Beberapa tahun lalu, berbagai celah ruang-waktu bermunculan, dan Blue Star pun memasuki era supranatural. Setiap orang memiliki kesempatan untuk membangkitkan “panel permainan”.
Lu Heng secara tak terduga membangkitkan kelas Summoner. Namun, makhluk-makhluk panggilannya tampaknya… agak tidak biasa.
……
【Si Bulat Daging】: Sebagai keturunan Dewa Jahat, setiap kali ia dimakan, ia justru menjadi semakin kuat. Ia juga mampu membuat musuh terjerumus ke dalam kekacauan persepsi.
【Anjing Mesum】: Sebagai kaki tangan yang setia, ia dapat berpindah tempat secara instan dan menampar orang, bahkan memutus semua skill lawan.
【Prajurit Medis】: Memiliki kemampuan menukar kondisi luka, dan juga bisa diam-diam mencuri organ milik orang lain.
【Zirah Keadilan】: Makhluk simbiotik yang dipenuhi energi positif. Bukan hanya memiliki daya tempur yang sangat tinggi, ia juga dapat berdiri di puncak moral untuk mengecam musuh, membuat lawan…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Back Dragon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 Tetanggaku yang malang
Bab 8: Tetanggaku yang malang
“Aku mau kencan. Besok juga tidak usah masuk. Lusa baru kita lihat lagi. Kalau ada apa-apa, jangan cari aku. Begitu saja.”
Setelah berkata demikian, dosen itu pergi tanpa tanggung jawab.
Para siswa langsung bersorak.
“Yeay!”
“Asyik!”
“Balik asrama, main game!”
“Genshin… mulai!”
Para siswa pun pergi dengan gembira.
Hanya Lu Heng yang tertinggal sendirian, terpaku dalam kebingungan.
Sudut bibirnya berkedut.
“Sudahlah… sekalian saja pulang ke rumah. Minta adik buat ajak aku farming dungeon.”
Jalan Wenchang.
Saat senja tiba, seluruh jalan diselimuti cahaya matahari terbenam yang mewarnainya dengan nuansa jingga hangat.
Seorang gadis cantik mengenakan seragam sekolah yang khas berjalan di trotoar.
Kemeja putih dipadukan dengan rok lipit pendek berwarna biru tua. Potongannya yang pas di badan menonjolkan sosoknya yang ramping.
Sepasang kaki jenjang terbungkus rapat kaus kaki hitam selutut, dengan sepatu kulit hitam kecil di kakinya.
Wajahnya mungil dan halus, kulitnya putih bersih dengan semburat merah muda tipis. Sepasang matanya besar, bulat, dan berkilau; sudut matanya sedikit terangkat, memancarkan kesan lincah dan hidup.
Karena penampilannya yang terlalu mencolok, para pejalan kaki tak henti-hentinya melirik. Tingkat orang yang menoleh hampir seratus persen.
“Gadis ini cantik banget, ya? Gimana kalau minta kontaknya?”
“Mikir apa sih? Nggak lihat seragamnya? Itu mahasiswa Universitas Lingwu Tianbei. Kampus top 1 nasional! Mahasiswanya semua orang yang sudah bangkit kekuatannya. Kamu sanggup mendekati?”
“Wah, kalau gitu memang keren banget…”
Lu Xiaoke seolah sudah terbiasa dengan bisik-bisik orang di sekitarnya. Ia tetap berjalan santai tanpa memedulikan mereka.
Tiba-tiba, ia melihat sesuatu yang berkilau di tanah. Matanya langsung berbinar. Tanpa peduli penampilan, ia berjongkok dan memungutnya.
Ternyata hanya aksesori kecil biasa. Ia mendecak kesal, lalu memasukkannya ke saku sambil bergumam, “Siapa tahu bisa dijual dapat sedikit uang.”
Setelah berjalan agak jauh, pandangannya tertuju pada sebuah lapak penjual bebek panggang.
Lu Xiaoke menjilat bibirnya, jelas tergoda.
Ia melihat saldo di ponselnya—tersisa satu yuan enam mao dua fen.
“Sial… harusnya tadi nggak beli camilan sebanyak itu.”
Dengan berat hati ia memalingkan pandangan. “Sudahlah… malam ini nggak makan. Disimpan buat besok pagi beli dua bakpao saja.”
Ia terus berjalan hingga akhirnya tiba di kamar kontrakannya.
Rumah itu sewanya hanya 900 yuan per bulan. Luasnya 40 meter persegi, tapi sudah mencakup satu kamar tidur, dapur, dan kamar mandi.
Ruangannya memang sempit, namun fasilitasnya lengkap. Secara keseluruhan tertata cukup hangat dan nyaman.
Hanya saja, peredaman suaranya sangat buruk. Bahkan suara pasangan pria dan wanita dari kamar sebelah yang sedang bercinta pun terdengar jelas, membuat pipi siapa pun memerah saat mendengarnya.
Lu Xiaoke mengganti sepatu dengan sandal rumah, lalu menjatuhkan diri ke sofa dengan bunyi “plop”, bergumam lemas, “Lapar banget…”
“Klik.”
Saat itu, pintu kontrakan terbuka. Lu Heng baru saja pulang.
Lu Xiaoke menoleh dan wajahnya langsung berbinar. “Eh! Pak tua, kok pulang? Hari ini nggak kerja pasang baut?”
“Aku sudah memecat bosku.”
Lu Heng berkata sambil mengganti sepatu, lalu duduk di sofa.
“Gajinya sudah dibayar, kan? Kasih aku sedikit koin emas dong.” Mata Lu Xiaoke berbinar penuh harap, menatapnya sambil tersenyum.
Lu Heng menyeringai miring. “Kamu terlalu memujiku. Satu sen pun nggak ada.”
Setelah bayar uang kuliah kemarin tersisa dua puluh lima yuan. Hari ini makan dua kali dan naik bus pulang, sudah habis semua.
Lu Xiaoke langsung tertunduk lesu. “Baiklah… lalu kenapa hari ini pulang? Biasanya kan cuma pulang hari Sabtu.”
“Sebenarnya aku pulang mau bilang sesuatu.” Lu Heng berpikir sejenak. “Kemarin aku sudah bangkit kekuatanku.”
Kepala Lu Xiaoke yang tadinya tertunduk langsung terangkat. Wajahnya penuh keterkejutan. “Apa?!”
“Kakak sampah yang nggak belajar, nggak punya prestasi, cuma keluyuran, malas kerja, dan cuma bisa bermimpi di siang bolong ini… sudah bangkit?!”
“Eh eh eh! Beberapa hal cukup dipikirkan di hati saja, nggak usah diucapkan!” gerutu Lu Heng kesal.
Namun Lu Xiaoke malah menutup wajahnya dengan bantal. “Huaaa… tamatlah. Kalau kamu sudah bangkit, bantuan keluarga miskin seribu yuan per bulan itu pasti hilang. Nanti kita nggak bisa makan lagi!”
“Sial! Aku sudah bangkit, masa nggak bisa dapat seribu yuan sebulan?!” Wajah Lu Heng menggelap.
“Kalau begitu, sekarang kasih aku seribu yuan.” Lu Xiaoke mengulurkan tangan.
“Ehm… untuk sementara belum ada.” Lu Heng memalingkan wajahnya dengan canggung. “Bukannya kamu bilang beasiswamu banyak? Kok kamu juga nggak punya uang?”
Padahal tadi ia sempat berniat menebalkan muka minta uang saku dari adiknya…
“Ada sih beasiswa… tapi buat naik level butuh banyak uang. Kalau nggak, aku nggak bisa mengejar progres teman-teman. Uang baru masuk langsung habis.” Lu Xiaoke berkata dengan wajah memelas. “Belakangan ini nafsu makanku juga besar sekali, selalu nggak kenyang…”
Baru saja selesai bicara, perutnya berbunyi keras.
Lu Xiaoke makin terlihat menyedihkan. “Aku lapar…”
“Grr…”
Kini giliran perut Lu Heng yang berbunyi.
Ia menghela napas. “Aku juga lapar.”
Keduanya terdiam.
“Keluarga kita miskin banget…”
Tiba-tiba, dari kamar sebelah terdengar suara dentuman “dug dug dug”. Dari bunyinya jelas itu suara ranjang membentur dinding.
Tak lama kemudian, suara-suara yang membuat orang tersipu itu terdengar makin jelas dan volumenya terus meningkat.
Lu Heng yang sudah lapar makin kesal. “Ini sudah termasuk mengganggu ketertiban, kan?!”
Lu Xiaoke juga berkata dengan marah, “Entah kenapa tetangga sebelah, beberapa hari ini sering banget melakukan itu! Biasanya baru berhenti sekitar jam tujuh atau delapan malam.”
“Brengsek! Biar aku tegur dia!” Lu Heng mengomel sambil mengambil ponsel dan mengirim pesan ke grup pemilik kontrakan.
【Saudara penghuni nomor 114, lain kali kalau mau begituan bisa kecilkan suaranya nggak? Rumah reyot kita ini kedap suaranya jelek, kamu tahu kan? Tolong ditahan sedikit, bisa?】
Tak lama kemudian, seseorang bernama 【Pemilik 114】 mengajukan permintaan pertemanan kepada Lu Heng.
Lu Heng mengerutkan kening lalu menerimanya.
Pemilik 114: 【Saya nggak di rumah, saya lagi lembur di kantor.】
Wajah Lu Heng membeku. 【Lalu… lalu kenapa dari sebelah terdengar suara istrimu begituan?】
Begitu pesan terkirim, ia langsung sadar apa yang sebenarnya terjadi.
Jadi, saudara ini sedang “kecolongan” di rumahnya sendiri!
Pemilik 114: 【Transfer 384,24 yuan, menunggu diterima】
Pemilik 114: 【Saudara, tolong tahan pintunya. Saya segera pulang.】
Lu Heng tertegun selama dua detik.
Transfernya bahkan nominalnya sampai ke angka receh—sepertinya seluruh saldo dikirim semua.
Dia lembur tiap malam, uang jajannya cuma segitu saja sudah menyedihkan, eh istrinya malah selingkuh tiap hari?!
Lu Heng sampai tak kuasa menundukkan kepala, mengheningkan cipta untuk pria itu. Lalu ia membalas pesan:
【Tenang, bro! Pintu ini bakal gue hadang rapat-rapat buat lo!】
Diam-diam ia menekan tombol konfirmasi penerimaan uang, lalu berkata, “Dik, ada kerjaan! Malam ini kita bisa makan!”
Bersambung.