NovelToon NovelToon
Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Standar tak terjangkau.

Suasana di kediaman keluarga Tedi malam itu tidak lagi terasa seperti sebuah rumah, melainkan seperti ruang interogasi yang dingin. Aska berdiri di tengah ruang tamu, membelakangi lampu gantung kristal yang mewah—lampu yang ia beli dengan bonus kemenangan kasus pertamanya. Di hadapannya, Tusi masih terisak di atas sofa beludru, sementara Tris duduk di lantai, menyembunyikan wajah di balik tangannya yang gemetar.

Tedi berdiri di sudut ruangan, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Aska, kau tidak bisa melakukan ini. Kau tidak bisa mengganti semua akses rumah dan memblokir kartu ibumu sendiri hanya karena masalah kecil."

"Masalah kecil?" suara Aska memotong, sangat rendah namun bergetar dengan otoritas yang menekan. "Mencuri barang berharga dari brankas untuk diberikan kepada orang yang sedang menjalani hukuman finansial adalah pelanggaran integritas, Yah. Tidak peduli pelakunya adalah istri Ayah sendiri."

"Tris butuh makan, Aska!" jerit Tusi sambil mendongak, wajahnya sembap. "Dia anakku! Dia adikmu! Bagaimana bisa kau membiarkannya hidup seperti gelandangan sementara kau makan di restoran mewah setiap malam?"

Aska menoleh ke arah ibunya. Tatapannya tidak mengandung kemarahan, hanya kekosongan yang mengerikan. "Dia tidak gelandangan, Bu. Dia punya pekerjaan. Dia punya gaji. Jika gajinya tidak cukup untuk gaya hidupnya, itu masalahnya, bukan masalah brankas Ibu. Dengan Ibu memberinya barang untuk dijual, Ibu sedang mengajarinya bahwa konsekuensi itu bisa dihindari dengan cara mencuri. Saya tidak akan membiarkan rumah yang saya biayai menjadi sarang pendosa."

Aska melirik Tris yang masih membisu. "Bangun, Tris. Jangan berakting seolah kau korban di sini."

Tris mendongak, matanya merah karena dendam dan malu. "Kau senang melihatku begini, kan? Kau ingin menunjukkan pada semua orang bahwa kau adalah penguasa di keluarga ini."

"Aku tidak butuh menunjukkan apa pun," jawab Aska datar. "Mulai besok, asisten rumah tangga akan melaporkan setiap barang yang keluar masuk dari rumah ini kepadaku. Jika ada satu helai benang pun yang diberikan kepada Tris tanpa seizinku, aku akan menghentikan seluruh tunjangan rumah ini dan membiarkan Ayah membiayai semuanya dengan gajinya sendiri. Mengerti, Yah?"

Tedi terdiam, rahangnya mengeras namun ia tak mampu membalas. Ia tahu betul, tanpa uang Aska, martabatnya di depan teman-teman pensiunannya akan hancur. Ia adalah tawanan di rumahnya sendiri, terikat oleh rantai emas yang ditempa oleh putranya.

Keesokan harinya, Nana datang ke kantor firma hukum Aska untuk menyerahkan draf akhir naskah yang sudah ia revisi semalam. Ia merasa lebih percaya diri. Ia sudah menghapus adegan "sandaran emosional" dan menggantinya dengan adegan kemandirian yang tajam. Namun, langkahnya terhenti tepat di depan pintu ruang kerja Aska.

Di sana, seorang wanita sedang berdiri membelakangi pintu, tertawa kecil sambil berbincang dengan Aska.

Wanita itu mengenakan power suit berwarna navy yang dipotong sempurna, memeluk tubuhnya yang tinggi dan semampai. Rambutnya disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjang dan anting mutiara yang berkilau mahal namun tidak berlebihan. Ia memegang sebuah berkas hukum dengan cara yang sangat elegan, seolah-olah berkas itu adalah aksesori mode.

"Aska, kau selalu terlalu kaku. Kasus merger ini bisa selesai dalam seminggu jika kau mau sedikit lebih fleksibel dengan pihak mediator," ujar wanita itu. Suaranya merdu, penuh percaya diri, dan memiliki aksen kelas atas yang alami.

"Aku tidak dibayar untuk menjadi fleksibel, Vanya. Aku dibayar untuk menang tanpa celah," jawab Aska. Dan untuk pertama kalinya, Nana mendengar nada bicara Aska yang sedikit lebih santai, hampir menyerupai sebuah apresiasi.

Vanya tertawa lagi, lalu berbalik saat mendengar langkah kaki Nana. Mata mereka bertemu. Vanya memiliki kecantikan yang berbeda dengan Nana. Jika Nana adalah bunga liar yang baru saja mekar di tengah badai, Vanya adalah mawar berlian yang dipoles di galeri terbaik.

"Oh, kau pasti Nana," ujar Vanya, berjalan mendekat dengan senyum yang sangat tulus, senyum yang justru membuat Nana merasa semakin terintimidasi. "Aska banyak bercerita tentang 'kreator' baru yang gigih. Aku Vanya, dari Leksana & Partners."

Vanya mengulurkan tangan. Nana menjabatnya, merasakan kulit yang halus dan aroma parfum niche yang sangat berkelas. Leksana & Partners adalah firma hukum saingan terbesar Aska, dan Vanya adalah putri tunggal pemiliknya. Seorang pengacara lulusan Harvard yang baru saja kembali ke Indonesia.

"Nana," jawab Nana singkat, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar.

"Vanya sedang membantuku meninjau aspek distribusi internasional untuk proyekmu, Nana. Dia ahli dalam hukum kekayaan intelektual lintas negara," jelas Aska tanpa beranjak dari kursinya.

Vanya menoleh pada Aska dengan tatapan yang sangat akrab. "Kau tahu, Aska, aku terkejut kau mau mengambil proyek industri kreatif seperti ini. Biasanya kau hanya mau menyentuh minyak dan gas."

Vanya kemudian beralih pada Nana, matanya memancarkan kecerdasan yang tajam. "Naskahmu bagus, Nana. Tapi di pasar Amerika, karakter wanitamu perlu sedikit lebih 'dingin'. Jika kau butuh masukan tentang bagaimana wanita karier di sana bersikap, kita bisa minum kopi kapan-kapan. Aku sudah sepuluh tahun di Boston dan New York, jadi aku tahu sedikit banyak tentang itu."

Nana memaksakan sebuah senyum. "Terima kasih, Kak Vanya. Saya akan mempertimbangkannya."

Vanya hanya mengangguk anggun, lalu kembali menatap Aska. "Jangan lupa makan malam besok, Aska. Ayahku sudah menanyakanmu. Dia ingin membahas kemungkinan kolaborasi firma kita untuk kasus korporasi di Singapura."

"Aku akan datang jika jadwalnya memungkinkan," jawab Aska.

Vanya mengedipkan mata, sebuah gerakan yang begitu alami dan berkelas, sebelum melangkah keluar ruangan. Ruangan itu masih menyisakan aroma parfum Vanya yang mahal, membuat Nana merasa blazer emerald-nya tiba-tiba terasa seperti pakaian murahan.

Aska menatap Nana yang masih mematung. "Kenapa kau berdiri di sana? Letakkan drafnya di meja."

Nana berjalan mendekat, meletakkan berkas itu dengan tangan yang sedikit dingin. "Kak Vanya ... dia sangat hebat, ya, Bang?"

Aska tidak langsung menjawab. Ia membuka draf Nana, membolak-baliknya sebentar. "Dia adalah definisi dari apa yang kusebut sebagai 'kesetaraan intelektual'. Vanya tidak butuh perlindungan siapa pun. Dia berdiri di posisinya sekarang karena otaknya, bukan karena siapa ayahnya. Dia adalah standar yang seharusnya kau tuju jika kau benar-benar ingin berada di duniaku."

Kalimat itu menghujam Nana tepat di ulu hati. Aska tidak membandingkan kecantikan mereka, karena bagi Aska, kecantikan adalah variabel yang tidak relevan. Aska membandingkan "nilai" mereka sebagai manusia profesional.

"Apa seperti dia calon istri yang kau inginkan?" tanya Nana tiba-tiba, sebuah keberanian yang muncul dari rasa sesak.

Aska mendongak, matanya yang dingin bertemu dengan mata Nana. "Benar, dia adalah gambaran yang sempurna. Ayahnya berniat menjodohkannya denganku, Vanya juga setuju, tapi ... aku belum memutuskan. Aku masih punya janji satu tahun denganmu."

Aska menutup berkas itu dengan suara brak yang pelan namun tegas. "Satu tahunmu baru saja dimulai, Nana. Dan hari ini, kau baru saja melihat garis finish yang sebenarnya. Apakah kau masih yakin bisa mencapainya?"

Nana menelan ludah. Kehadiran Vanya bukan hanya sebuah ancaman asmara, tapi sebuah cermin yang menunjukkan betapa jauhnya jarak yang harus ia tempuh. Vanya adalah wanita yang tidak perlu meminta maaf karena menyukai Aska, karena dunia akan menganggap mereka sebagai pasangan yang serasi secara otomatis.

"Aku masih yakin, Bang," jawab Nana, suaranya kini lebih rendah namun penuh determinasi. "Garis finish-nya mungkin jauh, tapi aku tidak berencana untuk berhenti hanya karena melihat seseorang yang sudah sampai di sana lebih dulu."

Aska memberikan seringai tipis yang hampir menyerupai senyuman misterius. "Kita lihat saja. Sekarang kembali ke kantormu. Jangan biarkan kehadiran Vanya merusak fokusmu pada naskah."

Nana berbalik dan keluar dari ruangan. Saat ia berjalan di lorong firma hukum yang megah itu, ia sebenarnya sedang manahan air mata sesak, tapi sekaligus lega Aska mau menunggunya. Jika ia tidak cukup cepat, maka ia hanya akan menjadi penonton bagaimana pasangan sempurna bersanding.

Bersambung....

1
jekey
lama" emosi sm aska 😡
Desi Santiani
lanjut thor seruu bgttt
jekey
akhirnyaa 😌😌
jekey
sinting tusi
jekey
thank you thor
Ayu
/Coffee/
Ayu
hahaa sukurin semoga kapok 🤭
Ayu
aku ga bisa kasih banyak ulasan tapi yang pasti bagus bangetttt
Ayu
kayak ginilah nyeseknya kalo baca novel yg baru up ,, mana bagus lagi ceritanya 😍
Ayu
/Coffee/ yuk
Ayu
kalo aku jadi kamu Na ... pasti aku bakalan cepet move on dari Tris🤭
Nilasartika Yusuf
😍
Ayu
hai Thor aku mampir ya
Rinnaya: Silahkan
total 1 replies
jekey
nunggu up thor
Rinnaya: Aman, up tiap hari.
total 1 replies
jekey
mampus eli
Nilasartika Yusuf
suka ceritanya😍
jekey
smngt update thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!