NovelToon NovelToon
Cincin Brondong Dosen Killer

Cincin Brondong Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam

Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.

Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.

Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saingan Terberat

Hari kedelapan belas, kalau masih ingat, pukul 08.00 pagi yang cerah. Laki laki bertubuh tegap itu kembali menjemputnya di apartemen seperti biasa. Suasana sedikit berbeda setelah perjalanan Bandung dan pertemuan dengan Pak Dosen. Ada kehangatan baru yang canggung dan konyol. Gadis itu lebih banyak tersenyum membuat Dewa salah tingkah.

" Anda sudah sarapan?" tanyanya sambil memakai helm.

Dewa tersenyum kecil, " kemarin ibu manggil saya,' kamu', sekarang balik lagi " Anda "

"Ah?masa ia? Bukannya tadi saya panggil kamu sayang ?" Ia mengerling jenaka menggoda.

Dewa tergagap wajahnya memerah seperti udang rebus," Eh, gak Bu, dimana ibu mau sarapan?"

"Nanti kita mampir di warung Bude kantin Kampus, saya traktir."

"Traktir ? Ibu baik banget hari ini."

Ia menepuk pelan helmnya. "Diam, jangan banyak cerita, mau nasi uduk apa lontong?"

" Terserah ibu saja..tapi Bu .."

" Apa?"

"Saya segan, Bu , itu kantin untuk tenaga pengajar,"

" Gak pa pa, kalau ada yang bertanya," Ini siapa Bu Dian ?Oh ini mahasiswa ganteng rebutan gadis kampus."

Dewa nyengir kikuk, motor melaju di pagi hari kota Jakarta yang cerah. Ia merasa hari ini matahari genit mengikuti nya

 

Pukul 08.45, parkiran kampus.

Dian turun dari motor membuka helm. Rambutnya sedikit berantakan tapi ia tidak peduli.

"Nanti jam 10 ke ruangan saya. Ada berkas yang perlu dirapikan."

"Siap, Bu."

Ia berbalik tapi baru melangkah tiga meter, tiba-tiba—

"Wahai bidadari fajar! Izinkan hamba menyapa!"

Dewa hampir jatuh dari motor mulutnya menganga

Dari balik pilar gedung, muncul Prof Dr Hadi Wijaya dengan rambut disemir hitam tapi akar kelihatan putih. Kemeja batik lengan panjang, celana bahan sepatu pantofel mengilap.

Dan di tangannya... sebuket mawar merah.

ukuran jumbo

Dian menutup matanya sejenak berdoa minta kekuatan agar terhindar dari godaan setan yang terkutuk "Selamat pagi, Prof," katanya datar.

"Pagi yang indah, Dian—eh, Ibu Dian maksud saya." Prof Hadi tersenyum lebat. Gigi palsunya agak kepangan. "Ini, sedikit tanda perhatian biar hari Ibu lebih cerah."

Ia menyodorkan buket mawar diam-diam, kelopaknya mulai rontok mungkin udah semalaman di kulkas.

 "Bunga untuk saya, Prof?"

"'Ya untuk mu."

" Aduuh mohon maaf ya pak Hadi, saya alergi bunga."

"Ha? Alergi? Gampang!" Prof Hadi membuang buket ke tong sampah terdekat tepat sasaran mawar menangis sedih. "Saya akan cari hadiah lain! Mungkin cokelat? Atau parfum? Atau—"

"Prof, ada yang bisa saya bantu?" potongnya cepat. "Saya ada kelas."

Prof Hadi mengedip. "Nanti kita bahas lagi empat mata mengenai kucing beranak di kantor, bunga mati di taman dan terutama sekali karirmu."

Dian menghela napas sesak sementara di kejauhan, Dewa masih di atas motor, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah aneh pak Dekan ? Apakah orang yang sedang jatuh cinta bisa bodoh ?

\=\=\=

Pukul 10.00, ruangan Dian.

Dewa sudah menunggu 15 menit. Berkas-berkas sudah dirapikan dua kali. Ia juga sempat memfoto ulang momen Prof Hadi tadi pagi dan mengirimnya ke Roby.

Roby: Wwkwkkwk, sepertinya saingan lo bertambah bro, seorang dosen, menjabat dekan lagi."

Dewa : Ya begitu deh...mungkin pak Hadi lagi puber ke 💯

Roby: Bro, emang benar Pak Hadi suka dengan Ibu?"

Dewa: Ya keliatan nya sih, gue gak ngeh, beberapa hari yang lalu nemuin gue."

Roby : Ha? Apa katanya?"

Dewa : Gak boleh dekat dekat ama Bu Dian."

Roby: Sinting, dekan tapi kelakuannya kayak ABG puber."

Dewa : Biarin aja deh, nasib gue ditangan kedua orang itu."

Roby menghela napas kelat," Nasib nasib, Sasha cabut, cincin hilang, saingan berat, begitulah nasib mu, Nak."

Dewa menumpuk nya pakai batu kerikil

---

Sore Selesai Perkuliahan.

"Bu? Kenapa?"

Dian duduk di dalam ruangannya menghela napas panjang tertawa terbahak bahak

Dewa bingung melihatnya, "Bu?"

"Dewa... kamu lihat tadi?"

"Lihat, apa?

" Mawar jumbo." Ia menahan tawa, "Setiap hari dia begitu, Dewa, hampir setiap hari, kadang bunga mawar, cokelat. Bahkan minggu lalu Pak Dekan memberi.. jam weker."

Dewa mengerjap kecut. "Jam weker?"

"Iya. Katanya biar nggak kesiangan, padahal saya selalu datang tepat waktu."

Dewa ikut tertawa. "Bapak itu... unik, ya, Bu."

"Unik eufemisme dan mengganggu." Dian mengusap wajahnya "Tapi masalahnya, dia dekan agak susah kalau terlalu keras."

Ia mengangguk paham.

"Dia nawarin saya posisi kepala prodi baru," lanjutnya pelan." tapi dengan syarat... kita lebih sering 'diskusi di luar kampus."

Dewa diam senyumnya hilang.

"Ibu mau?"

"Apa saran kamu?"

"Bu?"

"Saya tanya pendapat kamu."

"Kalau soal karier... itu bagus, tapi kalau Ibu merasa nggak nyaman... Ibu bisa menolaknya."

"Kamu selalu bijak."

Dewa menunduk, bijak apanya ? Didalam hati ia berteriak : Tolak Bu? tolak jangan mau ama centong air

 

Pukul 13. Kantin

"Boleh duduk, Nak?"Prof Hadi membawa nasi pecel dan es teh manis berdiri disampingnya

Dewa menelan ludah pahit "Silakan, Pak."

Prof Hadi duduk mengaduk-es tehnya menatap Dewa dengan senyum khas—lebar, tapi matanya menyelidik."Sebagai asisten Bu Dian bagaimana menurut mu?"

" Bagaimana apanya pak ? Saya tidak mengerti."

" Kamu pura pura atau memang sengaja ?"

Dewa mengernyit, " Pak, berulang ulang saya katakan, saya hanya seorang asisten Dosen, bukan soal istimewa."

Prof Hadi mengangguk. "Ibu Dian itu... istimewa, tahu? Cerdas, cantik berwibawa." jeda sesaat "Tapi susah didekati."

Laki laki itu diam.

"Kamu dekat sama dia, kan?"

"Dekat ? saya asisten biasa, Pak."

"Asisten biasa? Iya. Tapi kamu lihat tadi pagi? Aku kasih bunga dia menolak." Pak Hadi menghela napas dramatis. "Padahal bunga itu aku beli jam 5 pagi. Antre di toko bunga."

Dewa mencoba tidak tertawa tetapi bibirnya..

"Lucu, ya?" Prof Hadi mengangkat alisnya. "Kamu pikir aku ini badut?"

Dewa cepat-cepat menggeleng. "Nggak, Pak. Saya cuma—"

"Biar aku kasih tahu, Nak." Prof Hadi mencondongkan badan suaranya turun. "Aku serius dengan ibu Dian, bukan main-main. Aku dekan punya kuasa dan aku bisa membuat kariernya melesat.

Dewa terhenyak

"Tapi aku juga bisa... membuat mu susah," Ancaman itu halus tapi jelas.

"Kamu mahasiswa masih muda masih banyak cewek di luar sana." Prof Hadi tersenyum kecil. "Gak pantas rasa nya kamu dengan perawan tua."

Telinga Dewa naik beberapa senti, matanya memerah," Ibu Dian sangat saya hormati begitu pula bapak, dan beliau bukan perawan tua."

" Kamu tahu itu makanya jangan menghalangi orang tua seperti aku, nggak baik."Ia berdiri menepuk bahunya lalu pergi dengan nasi pecel setengah habis.

Dewa diam tangannya mengepal di bawah meja.

 

Pukul 17.00, parkiran.

Dewa menunggu melihat ibu Dian keluar sendiri, syukurlah.

"Pulang, Bu?"

"Iya."

Saat perjalanan pulang perempuan itu lebih banyak diam. Tepat di lampu merah ia berkata, " Pak Dekan ingin mengajak Dinner besok."

Dewa terkejut badan terdiam.

"Katanya bahas posisi. Tapi saya tahu... dia mau lebih."

"Bu mau?"

Dian tidak menjawab malah balik bertanya: "Kamu mau saya pergi?"

Ia terdiam menatapnya kaku, "Saya tanya, Dewa. apakah kamu mau?"

Laki laki itu hanya diam lampu hijau kembali berjalan.

" Saya tidak tahu Bu."

"Kenapa?"

"Karena..." Dewa mencari kata yang cocok untuk nya," Saya tidak tahu karakter pak Dekan."

" Lho ?"Dian menegang. "Ancaman?"

"Saya hanya penghalang membuat Ibu susah."

Hening, mampu hijau. Motor berjalan lagi.

Sampai di apartemen perempuan itu turun menanggalkan helm nya "Besok jam 7 Jemput seper ti biasa."

" S-siap Bu,. " Dewa terdiam mematung tidak beranjakm

" Kenapa, kamu? "

" Ibu jadi makan malam dengan pak Hadi ?"

"Saya nggak jadi pergi, lebih memilih... makan bubur sama kamu."

"Bu?"

"Jemput jam 7. Jangan telat. Bawa gerobak atau motor terserah. Yang penting, buburnya."

Ia masuk pintu tertutup.

Dewa di luar, tersenyum lebar ingin berteriak dan melompat kegirangan.

1
anggita
salah kirim antara shasa dan dian..? 🤔
Ddie: ya mba...seharusnya untuk Sasha jatuh ke Dian...dosen killer
total 1 replies
anggita
like👍, 2iklan☝☝
Ddie: yeee ...thanks mba Anggi ....ciaat...yea...tunggu aku, Purnama !! aku ikut

Kalau mba anggi nulis keren
total 1 replies
Ddie
cinta salah kirim, lucu, koplak dan membuat hati meringis🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!