Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Dua hari berlalu di rumah sakit. Kondisi Sagara berangsur membaik, luka di punggungnya mulai mengering, dan dokter akhirnya mengizinkan pria itu untuk jalan rawat. Hazel sengaja memilih kepulangan pada malam hari untuk menghindari incaran wartawan yang masih mengerumuni area depan rumah sakit.
Malam itu, gerimis tipis menyiram jalanan kota yang basah dan licin. Hazel mengemudikan sendiri mobil SUV hitam milik temannya, membelah kegelapan malam menuju sebuah apartemen rahasia yang sudah ia sewa. Di sampingnya, Sagara duduk tenang sambil sesekali melirik Hazel dengan binar hangat.
Namun, ketenangan itu tak bertahan lama.
Saat mobil melewati area jalan lingkar luar yang sepi dan minim penerangan, mata Hazel menatap tajam ke arah kaca spion tengah. Sebuah mobil sedan hitam tanpa plat nomor membuntutinya dari belakang dengan jarak yang teramat dekat. Lampu utamanya sengaja dimatikan, hanya menyisakan siluet hitam yang mengintimidasi.
DEG.
"Hazel... mobil di belakang itu..." gumam Sagara cemas, memutar badannya untuk melihat ke belakang.
"Pegang pegangan pintu, Kak! Pakai sabuk pengamanmu!" potong Hazel tegas, wajah cantiknya seketika mengeras.
BAMMMM!
Tanpa peringatan, sedan hitam itu mendadak menancap gas dan menghantam bagian belakang mobil Hazel dengan sangat keras! Hantaman itu membuat SUV yang dikemudikan Hazel oleng ke kanan, menimbulkan suara decitan ban yang melengking tajam membelah heningnya malam.
"Argh!" Sagara meringis, tubuhnya terlempar ke depan namun tertahan oleh sabuk pengaman.
"Kurang ajar! Cateline benar-benar sudah gila!" jerit Hazel murka.
Hazel menginjak pedal gas dalam-dalam. Kejar-kejaran sengit di jalanan sepi tak terhindarkan. Mobil dibelakang terus memburu, mencoba menghimpit dan menyenggol samping mobil Hazel berulang kali. Suara benturan logam bergema keras di tengah kegelapan malam yang diguyur hujan.
BAM! BAM!
Hantaman terakhir yang cukup telak dari sisi kiri membuat ban depan mobil Hazel meletus. Kendali mobil hilang total. SUV itu terseret berputar di atas aspal licin hingga akhirnya menabrak pembatas jalan dengan keras di tepi kawasan hutan lereng bukit.
PRANG! BRAK!
Lampu depan hancur, asap putih mengepul dari kap mesin. Hazel terbatuk-batuk, kepalanya terasa pening akibat benturan airbag. Namun adrenaline-nya berpacu cepat saat melihat dua mobil lain berhenti di belakang mereka dan beberapa pria berbadan tegap berpakaian serba hitam keluar sambil membawa besi pemukul.
"Kak Sagara! Cepat bangun!" jerit Hazel panik.
Hazel dengan sigap melepas sabuk pengamannya, mematikan mesin, lalu meraih lengan Sagara. Pria itu masih linglung dengan dahi yang berdarah tipis, namun melihat raut panik Hazel, kesadarannya terkumpul seketika.
"Kita harus lari ke dalam hutan!" bisik Hazel cepat.
Hazel membuka pintu mobil dan menyeret Sagara keluar. Begitu kaki mereka menyentuh tanah basah, suara teriak para pengawal bayaran Cateline bergaung nyaring dari belakang.
"TANGKAP MEREKA! JANGAN SAMPAI ADA YANG LOLOS!"
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Hazel menggenggam erat telapak tangan Sagara. Jemari mereka saling bertaut sangat rapat, menyalurkan kehangatan dan kekuatan di tengah situasi hidup dan mati. Mereka berlari menembus lebatnya pepohonan dan semak belukar di dalam hutan lereng bukit yang gelap gulita.
Hah... hah... hah...
Deru napas mereka bersahutan dengan derap langkah kaki yang menghantam tanah berlumpur. Hujan gerimis kian deras, membasahi pakaian dan tubuh mereka. Sagara, yang refleks dan kekuatan fisiknya mulai bangkit kembali secara alami, gantian menarik tangan Hazel agar gadis itu tidak terjatuh saat melewati ranting dan akar pohon yang mencuat.
Genggaman tangan mereka tidak pernah terlepas sedikit pun. Di tengah kegelapan dan rasa takut yang mencekam, laut jemari yang saling mengunci itu menjadi satu-satunya pijakan keselamatan bagi mereka berdua.
"Ke sana! Cari mereka sampai dapat!" jerit suara-suara berat dari arah belakang, diselingi sorotan lampu senter yang membelah kegelapan hutan.
Pengepungan itu makin ketat. Hazel dan Sagara terus berlari tanpa arah, menanjak dan menerobos rintangan alam di bawah guyuran hujan. Namun, langkah mereka mendadak terhenti secara tiba-tiba.
Langkah kaki Hazel menginjak tanah yang retak dan gugur ke bawah. Di hadapan mereka, jalanan mendadak terputus total. Sebuah jurang yang sangat dalam dan terjal terbentang luas, dengan dasar tebing yang dipenuhi bebatuan tajam dan aliran sungai berarus deras di bawah sana.
"T-tidak... jalan buntu..." bisik Hazel terengah-engah, wajahnya pucat pasi menatap kedalaman jurang di depannya.
Sebelum mereka sempat berbalik arah untuk mencari jalan lain, suara langkah kaki yang berat dan banyak mendadak mengurung mereka dari tiga sisi. Empat pengawal berbadan besar dengan pakaian basah kuyup melangkah keluar dari balik semak-semak, membawa senter berdaya tinggi dan batang besi.
Sorotan lampu senter yang menyilaukan mengunci posisi Hazel dan Sagara yang kini berdiri tepat di tepi jurang terjal.
"Mau lari ke mana lagi kalian, hah?" seru salah satu pengawal dengan senyum licik dan napas memburu. "Nona Cateline sudah berpesan... malam ini adalah malam terakhir kalian bernapas."
Atmosfer di tepi jurang itu mendadak menjadi teramat mencekam. Hazel mempererat genggaman tangannya pada jemari Sagara, menatap para pembunuh bayaran itu dengan pendar mata yang pantang menyerah meski napasnya sudah terengah di ujung tanduk.
double up y thor 😄🙏
kasihan si hazel ...