NovelToon NovelToon
Datang Untuk Membayar

Datang Untuk Membayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Iblis
Popularitas:295
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

DATANG UNTUK MEMBAYAR

(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)

"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."

Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.

Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.

Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.

Siapa yang baru saja membayar?



Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: JEJAK DI BALIK GARIS

Di bawah terik matahari siang hari Senin tanggal sembilan, garis polisi kuning hitam di teras rumah sebelah membentang kaku.

Pita plastik tebal itu berkilat saat diterpa angin kering yang berhembus melintasi jalan aspal gang permukiman kami.

Warga sekitar yang berjalan melewati teras kerap memperlambat langkah, menatap nanar ke arah pintu rumah Maya.

Dini berdiri di dekat pintu teras depan rumah kami, memperhatikan kasak-kusuk beberapa tetangga yang berkumpul di gang.

"Bu... warga di luar makin banyak yang membicarakan rumah Tante Maya," bisik Dini melangkah mendekatiku.

"Biarkan saja, Din. Asal mereka mboten melintasi garis polisi di depan teras," sahutku menenangkan anak keduaku itu.

"Mbak Yuni dari tadi berdiri di depan warung sambil menunjuk-nunjuk ke arah pintu belakang," tambah Dini memberi tahu.

"Wajar kalau warga penasaran setelah lihat polisi datang membawa karung goni tadi pagi," balasku mengangguk pelan.

"Ranti takut kalau desas-desus warga makin aneh-aneh, Bu," timpal Ranti yang baru keluar dari kamar.

"Mboten usah didengar, Ran. Kita pegang keterangan resmi dari Pak RT dan Polsek saja," sahutku tegas.

"Mbak Dini juga jangan berdiri terlalu dekat sama pintu teras," pesan Ranti menatap kakaknya.

"Iya, Ran. Mbak cuma lihat sebentar dari balik kelambu jendela," balas Dini mengangguk.

Ranti mendudukkan diri di sofa kayu, memandangi meja makan porselen yang kini tampak lengang dan bersih.

Dua potongan kain perca yang biasanya tersimpan di laci meja rias kini sudah dibawa polisi.

Namun, bayangan daster kusam berkerak tanah merah di dalam karung goni tadi pagi masih melekat kuat di benakku.

Tepat tengah malam semalam, karung goni itu terhempas kaku di ambang pintu samping kami.

Pertanyaan tentang bagaimana benda itu bisa berpindah dari rumah sebelah terus membentur pikiranku yang resah.

Pukul satu siang, suara langkah kaki setengah berlari terdengar mendekati pagar teras rumah kami.

Srek... srek...

Mbak Yuni menghentikan langkahnya di luar pagar, menatapku dengan raut wajah tegang dan napas memburu.

"Bu Sari! Sampun dengar kabar terbaru dari warung depan mboten?" panggil Mbak Yuni setengah berbisik.

Aku bergegas berdiri dari sofa kayu, melangkah menuju teras depan untuk menghampiri Mbak Yuni.

"Wonten kabar punapa, Mbak Yuni?" tanyaku menatap raut wajah tetangga kami itu.

"Tadi Bu RT cerita, tukang sayur keliling sempat lihat Rian hari Sabtu sore di ujung jalan raya," ujar Mbak Yuni cepat.

"Rian kelihatan bawa karung goni besar di boncengan motor matik hitamnya," tambah Mbak Yuni memperjelas.

"Karung goni besar yang dibawa Rian hari Sabtu sore?" tanyaku mengejar detail.

"Inggih, Bu Sari! Tukang sayurnya bilang karung goni itu kelihatan berat banget sampai motornya agak miring," sahut Mbak Yuni.

"Berarti karung goni yang dibawa polisi tadi pagi ada hubungannya sama Rian?" timpal Dini yang ikut berdiri di balik pintu.

"Kulo mboten tahu pasti, Mbak Dini. Tapi warga di warung pada curiga Rian memang kabur bawa barang," balas Mbak Yuni.

"Mbak Yuni, sebaiknya kita mboten menyebarkan dugaan sebelum polisi memberi keterangan resmi," potongku menenangkan suasana.

"Nggih, Bu Sari. Tapi warga kan pada cemas kalau ada kejadian ganjil begini di gang kita," sahut Mbak Yuni mengelak.

"Pak RT kan sudah wanti-wanti supaya warga tetap tenang dan menjaga keamanan lingkungan," tegasku mengingatkan.

"Inggih, Bu Sari. Kulo cuma mau menyampaikan apa yang diributkan orang-orang di warung tadi," ujar Mbak Yuni.

"Matur nuwun informasinya, Mbak Yuni. Jangan lupa kunci pintu rumah juga nggih," pesanku.

"Inggih, Bu Sari. Kulo pamit dulu," balas Mbak Yuni melangkah pergi.

Mbak Yuni melangkah pergi meninggalkan teras depan rumah kami, kembali menyusuri jalan aspal menuju warung gang.

Dini menatapku dengan pandangan cemas sembari memegang lengan bajuku erat-erat di teras depan.

"Bu... kalau Rian benar-benar bawa karung goni hari Sabtu, kenapa karung itu baru jatuh semalam?" bisik Dini bingung.

"Iibu juga mboten tahu, Din. Itu tugas polisi untuk menelusuri jejak keberadaan Rian dan Maya," sahutku pelan.

"Tiga puluh ribu uang belanja itu... apa benar-benar ada kaitannya sama karung goni itu, Bu?" tanya Ranti perlahan.

"Kita mboten boleh berandai-andai tanpa bukti, Ran," jawabku mengusap lembut kepala anak bungsu saya.

"Yang penting sekarang kita jaga rumah dan fokus sama pekerjaan kita masing-masing," tambahku memberi ketenangan.

"Mbak Dini bantuin Ranti merapikan pakaian di kamar nggih," ajak Ranti pada kakaknya.

"Iya, Ran. Ayo kita bereskan kamar dulu," sahut Dini mengangguk setuju.

Pukul dua siang lewat seperempat, Pak RT melangkah menyusuri jalan gang dengan membawa map kertas cokelat.

Langkah kaki Pak RT terdengar kaku di atas jalan aspal kering, memecah kesunyian siang yang terik.

Pak RT menghentikan langkahnya di depan teras rumah kami, menganggukkan kepala memberi salam secara sopan.

"Selamat siang, Bu Sari," sapa Pak RT dengan suara yang agak serak karena lelah.

"Selamat siang, Pak RT. Mampir dulu, Pak, dherek pinarak teng teras," sambutku membuka pintu pagar.

Pak RT melangkah masuk ke teras depan, mendudukkan diri di atas kursi jalinan rotan yang teduh.

Dini bergegas ke dapur kecil untuk mengambilkan segelas air putih hangat untuk pengurus RT kami.

"Matur nuwun sanget, Mbak Dini," ujar Pak RT menerima gelas porselen dari tangan Dini.

Pak RT menyesap air putih hangat itu perlahan, lalu meletakkan gelasnya di atas meja kayu teras.

"Pripun perkembangan dari pihak Polsek, Pak RT?" tanyaku membuka percakapan.

"Petugas Polsek tadi siang sempat menghubungi kulo lewat telepon kantor desa," terang Pak RT mengawali.

"Tim identifikasi Polsek rencananya besok pagi mau datang lagi untuk olah tempat kejadian perkara lanjutan," tambah Pak RT.

"Olah tempat kejadian perkara lanjutan di dalam rumah Bu Maya, Pak?" tanya Dini menyimak dari pintu.

"Inggih, Mbak Dini. Polisi mau memeriksa bercak tanah merah di ubin dapur dan kamar tengah lebih teliti," jawab Pak RT.

"Lalu soal karung goni sama daster yang dibawa tadi pagi pripun, Pak RT?" tanyaku ingin tahu.

"Bripka Haryono bilang barang bukti itu sedang diperiksa di laboratorium kepolisian," ujar Pak RT menjelaskan.

"Petugas juga mencatat keterangan tukang sayur yang sempat lihat Rian bawa karung hari Sabtu lalu," sambung Pak RT.

"Berarti cerita Mbak Yuni tadi soal Rian di jalan raya memang benar, Pak?" tanya Ranti menimpal.

"Cerita soal tukang sayur lihat Rian itu memang dicatat polisi, Ran. Tapi kita mboten boleh berspekulasi sendiri," tegas Pak RT.

"Sikap Pak RT sangat benar. Kita serahkan semua proses hukum ke pihak kepolisian," sahutku setuju.

"Oh inggih, Bu Sari. Polisi juga berpesan supaya garis polisi di rumah sebelah mboten disentuh warga," tambah Pak RT.

"Pasti, Pak RT. Kami bertiga bakal ikut mengawasi dari teras rumah," balasku mantap.

"Warga yang lewat teras tadi juga sudah kulo ingatkan supaya mboten mengambil foto atau mendekat," ujar Pak RT.

"Matur nuwun sanget, Pak RT. Langkah penjagaan niki pancen sangat penting," timpal Dini.

"Matur nuwun sanget, Bu Sari. Kulo pamit dulu mau keliling mengecek keamanan gang," ujar Pak RT berdiri.

Pak RT melangkah meninggalkan teras depan rumah kami, melanjutkan tugasnya sebagai pengurus RT.

Setidaknya, setelah mendengar penjelasan Pak RT, aku tahu apa yang akan dilakukan polisi besok pagi.

Namun, keheningan siang yang merambat menuju sore tetap menyimpan getaran tegang di dalam benak kami.

Rumah Maya yang terpagar garis polisi tampak kian muram di bawah temaram bayang-bayang dahan pohon mangga.

Pukul tiga sore, Dini dan Ranti melipat pakaian bersih di atas meja makan porselen ruang tengah.

Aroma harum sabun cuci menguar lembut di ruang tengah, menyelimuti kesunyian sore di dalam rumah.

Sinar matahari sore menembus celah jendela kayu, membias redup di atas permukaan lantai ubin semen.

"Bu, Dini sudah merapikan lemari pakaian di kamar depan," ujar Dini menyerahkan tumpukan kain.

"Terima kasih banyak nggih, Din. Ditaruh di atas sofa dulu saja," sahutku tersenum hangat.

"Ranti buatkan teh hangat untuk kita bertiga nggih, Bu," tawar Ranti melangkah ke dapur.

"Iya, Ran. Buatkan teh hangat manis saja biar badan tidak dingin," balasku setuju.

Ranti berjalan menuju dapur kecil, memutar keran air dan menyalakan kompor gas dengan cekatan.

Suara gemericik air dan denting cangkir seng berbunyi perlahan memecah kesunyian rumah kami.

Beberapa menit kemudian, Ranti kembali ke ruang tengah membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat.

Aroma teh manis yang menyengat menguap lembut dari cangkir porselen di atas meja makan.

"Niki teh hangatnya, Bu, Mbak Dini," ujar Ranti meletakkan nampan di atas meja porselen.

"Matur nuwun, Ran. Segar banget baunya," sahut Dini menyesap teh manis perlahan.

Kami bertiga duduk melingkar di ruang tengah, menikmati kehangatan teh manis dalam suasana tenang.

Kehangatan cangkir porselen di telapak tangan memberi jeda singkat bagi pikiran kami yang lelah.

Seteguk demi seteguk teh manis hangat mengalir di tenggorokan, menenangkan debar dada yang bergejolak.

Pukul empat sore, angin dingin khas lereng gunung mulai berhembus menyapu pekarangan rumah kami.

Bau tanah basah yang menyengat dan amis kusam kembali tercium tipis dari arah selokan pembuangan lorong samping.

Dini yang sedang memegang cangkir teh mendadak menghentikan gerak tangannya di udara.

"Bu... Ibu mencium bau tanah basah lagi mboten?" tanya Dini menengok ke arah jendela samping.

Aku menajamkan penciumanku, meresapi hembusan hawa dingin yang menyusup dari celah ventilasi kayu.

Aroma tanah basah itu terasa kian nyata, membias tebal melintasi koridor samping rumah kami.

"Iya, Din. Bau tanah basah dari lorong samping tercium lagi," sahutku berdiri dari sofa kayu.

"Padahal hari ini terang benderang dan mboten ada hujan sama sekali dari pagi," gumam Dini heran.

"Mungkin sisa kerak tanah merah di selokan lorong samping yang menguap kena angin sore," dugaku menenangkan.

"Ibu mau periksa ke luar lorong samping sekarang?" tanya Ranti cemas berdiri di sampingku.

"Iya, Ran. Ibu cuma mau lihat bentar di luar pintu samping," jawabku memegang kunci besi.

"Hati-hati nggih, Bu. Jangan keluar terlalu jauh dari pintu," pesan Dini mengiringi langkahku.

Aku melangkah menuju pintu samping, memutar selot besi dan menggeser ganjal kayu jati tebal.

Daun pintu kayu kubuka perlahan, memperlihatkan lorong samping yang dinaungi bayang-bayang temaram.

Di bawah garis polisi yang membentang di pekarangan belakang Maya, tanah merah di sekitar pintu dapur tampak mengering.

Namun, di atas permukaan ubin semen lorong samping rumah kami, beberapa butir tanah merah basah yang baru terlihat tercecer.

Butiran tanah merah basah itu tersusun dalam garis tipis, membentang dari arah tembok batas pekarangan belakang Maya.

Jejak tanah basah itu berhenti tepat tiga jari di depan ganjal kayu jati pintu samping kami.

Mataku terpaku menatap butiran tanah merah basah yang masih tampak segar dan berminyak di atas ubin.

Bulu kudukku meremang melihat jejak itu terpampang nyata di depan mata.

Jejak itu membuatku bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang baru saja melintasi tembok batas pekarangan belakang.

Di dekat sudut tembok semen, sehelai serat kain perca abu-abu kusam terselip kaku di antara celah batu bata.

Serat kain perca abu-abu itu tampak serupa dengan tekstur Kain B yang disita polisi tadi pagi.

"Bu... wonten punapa di lorong samping?" panggil Dini dari balik daun pintu kayu.

"Mboten wonten punapa-punapa, Din. Cuma bercak debu biasa," sahutku menutupi kepanikan demi menenangkan anak-anak.

Aku segera bergeser kembali ke dalam rumah, memutar selot besi pintu samping dua kali dari dalam.

Ganjal kayu jati tebal kupastikan tertancap presisi di bawah ambang kayu pintu lorong samping.

Aku menarik napas panjang. Setelah garis polisi dipasang pun, masih ada jejak yang belum bisa kujelaskan di lorong samping.

Malam Senin tanggal sembilan akan segera tiba menggantikan senja yang mulai meredup kusam di balik bukit.

Di dalam ruang tengah rumah kami, kami bertiga duduk berdampingan menatap ke arah koridor samping yang makin gelap.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!