NovelToon NovelToon
CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Ia berlutut pelan di depan ibunya.

“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.

Butuh dua detik untuk menyadari.

“Ara?”

Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.

“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”

Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.

“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak

Ara langsung panik setengah jengkal

“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 NIAT SERIUS

Tak terasa, sudah sebulan Ara pulang dari Jakarta. Hari-harinya ia gunakan untuk membantu ayah dan ibunya, dari memberi makan sapi hingga membereskan kandang.

Malam itu, setelah makan malam mereka berkumpul di ruang tamu. Suasana hangat dan santai menyelimuti ruangan sampai tiba-tiba ayahnya membuka pembicaraan dengan nada serius.

“Ara… beberapa hari yang lalu ada seseorang datang ke ayah dengan maksudnya yang serius banget. Dia ingin menyampaikan niatnya untuk meminang kamu. Kamu mau gak?” ucap ayah menatap Ara dengan penuh arti

“Hah… siapa Yah?” Ara terkejut matanya membulat, dada terasa deg-degan

Ibu tersenyum lembut sambil menepuk bahu Ara “Kalau Ibu sih setuju, Nak. Toh Ibu kenal orangnya. Dari segi akhlak dan kesiapannya menurut Ibu dia orang yang baik dan siap dari segala hal”

Ara menelan ludah, penasaran “Em… emang siapa sih, Bu?” tanyanya, suaranya agak bergetar

Ayah menunduk sebentar lalu mengangkat kepalanya “Emmm… itu… Danu”

“Hah?” Ara spontan terdengar kaget

“Danu… yang punya bengkel itu, kan? Atau ada Danu lain?” Ara bertanya sambil menatap kedua orang tuanya, sedikit ragu

“Iya yang itu. Gimana, kamu mau gak?” tanya ayah dan ibu serempak wajah mereka menunggu jawaban

Ara menggigit bibirnya, matanya menatap ke lantai sejenak “Em… gimana ya…”

Ayah tersenyum dan menepuk tangan Ara dengan lembut “Kamu boleh pikirin baik-baik kok. Lagian ayah udah bilang untuk beri waktu untuk kamu memikirkan sendiri tanpa tekanan siapa pun”

Ibu menambahkan sambil tersenyum hangat “Yang penting kamu merasa nyaman, Nak. Jangan sampai keputusan ini cuma karena terpaksa”

Ara mengangguk pelan, masih bingung tapi juga sedikit lega. Di hatinya, ada campuran rasa kaget, penasaran dan… entah bagaimana, ada sedikit rasa hangat saat membayangkan Danu.

“Malam ini kamu tenangin dulu pikiranmu, Nak. Nanti besok atau lusa kita bicara lagi kalau kamu sudah siap” ujar ayah menenangkan

Ara menunduk, memegang tangan ibunya sebentar, lalu tersenyum tipis “Iya, Bu… Yah. Aku… akan pikirin”

Setelah percakapan itu, Ara pamit ke kamar.

Ia duduk di tepi tempat tidur, tangan menopang dagu, mata menatap kosong ke arah jendela. Hatinya campur aduk antara kaget, penasaran dan sedikit takut.

“Danu… mau meminang aku?” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Ia menutup mata, mencoba merapikan perasaannya sendiri. Di satu sisi, ia merasa ini tiba-tiba tapi di sisi lain, ada sesuatu di dalam hatinya yang terasa… hangat.

Jam menunjukkan pukul 03.00. Kamar gelap, hanya diterangi cahaya lampu jalan yang menembus tirai tipis. Ara terbangun perlahan, membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan kegelapan. Hatinya masih gelisah, pikiran tentang Danu dan ajakan serius dari orang tuanya terus berputar.

Dengan langkah pelan, ia merapikan selimut dan menunduk sedikit ketika melewati meja belajar yang penuh buku. Ara beringsut ke arah kamar mandi dan setelah itu ke arah sajadah, menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.

Ia mulai sholat istikharah, memohon petunjuk kepada Allah. “Ya Allah… tunjukkanlah jalan yang terbaik untukku. Jika ini baik bagiku, mudahkan lah dan bukanlah hatiku. Tapi jika tidak, jauhkan lah aku dari hal yang tidak baik” Suara doa pelan terdengar hening di kamar yang sunyi.

Setelah selesai, Ara duduk sejenak di tepi sajadah, memejamkan mata.

Pagi itu, cahaya matahari menembus jendela kamar Ara, menghangatkan ruangan dengan lembut. Ara bangun lebih awal, masih terasa damai setelah sholat istikharah tadi malam. Hatinya terasa lebih tenang, meski pikiran tentang Danu masih berseliweran samar-samar.

Ia turun ke dapur dan melihat ibunya sudah mulai menyiapkan sarapan. Aroma sayur dan telur dadar menguar hangat, menimbulkan rasa nyaman yang akrab.

“Pagi, Nak. Bangun lebih pagi hari ini ya?” sapa ibunya sambil tersenyum.

“Aku… iya Bu. Aku bantu ya” jawab Ara sambil menyibakkan rambutnya. Ia langsung mencuci tangan dan mengambil beberapa bahan masakan, siap membantu ibunya.

“Bisa ambil bawang dan cuci sayur, Ara?” ibunya menunjuk beberapa bahan yang sudah disiapkan

Ara mengikuti perintah ibunya dengan cekatan, sambil sesekali tersenyum sendiri memikirkan hal-hal yang semalam ia renungkan.

Setelah beberapa menit sibuk di dapur, akhirnya sarapan pun siap. Aroma masakan hangat memenuhi ruangan, dari telur dadar yang kuningnya menggoda, sayur segar yang masih beruap hingga nasi hangat yang baru saja matang. Ara dan ibunya menata piring di meja makan, sementara ayahnya sudah duduk menunggu dengan senyum lembut.

“Makan, Nak. Sarapannya sudah siap” ucap ibunya sambil menyingkirkan wajan dan mengambil sendok.

Ara duduk di samping ayahnya, menatap masakan yang baru ia buat. Hatinya terasa hangat, sederhana tapi penuh kenyamanan yang jarang ia rasakan selama di Jakarta.

“Mmm… harum sekali” kata ayah sambil mengambil nasi dan telur dadar, lalu mencicipi sedikit “Ara kamu makin lihai, ya. Kalau gitu nanti bisa gantikan Bu di dapur” seloroh ayah sambil tersenyum

Ayah menepuk pundak Ara ringan “Nak… ingat ya, kamu bisa memikirkan semuanya dengan tenang. Kita di sini cuma ingin yang terbaik untukmu”

Ara mengangguk pelan, menatap ayah dan ibunya bergantian “Iya Bu… Yah… Aku akan pikirin baik-baik”

Mereka melanjutkan sarapan dengan suasana hangat, tawa ringan, dan percakapan yang sederhana tapi terasa begitu berarti

Setelah sarapan, Ara sedang membereskan piring di ruang makan ketika ibunya memanggil dari dapur

“Ara… Nak, nanti tolong ke warung Mak Santi beli garam sama gula, ya” ucap ibunya sambil mengambil dompet dari laci

Ara menoleh, tersenyum kecil “Iya Bu” jawabnya

Ibunya menyerahkan uang kepada Ara “Ini uangnya Nak. Jangan lupa kembalian kalau lebih”

Ara menerima uang itu sambil menatap ibunya sebentar “Iya Bu tenang aja, nanti aku bawa pulang kembalian kalau ada”

Ibunya tersenyum hangat “Hati-hati di jalan, Nak. Jangan terlalu lama di warung, nanti panas”

“Aku cepat kok Bu. Nggak lama” ucap Ara sambil memasukkan uang ke dompet kecilnya. Ia lalu menyiapkan tas selempang dan melangkah keluar rumah.

Udara pagi terasa segar, sinar matahari menyinari jalan tanah di depan rumah. Ara menutup pintu pelan, berjalan menuju warung Mak Santi yang tak jauh dari rumah. Sambil melangkah, pikirannya sesekali melayang ke percakapan semalam tentang Danu. Ia tersenyum tipis, menahan rasa canggung sekaligus penasaran.

Sesampainya di warung, Mak Santi menyapa ramah. “Eh Ara… pagi-pagi ke sini, ya? Mau beli apa, Nak?”

Ara membalas senyum itu “Pagi, Mak Santi. Boleh minta garam sama gula ya?”

Mak Santi mengambil barang-barangnya, sementara Ara menyerahkan uang yang ibunya berikan. Mereka bercakap-cakap ringan tentang kabar kampung, cuaca pagi itu, dan beberapa tetangga.

Setelah semua barang siap, Ara menerima kembalian dan mengucapkan terima kasih “Makasih ya, Mak Santi”

“Hati-hati ya Nak. Panas juga di jalan” pesan Mak Santi

Ara mengangguk, menenteng kantong belanja.

Ia melangkah keluar dari warung, menghirup udara pagi yang segar. Jalanan kampung mulai ramai dengan suara ayam berkokok dan anak-anak yang berlari ke sekolah.

Di perjalanan pulang, Ara menyapa beberapa tetangga yang ditemuinya “Pagi Bu Ani!” sapa Ara sambil melambai.

“Pagi Nak Ara. Wah belanjaannya banyak juga ya” balas Bu Ani dengan senyum ramah.

Setelah beberapa menit berjalan akhirnya ia sampai di rumah

Ara meletakkan kantong belanja di meja dapur, lalu membuka satu per satu isi belanjaannya “Ini Bu garam sama gula” ucapnya sambil menyerahkan ke ibu.

Ibu Adis menerima dengan senyum hangat “Iya makasih ya Nak” katanya sambil menaruh barang-barang itu di rak dapur

Ara menepuk bahu ibunya ringan “Aku pamit ke kamar dulu Bu” ucapnya sambil melangkah ke arah kamar

“Iya Nak” sahut Ibu Adis, matanya masih mengikuti langkah Ara sejenak sebelum kembali menata dapur.

Ia membuka jendela, membiarkan cahaya pagi masuk dan angin segar menerpa wajahnya. Sepi dan tenang, suasana kamar membuatnya bisa sedikit santai sebelum memulai aktivitas hari itu.

1
Irmha febyollah
lah kmren si Danu ngantarin gorengan ini ngantar motor SMA karyawan blg gak tau rumah si Ara.
Wati Anja
ko ga ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!