NovelToon NovelToon
Whispers Of The Ancestors

Whispers Of The Ancestors

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.

Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.

Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.

seorang dukun yang diminta untuk membantu nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Tirai yang Kembali Tertutup

Gerakan itu terjadi dalam sekejap, refleks yang lahir dari ketakutan bertahun-tahun. Begitu menyadari dirinya sedang menatap pantulan wajah di cermin wastafel, Colette tersentak. Dengan gerakan kasar, ia menyapu rambut hitamnya kembali ke depan, membiarkan helaian panjang itu jatuh menjuntai hingga menutupi kedua matanya lagi.

"Tirai" itu kembali menutup. Keamanan semu kembali ia rasakan.

Perasaan takut itu masih ada—mengganjal di relung hatinya seperti duri yang tertanam dalam. Ia merasa seolah-olah dengan melihat dirinya sendiri, ia telah mengundang kembali semua kenangan buruk yang selama ini ia kunci rapat. Napasnya tersengal kecil, dan dadanya terasa sesak oleh kecemasan yang tiba-tiba meluap.

Tanpa memedulikan ketukan di pintu belakang atau kehadiran siapa pun di luar sana, Colette segera menarik piring berisi daging panggang dan gelas susunya. Ia bergerak cepat, seakan sedang dikejar oleh bayangan yang baru saja ia lihat di cermin.

Ia membawa makanannya ke sudut meja makan yang paling gelap, menjauh dari jendela. Di bawah pancaran lampu temaram dapur yang kekuningan, Colette duduk meringkuk. Langit di luar masih setengah gelap, menyisakan warna biru tua yang dingin dan mencekam.

Ia mulai makan dengan terburu-buru. Suara kunyahan dan denting alat makan menjadi satu-satunya pelarian di tengah kesunyian rumah yang masih terlelap. Baginya, kegelapan ini adalah teman; di bawah lampu yang redup ini, tidak ada yang bisa melihat matanya, tidak ada yang bisa menilai luka-lukanya, dan ia bisa menghilang menjadi bayangan yang tak terlihat.

Sinta berdiri terpaku di anak tangga terakhir. Matanya yang sembab karena kurang tidur membelalak saat melihat siluet putrinya di balik meja makan yang temaram. Aroma daging panggang dan susu hangat yang menguar di udara fajar terasa seperti mimpi yang tidak nyata baginya.

Selama bertahun-tahun, Sinta hanya melihat Colette sebagai "bayangan" yang lesu. Putrinya itu biasanya hanya akan keluar kamar jika suasana rumah sudah benar-benar sepi, atau ia akan menunggu Sinta menyiapkan makanan di depan pintunya. Namun pagi ini, di saat langit bahkan belum memutih, Colette ada di sana. Berdiri, memasak, dan memenuhi kebutuhan fisiknya sendiri.

Sinta berjalan mendekat dengan langkah yang sangat pelan, seolah-olah jika ia bersuara terlalu keras, pemandangan indah ini akan hancur berkeping-keping.

"Colette..." bisiknya lirih.

Gadis itu tidak menoleh. Ia terus mengunyah makanannya di bawah lindungan rambut panjangnya yang menutupi wajah. Bahunya tampak sedikit menegang saat menyadari kehadiran ibunya, namun ia tidak lari. Ia tetap di sana, menghabiskan potongan dagingnya.

Sinta mendekat ke arah meja makan, ia tidak mencoba menyentuh Colette, ia tahu batas itu. Ia hanya duduk di kursi yang agak jauh, menatap punggung putrinya dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh rasa syukur.

Meskipun perubahan ini sangat kecil—hanya sebatas bangun pagi dan membuat sarapan—bagi Sinta, ini adalah sebuah kemenangan besar. Setelah kejadian mengerikan di kantor dan kunjungan ke dukun misterius semalam, ia sempat takut Colette akan semakin menutup diri selamanya. Namun ternyata, ada sesuatu yang "terbangun" di dalam diri gadis itu.

"Ibu senang melihatmu makan, Nak," suara Sinta bergetar karena emosi yang tertahan. "Masakanmu baunya sangat enak."

Colette hanya terdiam, namun ia sedikit memperlambat kunyahannya. Perasaan canggung menyelimuti mereka, namun itu adalah kecanggungan yang hangat. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, rumah itu tidak terasa seperti penjara bagi Colette, melainkan tempat perlindungan.

Sinta menatap punggung Colette yang kaku, dan rasa sesak kembali menghujam dadanya. Ia sangat tahu, setiap inci kecemasan yang terpancar dari tubuh putrinya adalah warisan dari masa lalu yang kelam.

Trauma itu berakar sejak Sekolah Dasar. Sinta masih ingat betul hari di mana Colette pulang dengan pakaian robek dan tatapan mata yang kosong—hari di mana intimidasi dari teman-temannya melampaui batas kemanusiaan. Sejak saat itu, Colette tidak pernah sama lagi. Dunianya mengecil, suaranya menghilang, dan ketakutannya terhadap keramaian menjadi begitu akut sehingga Sinta harus mengambil keputusan berat: homeschooling.

Baginya, rumah adalah satu-satunya benteng agar Colette tidak hancur lebih jauh. Namun melihat Colette sekarang, yang mulai berani menyentuh dapur dan menyiapkan makanannya sendiri, Sinta merasa seolah dinding benteng itu perlahan mulai memberikan ruang bagi cahaya kecil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!