Sejak bayi, Lin Yuxin ditukar demi kemewahan anak keluarga Chen... Chen Ruoxi. Bertahun-tahun disiksa di rumah orang asing, dia akhirnya kembali ke keluarga kandungnya, hanya untuk difitnah habis-habisan oleh Chen Ruoxi yang iri pada kecantikan Lin Yuxin, apalagi saat Kaisar menjodohkannya dengan Putra Mahkota Li Chen... Sifat iri nya semkin menjadi. Lin Yuxin dituduh wanita murahan sekaligus dalang percobaan racun, Lin Yuxin yang tak mampu membela diri pun dijatuhi hukuman mati... sementara pelayan setianya, Xiao Yan, dibungkam selamanya oleh Chen Ruoxi.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Lin Yuxin bangkit kembali tepat di hari dia pertama menginjak rumah keluarga aslinya, membawa ingatan penuh tentang kehidupannya yang lalu. Kali ini, dia bersumpah, setiap fitnah akan dibalas, dan Xiao Yan tak akan mati lagi untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Kak Zhaoyi," panggil Ruoxi manja, langkahnya cepat menghampiri Zhaoyi seolah baru menemukan pelindung. "Aku hanya ingin memberikan hanfu pada Yuxin, tapi dia tidak mau menerimanya."
Bai Hui ikut menunduk, pura-pura sedih. "Benar, Tuan Muda. Nona Ruoxi sudah susah payah memilihkannya."
Zhaoyi tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada noda kekuningan di hanfu itu, lalu bergeser ke lengannya yang warnanya sudah pudar tak rata.
"Tidak mau menerima?" tanyanya datar.
"Iya, Kak." Ruoxi pura-pura mengusap matanya, suaranya dibuat bergetar. "Aku hanya ingin Yuxin punya sesuatu yang layak untuk pesta nanti. Tapi sepertinya dia menganggap pemberianku tidak pantas."
Semua mata beralih pada Yuxin.
Yuxin tidak membela diri dengan suara tinggi. Dia mengangkat hanfu itu dengan kedua tangan, membiarkannya menggantung terbuka, lalu menyerahkannya pada Zhaoyi.
"Aku tidak menolak niat baik Ruoxi," ucapnya pelan. "Aku hanya ingin Kakak melihatnya sendiri."
Zhaoyi menerima kain itu. Jarinya menelusuri noda di bagian dada, kemudian menarik ujung lengannya, mencocokkan panjangnya dengan lengan Yuxin. Kain itu berhenti jauh di atas pergelangan.
"Ukurannya bahkan tidak muat," gumamnya.
"Mungkin pelayan lupa mencucinya, Kak," sahut Ruoxi cepat, tawanya terdengar ringan tapi terlalu cepat. "Aku sendiri sudah lama tidak memakainya. Aku tidak tahu kalau kondisinya seburuk itu."
"Kau tidak tahu?" Zhaoyi mengangkat wajahnya, menatap Ruoxi lurus-lurus. "Lalu kenapa kau tidak memeriksanya sebelum kau memberikannya pada Yuxin?"
Senyum Ruoxi membeku di sudut bibirnya.
Zhaoyi melipat hanfu itu perlahan, lalu menyampirkannya di lengannya sendiri. Dia menoleh pada Yuxin, dan nada suaranya melunak sedikit.
"Ikut aku ke aula. Penjahit yang dipanggil Ayah sudah menunggu." Matanya kembali pada Ruoxi. "Dan hanfu ini akan kubawa. Biar Ayah yang menilai sendiri seberapa pantas barang ini disebut pemberian."
Wajah Ruoxi memucat.
"Kak, tidak perlu sampai..."
Zhaoyi sudah berbalik keluar bersama Yuxin dan Xiao Yan.
Yuxin berjalan tenang di samping Zhaoyi, langkahnya dibuat sedikit ragu-ragu seperti orang yang takut sesuatu menjadi besar. Ruoxi menyusul di belakang mereka, Bai Hui setengah berlari di sisinya.
Di aula utama, Lin Boqing sedang duduk bersama Nyonya Su, seorang penjahit tua menunggu di sudut dengan gulungan kain di pelukannya. Zhaoyi masuk lebih dulu dan meletakkan hanfu biru pucat itu di atas meja di hadapan ayahnya, tanpa berkata apa-apa.
Lin Boqing menatap kain itu, lalu menatap putranya. "Apa ini?"
"Kak Zhaoyi, tunggu!" Yuxin menyela sebelum Zhaoyi sempat menjawab. Suaranya bergetar halus, matanya sudah berkaca-kaca. Dia berlutut di samping meja, menunduk dalam-dalam. "Jangan salahkan Ruoxi."
Nyonya Su langsung berdiri setengah. "Yuxin, ada apa ini?"
"Ruoxi hanya ingin membantuku, Ibu," ucap Yuxin pelan, mengusap sudut matanya dengan ujung lengan. "Dia memberikan hanfunya karena khawatir aku tidak punya pakaian yang layak. Aku yang tidak pandai berterima kasih. Aku hanya ragu apakah pantas memakai pakaian Ruoxi, karena ukurannya tidak sama dan..." Dia berhenti, seolah tidak sanggup meneruskan. "Maafkan aku, Ruoxi. Aku tidak bermaksud membuatmu dimarahi."
Ruoxi membeku di ambang pintu. Kalimat itu, nada itu, air mata yang jatuh pada saat yang tepat. Semuanya adalah caranya selama ini dalam menarik perhatian. Dia hafal setiap jengkalnya, karena dialah yang menciptakannya. Tapi dia tidak pernah membayangkan akan melihat Yuxin bersikap sama sepertinya.
Nyonya Su menyentuh kain itu, dan jemarinya berhenti di noda kekuningan di bagian dada. Alisnya berkerut. Dia mengangkat lengannya, menarik ujung kain, lalu menatap panjangnya dengan lengan Yuxin.
"Ini..." Suaranya tertahan. "Ruoxi, apa ini yang kau anggap pantas untuk kakakmu?"
"Ibu, aku tidak tahu ada noda itu!" Ruoxi melangkah maju, wajahnya memucat. "Sudah lama sekali aku tidak memakainya. Pasti pelayan yang lalai merawatnya."
"Tentu saja, Ibu," Yuxin menyambar lembut, mendongak dengan mata basah. "Ruoxi pasti tidak tahu. Ruoxi selalu sibuk sekali mengurus banyak hal, mana mungkin sempat memeriksa isi lemari sendiri. Pasti ada pelayan yang lalai." Dia menoleh pada Bai Hui yang berdiri kaku di belakang Ruoxi, dan memandangnya dengan tatapan yang polos. "Bai Hui, bukankah kau yang mengurus lemari Ruoxi? Aku yakin kau tidak sengaja."
Semua mata beralih pada Bai Hui. Wajah dayang itu kehilangan warna. Dia melirik Ruoxi, memohon, tapi Ruoxi terlalu sibuk menjaga wajahnya sendiri. Kalau Ruoxi membela Bai Hui, berarti dia mengakui hanfu itu memang sengaja dipilih olehnya. Kalau dia menyalahkan Bai Hui, berarti dia mengakui lemarinya sendiri tidak terurus.
"Bai Hui," desis Ruoxi akhirnya, tanpa menoleh, "kau lalai."
Bai Hui langsung berlutut, dahinya menyentuh lantai. "Hamba bersalah, Nyonya. Hamba mohon ampun."
"Jangan dihukum, Ayah," Yuxin buru-buru berkata, suaranya lirih dan penuh iba. "Ini hanya kesalahan kecil. Aku tidak ingin gara-gara aku, ada yang dihukum di rumah ini."
Nyonya Su menatap Yuxin dengan mata melembut, hampir tidak percaya. Sudah dipermalukan pun, anak ini masih memohonkan ampun untuk orang lain. "Anak ini begitu berbudi," gumamnya, lalu menoleh tajam pada Ruoxi. "Sedangkan kau..."
"Cukup," potong Lin Boqing. Dia mengangkat tangan, dan aula seketika hening. Pandangannya beralih pada penjahit di sudut ruangan. "Ukur Yuxin sekarang. Buatkan tiga stel hanfu untuk pesta, dan tiga lagi untuk keperluan harian. Kain terbaik yang kau punya."
"Baik, Tuan."
Ruoxi mengepalkan tangannya di balik lengan baju. Senyum yang dipaksakan di bibirnya bergetar tipis, dan matanya tertuju pada Yuxin dengan sorot yang tidak lagi bisa dia sembunyikan sepenuhnya.
Lin Boqing belum selesai. Dia bersandar, dan suaranya turun menjadi lebih tenang, lebih berbahaya dari sebelumnya.
"Yuxin," ucapnya, "penjaga gerbang melapor padaku tadi siang. Katanya ada seorang pria dari keluarga Chen datang mencarimu."
Di sisi Yuxin, Ruoxi perlahan menunduk. Sudut bibirnya terangkat sedikit, hanya sedikit.
"Siapa dia? Dan apa yang dia inginkan darimu?"
"Dia Chen Muyang, Ayah. Putra sulung keluarga Chen... kakak kandung Chen Ruoxi." Yuxin sengaja menambahkannya.
Aula mendadak sunyi. Penjahit tua di sudut ruangan berhenti menggulung kainnya. Bai Hui, yang masih bersujud di lantai, mengangkat kepalanya sedikit.
"Chen Muyang," ulang Lin Boqing pelan.
"Iya, Ayah." Yuxin tetap berlutut, kedua tangannya bertaut di pangkuan, suaranya lirih seperti takut menyinggung siapa pun. "Dia datang ke gerbang tadi pagi, dalam keadaan mabuk. Dia bilang keluarga Chen punya banyak utang dan meminta uang padaku." Dia menunduk lebih dalam. "Aku sudah menolaknya, Ayah. Aku tidak ingin membawa masalah keluarga itu ke rumah ini."
Nyonya Su menutup mulutnya dengan ujung lengan. "Ya Tuhan, di depan gerbang kediaman kita, dia berani memerasmu?"
"Ibu, mungkin dia hanya sedang kesulitan," Yuxin menambahkan cepat, matanya kembali basah. "Bagaimanapun, dia kakak Ruoxi. Aku tidak tega kalau dia di usir, jadi aku mendengarkan sebentar keluhannya."
Kalimat itu jatuh di aula seperti batu ke dalam kolam.
Lin Zhaoyi bersedekap. Nyonya Su menoleh perlahan ke arah Ruoxi, dan di wajahnya ada keraguan yang belum pernah muncul sebelumnya.
"Ibu," suara Ruoxi terdengar tipis. "Aku sudah bertahun-tahun tidak berhubungan dengan mereka. Aku tidak tahu..."
"Bai Hui," potong Lin Boqing tanpa menoleh pada Ruoxi, "panggil kepala penjaga gerbang. Aku ingin memerintahkan agar orang-orang seperti Chen Muyang tidak boleh mendekati kediaman Lin."
"Ayah, tidak perlu sampai begitu." Yuxin mengangkat wajahnya, matanya masih basah, suaranya lirih dan penuh iba. "Dia pasti hanya sedang kesulitan. Aku tidak ingin ada yang diperlakukan kasar gara-gara aku. Apalagi dia kakak kandung Ruoxi."
Lin Boqing menatapnya sejenak. Garis tegas di wajahnya melunak. "Kau terlalu baik, Yuxin. Dia mendatangi rumah ini dalam keadaan mabuk dan menagih uang padamu, dan kau masih memikirkan keselamatannya."
"Yuxin memang berhati lapang," gumam Nyonya Su, menyeka sudut matanya.
Lin Boqing kembali menoleh pada Ruoxi. Suaranya tidak keras, tapi Ruoxi langsung terdiam. Dia menatap putri yang sudah dia besarkan bertahun-tahun itu, lama, seolah baru pertama kali melihatnya dengan jelas.
"Ruoxi. Kakakmu ada di kota ini. Dia mendatangi gerbang rumahku dan menagih uang pada putriku." Dia mengetukkan jarinya sekali di meja. "Sungguh sikap yang tidak tahu berterima kasih. padahal anak mereka aku besarkan dengan penuh kemewahan."
Bibir Ruoxi terdiam. Merasa di permalukan.