Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Sah yang Tak Sah
Keesokan paginya, rumah Zarreti terlihat lebih ramai dari biasanya.
Beberapa orang kepercayaan Arven sudah bersiap di halaman. Tidak banyak, tetapi cukup untuk memastikan semua keperluan acara pagi itu berjalan lancar.
Sebuah mobil berhenti tidak jauh dari pintu utama.
Pintu terbuka.
Sepasang suami istri turun dengan wajah penuh kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang.
Mireya yang sejak tadi menunggu di ruang tengah langsung berdiri.
Begitu melihat wajah kedua orang itu, dadanya terasa sesak.
“Bapak…”
“Ibuk…”
Kedua orang tua Mireya menatap putri mereka.
Untuk beberapa saat, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.
Mereka hanya saling memandang, seolah sedang mencoba mencocokkan perempuan yang berdiri di hadapan mereka dengan bayangan putri yang terakhir kali mereka antar pergi lima tahun lalu.
Lima tahun.
Sudah selama itu mereka tidak melihat Mireya secara langsung.
Dalam ingatan mereka, Mireya yang terakhir kali mereka lihat adalah seorang kembang desa. Wajahnya cantik, pembawaannya lembut, dan senyumnya selalu membuat orang di sekitarnya senang.
Namun, perempuan yang berdiri di hadapan mereka sekarang tampak berbeda.
Tubuhnya jauh lebih berisi dibandingkan lima tahun lalu. Wajahnya juga terlihat lebih lelah.
Akan tetapi, tidak satu pun dari perubahan itu mengubah pandangan mereka terhadap putrinya.
Ibunya justru segera melangkah mendekat. “Mireya…” Pelukan hangat langsung diberikan kepada putrinya.
Mireya memejamkan mata. “Ibuk…”
Suaranya bergetar.
Ibunya mengusap punggung Mireya perlahan.
“Kamu kenapa jadi seperti ini, Nak?”
Mireya menundukkan kepala.
Bapaknya yang sejak tadi diam akhirnya ikut mendekat. “Kamu sakit?”
Mireya cepat-cepat menggeleng. “Tidak, Pak.”
“Lalu kenapa tidak pernah memberi kabar?”
Pertanyaan sederhana itu justru terasa paling sulit untuk dijawab.
Mireya menghela napas.
Ada begitu banyak hal yang ingin ia ceritakan. Tentang rumah tangganya. Tentang perceraian. Tentang penghinaan yang selama ini diterimanya.
Namun, melihat wajah kedua orang tuanya yang mulai menua, Mireya tidak sanggup membuat mereka semakin khawatir.
Ia hanya tersenyum kecil. “Maaf.”
Ibunya menggenggam kedua tangannya. “Yang penting sekarang kami sudah melihat keadaanmu. Kamu baik-baik saja, kan?”
Mireya menatap mereka bergantian. “Bapak dan Ibuk tidak kecewa padaku, kan?”
“Kecewa karena apa?”
“Karena Mireya sudah berubah.”
Ibunya menggeleng. “Tubuhmu berubah bukan berarti kamu berubah menjadi orang lain.”
Mata Mireya langsung berkaca-kaca. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia kembali memeluk ibunya.
Dari kejauhan, Arven memperhatikan mereka tanpa mengatakan apa pun.
Pak Can berdiri di sampingnya. “Orang tua Nona sudah tiba, Tuan.”
Arven mengangguk. “Pastikan semua kebutuhan mereka terpenuhi.”
“Baik, Tuan.”
.
.
Beberapa waktu kemudian, ruang utama rumah Zarreti telah disiapkan untuk acara sederhana.
Tidak ada dekorasi berlebihan. Tidak ada tamu dalam jumlah besar. Hanya keluarga, penghulu, beberapa orang kepercayaan Arven, dan kedua orang tua Mireya.
Mireya duduk dengan kedua tangan di atas pangkuannya.
Di sampingnya, ibunya sesekali mengusap lengannya, seolah ingin memastikan putrinya tidak merasa sendirian.
Bapaknya duduk sebagai wali. Mireya menarik napas perlahan.
Kemudian pandangannya beralih kepada Arven.
Pria itu duduk dengan tenang. Tidak tampak gugup atau ragu. Wajahnya sama datarnya seperti biasa.
Seolah pernikahan ini hanyalah satu urusan yang harus segera diselesaikan.
Mireya hampir tersenyum. Memang begitu. Sejak awal, pernikahan ini bukan tentang cinta. Arven membutuhkan seorang ibu untuk Elden.
Sementara dirinya membutuhkan pekerjaan, tempat tinggal, dan kesempatan untuk memulai hidup dari awal.
Mireya menunduk.
Namun, ketika teringat wajah Elden, hatinya terasa sedikit hangat.
Mireya menggenggam jemarinya sendiri.
'Ini jalan yang kupilih.'
'Kalau aku sudah memilihnya, aku harus menjalaninya sampai selesai.'
Beberapa saat kemudian, prosesi akad dimulai. Ruangan yang awalnya dipenuhi percakapan kecil, kini mendadak hening.
Bapaknya duduk sebagai wali. Dua orang saksi telah berada di tempat masing-masing.
Penghulu membacakan beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum akad dilaksanakan. Mireya mendengarkan dengan tenang.
Kemudian tiba saatnya Arven mengucapkan ijab kabul. Pria itu duduk dengan tegak. Tatapannya lurus. Tidak ada sedikit pun keraguan di wajahnya.
Akad berlangsung singkat. Sekali tarikan napas. Sekali pengucapan.
Kemudian penghulu menoleh kepada para saksi.b“Bagaimana?”
“SAH.”
Suara itu terdengar hampir bersamaan.
Ibunya Mireya mengusap dada lega. Bapaknya mengembuskan napas panjang.
Mireya sendiri hanya terdiam. Jarinya menggenggam kain di pangkuannya.
Entah mengapa, setelah mendengar satu kata itu, dadanya terasa berdebar. Ia menoleh kepada Arven.
Pria itu juga sedang memandangnya. Tidak ada senyum. Tidak ada tatapan cinta. Hanya tatapan datar, baru saja mengambil keputusan besar.
Mireya menarik napas. Mulai hari ini, semuanya berubah.
Arven kemudian berdiri. Tatapannya tetap tertuju kepada Mireya. “Mulai hari ini, kau adalah Nyonya Zarreti.”
Mireya terdiam sesaat. Kemudian mengangguk. “Baik.”
Arven melanjutkan dengan suara rendah. “Penuhi semua kebutuhannya."
Mireya tersenyum tipis. “Baik.”
Tiba-tiba terdengar suara langkah kecil dari lorong.
“Ayah!”
Semua orang menoleh.
Elden berlari masuk sambil membawa boneka gajah kesayangannya. Begitu melihat Mireya, wajahnya langsung berbinar.
“Ibu!”
Mireya tersenyum. Ia membuka kedua tangannya.
Elden langsung berlari ke arahnya dan memeluknya. “Ibu sudah menikah dengan Ayah?”
Elden memandang keduanya bergantian.
“Berarti sekarang Ibu benar-benar tinggal di sini bersama kami?”
Mireya mengusap rambutnya. “Iya.”
Elden langsung bersorak. “Yeay!”
Ia memeluk Mireya semakin erat. “Nanti kita bisa berkebun setiap hari!”
Mireya tertawa kecil. “Iya. Tapi kamu harus membantu Ibu.”
“Aku mau!”
“Dan harus makan sayur.”
Senyum Elden langsung menghilang. “Tidak mau.”
Mireya mengangkat alis.
“Katanya mau membantu?”
“Bantu tanam saja. Tidak bantu makan.”
Beberapa orang di ruangan itu menahan tawa.
Mireya menggeleng. “Anak ini…”
Elden malah tertawa sambil memeluknya. Mireya mengusap kepala anak itu.
Matanya terpejam sesaat.
Di hadapan semua orang, hari ini ia telah menjadi bagian dari keluarga Zarreti.
Namun, di dalam hatinya, menyimpan satu rahasia yang tak diketahui siapa pun di rumah ini.
Awalnya, mereka semua hanya tahu Mireya hanya janda. Tanpa tahu janda sejak kapan.
'Aku tak diberi kewajiban melayani suami. Pekerjaanku hanya merawat Elden. Ya ... Fokusku hanya Elden.'
*bersambung*
kontrak oh kontrak🤔
mending jujur daripada mantan mertua yang mengacaukan semua greget sama Mire
trauma diselingkuhi itu kyk kangker dufalam tubuh,ga keliatan tapi sakitnya nyata. merasuk Ampe kedalam aliran darah dan otak kita tanpa kita sadari
selalu mempertanyakan apakah kita cukup baik
apakah ini semua karena salah kita?
apakah ada g kurang dr kita?
sampai mati pasti kebawa🥹🥹
Mau nya lupa
maunya ga dipikirin
tapi...🫣🥹🥹
Dia takut nasib pernikahannya akan sama dgn sebelumnya
bahkan sekelas artis sebelah aj yg lagi rame
ketemu yg baru,setengah mampus nyerein istrinya 🤣🤣.
katanya yg baru dipilih karena lemah lembut.
hei...kami juga awalnya kembang desa
pas lama nikah jadi kembang api🤣🤣🤣
apalagi pengalaman mireya yg paket komplit...🥹
hatinya aja ga ada gerbang nya di KK
ga ada yg jagain🤣🤣🤣
Iddah itu berlaku pas suami ngucapin talak kan?
nah...si b4ngs4t itukan nalak nya udah lama...lebih dr 3 bulan kali
di pengadilan mah tinggal ketik pali doank
wahhhh....begini orang yg ga ngerti agama sok sok an mau pake dalili agama
tapi bener Lo
kita yg terbiasa di sajikan pisau didepan mata,tetibaan dikasih bunga
pasti bingung kan ya🫣🥹🥹