NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tertukar

Pewaris Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.

Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.

Siapakah pewaris yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 — Kecurigaan

Pagi hari di kafe tempat Alisha Pratiwi bekerja dimulai seperti biasa.

Aroma kopi yang baru diseduh memenuhi ruangan. Beberapa pelanggan sudah duduk di meja mereka sambil membuka laptop atau membaca ponsel. Suasana cukup ramai meski masih pagi.

Alisha berdiri di balik meja kasir sambil mencatat pesanan.

“Dua cappuccino satu roti panggang,” kata seorang pelanggan.

Alisha mengangguk sambil tersenyum kecil.

“Baik, sebentar ya.”

Ia menuliskan pesanan itu lalu menyerahkannya ke bagian dapur kecil di belakang. Setelah itu ia mengambil gelas minuman yang sudah selesai dibuat dan mengantarkannya ke meja pelanggan lain.

Pekerjaan seperti itu sudah menjadi rutinitasnya setiap hari.

Alisha tidak pernah merasa keberatan.

Ia justru menyukai suasana kafe yang hangat seperti ini.

Beberapa pelanggan bahkan sudah mengenalnya cukup lama.

“Alisha, kopi biasa ya,” kata seorang pria paruh baya yang sering datang.

Alisha tersenyum.

“Seperti biasa, Pak.”

Ia menyiapkan pesanan itu tanpa perlu bertanya lagi.

Saat berjalan kembali ke meja kasir, Alisha sempat melihat ke luar jendela kaca besar di depan kafe.

Seorang pria berdiri di seberang jalan.

Pria itu terlihat seperti sedang menunggu seseorang.

Alisha tidak terlalu memikirkan hal itu.

Ia kembali fokus pada pekerjaannya.

Beberapa saat kemudian kafe semakin ramai.

Alisha bolak-balik mengantarkan pesanan.

Ketika ia kembali melihat ke arah jendela, pria yang tadi berdiri di seberang jalan masih berada di tempat yang sama.

Alisha sedikit mengerutkan kening.

Ia merasa seperti pernah melihat pria itu sebelumnya.

Beberapa detik ia mencoba mengingat.

Lalu ia menggeleng kecil.

Mungkin hanya kebetulan.

Ia kembali bekerja seperti biasa.

Sekitar satu jam kemudian suasana kafe mulai sedikit tenang.

Beberapa pelanggan sudah pergi.

Alisha membawa beberapa gelas kosong ke dapur.

Saat keluar dari dapur, ia kembali melihat ke arah jendela.

Pria tadi sudah tidak ada.

Alisha menghela napas pelan.

Mungkin ia memang terlalu banyak berpikir.

Tidak lama kemudian pintu kafe terbuka.

Seseorang masuk ke dalam.

Alisha langsung mengenali orang itu.

Alvaro.

Pria itu berjalan masuk dengan langkah santai. Ia melihat sekeliling ruangan sebentar sebelum mendekati meja kasir.

“Pagi,” katanya.

Alisha tersenyum kecil.

“Pagi.”

Alvaro duduk di kursi dekat meja kasir.

“Seperti biasa?” tanya Alisha.

Alvaro mengangguk.

“Kopi hitam saja.”

Alisha menuliskan pesanan itu lalu memberikannya ke dapur.

Beberapa menit kemudian ia kembali dengan secangkir kopi panas.

Ia meletakkannya di depan Alvaro.

Alvaro mengucapkan terima kasih lalu meminum kopinya perlahan.

Tatapannya sempat beralih ke luar jendela.

Ia memperhatikan sesuatu di luar sana.

Alisha ikut melihat ke arah yang sama.

“Ada apa?” tanyanya.

Alvaro tidak langsung menjawab.

Ia kembali melihat ke arah Alisha.

“Kamu tidak merasa ada yang aneh beberapa hari ini?”

Alisha mengerutkan kening.

“Aneh bagaimana?”

Alvaro mencondongkan tubuhnya sedikit.

“Seperti ada yang memperhatikan kamu.”

Alisha tertawa kecil.

“Kamu terlalu curiga.”

Alvaro tidak ikut tertawa.

Tatapannya tetap serius.

“Aku serius.”

Alisha mengangkat bahu.

“Mungkin cuma kebetulan.”

Ia mengambil lap kecil lalu mulai membersihkan meja di dekat mereka.

“Aku tidak merasa ada masalah apa pun.”

Alvaro masih terlihat berpikir.

Beberapa detik ia kembali melihat ke arah jendela.

Di luar sana sebuah mobil parkir di pinggir jalan.

Kaca mobil itu cukup gelap sehingga sulit melihat siapa yang berada di dalamnya.

Alvaro mengalihkan pandangannya lagi.

Ia tidak ingin membuat Alisha khawatir.

Tetapi perasaannya mengatakan sesuatu tidak beres.

Di dalam mobil yang parkir tidak jauh dari kafe itu, dua pria sedang duduk diam.

Salah satu dari mereka memegang ponsel.

Di layar ponsel itu terlihat foto seorang gadis.

Alisha Pratiwi.

Pria yang memegang ponsel itu menatap ke arah kafe.

“Itu dia,” katanya pelan.

Pria di kursi pengemudi ikut melihat.

“Iya. Sama seperti di foto.”

Mereka memperhatikan Alisha yang sedang berbicara dengan seorang pria di dalam kafe.

“Itu siapa?” tanya pengemudi.

Pria di sampingnya mengangkat bahu.

“Tidak tahu.”

Ia memperbesar foto di ponselnya lalu membandingkannya dengan gadis di dalam kafe.

“Yang jelas targetnya benar.”

Pengemudi bersandar di kursinya.

“Kita tunggu saja.”

Pria di sebelahnya mengangguk.

“Perintahnya cuma mengawasi.”

Mereka tetap duduk di dalam mobil tanpa menarik perhatian.

Di rumah Mahendra, suasana terasa tenang.

Alisha Mahendra sedang duduk di kursi dekat jendela kamarnya.

Ponselnya berada di tangannya.

Layar ponsel itu menampilkan sebuah foto.

Foto Alisha Pratiwi.

Ia menatap foto itu cukup lama.

Ucapan pria misterius di telepon kemarin masih teringat jelas.

“Bagaimana rasanya menjadi ratu… tapi bukan ratu yang sebenarnya?”

Alisha mengepalkan tangannya.

Ia tidak suka mengingat kalimat itu.

Tetapi kata-kata itu terus muncul di kepalanya.

Ia mencoba menenangkan dirinya.

Belum ada bukti apa pun.

Ia tidak boleh panik.

Meski begitu ia tidak bisa mengabaikan satu hal.

Percakapan yang ia dengar dari Ragendra dan Helena.

Tentang kemungkinan bayi yang tertukar.

Tentang kemungkinan bahwa Alisha Pratiwi adalah anak kandung mereka.

Alisha menghela napas panjang.

Ia tidak mau mempercayai semua itu.

Tetapi perasaannya mengatakan sesuatu memang sedang terjadi.

Ia kembali menatap foto di ponselnya.

Wajah Alisha Pratiwi terlihat sederhana.

Tidak ada yang istimewa.

Setidaknya menurutnya.

Tetapi entah kenapa semua orang mulai memperhatikan gadis itu.

Alvaro juga terlihat sering berada di dekatnya.

Hal itu membuat Alisha semakin kesal.

Ia tidak ingin kehilangan apa pun.

Tidak rumah ini.

Tidak keluarganya.

Tidak juga posisi yang selama ini ia miliki.

Alisha menutup galeri ponselnya.

Ia mencoba mengalihkan pikirannya.

Sementara itu di tempat lain, seorang pria sedang duduk di ruangan yang cukup gelap.

Bram.

Ia memegang ponsel di tangannya.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Ia sudah mengetahui bahwa Alisha Mahendra mulai bergerak.

Orang-orang yang mengawasi Alisha Pratiwi bekerja untuk seseorang.

Bram tidak perlu bertanya untuk mengetahui siapa yang memberi perintah.

Ia sudah menduga semuanya.

“Bagus,” gumamnya pelan.

Ia bersandar di kursinya.

Permainan baru saja dimulai.

Semua orang sedang bergerak sesuai rencananya.

Ia tidak perlu terburu-buru.

Semakin lama konflik itu berkembang, semakin besar kekacauan yang akan terjadi di keluarga Mahendra.

Malam hari tiba.

Kafe tempat Alisha bekerja sudah tutup.

Lampu di dalam ruangan dimatikan satu per satu.

Alisha keluar dari pintu depan setelah mengunci kafe.

Udara malam terasa cukup dingin.

Jalanan tidak terlalu ramai.

Ia mulai berjalan menuju jalan kecil yang biasa ia lewati saat pulang.

Langkahnya santai seperti biasanya.

Beberapa menit kemudian ia merasa seperti ada seseorang berjalan di belakangnya.

Alisha melirik ke belakang.

Tidak ada siapa pun.

Ia menghela napas kecil.

Mungkin hanya perasaannya saja.

Ia kembali berjalan.

Beberapa langkah kemudian suara langkah kaki itu terdengar lagi.

Alisha berhenti sebentar.

Jalan di belakangnya terlihat sepi.

Lampu jalan menerangi trotoar yang kosong.

Alisha mulai merasa tidak nyaman.

Ia mempercepat langkahnya.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tidak jauh di depannya.

Lampu mobil itu menyala terang.

Alisha berhenti berjalan.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Pintu mobil perlahan terbuka.

Seseorang turun dari dalam mobil.

Alisha menatap orang itu dengan wajah tegang.

#bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!