Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.
Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.
Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.
Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Cahaya yang Menyilaukan
Kemenangan di tingkat nasional bukan hanya sekedar tambahan baris di portofolio prestasi Bima dan Senara, itu adalah ledakan besar yang mengubah hidup mereka dalam semalam. Kompetisi Sains Terapan adalah ajang paling bergengsi yang disiarkan oleh televisi nasional dan diliput oleh berbagai media digital. Foto Bima yang tampan dan rapi bersanding dengan Senara yang memiliki wajah polos nan cerdas menghiasi headline berita dengan judul, "Dua Genius Muda: Kolaborasi Elit dan Rakyat Memukau Nasional."
Sekembalinya mereka dari pusat riset, kehidupan di sekolah masing-masing tidak pernah sama lagi.
Di SMP Super Internasional, spanduk raksasa dengan wajah Bima terpasang di gerbang utama. Teman-temannya yang biasanya hanya sekedar menyapa, kini mengerubunginya seperti semut yang menemukan gula. Bima menjadi wajah baru bagi sekolah tersebut, simbol bahwa kekayaan dan teknologi adalah kunci masa depan. Namun, di balik senyum formal yang ia tunjukkan saat sesi pemotretan majalah sekolah, pikiran Bima sedang bergejolak.
"Bima, kamu luar biasa! Bahkan Menteri Pendidikan merepost foto presentasimu!" seru Dion sambil menunjukkan layar tabletnya.
Bima hanya mengangguk singkat. Ia tidak peduli pada pujian menteri. Matanya tertuju pada jam tangan pintarnya yang masih bersih dari notifikasi sosok misterius itu sejak malam kemenangan. Ketenangan ini justru membuatnya makin gelisah. Ia merasa seolah-olah sedang berada di pusat badai, sangat tenang, namun ia tahu dinding badai itu sedang berputar kencang di sekelilingnya.
Kondisi yang jauh lebih kontras terjadi di SMP Negeri 12. Sekolah pinggiran itu mendadak menjadi pusat perhatian media. Wartawan lokal dan nasional bergantian datang untuk mewawancarai Senara. Maria harus bekerja ekstra keras mengatur jadwal agar belajar Senara tidak terganggu.
"Nara, lihat ini," Maya menunjukkan koran lokal. "Kamu disebut sebagai 'Mutiara dari Bantaran Sungai'. Semua orang di kota ini membicarakanmu. Bahkan ada tawaran iklan produk susu nutrisi yang masuk ke sekolah!"
Senara tersenyum canggung. Ia merasa asing dengan semua perhatian ini. "Aku hanya ingin beasiswaku aman, May. Aku tidak pernah terpikir akan jadi seperti ini."
Namun, popularitas ini membawa beban baru. Senara merasa setiap gerak-geriknya kini diawasi. Saat ia berjalan pulang ke rumah, orang-orang di pemukimannya bersorak bangga, tapi ada juga mata-mata iri yang menatapnya sinis. Ayahnya, yang biasanya hanya peduli pada judi, kini mulai menyadari bahwa putrinya adalah " aset yang berharga.
"Nara, Bapak dengar kamu dapat hadiah uang besar dari lomba itu?" tanya Surya suatu malam sambil mengisap rokoknya di teras rumah yang reyot.
"Uangnya masuk ke rekening tabungan pendidikan di sekolah, Pak. Tidak bisa diambil tunai," jawab Senara dengan nada setenang mungkin, meskipun jantungnya berdegup kencang karena takut.
"Pasti ada yang bisa diambil sedikit. Buat biaya hidup kita, Nara. Jangan pelit sama bapak sendiri," desak Surya.
Senara masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia duduk di lantai, memeluk lututnya. Di saat seluruh Indonesia memujinya sebagai pahlawan sains, ia tetaplah seorang gadis kecil yang ketakutan di rumahnya sendiri. Ia mulai bertanya-tanya, apakah tangan tak terlihat yang membantunya di kompetisi kemarin juga tahu betapa menyedihkan hidupnya di rumah?
Memasuki semester dua, Bima memulai investigasi pribadinya dengan lebih serius. Ia tidak lagi mengandalkan staf IT sekolahnya yang ia anggap tidak kompeten. Menggunakan perangkat cadangan yang ia sembunyikan di laboratorium pribadi rumahnya, Bima mulai melacak asal-usul data tambahan yang muncul di presentasi nasional kemarin.
Ia menghabiskan waktu berjam-jam setelah sekolah untuk membedah kode yang tertinggal di sistem sinkronisasi tabletnya.
"Hampir mustahil," gumam Bima di depan layar yang penuh dengan barisan skrip rumit. "Enkripsinya menggunakan pola yang tidak logis. Ini bukan buatan perusahaan besar. Ini... ini personal. Sangat artistik, tapi mematikan."
Bima menemukan satu jejak kecil, sebuah header data yang tersembunyi di balik piksel grafik presentasi. Sebuah nama atau kode unik yang sangat samar, "G.P."
"G.P... apa itu? Global Protocol? Golden Point?" Bima terus mencari di forum-forum diskusi teknologi gelap secara anonim.
Pencariannya membawanya pada sebuah rumor di deep web tentang seorang peretas bayaran yang dikenal sangat bersih dan hanya bekerja untuk tujuan tertentu. Nama panggungnya adalah Ghost_Pattern.
Bima tertegun. "Jika benar Ghost_Pattern yang melindungi Senara, pertanyaannya adalah, siapa yang membayar hacker sekelas itu untuk menjaga seorang siswi SMP miskin? Tidak mungkin Senara punya uang. Berarti ada pihak ketiga, seorang taipan atau mungkin... organisasi yang sedang mempersiapkan Senara untuk tujuan tertentu di masa depan."
Obsesi ini membuat Bima semakin sering mendatangi SMP 12 dengan alasan koordinasi proyek lanjutan pasca kemenangan. Setiap kali bertemu Senara, ia tidak lagi membahas rumus kimia. Ia akan melemparkan pertanyaan-pertanyaan jebakan.
"Senara, apa kamu pernah mendengar istilah 'Ghost_Pattern'?" tanya Bima suatu siang saat mereka sedang duduk di taman sekolah Senara yang gersang.
Senara yang sedang mengunyah rotinya berhenti sejenak, menatap Bima dengan mata besarnya yang jernih. "Hantu pola? Itu istilah baru di fisika kuantum? Aku belum membacanya di bab terbaru."
Bima memperhatikan setiap otot di wajah Senara. Tidak ada kedutan, tidak ada perubahan pupil, tidak ada tanda-tangan kebohongan. "Gadis ini benar-benar tidak tahu," batinnya.
"Bukan apa-apa. Lupakan saja," ujar Bima frustrasi.
"Bima, kenapa kamu begitu terobsesi mencari orang yang membantuku?" Senara bertanya balik, suaranya lembut. "Kenapa kamu tidak bisa menerima kalau mungkin... kamu memang tidak ditakdirkan untuk menghancurkanku?"
Bima berdiri, menatap Senara dengan angkuh. "Karena di duniaku, segalanya harus memiliki penjelasan logis, Senara. Kalau ada kekuatan yang bisa memanipulasi sistemku, aku harus tahu cara mengendalikannya. Aku tidak suka menjadi pion dalam permainan orang lain."
"Tapi kita menang, kan? Seluruh Indonesia bangga pada kita," ucap Senara.
"Kemenangan tanpa kendali penuh adalah kekalahan yang tertunda," balas Bima sebelum berjalan pergi menuju mobil mewahnya yang sudah menunggu.
Ketenaran nasional ini akhirnya membawa mereka ke tantangan berikutnya. Sebuah undangan eksklusif datang dari Kementerian Pendidikan dan SMA Garuda Nusantara. Mereka berdua diundang untuk mengikuti Short Course kepemimpinan dan sains tingkat lanjut selama dua minggu di asrama SMA Garuda sebagai bentuk apresiasi atas kemenangan mereka.
Ini adalah kesempatan langka. Hanya siswa terpilih yang bisa menginjakkan kaki di asrama itu sebelum benar-benar diterima sebagai siswa. Bagi Bima, ini adalah tempat untuk menunjukkan kembali dominasinya. Bagi Senara, ini adalah jalan untuk memastikan ibunya bangga.
Namun, bagi "Entitas Misterius" di belakang Senara, ini adalah panggung baru yang jauh lebih berbahaya.
Malam sebelum keberangkatan, Senara sedang merapikan tasnya ketika ia menemukan sebuah amplop putih tanpa nama di bawah pintu rumahnya. Ia membukanya dan menemukan sebuah kartu akses digital berwarna hitam polos dengan tulisan kecil di pojoknya.
“Pakai ini jika kamu merasa terpojok di Garuda. Ingat, tidak semua cahaya itu hangat. Beberapa cahaya hanya membakar.”
Senara menatap kartu itu dengan bingung. Ia tidak tahu apa itu, namun instingnya mengatakan untuk menyimpannya rapat-rapat. Ia menyelipkan kartu itu di dalam sampul buku catatan fisikanya.
Di sisi lain kota, Bima sedang menatap koper mahalnya. Ia sudah menyiapkan perangkat deteksi sinyal tercanggih yang bisa ia beli secara rahasia. Ia bersumpah, di dalam lingkungan asrama SMA Garuda yang tertutup dan steril, ia akan memancing pelindung Senara keluar dari persembunyiannya.
"Dua minggu di bawah satu atap yang sama," bisik Bima. "Mari kita lihat, siapa yang akan terbongkar lebih dulu, Senara."
Semester dua ini bukan lagi tentang menjadi selebriti. Ini adalah tentang bertahan hidup di tengah sorotan lampu yang menyilaukan, di mana setiap bayangan bisa menjadi teman atau musuh yang paling mematikan.