Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.
Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?
Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Langkah kaki yang terdengar di ujung lorong membuat Olivia menoleh refleks. Namun saat ia berkedip—pria itu sudah tidak ada. Seolah menghilang begitu saja. Map di lantai juga sudah tidak terlihat.
Yang tersisa hanya lorong sunyi dan napas Olivia yang masih belum stabil. Ia mencoba berdiri, tetapi tubuhnya terasa lemah. Akhirnya ia hanya bisa duduk bersandar di lantai marmer yang dingin.
Beberapa detik kemudian, suara langkah cepat terdengar lagi.
“Liv!”
Jesica muncul dari ujung lorong dengan napas memburu. Begitu melihat Olivia terduduk pucat di lantai, ia langsung berlari menghampiri.
“Ya Tuhan, Liv!”
Jesica berlutut di depannya, wajahnya panik. “Lu kenapa?!”
Tanpa menunggu jawaban, Jesica langsung merogoh ponselnya dari tas. “Gue telepon Kak Juna sekarang.”
Olivia yang masih setengah linglung langsung menahan tangannya. “Jangan.”
Jesica menatapnya tidak percaya.
“Gue nggak apa-apa,” kata Olivia pelan.
Namun wajah pucatnya jelas mengatakan sebaliknya.
Jesica menggeleng keras. “Lu pucat kayak gitu apanya yang nggak apa-apa?”
Ia kembali mencoba membuka ponselnya. “Kalau lu kenapa-kenapa, Liv, gue juga bakal kenapa-kenapa.”
Olivia mengernyit. “Maksud lu?”
Jesica mendesah frustrasi. “Persahabatan kita sekarang nggak kayak dulu, besti. Ngertiin gue.” katanya setengah memohon.
Olivia menatap ponsel di tangan Jesica beberapa detik, lalu tiba-tiba ia merebutnya.
“Liv—”
Namun sebelum Jesica sempat bereaksi, Olivia melempar ponsel itu ke lantai lorong.
KRAK.
Layar ponsel itu langsung retak dan mati total. Hening. Jesica hanya menatap benda itu beberapa detik. Kemudian ia menghela napas panjang, seperti seseorang yang sudah terlalu lelah untuk kaget lagi.
Olivia berdiri perlahan dan berkata santai, “Gue ganti yang lebih bagus.”
Jesica kembali menghela napas. Ia tahu itu bukan masalah bagi Olivia. Sahabatnya itu bisa membeli sepuluh ponsel sekaligus tanpa berpikir dua kali. Namun tetap saja… Kadang Olivia terlalu impulsif.
“Yuk,” kata Olivia akhirnya. “Gue nggak mood kuliah hari ini.”
“Bolos?”
“Bolos.”
Jesica mengangkat bahu. “Ya udah.”
Namun sebelum benar-benar pergi, Olivia menarik Jesica menuju gedung administrasi kampus.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk di ruang rektor. Dengan tenang dan penuh wibawa, Olivia menjelaskan bahwa ia membutuhkan izin khusus untuk meninggalkan kampus hari itu.
Rektor yang jelas mengetahui siapa Olivia—cucu dari wanita paling berpengaruh di jaringan bisnis yang bekerja sama dengan kampus itu—hanya bisa mengangguk penuh hormat.
“Tenang saja, Nona Olivia,” kata beliau. “Tidak akan ada laporan yang sampai ke Oma Anda.”
Olivia tersenyum tipis. “Itu yang saya harapkan.”
Beberapa menit kemudian, Olivia dan Jesica sudah keluar dari gedung kampus. Udara luar terasa lebih bebas.
Jesica melirik Olivia yang kini terlihat jauh lebih tenang dibandingkan beberapa menit lalu.
“Sekarang,” katanya pelan, “lu mau cerita nggak sebenarnya apa yang terjadi tadi?”
Olivia terdiam beberapa detik, angin menyapu rambutnya. Ia masih teringat jelas kata-kata pria itu. Kakakmu tidak pernah benar-benar kabur. Dan yang lebih membuatnya gelisah—pria itu tau sesuatu yang orang lain tidak tau.
Olivia akhirnya menoleh ke arah Jesica.
“Jes…”
“Hm?”
“Kayaknya… kita beneran lagi masuk ke masalah besar.”
Olivia dan Jesica akhirnya meninggalkan area kampus. Mobil yang mereka panggil lewat aplikasi berhenti di pinggir jalan, lalu membawa mereka menuju sebuah apartemen di pusat kota.
Tempat itu bukan sekadar apartemen biasa. Bagi mereka berdua, itu adalah markas rahasia. Tidak ada seorang pun yang tahu tempat itu ada—tidak Juna, tidak keluarga Olivia, bahkan tidak Oma. Hanya Olivia dan Jesica yang mengetahui keberadaannya.
Apartemen itu dibeli Olivia bertahun-tahun lalu, saat ia masih duduk di bangku SMP. Keputusan yang bahkan sampai sekarang masih terasa gila jika dipikirkan kembali. Namun Olivia memang tidak pernah benar-benar seperti anak seusianya.
Saat itu ia membeli unit kecil di lantai menengah apartemen tersebut dengan satu cara sederhana: menggunakan nama orang lain. Nama yang tercantum di dokumen pembelian adalah nama security sekolahnya dulu.
Seorang pria sederhana yang selalu bersikap baik pada Olivia ketika ia masih remaja yang sering pulang terlalu sore dari kegiatan sekolah.
Setelah semua proses selesai dan kepemilikan apartemen diamankan, pria itu kemudian pulang ke kampung halamannya. Sekarang ia hidup damai bersama keluarganya. Tentu saja—dengan dukungan finansial dari Olivia.
Bagi Olivia, itu bukan masalah besar. Sejak kecil ia sudah memiliki tabungan yang jumlahnya sulit dipercaya untuk anak seusianya. Sebagian berasal dari investasi kecil yang ia lakukan diam-diam, sebagian lagi dari hadiah keluarga yang selalu ia simpan dengan cara yang tidak biasa.
Dan sekarang… Ia bahkan tidak perlu lagi memikirkan soal uang. Statusnya sebagai istri Juna, posisinya sebagai direktur muda di perusahaan keluarga, serta janji warisan besar dari Oma membuat keuangan bukan lagi sesuatu yang perlu ia khawatirkan.
Ketika mobil berhenti di depan gedung apartemen itu, Jesica keluar lebih dulu sambil melihat sekeliling dengan hati-hati. Mereka naik menggunakan lift menuju lantai tempat unit itu berada.
Begitu pintu apartemen terbuka, suasana tenang langsung menyambut mereka. Interiornya sederhana, namun nyaman. Sofa abu-abu besar, rak buku kecil, dapur minimalis, dan jendela lebar yang memperlihatkan sebagian kota dari ketinggian.
Jesica menjatuhkan tasnya ke sofa. “Akhirnya,” gumamnya sambil meregangkan tubuh.
Olivia menutup pintu dengan pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke sana beberapa detik.
Di tempat inilah mereka biasanya berpikir jernih. Tidak ada pengawal. Tidak ada staf keluarga. Tidak ada aturan rumah. Hanya mereka berdua. Jesica menatap Olivia yang masih diam di dekat pintu.
“Sekarang,” katanya pelan, “lu cerita semuanya.”
Olivia berjalan perlahan ke arah sofa, lalu duduk di seberang Jesica. Tatapannya serius.
“Kita nggak gila, Jes.”
Jesica langsung menegakkan punggungnya. “Maksud lu?”
Olivia menarik napas dalam-dalam. “Laki-laki yang tadi… dia tau sesuatu tentang Kak Olin.”
Jesica mengerutkan kening, mencoba mengingat kembali kejadian beberapa jam terakhir.
“Pria yang mana?” tanyanya pelan.
Hari itu terasa terlalu penuh dengan kejadian aneh—lorong kampus, ponsel yang rusak, email yang menghilang. Otaknya seperti kesulitan menyusun potongan-potongan itu menjadi satu gambar yang jelas.
Olivia menyandarkan punggungnya ke sofa. “Yang kita tabrak di koridor tadi.”
Beberapa detik Jesica masih tampak berpikir. Lalu matanya sedikit melebar.
“Oh… yang itu.”
Pria tinggi dengan sikap tenang dengan tatapan yang terlalu tajam untuk seseorang yang terlihat santai. Jesica mulai mengingatnya.
“Dia kenapa?”
Olivia menatap ke arah jendela apartemen sejenak sebelum menjawab.
“Dia sengaja nunjukin sesuatu.”
“Apa?”
“Map.”
Jesica mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Isi map itu?”
Olivia menggeleng pelan.
“Gue nggak lihat isinya. Tapi dari covernya… itu berkas rumah sakit.”
Hening sesaat memenuhi ruangan. Jesica langsung mengerti arah pembicaraan itu.
“Rumah sakit tempat kak Olin dirawat?” bisiknya.
Olivia mengangguk. Namun ia tidak menceritakan bagian setelah itu—tentang bagaimana ia mengejar pria itu ke lorong sepi, tentang bagaimana pria itu menariknya, tentang kata-kata yang sampai sekarang masih terngiang di kepalanya.
Kakak lu tidak pernah benar-benar kabur.
Jesica menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya ke sofa.
“Jadi… maksud lu dia nunjukin itu ke lu sengaja?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Itu yang gue nggak tau.”
Jesica menggigit bibir bawahnya, pikirannya mulai berputar. Jika benar pria itu memiliki berkas rumah sakit… Jika benar email yang ia terima tadi menghilang begitu saja… Maka ini bukan lagi kebetulan. Jesica menatap Olivia dengan serius.
“Liv…”
“Hm?”
“Kalau kak Olin nggak kabur…”
Kalimatnya menggantung. Olivia menatap sahabatnya tanpa berkedip. Jesica akhirnya melanjutkan kalimat itu dengan suara pelan.
“…terus dia ke mana?”
Pertanyaan itu menggantung di udara apartemen yang sunyi.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, kemungkinan yang jauh lebih menakutkan mulai muncul di kepala mereka berdua.
Jika Oliana tidak benar-benar pergi dengan kemauannya sendiri… Maka hanya ada dua kemungkinan. Ia disembunyikan. Atau—
Olivia tiba-tiba terdiam. Pikirannya terhenti pada satu nama. Satu orang yang memiliki kuasa untuk menutup rekam medis. Satu orang yang sejak awal tidak pernah membicarakan Olin lagi. Perlahan Olivia menatap Jesica.
“Jes…”
“Ya?”
Suara Olivia hampir seperti bisikan.
“Lu pernah nggak kepikiran…”
“…kalau Oma tahu sesuatu?”