperjuangkan. Sean juga harus diselamatkan dari kesedihannya sendiri.

Ruangan itu seketika terasa lebih sunyi. Lebih sunyi daripada saat Sean mengaku sengaja mengosongkan ujian. Lebih sunyi daripada saat ia menangis. Karena kalimat berikutnya benar-benar tidak diduga siapa pun. Sean mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Lalu menatap langsung ke arah Baskara. "Ayah ingin aku masuk sekolah favorit supaya nanti aku masuk asrama, kan?"

Baskara mengernyit. "Apa?"

"Ayah ingin membuangku, kan?"

Vivi yang berdiri di dekat pintu langsung menahan napas. Bahkan Yuan yang diam-diam menguping dari luar sampai membelalakkan mata. Sementara Baskara Ia benar-benar tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa detik. Karena tidak pernah terlintas di pikirannya bahwa anak sulungnya menyimpan pikiran seperti itu.

Sean menangis semakin keras. Bukan tangisan anak yang dimarahi. Melainkan tangisan anak yang sudah lama memendam ketakutan. "Dulu cuma ada aku, Yuan, Saka, Ella, sama Lili. Sekarang ada Tante Vivi. Nanti mungkin ada anak lain. Terus aku dikirim ke asrama. Supaya nggak ganggu lagi." Kalimat demi kalimat keluar tanpa kendali. Dan semakin ia berbicara, semakin jelas bahwa semua ini sudah lama mengendap di dalam dirinya.

"Siapa yang bilang begitu?" Suara Baskara terdengar rendah. Bukan marah. Justru berusaha tenang. Sean langsung terdiam. Kesalahan kecil. Karena pertanyaan itu mengenai sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.

"Nggak ada."

"Sean. Ayah tanya, siapa yang bilang begitu?" Sean menggigit bibir. Matanya bergerak gelisah. Dan itu sudah cukup menjadi jawaban. Ada seseorang. Baskara mengembuskan napas panjang. Lalu ia berdiri.Berjalan mendekati Sean. Namun kali ini bukan sebagai ayah yang marah. Melainkan sebagai ayah yang mulai mengerti. "Lihat Ayah." Sean tetap menunduk. "Sean." Perlahan anak itu mengangkat kepala."Kalau Ayah ingin membuangmu..." Baskara berjongkok hingga sejajar dengannya. "Kenapa Ayah repot-repot mengajarimu naik sepeda waktu kecil?" Sean diam. "Kenapa Ayah tetap datang ke pentas sekolahmu meskipun terlambat?" Diam."Kenapa Ayah hafal makanan favoritmu?" Air mata Sean kembali jatuh.Baskara melanjutkan. "Kamu tahu kenapa Ayah ingin kamu masuk sekolah yang bagus?" Sean menggeleng pelan. "Karena Ayah ingin hidupmu lebih baik daripada hidup Ayah." Kalimat itu membuat Sean membeku. "Bukan karena Ayah ingin menjauhkanmu. Bukan karena Ayah ingin membuangmu. Dan bukan karena Ayah tidak menginginkanmu lagi."

Sean menunduk. Namun kali ini bukan karena marah. Melainkan karena mulai mendengarkan. "Kamu anak pertama Ayah." Suara Baskara mulai bergetar untuk pertama kalinya.

"Kamu orang pertama yang membuat Ayah belajar jadi ayah. Kamu yang pertama memanggil Ayah. Kamu yang pertama membuat Ayah panik waktu demam. Kamu yang pertama membuat Ayah begadang semalaman." Mata Baskara ikut memerah. "Menurutmu orang seperti itu bisa dibuang begitu saja?"

Sean menatapnya. Dan untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai Ia melihat kesedihan di wajah ayahnya.

"Mama meninggal." Suara Baskara menjadi lebih pelan. "Dan Ayah tahu itu menyakitkan. Buat kamu. Buat adik-adikmu. Dan buat Ayah." Ruangan kembali sunyi. "Tapi kehilangan Mama tidak berarti Ayah akan kehilangan kalian juga. Dan menikahi Vivi tidak berarti Ayah mengganti kalian."

Sean menggigit bibir. "Tapi..."

"Tidak ada tapi." Untuk pertama kalinya Baskara menyela. Bukan dengan marah. Tetapi dengan tegas. "Tidak ada siapa pun di dunia ini yang bisa menggantikan posisi Mama." Air mata Sean kembali jatuh. "Tidak ada. Termasuk Vivi karena Mama adalah Mama kalian dan Vivi adalah Vivi."

1
Danny Muliawati
atas izin d kuasa Allah vivi terlepas dr beban d bs hamil
Danny Muliawati
penasaran dg dr Sinta loh
Pujierde
bener" keluarga benalu klo keluarga alina mempunyai malu harusnya anak" bibi helda bekerja untuk agar tidak ada ketergantungan kepada baskara
Pujierde
sepertinya ini perbuatan helda, sungguh helda orang serakah dan bu mega tau akan keserakahan keluarga alina makanya almh bu mega mengamati vivi dan menjadikan menantu karena almh tidak ingin cucu"nya dibawah kendali bibi helda
Pujierde
anaknya bibi helda ? kenapa bisa dokumen yayasan ada di tangan bibi helda 🤔🤔
Pujierde
apa mungkin bibi helda yang bekerja di yayasan ?
Ita Xiaomi
Hanya Lili yg bahagia 🤣
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Danny Muliawati
hela ga punya perasaan knp jg baskara hrs cerita sm anak2 itu mah kuasa Allah punya anak atw pun tdk
Ita Xiaomi
Lilis udah ngebayangkan pancake😁
Pujierde
nenek ema bisa melihat dan merasakan ketulusan vivi dan nenek ema tidak serakah seperti bibi helda
Pujierde
seperti bibi helda takut jika sumber uangnya akan terhenti jika baskara sudah jatuh cinta kepada vivi ato takut jika vivi menghentikan aliran dana baskara kepada bibi helda makanya anak" terutama sean didoktrin untuk melakukan hal" yang membuat perempuan" tidak jadi dengan baskara, bibi helda bener" benalu harusnya baskara memberi modal kepada helda untuk membuka warung sembako agar tidak terus bergantung kepada baskara
Pujierde
Ma sya Allah semoga generasi-generasi anak" bisa seperti sean yang selalu membawa mushaf kemana-mana dan berakhlak mulia
nayoon
kayanya Helda yg serakah
Pujierde
semoga nenek dan kakek akan terus menyayangi kalian semua wlopun keajaiban datang kalian semua tetep cucu nenek dan kakek
Danny Muliawati
seru yah untung vivi seorang guru jd memahami karakter masing2 anak ayo SEMANGAT
Vera Wilda
Saya hadir Thor
nayoon
haha pertarungan di mulai jreng jreng🤭
nayoon
kamu dalam misi menaklukkan raja beruang es🤣semngat🤭
destiana
nggak nyesel Baca ceritanya,bagus banget😘😘😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!