Sawyer Reynolds, seorang mahasiswa miskin di Central International University, menghadapi penghinaan dari pacarnya, Stella Reed, dan mahasiswa kaya, Dylan Cooper, yang mencampakkannya karena uang. Setelah dipukuli dan dikeluarkan dari kelas, Sawyer ditemukan oleh seorang pria kaya, Samuel, yang ternyata adalah ayahnya yang telah lama hilang. Sawyer mengetahui bahwa ia adalah pewaris tunggal kekayaan triliunan dolar. Dengan identitas barunya sebagai seorang miliarder, Sawyer berencana untuk membalas dendam kepada mereka yang telah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZHRCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Kau Pasti Akan Menyesal
Stella mengerutkan kening, hendak menjawab, tetapi kata-katanya terpotong oleh selaan Dylan. Ia merangkul leher Stella dan mengecup pipinya.
"Tak perlu banyak bicara, Stella. Biar aku yang akan menangani ini," ujarnya meyakinkan.
Stella tersenyum dan mengangguk setuju. Dylan melangkah maju, menatap Sawyer dengan tajam.
"Sawyer Reynolds, aku tidak mendengar apa yang kau katakan. Ulangi."
Sudut bibir Sawyer terangkat sinis. "Tanya saja padanya. Aku tidak punya waktu untuk mengulanginya."
Dylan mengernyit sesaat, menunjukkan kejengkelannya. "Baiklah, lupakan saja. Kau ingin uang seribu dolar yang kau pinjamkan padanya kembali?"
"Kau sudah mendengarnya dengan jelas, jadi kenapa bertanya lagi?" balas Sawyer dengan nada tak sabar.
Kesabaran Dylan mulai menipis, tetapi ia masih menahan diri. "Kau mengaku-ngaku kalau dia berhutang padamu. Pertama, apakah kau petugas pinjaman? Kedua, apakah kau punya bukti bahwa Stella berhutang padamu?"
"Urus saja urusanmu sendiri. Siapa kau, dan apa yang kau tahu? Di mana kau saat dia meminta uang itu? Kenapa kau ingin ikut campur? Bukankah tugasmu hanya bersikap seperti anak orang kaya manja dan menggoda wanita?" Sawyer membalas dengan nada tajam.
Emosi Dylan meledak. Tangannya melesat maju, mencengkeram kerah baju Sawyer. Ia menggeram, "Jaga mulutmu! Kau tidak boleh berbicara padaku seperti itu, dan kalau kau lupa, aku pernah memberimu beberapa receh supaya kau bisa makan."
Ia tertawa.
Tangan Sawyer juga bergerak cepat, balas mencengkeram kerah Dylan. "Kau bukan siapa-siapa. Kau tidak berhak menyentuhku, dan kau membayarku untuk sebuah tugas, bukan memberiku uang gratis."
Mata Dylan menyipit, suaranya penuh amarah. "Kau sedang bermain api, Sawyer. Kau tidak tahu dengan siapa kau berurusan."
Nada Sawyer tetap tajam dan menantang. "Aku tidak peduli siapa pun dirimu. Kau tidak akan menakut-nakutiku.”
Tawa Dylan terdengar pahit dan mengejek. "Kau benar-benar tidak tahu diri, lucu sekali. Kau hanyalah anak miskin yang mencoba bermain di liga besar."
Rahang Sawyer mengeras, balasannya menusuk. "Setidaknya itu karena aku tidak punya orang tua yang membiayai gaya hidupku. Tidak seperti beberapa orang di sini. Kau pikir jika aku punya orang tua kaya, kau akan berani mengatakan semua omong kosong itu di depanku?"
Bibir Dylan melengkung menjadi senyum kejam.
"Kau tahu, Sawyer, tidak heran kau jadi seperti ini. Siapa yang tahu siapa orang tuamu? Mungkin mereka sama tidak berharganya dengan dirimu."
"Haha." Semua orang tertawa setelah mendengar ucapan Dylan.
Wajah Sawyer berubah dipenuhi amarah. Kata-kata itu menyentuh luka terdalamnya. Ia tak mampu lagi menahan diri. Dengan ledakan emosi yang tiba-tiba, ia menerjang kearah Dylan, tinjunya melayang.
Bang!
Para pria di sekitar mereka berusaha menahan Sawyer, mencoba menghentikannya, tetapi sesuatu dalam dirinya telah pecah. Hinaan Dylan terlalu dalam. Dengan gerakan cepat dan tak terduga, Sawyer melepaskan diri dari cengkeraman mereka.
Buk!
Tangannya mendarat keras di pipi Dylan. Suara pukulan itu menggema, mengirim gelombang kejut ke seluruh kerumunan, meninggalkan keheningan yang tercengang.
Tempat itu sunyi sejenak sebelum sebuah suara memecahnya. "Kalian lihat itu? Sawyer baru saja memukul muka Dylan!"
"Aku tidak percaya dia berani melakukannya."
"Sawyer sudah gila. Habis dia sekarang."
"Dia akan menyesal. Dylan tidak akan membiarkannya lolos."
"Seseorang harus menghentikan ini sebelum semakin buruk."
"Dia akan membayar atas penghinaannya terhadap Dylan seperti itu."
"Aku belum pernah melihat Sawyer bertindak seperti ini sebelumnya. Apa yang terjadi padanya?”
Kali ini, para pria itu menahan Sawyer dengan kuat, tidak memberinya kesempatan untuk lepas. Wajah Dylan berubah menjadi senyuman yang aneh.
"Bagus, bagus. Sepertinya si miskin ini menemukan sedikit keberanian, ya? Orang yang pernah kusuruh menjalankan tugas untukku—aku tidak akan melakukan apa-apa padamu sekarang, tapi percayalah, kau akan menyesal nanti. Untuk sekarang, aku akan melamar Stella di depanmu sementara kau menonton, supaya kau tahu aku selalu selangkah di depanmu."
Berbalik kearah Stella, Dylan melangkah mendekat, suaranya penuh percaya diri. "Stella, aku ingin menanyakan sesuatu yang penting. Maukah kau menjadi pacarku? Aku berjanji memberimu kehidupan mewah dan kebahagiaan."
Sawyer menatap Stella dengan saksama, jantungnya berdebar keras, menunggu jawabannya. Meskipun ia sudah tahu apa jawabannya, ia ingin mendengarnya sendiri.
Stella menatap Sawyer sejenak, senyum bermain di bibirnya. Lalu ia kembali menoleh kepada Dylan, tersenyum dan mengangguk. "Ya, Dylan. Aku akan menjadi pacarmu."
"Sial," gumam Sawyer saat ia merasakan rasa sakit seolah pedang panjang menusuk dadanya.
Wajah Dylan berseri-seri, dan tanpa ragu ia mencium Stella, menegaskan status baru mereka sebagai pasangan. Kerumunan bersorak dan bertepuk tangan.
Para pria yang sebelumnya menahan Sawyer akhirnya melepaskannya, membiarkannya berdiri sendiri.
Dylan berjalan mendekati Sawyer, senyum angkuh terukir di wajahnya.
"Yah, Sawyer, sepertinya kau sudah mendapatkan momen pemberontakan kecilmu. Tapi pada akhirnya, kau hanyalah pion dalam permainan ini. Aku akan selalu selangkah di depanmu, tidak peduli seberapa keras kau mencoba."
Ia melirik ke arah Stella, lengannya melingkar di bahunya. "Lihat, beberapa dari kita memang ditakdirkan untuk sukses. Sayang sekali kau tidak akan pernah benar-benar memahaminya."
Tatapan Sawyer tertuju pada Stella, rasa sakit dan pengkhianatan tergambar jelas di wajahnya. "Kau mengkhianatiku, Stella. Untuk apa? Untuk seseorang yang punya lebih banyak uang?" Suaranya bergetar. "Kupikir kau berbeda."
Stella membalas tatapannya dengan senyum dingin dan mengejek. "Yah, Sawyer, mungkin kau sebaiknya pergi menghasilkan uang dulu. Begitulah cara dunia bekerja."
Api menyala di mata Sawyer. "Tentu saja, aku akan menghasilkan uang. Begitu banyak uang hingga kau akan menyesal pernah mengkhianatiku."
Stella tertawa, suaranya bergabung dengan paduan suara ejekan dari para mahasiswa di sekitar mereka.
"Kau pikir ini semacam kisah pria miskin menjadi kaya dari Cina? Apa yang akan kita sebut? Sawyer, mahasiswa miskin yang menjadi miliarder? Miliarder mahasiswa, kebangkitan miliarder mahasiswa atau miliarder kampus? Ini dunia nyata, Sawyer, berhentilah bermimpi."
Sawyer mengangguk. "Kau benar, mungkin itu hanya terjadi di film, tapi percayalah, kesuksesanku akan melampaui kisah pria miskin menjadi kaya mana pun yang pernah ditampilkan di layar atau dicetak dalam buku."
Setelah itu, ia berbalik dan berjalan pergi.