Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Kesaksian di Balik Pintu Tertutup
Ruang sidang di lantai dua belas gedung Financial Conduct Authority terasa dingin dan terlalu terang.
Dinding kaca yang bersih, meja logam yang rapi, dan lampu putih yang tajam membuat ruangan itu terasa lebih seperti laboratorium daripada tempat manusia berbicara tentang nasib hidup mereka.
Zerya duduk di kursi saksi dengan punggung tegak.
Ia mengenakan blazer putih sederhana—warna yang ia pilih dengan sengaja pagi ini. Putih, sebagai simbol bahwa ia datang tanpa menyembunyikan apa pun.
Di seberang meja panjang, tiga investigator senior FCA menatapnya dengan ekspresi profesional yang hampir tanpa emosi.
Tidak ada simpati.
Tidak ada permusuhan.
Hanya penilaian.
Di luar ruangan, dipisahkan oleh kaca satu arah, Javian berdiri bersama dua pengacara perusahaan. Sebuah layar monitor menampilkan rekaman langsung dari ruang sidang.
Ia berdiri dengan kedua tangan di saku jasnya, wajahnya tenang… terlalu tenang.
"Nona Omerly," salah satu investigator akhirnya membuka percakapan. Suaranya berat dan formal.
"Anda menandatangani adendum kontrak yang kemudian menjadi dasar transaksi saham mencurigakan senilai jutaan pound."
Ia berhenti sejenak, matanya tidak pernah lepas dari Zerya.
"Apakah Anda sadar bahwa tanda tangan tersebut digunakan sebagai alat untuk insider trading?"
Ruangan itu terasa semakin sunyi.
Zerya menarik napas perlahan.
Selama satu detik, bayangan lama melintas di benaknya—sebuah foto masa kecilnya bersama Aldric di sebuah taman musim panas.
Ia memaksa bayangan itu menghilang.
"Saya sadar tanda tangan saya ada di dokumen itu," jawabnya tenang.
"Tapi saya tidak pernah menyadari bahwa dokumen tersebut digunakan untuk insider trading."
Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah flash drive kecil.
Tangannya tidak gemetar ketika ia menyerahkannya ke meja investigator.
"Di dalamnya ada riwayat email saya, log akses sistem, serta rekaman autentikasi akun saya pada hari adendum itu dikirim."
Salah satu investigator mengambil flash drive itu.
"Anda akan melihat bahwa adendum tersebut memang dikirim ke email saya," lanjut Zerya.
"Namun persetujuan akhir dilakukan menggunakan kredensial saya oleh orang lain."
Ia berhenti sejenak.
Lalu mengucapkan nama itu dengan jelas.
"Aldric Omerly—ayah saya—memiliki akses ke sistem keamanan saya saat itu."
Investigator pertama mengangguk pelan sambil mencatat sesuatu.
Namun investigator kedua justru memajukan tubuhnya ke depan.
"Akses Aldric menjelaskan sebagian hal," katanya.
"Tapi ada detail lain yang lebih menarik."
Ia memutar layar tablet yang ada di depannya agar Zerya bisa melihatnya.
"Log transaksi menunjukkan bahwa informasi insider tersebut tidak berasal dari Omerly Group."
Zerya mengerutkan kening.
"Lalu dari mana?"
"Server internal Talandra Group."
Kalimat itu jatuh seperti batu.
Zerya terdiam.
Di balik kaca satu arah, Javian juga membeku di tempatnya.
Ruangan itu tiba-tiba terasa jauh lebih kecil.
"Apa maksud Anda?" tanya Zerya akhirnya.
Investigator ketiga menjawab dengan nada datar.
"Data rahasia tersebut dibocorkan oleh seseorang dari dalam Talandra Group."
Ia menutup tabletnya.
"Lalu informasi itu diteruskan kepada ayah Anda."
Ia menatap Zerya langsung di mata.
"Dengan kata lain, Nona Omerly…"
"Ini bukan hanya skandal keluarga Omerly."
Ia berhenti sebentar sebelum menyelesaikan kalimatnya.
"Ini adalah sabotase internal terhadap Talandra yang memanfaatkan Anda."
—
Satu jam kemudian, pintu ruang sidang terbuka.
Zerya keluar dengan langkah pelan.
Lututnya terasa lemah, seolah tubuhnya baru saja keluar dari medan perang.
Begitu melihatnya, Javian langsung berjalan mendekat.
Wajahnya lebih gelap dari biasanya.
Rahangnya mengeras.
"Saya tidak tahu apa pun tentang kebocoran data itu," ucap Zerya cepat. Napasnya sedikit tidak teratur. "Saya bersumpah."
Javian tidak langsung menjawab.
Ia menatap Zerya dengan intensitas yang membuat orang lain mungkin merasa tidak nyaman.
Matanya menelusuri wajah Zerya—mencari keraguan, kebohongan, atau tanda-tanda kepura-puraan.
Namun tidak ada.
Hanya kelelahan… dan ketulusan.
"Saya tahu," jawabnya akhirnya.
Nada suaranya rendah.
Namun kali ini berbeda.
Bukan lagi dingin seperti eksekutif yang menjaga jarak.
Ada kemarahan di sana.
Kemarahan yang sangat terkendali.
"Ada pengkhianat di perusahaan saya."
Zerya menegang.
"Seseorang yang mencoba menjatuhkan saya," lanjut Javian pelan, "dengan menggunakan Kau sebagai kambing hitam."
Suasana lobi FCA terasa berat.
Beberapa pengacara berjalan lewat, tapi tidak ada yang berani mendekat.
"Apa langkah kita sekarang?" tanya Zerya.
Javian memandang ke arah pintu keluar gedung FCA yang dipenuhi wartawan.
Matanya menyipit sedikit.
"Pembalasan."
Ia mengucapkannya seperti sebuah keputusan bisnis.
Bukan emosi.
"Tiga orang baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidup mereka."
Zerya menatapnya.
"Julian Vane," lanjut Javian.
"Aldric Omerly."
Ia berhenti sebentar.
"Dan pengkhianat di dalam perusahaan saya."
Javian meraih lengan Zerya.
Bukan dengan lembut.
Tapi dengan genggaman tegas seorang pemimpin yang baru saja menyadari kerajaannya sedang diserang dari dalam.
"London Arc belum selesai, Zerya."
Tatapannya tajam seperti pisau.
"Ini baru saja berubah menjadi perang yang sesungguhnya."