Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.
Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.
Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.
Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.
Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.
Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?
Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Di dalam mobil sedan silver tua milik mertuanya yang terparkir di pinggir kedai kopi, udara terasa lebih tenang dari sebelumnya.
Mesin sudah dimatikan. Di luar, jalan sepi, hanya sesekali motor lewat. Di dalam, dua gelas kopi hitam panas diletakkan di antara mereka. Uapnya naik pelan, mengembunkan sedikit kaca depan. Aromanya pahit dan hangat.
Perasaan Arhan sudah mulai sedikit tenang. Isaknya sudah berhenti, meski matanya masih merah dan suaranya masih serak. Ia menyesap kopinya pelan.
Pahit.
Pak Hendra, ayah mertuanya itu, menatap jalan di depan. Tangannya masih di atas setir, meski mobil sudah tidak menyala. Ia tidak langsung bicara, memberi Arhan waktu.
Setelah hening cukup lama, Pak Hendra kembali bertanya.
"Han," kata Pak Hendra dengan suara pelan.
Arhan menoleh.
"Apa kamu sudah mencoba pengobatan di tempat lain?" tanya Pak Hendra.
Arhan mengerutkan dahi sedikit.
"Maksud Papa?" tanya Arhan.
"Pengobatan Anya," kata Pak Hendra. "Selain Dokter Rendra. Apa kamu sudah coba bawa Anya ke rumah sakit lain? Atau dokter lain? Mungkin ada pendapat kedua yang berbeda?"
Arhan mengangguk pelan. Perasaannya yang tadi masih bergetar kini sudah mulai bisa ia atur, jadi ia bisa menjawab dengan lebih jelas.
"Sudah, Pa," jawab Arhan. "Dokter Rendra adalah dokter terakhir yang aku temui untuk Anya. Sebelumnya aku sudah coba ke tempat lain."
Pak Hendra mendengarkan dengan seksama. Ia tidak memotong.
"Dua bulan lalu aku bawa Anya ke dua rumah sakit berbeda, Pa. Di kota juga," lanjut Arhan. "Hasilnya sama. Kanker serviks stadium lanjut, penyebarannya sudah agresif. Satu dokter bahkan bilang sudah tidak bisa kemo lagi. Tapi aku tetap coba sampai ketemu Dokter Rendra."
Arhan berhenti sejenak, menyesap kopinya lagi. Tangannya sedikit bergetar memegang gelas plastik itu.
"Dokter Rendra yang paling jujur, Pa. Dia yang kasih tau aku apa adanya. Makanya aku percaya sama dia. Tapi hasilnya..." Arhan menunduk. "Hasilnya nihil, Pa. Semua bilang nihil."
Pak Hendra mengangguk pelan. Ia mencoba menahan kesedihannya. Sebagai seorang ayah, sebagai mertua Arhan, ia mencoba terlihat kuat di depan menantunya, meski dadanya sendiri terasa diremas.
Ia menatap jauh ke depan, ke jalan yang berdebu.
"Jadi..." kata Pak Hendra dengan suara yang ia tahan agar tidak bergetar. "Hanya ada satu kemungkinan yang bisa membuat Anya sembuh, Han."
Arhan mengangkat wajahnya, menatap mertuanya itu.
"Apa, Pa?" tanya Arhan.
Pak Hendra menoleh ke Arhan. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tersenyum tipis, senyum yang dipaksakan agar Arhan tidak semakin jatuh.
"Keajaiban," kata Pak Hendra. "Hanya keajaiban yang bisa buat Anya sembuh sekarang."
Ucapan sederhana itu membuat Arhan tertegun.
Keajaiban.
Satu kata itu menggantung di dalam mobil yang sempit. Tidak ada penjelasan medis, tidak ada istilah dokter, hanya satu kata itu.
Di dalam mobil, Arhan masih terdiam memikirkan kata itu. Ia tidak pernah percaya pada keajaiban sebelumnya. Hidupnya selalu soal logika, soal hasil lab dan jadwal kontrol. Tapi sekarang, setelah semua dokter bilang nihil, kata itu terasa menjadi satu-satunya harapan yang tersisa.
Arhan terdiam. Kata itu terus berputar di kepalanya.
Keajaiban.
Sementara itu, di rumah.
Di ruang tamu, Ibu Soraya dan Anya masih duduk berdua. Rantang sup ayam sudah di dapur, vas kaca berisi lily putih ada di atas meja di depan mereka. Sore sudah benar-benar terang di luar.
"An," kata Ibu Soraya pelan. Ia memanggil Anya dengan lembut. "Keadaan kamu gimana, Nak? Kamu ngerasa membaik?"
Anya yang sedang memegang vas kaca itu menoleh. Jemari pucatnya mengelus kaca yang dingin.
Ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Nggak tau, Ma," kata Anya dengan suara pelan. "Anya nggak pernah tau. Dokter nggak pernah bilang detail sama Anya. Arhan cuma bilang stabil, boleh pulang, rawat jalan."
Ibu Soraya menarik napas pelan, mencoba menguatkan diri. Ia ingat pesan Pak Hendra selama perjalanan ke rumah anak mereka, agar jangan banyak tanya soal keadaan Anya.
Ibu Soraya mengangguk pelan, mencoba menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Tapi..." Anya melanjutkan, suaranya lebih kecil lagi. "Anya ngerasa Arhan nyimpen sesuatu dari Anya, Ma."
Ibu Soraya tertegun.
"Maksud kamu?" tanya Ibu Soraya.
"Arhan," kata Anya sambil menatap ke arah pintu depan yang terbuka, "Sudah hampir dua hari ini, Arhan terlihat berbeda, Ma. Dia baik banget, dia ngurus semuanya, tapi matanya... matanya kayak sedih terus. Kayak ada yang dia tutupin."
Anya menunduk, jarinya memainkan kelopak lily putih yang ada di dalam vas.
"Anya takut, Ma," kata Anya pelan. "Anya takut Arhan bohong supaya Anya nggak kepikiran."
Ibu Soraya yang mendengar itu langsung mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau Anya terlalu banyak berpikir.
Ibu Soraya tersenyum dan menyentuh tangan Anya, hangat.
"An," kata Ibu Soraya. "Arhan itu suami yang baik, Nak. Suami yang ideal buat kamu. Mama lihat sendiri seminggu ini, bahkan hari ini, dia ngurus kamu tanpa mengeluh sama sekali. Semua dia yang kerjain."
Anya mendengarkan, matanya menatap ibunya.
"Mama bersyukur kamu punya suami kayak Arhan, Nak," lanjut Ibu Soraya. "Nggak semua laki-laki bisa kayak gitu. Kamu beruntung."
Sambil memegang bunga lily putih yang berada di dalam vas, Anya mengangguk pelan. Ia memegang batang lily itu dengan kedua tangannya, mengelusnya dengan hati-hati, seolah takut merusaknya.
"Anya akui, Ma," kata Anya dengan suara pelan tapi tulus. "Arhan selama ini nggak pernah ninggalin Anya. Dari pertama kali Anya divonis kanker, sampai kemo, sampai rambut Anya rontok, dia selalu ada. Dia selalu ngerawat Anya. Nggak pernah marah, nggak pernah capek."
Anya tersenyum kecil, matanya mulai berkaca-kaca.
"Kalau bukan karena Arhan, mungkin Anya udah nyerah dari dulu, Ma."
Ibu Soraya mengangguk, matanya juga ikut berkaca-kaca mendengar ucapan putrinya itu. Ia mengusap punggung tangan Anya dengan lembut.
"Iya, An. Mama tau," kata Ibu Soraya.
Hening sejenak. Hanya terdengar suara jam dinding di ruang tamu yang berdetak pelan.
Anya masih memegang vas kaca berisi lily putih itu. Ia mengangkatnya sedikit, ingin memindahkannya ke tengah meja agar lebih terlihat.
Tapi tangannya yan semakin lemah dan mudah lelah tiba-tiba bergetar.
Tangannya licin.
Tiba-tiba saja vas yang berisi bunga lily putih itu jatuh dari tangan Anya.
"Ma!"
Vas itu meluncur dari genggamannya. Tidak mengenai kakinya, jatuh beberapa senti di samping kaki Anya. Tapi vas bunga dari kaca itu hancur seketika.
Prak!
Pecahan kaca menyebar di lantai ruang tamu. Air dari dalam vas tumpah ke mana-mana, membasahi karpet tipis. Dan bunga lily putih itu tergeletak di atas lantai, kelopaknya yang putih bersih kini terkena air keruh dan pecahan kaca kecil.
Anya tertegun, tangannya masih menggantung di udara. Wajahnya pucat.
Ibu Soraya langsung berdiri. Panik melihat pecahan kaca yang berserakan di dekat kaki putrinya.
Napas Anya tercekat melihat lily putih itu tergeletak kotor di lantai.