NovelToon NovelToon
Aku Ingin Pulang

Aku Ingin Pulang

Status: tamat
Genre:Fantasi / Idola sekolah / BTS / Tamat
Popularitas:320
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 — Anak yang Selalu Salah

Clara gak jadi ke rumah sakit sore itu.

Bukan karena dia gak mau. Karena Mutiara yang maksa dia pulang dulu.

"Gila ya lo, Ra. Dokternya bilang bawa orang tua. Lo mau dateng sendirian terus pingsan di sana? Gue gak mau jadi saksi lo tumbang di IGD."

Akhirnya mereka turun di halte deket rumah Clara. Mutiara masih megangin tangan Clara. Erat banget. Kayak takut Clara kabur.

"Amplopnya jangan dibuka dulu sendirian ya. Janji?" kata Mutiara.

Clara ngangguk. Amplop coklat dari lab itu ada di dalem tasnya. Rasanya berat banget. Padahal cuma kertas.

"Gue simpen dulu. Besok pagi gue ke sana sama lo. Lo jangan bohong lagi."

"Janji," kata Clara.

Padahal dia tau dia bakal bohong lagi.

Bus Mutiara dateng. Mutiara naik, tapi masih noleh dari jendela.

"Chat gue kalau apa-apa! Jangan sok kuat!"

Clara lambaian tangan. Senyum tempelan udah balik lagi. Otomatis.

Abis bus ilang, senyumnya langsung jatuh.

Rumah di depan mata. Lampunya udah nyala. Dari luar kedengeran suara TV. Suara Thea ketawa.

Clara tarik napas panjang. Oke. Mode anak baik on lagi.

Dia buka pagar. Buka sepatu. Rapiin. Thea punya berantakan lagi di depan pintu. Seperti biasa.

Dalem rumah wangi banget. Nenek Kamila lagi masak.

"Clara pulang?" Nenek nongol dari dapur. Mukanya langsung senyum. Satu-satunya senyum di rumah ini yang tulus.

"Iya, Nek."

Nenek ngelirik jam dinding. Terus ngelirik ke tas Clara.

"Telat. Habis dari mana?"

Clara kaget. Nenek tuh radarnya kenceng banget.

"Eh... tadi kelompokan. Di sekolah."

Nenek gak nanya lagi. Cuma angguk. Tapi matanya kayak tau Clara bohong.

"Cuci tangan gih. Makan malam bentar lagi mateng. Nenek masak sop ayam kesukaan kamu."

Clara pengen meluk Nenek saat itu juga. Tapi dia tahan. Kalau meluk kelamaan nanti ketauan matanya abis nangis.

Di ruang tengah, Mama Vania lagi duduk sambil mijitin kaki Thea yang selonjor di sofa.

Thea, adeknya. Kelas 9. Cantik. Manja. Dan jago banget jadi pusat dunia.

"Ma, Thea capek banget hari ini tau. Di sekolah disuruh lari 2 keliling," kata Thea manja.

Mama Vania langsung panik.

"Ya ampun sayang, makanya jangan lari. Kan kata dokter gak boleh capek-capek. Sini mama pijitin."

Clara lewat di belakang mereka. Bawa tas.

"Mama, Clara pulang," katanya pelan.

Mama Vania noleh sekilas.

"Oh iya. Sana ganti baju. Bantuin Nenek siapin meja."

Gak ada "capek gak?". Gak ada "gimana sekolahnya?".

Clara udah apal.

Dia masuk kamar. Ganti baju. Pas buka tas, amplop lab itu jatuh.

DEG.

Dia buru-buru pungut. Selipin di bawah bantal. Ditutupin sama guling.

Jangan sampai Mama liat. Jangan sampai Papa liat. Belum sekarang.

---

Makan malam di rumah Nagendra itu kayak sidang. Bukan makan.

Papa Faizan duduk di ujung. Mama di sebelahnya. Thea di sebelah Mama. Clara di ujung paling jauh. Nenek di sebelah Clara. Kayak tim.

Lauknya banyak. Sop ayam, tempe goreng, sambel, lalap. Semua Nenek yang masak.

Clara yang bantuin nata piring.

"Ma, minumnya udah aku siapin," kata Clara.

Mama angguk aja.

Awalnya hening. Cuma suara sendok aduh piring.

Sampai Papa Faizan buka suara.

"Clara, tadi Bu Wati telfon Papa."

Clara langsung tegak. Bu Wati itu wali kelasnya.

"Iya, Pah?"

"Katanya kamu izin gak ikut les tambahan matematika kemarin. Kenapa?"

Jantung Clara loncat. Kemarin dia izin karena harus ke lab. Tapi dia bilangnya lesnya bentrok.

"Eh itu... kemarin aku..."

Belum selesai ngomong, Thea nyela.

"Pah, aku juga gak ikut les hari ini. Capek."

Papa langsung beda nada. Lembut banget.

"Ya gapapa sayang, kalau capek istirahat aja. Jangan dipaksain. Nanti Papa bilang Bu Wati."

Clara diem. Ngeliatin piringnya.

Lah? Kok bisa beda gitu?

Papa balik lagi ke Clara. Nada balik dingin lagi.

"Kamu tuh jangan banyak alasan, Clara. Kamu kan kakak. Harus kasih contoh. Les itu penting buat olimpiade kamu. Masa kalah sama alasan capek?"

Clara ngeremas sendoknya.

"Aku kemarin kontrol, Pah. Ke lab. Makanya gak bisa ikut les."

Itu salah. Dia keceplosan. Harusnya gak bilang.

Mama Vania langsung ngerutkin dahi.

"Kontrol apa? Kamu sakit apa? Jangan bikin drama deh. Thea aja yang jelas-jelas sakit gak pernah drama kayak kamu."

Thea yang lagi makan ayam, tiba-tiba batuk kecil. Langsung semua panik.

"Thea! Kamu gapapa? Minum dulu sayang!" Mama langsung tuangin air, elus-elus punggung Thea.

Padahal batuknya cuma keselek.

Papa ngeliatin Clara. Tatapannya tuh kayak bilang "liat tuh, kamu bikin ribet".

"Clara, kalau gak ada yang penting, jangan ngomongin sakit-sakit segala. Di rumah ini udah cukup satu yang sakit. Gak usah nambah-nambahin."

Satu kalimat. Tapi rasanya kayak ditampar.

Clara nunduk. Matanya panas. Tapi dia tahan. Kalau nangis di meja makan, besok diceramahin lagi 1 jam.

Nenek Kamila di sebelahnya, di bawah meja, pelan-pelan megang lutut Clara. Ngeremas pelan. Kode "Nenek di sini".

Clara hampir jebol. Tapi dia tahan.

"Nenek, sopnya kurang garam ya?" Thea tiba-tiba bilang. Padahal mangkoknya udah mau abis.

Nenek senyum sabar. "Oh iya? Nanti Nenek tambahin ya sayang."

Gak ada yang marah. Gak ada yang bilang Thea manja.

Tapi pas Clara, 5 menit kemudian, gak sengaja nyenggol gelas air sampe tumpah dikit di taplak...

"CLARA! Hati-hati dong kalau naruh gelas! Taplak baru dicuci! Kamu tuh ceroboh banget sih jadi anak!"

Papa Faizan meledak. Gara-gara air tumpah setengah gelas.

Clara langsung berdiri. Lap-lap pake tisu. Tangannya gemeter.

"Maaf, Pah. Maaf aku lap."

Mama Vania malah nambahin.

"Kamu tuh udah SMA masih aja ceroboh. Gimana mau jadi contoh buat Thea?"

Thea diem aja. Ngeliatin Clara dilabrak sambil ngunyah tempe.

Clara ngerasa badannya kecil banget. Kursi jadi kegedean buat dia.

Nenek Kamila berdiri. Ambil lap.

"Udah udah, gak apa. Namanya juga gak sengaja. Sini Nenek bantuin."

Nenek lap mejanya. Terus pelan-pelan narik Clara duduk lagi.

"Udah, makan lagi. Sopnya keburu dingin."

Makan malam lanjut. Tapi Clara udah gak nafsu. Sop ayam kesukaannya rasanya jadi hambar.

Dia ngeliatin keluarganya. Mama suapin Thea. Papa nanya PR Thea. Nenek ngelirik Clara dengan tatapan khawatir.

Clara ada di meja yang sama. Tapi kayak gak diundang.

Anak yang selalu salah. Apapun yang dia lakuin.

Dapet 98 salah. Karena bukan 100.

Tumpahin air salah.

Bilang capek salah.

Diem juga salah.

Jadi harus gimana?

---

Abis makan, Clara bantuin Nenek cuci piring di dapur. Ini satu-satunya waktu dia bisa napas.

"Nek..." Clara suaranya kecil.

Nenek noleh. Tangan masih busaan sabun.

"Kenapa, sayang?"

Clara pengen nanya. Kenapa sih Nenek aja yang sayang sama dia? Kenapa jadi anak baik gak pernah cukup? Kenapa dia harus dapet 100 terus baru dilirik? Kenapa Thea yang ngelakuin hal sama malah dibela?

Tapi yang keluar cuma,

"Nenek gapapa?"

Nenek ketawa kecil. Ketawanya keriput.

"Nenek mah gapapa. Nenek udah kenyang liat kamu makan tadi. Walaupun cuma dua suap."

Clara kaget. Ketauan lagi.

Nenek ngusap tangan, terus ngelus kepala Clara. Lama.

"Clara, kalau di rumah ini rasanya sesak, kamu ke Nenek aja ya. Jangan dipendem sendiri."

Clara angguk. Air matanya udah di ujung. Mau jatuh.

"Nek, aku..."

Belum selesai.

Dari ruang tengah kedengeran suara Mama Vania manggil.

"Clara! Sini! Cuciin piringnya Thea sekalian! Dia mau belajar!"

Clara ngela napas. Ya, balik lagi.

"Iya, Ma! Sebentar!"

Nenek ngeremas bahu Clara.

"Sabar ya, Ra."

Clara balik ke meja makan. Ngambil piring Thea. Thea malah udah kabur ke kamar sambil main HP. Piringnya masih ada sisa ayam.

Clara cuci. Satu-satu. Sambil nahan perih di pinggang belakangnya yang dari tadi udah nyut-nyutan lagi. Efek dari lab tadi pagi kayaknya.

Selesai cuci, dia balik ke kamar. Kunci pintu.

Baru disitu dia berani nangis. Gak bersuara. Cuma bahunya naik turun.

Dia tarik bantal. Ngambil amplop lab dari bawahnya. Dia belum berani buka.

Terus dia ngambil diary biru.

Dia tulis. Tangannya gemeter karena nahan nangis.

Malam ini aku tumpahin air. Doang. Setengah gelas.

Dimarahin kayak aku habis bakar rumah.

Thea tumpahin kuah ke lantai minggu lalu, Mama malah ketawa bilang 'lucu'.

Gue harus gimana lagi sih biar disayang?

Gue udah pinter. Gue udah nurut. Gue udah gak pernah minta apa-apa.

Tapi tetep aja gue yang salah terus.

Apa karena gue bukan anak yang mereka mau dari awal?

Capek, Di.

Capek banget jadi Clara.

Dia tutup diary. Nempelin ke dada.

Di luar kamar, kedengeran Nenek sama Mama agak debat kecil di dapur.

"Kasihan Clara, Van. Jangan keras-keras sama dia. Dia juga butuh diperhatiin."

"Ma, Mama gak ngerti. Thea lagi sakit. Aku pusing. Clara kan udah gede, harusnya ngerti dong."

Clara denger semuanya. Jelas banget. Tembok kamarnya tipis.

Dia rebahan. Ngeliatin langit-langit.

Dalam hati dia ngitung. Besok harus ke rumah sakit lagi. Hasil lab. Dokter mau ketemu orang tua.

Orang tua yang bahkan gak mau denger dia kontrol.

Gimana caranya ngomong?

HP-nya geter lagi.

Chat dari Mutiara.

Mut: Ra, lo udah di rumah? Amplopnya gimana?

Clara mau ngetik "belum dibuka". Tapi belum sempat keketik.

Ada chat baru masuk. Nomor yang sama kayak tadi siang.

RSUD Harapan.

Isinya cuma satu baris.

[Ibu Vania dimohon segera menghubungi bagian Nefrologi. Penting.]

Clara bengong. Kenapa yang dihubungin Mama? Bukan dia?

Jantungnya berdebar kenceng banget. Kayak mau loncat.

Tiba-tiba dari luar...

TOK TOK TOK.

Pintu kamarnya diketuk lagi. Kali ini lebih pelan.

"Clara? Ini Nenek."

Clara buru-buru ngumpetin diary sama amplop ke bawah selimut. Ngusap muka.

"Iya, Nek? Masuk."

Pintu kebuka. Nenek Kamila masuk bawa segelas susu hangat. Mukanya khawatir banget. Beda dari biasanya.

Nenek duduk di pinggir kasur. Ngeliatin Clara lama.

"Ra... tadi Nenek beresin tas cucian kamu..."

Clara langsung lemes. Tas sekolahnya tadi dia taruh di ruang cuci.

Nenek ngeluarin sesuatu dari kantong dasternya.

Kertas. Lipetan. Struk kecil dari apotek.

Clara kenal kertas itu. Struk obat yang dia beli sembunyi-sembunyi bulan lalu. Obat penahan nyeri pinggang.

Nenek megang struk itu. Tangannya gemeter.

"Clara... kamu sakit apa, sayang? Jujur sama Nenek. Jangan bohong lagi."

Dan di saat yang sama, HP Clara bunyi lagi. Kenceng. Nada dering rumah sakit.

Nama Mama Vania muncul di layar.

Mama nelfon dia.

Tumben banget.

1
yonggi🐱
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!