Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Di Bawah Pengawasan
Hari Senin kembali membawa ritme yang sibuk. Di lantai 28 Gedung Dirgantara Tower, studio desain dan perencanaan proyek terlihat penuh dengan maket, lembaran cetak biru, dan para arsitek yang berlalu-lalang.
Dania duduk di meja kerjanya, fokus mengamati draf 3D Grand Dirgantara Tower di monitornya. Sebagai kepala tim desain eksternal, ia bekerja sangat profesional. Tidak ada seorang pun di lantai ini yang tahu bahwa wanita yang duduk di balik tumpukan kertas kalkir itu adalah istri sah dari CEO yang memimpin seluruh gedung ini.
Tuk... tuk...
Rian, sekretaris Arvin, melangkah mendekati meja Dania dengan map dokumen tebal di tangannya.
"Mbak Dania," panggil Rian dengan suara formal yang terukur. "Pak Arvin meminta tim desain menyerahkan draf revisi pencahayaan atrium utama sebelum jam tiga sore ini. Beliau ingin mendiskusikannya langsung di ruang rapat eksekutif."
Beberapa rekan kerja Dania di studio menoleh. Maya, salah satu arsitek senior, berbisik pelan pada Dania. "Waduh, Pak Arvin sendiri yang mau tinjau langsung? Katanya Pak CEO lagi makin ketat dan dingin minggu ini setelah masalah Dion kemarin. Kamu hati-hati ya, Dania."
Dania tersenyum tipis, merapikan dokumennya dengan tenang. "Tidak apa-apa, Maya. Revisinya sudah selesai."
Dalam hati, Dania hanya bisa meringis pelan. Mereka tidak tahu kalau pria 'dingin dan ketat' itu tadi pagi satu mobil denganku dan hampir lupa meminum obat maag-nya.
Pukul 15.00 WIB, Dania melangkah masuk ke ruang rapat eksekutif lantai 30.
Arvin sudah duduk di kepala meja dengan setelan jas hitamnya yang sempurna. Aura keteguhan dan dominasi terpancar kuat dari tubuh tegapnya. Di dalam ruangan itu, ada tiga manajer divisi proyek dan Rian.
"Silakan duduk, Nyonya Dania," ujar Arvin dingin, menyapa dengan sebutan formal tanpa ada sedikit pun getaran ramah di matanya. "Tunjukkan draf revisinya."
Dania duduk di kursi presentasi, menyambungkan kabel laptopnya ke proyektor. "Baik, Tuan Arvin. Kami telah menyesuaikan pencahayaan atrium utama agar lebih efisien energi sesuai dengan standar yang disetujui investor Jepang."
Selama dua puluh menit, Dania mempresentasikan detail teknis dengan sangat lugas dan cerdas. Arvin mendengarkan seraya bersedekah tangan, matanya menatap tajam ke arah layar proyektor—dan sesekali menatap Dania.
Meski tatapan Arvin terlihat kaku dan menguji, Dania bisa merasakan adanya pengawasan tajam yang berbeda dari biasanya. Arvin tidak sedang mengkritik, melainkan memastikan bahwa tidak ada satu pun manajer di ruangan itu yang meremehkan hasil kerja Dania.
"Pencahayaannya bagus," potong Arvin datar setelah Dania selesai. "Tapi untuk material kaca bagian luar, aku ingin kamu dan tim melakukan survei lapangan langsung besok pagi."
"Baik, Tuan Arvin," jawab Dania patuh.
Selesai rapat, para manajer melangkah keluar satu per satu. Dania berbenah lambat-lambat untuk merapikan kabel laptopnya. Saat pintu rapat tertutup rapat dan menyisakan mereka berdua, suasana mendadak kembali hening dan tegang.
Arvin berdiri dari kursinya, berjalan mendekati meja tempat Dania berdiri.
"Siapa yang akan mendampingimu survei lapangan besok?" tanya Arvin dengan suara bariton yang rendah, jauh dari nada bicaranya saat rapat tadi.
Dania mendongak, menatap mata Arvin. "Erlangga, arsitek senior dari timku. Ada masalah?"
Arvin menghentikan langkahnya satu jengkal di depan meja Dania. Matanya menyipit sedikit. "Erlangga? Pria yang sering mengantarmu sampai depan lobby studio itu?"
Dania menaikkan sebelah alisnya. "Dia rekan kerja profesional saya, Arvin. Kami sudah bekerja sama di dua proyek sebelum ini."
"Besok tempat surveinya adalah area konstruksi terbuka di Jakarta Barat," kata Arvin tegas tanpa memedulikan penjelasan Dania. "Tempat itu belum sepenuhnya steril. Aku akan mengirim Rian dan dua pengawal untuk mengawasi dari jauh."
Dania menghembuskan napas pendek. "Arvin, kalau ada pengawal pribadi yang membuntutiku di lokasi proyek bersama tim desain, orang-orang kantor akan curiga."
"Aku tidak peduli," balas Arvin dingin, mengikis jarak hingga aroma parfum woody-nya menusuk indra penciuman Dania. "Dion mungkin sudah dipecat, tapi orang-orangnya masih berkeliaran. Keselamatanmu di luar gedung ini adalah tanggung jawabku. Jangan pernah membantah protokol keamanan."
Dania menatap Arvin lurus-lurus, mencoba mencari celah kebohongan di mata pria itu. Namun yang ditemukannya hanyalah kegigihan dan sifat dominan khas Arvin Dirgantara yang tak bisa digoyahkan.
"Baik," bisik Dania pasrah. "Tapi pastikan pengawal Anda tidak bertindak mencolok."
Arvin menatap bibir dan mata Dania sejenak, lalu mengangguk pendek. "Bagus. Sekarang kembalilah ke mejamu. Kita pulang satu jam lagi."