Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.
Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.
Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.
Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.
Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auvy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Bisnis atau Sandiwara?
Beberapa hari kemudian, hari yang dinantikan sekaligus dikhawatirkan oleh Bela akhirnya tiba. Perjalanan dinas pertamanya sebagai asisten pribadi Melani resmi dimulai. Menurut jadwal yang dikirimkan Melani, agenda luar kota ini biasanya hanya memakan waktu dua hingga tiga hari saja—durasi yang cukup singkat sebelum mereka harus kembali ke hiruk-pikuk Jakarta.
Melani mengaku rutin mengecek seluruh cabang bisnisnya setiap pekan. Baginya, angka di atas kertas laporan bulanan tidak pernah cukup; ia ingin melihat bukti nyata dengan matanya sendiri. Ia ingin merasakan atmosfer di lapangan, memastikan setiap sudut usahanya berjalan sesuai standar perfeksionisnya.
Di balik kemudi mobil yang meluncur stabil di jalan tol, Bela diam-diam merasa kagum. Meskipun ia harus berkonsentrasi penuh pada jalanan, pendengarannya tertuju sepenuhnya pada Melani yang duduk di kursi samping. Sepanjang perjalanan, Melani tidak berhenti memaparkan sudut pandangnya tentang dunia bisnis. Cara Melani berbicara tentang strategi pemasaran, manajemen konflik karyawan, hingga visi masa depan usahanya benar-benar menggugah selera intelektual Bela.
"Dunia ini tidak ramah pada wanita yang hanya menunggu, Bela," ucap Melani dingin namun penuh makna. "Kamu harus punya sesuatu yang nyata di tanganmu agar orang tidak bisa meremehkanmu."
Bela mengangguk dalam diam, meresapi setiap kalimat itu. Ia tidak menyangka bahwa bosnya yang sering kali terlihat kaku dan keras ternyata memiliki kedalaman pemikiran yang luar biasa. Obrolan itu membuat perjalanan yang memakan waktu sekitar tiga jam menuju Bandung terasa lebih singkat dari yang ia bayangkan.
Setelah melewati kemacetan kota yang khas, mereka akhirnya sampai di Bandung. Udara sejuk kota kembang itu menyapa Bela saat ia menurunkan kaca jendela. Meski tubuhnya terasa sedikit pegal karena harus menyetir selama tiga jam dalam kondisi hamil muda yang rentan, ada secercah kebahagiaan yang menyelinap di hatinya. Sudah sekian lama ia tidak ngetrip atau sekadar mencium aroma udara luar kota.
Bela sebenarnya adalah pecinta liburan. Ia suka sekali pantai dan gunung. Ingatannya melayang pada masa kuliah dulu, saat ia nekat mendaki gunung tanpa izin orang tuanya. Saat itu, ia hanya beralasan menginap di rumah teman demi menghindari larangan keras ibunya yang posesif. Kini, meski dalam rangka bekerja, perjalanan ini terasa seperti pelarian yang manis dari bayang-bayang pria berbadan besar yang dikirim ibunya untuk mencarinya.
---
Mobil berhenti tepat di depan lobi sebuah hotel yang terbilang sangat mewah di kawasan Dago. Arsitekturnya glamor, dengan sentuhan modern yang megah.
"Btw, kita beda kamar yah, tapi tetap sampingan," ucap Melani sebelum turun dari mobil, suaranya kembali ke nada profesional yang tegas.
Bela mengangguk paham. "Baik, Bu. Saya mengerti."
Memang sewajarnya mereka pisah kamar. Bagaimanapun, hubungan mereka adalah atasan dan bawahan, bukan sepasang sahabat yang sedang berlibur. Bela sadar bahwa Melani berhak membangun dinding setinggi mungkin demi menjaga privasinya, apalagi menjaga citranya sebagai wanita berkelas yang tak sembarang berbagi ruang pribadi dengan orang baru.
Mereka kemudian naik ke lantai atas dan masuk ke kamar masing-masing. Kamar Bela dilengkapi dengan single bed yang nampak sangat empuk, dengan interior bernuansa glamor yang senada dengan lobi hotel. Harum aroma terapi di dalam kamar itu sempat membuat Bela merasa rileks sejenak.
Baru sekitar lima belas menit Bela merebahkan badannya yang terasa remuk, suara dering ponsel di atas nakas mengejutkannya. Itu panggilan dari Melani.
"Saya mau ke cafe yang baru saya launching itu. Sekalian kita makan siang di sana saja," ucap Melani tanpa basa-basi.
Bela menghela napas panjang setelah menutup telepon. Sebenarnya, yang paling ia butuhkan saat ini hanyalah rebahan dan tidur siang. Rasa laparnya seolah tertelan oleh rasa nyeri di punggung dan kakinya. Namun, ia tidak punya pilihan. Karena mereka hanya pergi berdua tanpa sopir kantor, Bela harus siap siaga menjadi sopir pribadi sekaligus asisten yang sigap. Ia memaksakan diri bangkit, membasuh wajahnya dengan air dingin agar terlihat lebih segar, lalu menyambar kunci mobil.
---
Destinasi mereka adalah sebuah cafe yang nampak sangat menonjol di salah satu sudut jalanan Bandung yang strategis. Cafe itu adalah salah satu unit usaha terbaru milik Melani yang baru saja diluncurkan. Dari luar saja, bangunannya sudah memancarkan kesan mewah dan pricey. Sepertinya tim marketing Melani bekerja sangat keras, karena meskipun baru buka, cafe itu terlihat lumayan ramai oleh pengunjung yang nampak dari kalangan menengah ke atas.
Mereka berdua masuk ke dalam. Bela mengekor di belakang Melani yang berjalan dengan langkah anggun namun penuh otoritas. Melani tidak menuju meja pelanggan, melainkan terus berjalan menelusuri ruangan lebih dalam, melewati meja-meja kayu estetik hingga sampai ke area pojok yang menampilkan konsep open kitchen. Di sana, para pengunjung bisa menonton atraksi chef secara langsung.
"Hai," ucap seorang lelaki dengan suara bariton yang cukup hangat.
Lelaki itu menyapa mereka berdua, namun tatapannya nampak lebih lama tertuju pada Melani. Dari pakaiannya, sudah pasti dia adalah seorang chef. Bela memicingkan mata; wajah pria ini tidak asing. Tadi saat memasuki area cafe, ia sempat melihat spanduk besar yang memajang wajah pria ini sebagai ikon cafe. Dia adalah Chef andalan tempat ini.
Pria yang nampak seperti keturunan bule atau blasteran itu mendekat ke arah Melani. Gerakannya sangat luwes, bahkan terlalu luwes untuk ukuran rekan bisnis. Dengan mudahnya, tangan pria itu mendarat dan menyentuh pinggul Melani secara sekilas namun intim.
Bela yang berdiri tepat di belakang Melani melihat kejadian itu dengan mata kepala sendiri. Ia tertegun sejenak, napasnya tertahan.
'Apakah karena dia bule jadi perlakuan barusan hanyalah hal sepele bagi mereka?' batin Bela bertanya-tanya. Namun, gestur itu tidak terlihat seperti sapaan biasa antar teman lama. Ada sesuatu yang lain.
Bela tidak bisa memungkiri bahwa mata lelaki itu terus tersenyum sambil menatap Melani dengan kedalaman yang ganjil. Sebuah tatapan yang penuh pemujaan, atau mungkin kerinduan? Bela bisa merasakan ketegangan yang tiba-tiba muncul di atmosfer udara di sekitarnya.
Di sisi lain, tampak Melani sedikit kurang nyaman atau mungkin ia hanya sedang mencoba menjaga citranya di depan Bela. Melani segera memberi sedikit jarak, menggeser posisinya agar sentuhan itu terlepas, lalu ia menoleh ke arah belakang.
Sepasang mata Melani bertemu dengan mata Bela. Melani seolah sedang memastikan sesuatu; apakah asistennya itu melihat apa yang baru saja terjadi? Apakah Bela menunjukkan reaksi curiga?
Bela segera menundukkan kepala, berpura-pura sibuk merapikan tas kecilnya, meskipun jantungnya mulai berdegup kencang. Ia menyadari satu hal, perjalanan dinas ini mungkin tidak sesederhana mengecek cabang baru. Ada rahasia yang tersembunyi di balik dinginnya udara Bandung, dan ia baru saja tanpa sengaja mengintip lubang kuncinya.