Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.
Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.
Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.
Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.
Simak cerita selengkapnya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Kedua
Nara masuk ke kamarnya, mengambil stok pembalut di laci lemari. Segera berlari ke belakang rumah. Masuk kamar mandi. Hari kedua haid biasanya cukup banyak. Bisa ganti pembalut sampai lima kali dalam dua puluh empat jam.
"Kamu datang bulan?" tanya Risna begitu Nara masuk masuk dapur.
"Iya, Buk. Kenapa?" Nara menjepit rambutnya.
"Nggak apa-apa. Itu tolong balik tempenya, ibu mau nyuci sayur," suruh Risna.
Nara dan Rama sengaja tinggal lebih lama. Sejak menikah belum pernah kumpul bersama keluarga.
Rama di ruang tengah bersama Yuda, nonton liga Indonesia di televisi. Sesekali terdengar suara mereka yang bertepuk tangan atau teriakan kekecewaan.
Kepala Nara geleng-geleng seraya membalik tempe mendoan di wajan. Ada rasa bahagia mendengar suara Yuda dan Rama mengobrol dekat.
Nara menoleh ke samping kiri, melihat Rama yang melewati dapur. Rama tersenyum kala beradu pandang. Nara merasakan hatinya berbunga-bunga bagai di musim semi.
"Angkat, Nara. Gosong itu!" hardik Risna.
Nara tergagap, melihat tepung tempe yang mulai berwarna eksotis. Buru-buru mengambil serok penggorengan, diangkatnya tempe mendoan.
"Belum gosong, Buk," kata Nara cengengesan.
"Suamimu cuma ke kamar mandi, bukan ke Arab Saudi." sindir Risna.
"He he...." Nara meringis seraya melanjutkan menggoreng tempe mendoan.
Sedangkan Risna memasak sayur asem disambi membuat sambal terasi.
"Setelah tempe, itu ikan asinnya digoreng."
Nara hanya mengangguk. Tidak berani tengok kanan kiri, walaupun suaminya sempat lewat lagi.
"Ibuk, nggak pernah diganggu Gita atau Bude Yuni, kan?" tanya Nara matanya fokus memandangi wajan penggorengan.
"Nggak pernah. Paling teriak-teriak julid kayak nyindir. Pernikahan Dewa dan Gita di gedung Petra Sena. Yuni bangga sekali," sahut Risna.
"Kenapa tanya itu?"
"Oh, aku khawatir, ibuk bisa tertekan...." Nara mengangkat tempe mendoan, lalu menggoreng ikan asin. Suara minyak panas cukup mengerikan, Nara mundur dua langkah.
"Nggak mungkin ibu tertekan. Mereka yang tertekan melihat kamu bahagia bersama Rama." tukas Risna.
"Sana bikin teh aja, goreng kok menye menye."
"Takut kena minyak panas, Buk." Nara kemudian menyapa Rahmat yang baru saja pulang.
Rahmat membawa bolu gulung cokelat, disuruhnya Nara mengiris-iris bolu.
"Sana suamimu suruh makan, itu bolu bapak yang bikin."
Nara membawa kotak bolu ke ruang tengah. Diletakkan di dekat sang suami.
"Mbak Nara dan Mas Rama mau punya anak berapa?" Pertanyaan Yuda memang di luar prediksi BMKG.
"Terserah Mbak Nara, karena dia yang mengandung dan melahirkan," jawab Rama
"Yud, Rama, sini bantuin Ibuk bawa makanan!" teriak Risna.
"Kita makan lesehan aja."
Giliran Rama dan Yuda yang membantu Risna. Nara leha-leha duduk selonjoran sembari makan bolu.
Nara memperhatikan suaminya yang membawa piring dan sendok. Apakah di rumah orang tuanya yang kaya raya, Rama juga disuruh-suruh?
Keluarga itu menikmati makan malam bersama. Terdengar candaan dan tawa yang membuat tetangga sebelah merasa iri.
"Nginep aja, Nara," kata Risna.
"Aku besok masuk pagi. Aku nggak bawa seragam kerja," sahut Nara yang kemudian menutup bibirnya karena bersendawa.
Selesai makan, mereka tidak langsung pulang. Karena Yuda minta tolong Rama mengajari pelajaran matematika. Lagi-lagi, Nara memperhatikan suaminya yang tampak serius. Pintar, ganteng, dari keluarga kaya... membuat Nara merasa agak rendah diri. Tetapi cepat-cepat ditepis, teringat ucapan Rama supaya tidak ragu. Apapun itu akan dihadapi.
...****************...
Gita mendengar suara obrolan dari arah rumah Nara. Lidahnya berdecak kesal, karena juga terdengar tawa yang renyah.
Sedangkan di rumahnya, orang di rumahnya sibuk sendiri-sendiri. Yuni menonton sinetron, Mansyur duduk di teras dan merokok, Dewa yang datang kadang sibuk dengan ponsel.
Gita duduk di sebelah Dewa, kepo apa yang dilihat sang calon suami di ponsel.
"Aku kira ngapain," kata Gita, melihat Dewa yang secroll di aplikasi marketplace. Mencari celana panjang.
"Beli aja langsung di toko."
"Males, nggak ada waktu," sahut Dewa.
"Ada rencana bulan madu nggak? Yang dekat-dekat aja, Mas Dewa." Dagu Gita menempel di pundak Dewa.
"Cari waktu yang tepat, nggak bisa langsung setelah nikah, karena aku cuma libur dua hari," Jawab Dewa.
Gita manyun. Ingin memanas-manasi Nara. Gita pun meminta kedua orang tuanya resepsi di gedung pernikahan. Memesan tiga baju pengantin, untuk akad, resepsi, dan pesta lanjutan bersama teman dekat.
"Aku ke kamar mandi dulu." Dewa menaruh ponselnya di meja, lantas berjalan ke belakang.
Gita mengambil ponsel Dewa, mengecek kontak dan dengan siapa mengirim pesan maupun telepon. Masih ada nama Nara di antara nama-nama kontak yang langsung dihapus.
"Ngapain kamu?" tegur Dewa.
"Menghapus nomor hape mantan pacarmu." sahut Gita.
"Ngapain nggak dihapus? Masih cinta?"
"Lupa aja, Git." Dewa menyambar ponselnya.
"Kamu nggak sopan ngecek hapeku."
"Aku calon istrimu, Wa. Aku berhak," ucap Gita.
"Aku pulang," pamit Dewa, mengambil tas ranselnya.
"Kamu marah?"
"Menurutmu?" Dewa balik bertanya.
"Kamu sensi banget," tukas Gita.
Melihat Dewa yang berekspresi marah dan garang, Gita akhirnya minta maaf. Terpaksa mengaku salah dan tidak akan mengulanginya.
Dewa yang keluar rumah, sempat melihat motor Rama di teras rumah sebelah. Terdengar suara Yuda yang memanggil Rama.
Gita makin manyun karena Dewa melihat ke arah rumah Nara.
"Hati-hati, Mas Dewa," kata Gita, suaranya dibuat selembut mungkin.
"Ya." Dewa menyahut singkat.
Gita melepas kepergian Dewa yang mengendarai motor matic. Bibirnya berdecak kesal, karena Dewa sangat cuek.
...****************...
Rama hendak masuk ke rumah kontrakan ketika disapa oleh seseorang. Tubuhnya berbalik, tampak lelaki berbadan besar dan bertato di lengan.
"Lama tidak bertemu, Danis," ucap Rama.
"Wah, semua orang sudah tahu di mana aku tinggal."
"Selamat sore, Pak Rama," sapa Danis yang dulu merupakan sopir merangkap pengawal.
"Saya disuruh Nyonya mengantar langsung perhiasan untuk istrinya Pak Rama."
Danis memberikan paper bag hitam. Rama pun menerimanya.
"Saat ini, Pak Radit dalam kondisi koma," ungkap Danis.
Rama sempat terkejut dan terlihat khawatir. Walaupun hubungannya dengan Radit babak belur, berharap kakaknya bisa sehat seperti sedia kala.
Danis berpamitan, ditunggu taksi yang menunggu di pinggir jalan.
Rama menutup pintu. Berjalan masuk ke belakang melihat Nara yang baru selesai mandi. Aroma wangi sampo menguar.
"Untukmu dari Mama," kata Rama menaruh paper bag di meja makan.
"Apa itu, Mas?" tanya Nara yang menggosok rambutnya yang basah menggunakan handuk.
"Perhiasan katanya," jawab Rama.
Nara mendekat ke meja. Handuk setengah basah ditaruh di sandaran kursi. Ada tiga kotak yang berbeda ukuran. Kotak beludru hijau tua berisi satu set perhiasan kalung, anting, dan gelang.
"Perhiasan semua?" tanya Rama. Karena penasaran dia mengambil kotak terbesar.
"Ini voucher menginap di hotel selama dua hari," jawab Nara selain voucher ada parfum juga.
"Itu apa, Mas?"
"Sabuk mungkin," sahut Rama asal. Ketika melihat lipatan gaun berwarna krem, Rama nyeletuk, "Oh, baju."
Nara mengambil baju itu. Berdecak kagum karena bahannya selembut sutra.
"Pendek banget, terbuka di sana sini. Mama kok seleranya turun," komentar Rama.
Nara menatap suaminya. Ada rona merah di pipi.
"Beneran Mas Rama nggak tahu ini jenis baju apa?"
"Enggak. Baju cewek memang beragam model ...." sahut Rama, lalu duduk di kursi meja makan. Mengamati perhiasan yang indah.
"Bagus baju yang pertama kali diberikan ke kamu."
"Oh." Nara melipat baju itu, ditaruh kembali di kotak berpita. Masak nggak tahu itu lingerie padahal pinter matematika? Nara berdehem pelan.
Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨
Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,
Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
nanggung kelanjutan nya 😬😬