Revania Agatha, Ibu muda berusia 32 tahun yang sudah memiliki seorang putra. Terjebak dalam dilema antara bertahan atau pergi disaat rumah tangganya tak lagi membuatnya merasa diinginkan oleh suaminya sendiri.
Nathan Alexander, pria dewasa dan mapan yang masih betah melajang dan disibukkan dengan karir yang dibangunnya. Namun tanpa di duga dirinya justru tertarik pada wanita yang sudah bersuami.
Gimana ya kisahnya, yuk ikutin ceritanya. ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vennyrosmalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26
Pagi hari ini Vania berniat untuk membeli beberapa bahan kue yang dibutuhkannya. Liliana sudah memberi tahu beberapa tempat grosir yang bisa Vania datangi karena harganya akan lebih murah.
Resa sendiri sudah dijemput oleh Sely yang datang bersama Daddy nya. Vania sangat terbantu dengan Liliana yang mau mengajak Resa bermain di akhri pekan ini.
Vania sudah menunggu taksi yang di pesannya. Namun tiba-tiba sebuah mobil yang cukup Vania kenali datang dan berhenti di depan rumahnya.
"Nathan?"
Vania menghampiri Nathan yang baru saja turun dari mobil. Nathan melihat penampilan Vania yang sudah rapi dan cantik tentunya.
"Apa kamu mau pergi Vania?" tanya Nathan.
Vania mengangguk "Kamu sendiri, ada apa kesini?"
"Aku mau ajak Kamu dan Resa pergi." jawab Nathan.
Selain itu Nathan juga ingin mengatakan kebenaran tentang dirinya yang merupakan kakak dari Irene.
"Resa pergi dengan Lili." ucap Vania.
"Kamu sendiri mau pergi kemana Vania?"
Pertanyaan Nathan belum dijawab oleh Vania karena taksi yang dipesannya sudah datang.
"Atas nama Revania." ucap supir taksi yang m membuka jendela mobilnya.
Vania meminta supir itu untuk menunggu sebentar "Tunggu ya Pa."
Kemudian Vania mengatakan pada Nathan jika dirinya akan pergi berbelanja kebutuhan. Nathan melihat ke arah taksi yang di pesan Vania dan melangkah menuju taksi itu.
"Anda bisa berjalan ke tujuan tanpa mengantarnya, ini ambilah." tutur Nathan sembari memberikan beberapa lembar uang untuk supir taksi itu.
"Loh Nathan." tegur Vania.
"Silahkan Pak."
Supir taksi itu mengambil uang yang cukup banyak diberikan oleh Nathan dan berterima kasih sebelumnya.
Vania melongo saat taksi itu berjalan meninggalkannya begitu saja
"Nathan, aku."
Tangan Vania ditarik begitu saja menuju mobil Nathan. Membuka pintu depan untuk mempersilahkan Vania masuk ke dalam mobilnya.
"Aku yang akan mengantar Kamu Vania." seru Nathan seperti tidak mau di bantah.
Vania pun masuk ke dalam mobil Nathan karena malas berdebat. Lagipula dia juga tidak mau menunggu taksi lagi.
.
.
"Kamu gak sibuk emangnya?" tanya Vania membuka pembicaraan di perjalanan.
"Engga, Aku sengaja mau jemput Kamu ke rumah." jawab Nathan.
Vania hanya mangut-mangut, seharusnya Nathan mengabari jika memang ingin datang. Kalau tadi Vania sudah pergi pasti Nathan tidak akan bertemu dengannya.
Nathan menanyakan akan pergi kemana tujuan Vania sekarang ini. Vania mengatakan tempat yang diberitahukan Liliana padanya.
"Kamu mau beli kebutuhan apa sampai harus kesana?" tanya Nathan heran.
Seingatnya tempat itu adalah grosir untuk pembelian barang dalam jumlah yang banyak. Kebutuhan Vania dan Resa menurutnya bisa dibeli di supermarket biasa.
"Ah iya Kamu belum tahu ya. Aku berencana membuka toko roti dan kue." ungkap Vania.
Vania dengan semangat menjelaskan dirinya ingin membuka usaha itu untuk membantu kebutuhan hidupnya sekarang yang harus mencari uang sendiri.
"Aku juga bisa sekalian menyalurkan hobiKu yang suka bikin kue." jelas Vania.
Nathan menggenggam erat stir mobil setelah mendengar Vania yang harus membuka usaha untuk hidupnya sendiri sekarang.
Ada rasa bersalah di hatinya, sebab adiknya sudah membuat wanita lain harus bekerja keras sendiri untuk hidupnya.
Nathan jadi berpikir dua kali untuk mengatakan kebenaran tentang identitasnya. Nathan takut Vania masih memiliki amarah di hatinya terhadap Irene, meskipun Vania memang terlihat baik-baik saja.
"Nathan, Nathan." tegur Vania saat Nathan diam saja.
"Ke kenapa?"
"Kamu tahu tempatnya kan?" tanya Vania.
Nathan mengangguk dan mengatakan akan menemani Vania berbelanja hari ini.
Begitu sampai, Nathan mengajak Vania untuk mengambil troli sebelum berkeliling mencari barang-barang yang dibutuhkan.
Dengan sigap Nathan mendorong troli dan mengikuti langkah kaki Vania yang serius memilih bahan-bahan dan bertanya pada pegawai disana letak beberapa barang yang tidak di temukannya.
"Kamu sudah punya tempat untuk usaha tokomu?" tanya Nathan di sela langkah keduanya.
"Lili sedang membantuku mencari lokasi yang strategis." jawab Vania.
Nathan kemudian teringat dengan satu tempat miliknya yang ada di dekat perusahaannya. Lokasinya cukup strategis karena dikelilingi dengan gedung perkantoran juga pusat Kota.
"Aku punya tempat yang strategis kalau Kamu mau." tawar Nathan.
"Benarkah? Dimana?" tanya Vania.
Nathan menjelaskan tempatnya ada di dekat perusahaannya, memberitahukan Lokasi itu juga cocok untuk membuka usaha karena berada di pusat kota.
"Kamu bisa cek lokasinya sendiri nanti."
"Baiklah, Aku akan melihatnya."
Vania dan Nathan melanjutkan pembelian barang-barang dengan saling berbicara mengenai banyak hal.
Vania bahkan sudah tidak begitu canggung pada Nathan yang selalu mendengarkan dan merespon dengan baik apa saja yang di katakannya.
Bahkan Vania sudah lama tidak merasakan komunikasi yang baik seperti ini saat bersama Satria dulu.
Selesai dengan membeli barang-barang yang cukup banyak. Nathan meminta pihak grosir untuk mengantar langsung barang itu ke alamat Vania. Karena mobil Nathan tidak akan cukup muat untuk barang sebanyak itu.
"Kita pergi makan dulu bagaimana?" tanya Nathan.
Vania menimbang-nimbang, jika mereka pergi makan terlebih dulu, nanti barang yang di antarkan ke rumahnya akan diterima oleh siapa. Sebab dirumah Vania tidak memiliki asisten rumah tangga.
"Gimana kalau Kita makan di rumahku saja."
Nathan pun mengangguk setuju dan Mereka segera pulang menuju rumah Vania.
.
.
Vania cukup terkejut saat rumahnya kedatangan beberapa pria kekar. Vania sudah berfikir apa orang-orang tersebut adalah rentenir penagih hutang.
Namun dugaan Vania salah saat pria-pria kekar itu justru menundukkan kepala dihadapan Nathan.
"Kalian cepat juga." ucap Nathan.
"Nathan, mereka siapa?" tanya Vania sedikit berbisik.
Nathan tersenyum melihat Vania yang seperti ketakutan dengan orang-orangnya.
"Mereka yang akan membantu merapikan barang-barang Kamu nanti." jawab Nathan.
"Apa?"
Nathan kemudian mengajak Vania untuk segera masuk saja dan memasak makanan yang sudah Vania janjikan di mobil tadi.
Ya, Vania mengatakan akan memasak makanan yang spesial untuknya karena sudah membantu Vania berbelanja tadi.
"Masak yang cepat ya, Aku sudah lapar." pinta Nathan.
.
.
......................