Apa yang kita rencanakan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Takdirkan yang akan membawa kita ke jalan yang sudah di gariskan.
Lidia tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah kejadian malam itu. Niat ingin membantu malah berakhir jadi hal buruk yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Mahkota yang ia jaga di renggut paksa oleh Panca suami sahabatnya sendiri. Semenjak itu ia tak bisa lepas dari jeratan Panca. Sekeras apapun ia menolak ia tak bisa mengelak akan pesona panca yang notabene adalah atasannya sendiri.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah sahabatnya akan mengetahui perbuatan buruknya dan bagaimana kisah anatara dirinya dan panca?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Hari - hari terasa berat yang di jalani oleh Lidia. Perang bathin membuatnya tak tenang di tambah kondisi badanya yang sering tak menentu.
"Kayanya bukan kemaren aku telat deh. Dan bukan ini kayanya aku juga belum dapat. Apa betul aku hamil? tapi masa saya sih, aku kan rajin minum pil pencegah kehamilan." gumam Lidia saat memandang kalender. Ia memang mempunyai kebiasan manandakan tanggalan setiap datang bulan.
Karna rasa penasaran setelah pulang kerja diam - diam wanita itu mampir ke apotik membeli test pack untuk membuktikan dugaannya.
"Permisi, mbak. Ada yang bisa saya bantu." sapa karyawan apotik sopan.
"Saya mau beli alat test pack, mbak." ujar Lidia dengan suara kecil karna rasa malu di dengar oleh pengunjung yang lain.
"Mau model yang seperti apa, mbak?"
"Yang paling bagus aja, dua."
Karyawan itu langsung mengambilkan pesana Lidia" Ini mbak, siapkan lakukan pembayaran di kasir." Lidia langsung membayar sejumlah uang untuk pembelian test pack.
Setelah melakukan pembayaran secepat kilat Lidia keluar dari apotik dan segera pulang ke apartemennya. Lidia mengeluarkan test pack dari dalam tasnya dan buru - buru kekamar mandi untuk menampung urinya dan mencelupkanya. Beberapa saat menunggu serasa deg degan laku ia mengambil test pack dengan mata terpejam.
Perlahan matanya terbuka sedikit demi sedikit berharap hasilnya garis satu. Tapi alangkah terkejut Lidia ternyata garis dua meski yang satu lagi garisnya masih samar. Tubuhnya lunglai merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Ini ga benar, ini pasti salah. " tepis Lidia tapi garis itu tetap masih dua. Sekali lagi ia melakukan test yang kedua kalinya dan hasilnya tak berubah tetap sama membuat Lidia frustasi.
"Kenapa jadi begini?" isak Lidia menyesali perbuatannya tapi semua sudah terjadi, menyesal juga sudah terlambat. Setelah puas menangis, Lidia duduk termenung dengan pikiran kalut.
"Apa perlu aku kasih tau pak Panca ya? tapi aku takut pak Panca akan marah." gumam Lidia mempertimbangkan apakah melapor pada Panca tau tidak.
"Ga, ga boleh. Aku harus merahasiakan ini dari pak Panca. Dia ga boleh tau, aku ga mau kabar ini nanti sampai di telinga Wulan juga. Aku harus menggugurkan bayi ini mumpung masih kecil." Lidia memilih jalan pintas.
Lidia mencari tau tempat untuk aborsi yang tak banyak persyaratan dan kerahasiaannya terjaga. Ia mencari tau di berbagai medsos dan mulai melakuan penelusuran. Akhirnya ia menemukan sebuah klinik yang tersembunyi di belakang sebuah rumah makan.
Sekilas dari luar memang tak terlihat apapun tapi saat sudah berada di dalam bangunan nampak beberapa perempuan sudah antri untuk aborsi.
"Permisi, sus." sapa Lidia pada perawat di bagian pendaftaran.
"Ya, mbak. Siapa yang mau aborsi?" tanya suster to the point karna rata - rata yang datang kesana pasti melakuan itu.
"Teman saya, mbak"
"Orangnya mana?"
"Di rumah."
"Berapa bual6n kandungannya," tanya suster.
"Jalan dua bulan."
"Masih muda, tolong isi formulir ini mbak. Sekalian bu6sa di baca rincian biayanya." Suster memberikan sebuah formulir ke tangan Lidia dan menyuruh mengisinya. Lidia sesaat membaca persyaratan yang di butuhkan. Saat tanganya hendak mengisi formulir tak sengaja ia mendengar obrolan seorang wanita yang mengantarkan temanya untuk aborsi.
"Apakah kamu sudah pikirkan matang - matang, aku ga mau nanti kamu menyesal seperti aku."
"Kalau ga aborsi, calon suamiku tentu ga bakal mau menikahi aku, mbak. Sebenarnya aku juga ga mau kaya gini tapi keluargaku memaksa aku harus menikah dengan pilihan mereka."
"Moga kamu ga mengalami seperti yang aku alami." Lidia merasa terusik dan mulai duduk mendekat kerah dua orang wanita itu.
"Permisi mbak, maaf tadi aku tak sengaja mendengar obrolan mbak berdua. Maksudnya mbak dengan menyesal itu apa ya?" tanya Lidia penasaran.
"Ooh itu, mbak dulu pernah aborsi karna tak di restui. Pasca aborsi mbak di vonis ga bakal bisa punya anak lagi, mungkin ini hukuman bagi mbak dari Tuhan karna sudah membunuh janin yang tak berdosa." nampak kesedihan di mata wanita itu saat bercerita membuat Lidia goyah. Keraguan mulai menggerogoti hatinya.
Apakah Lidia akan membatalkan niatnya atau tetap lanjut dengan rencana awal?
...****************...
Assalamualaikum kk, maaf baru sempat up lagi.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 😘👍🙏
atau adit br dipindah ke kantor nya panca?
atau adit atau lidia ga pernah saling cerita mrk kerja dimana?