Seorang siswa SMA miskin yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya secara tak sengaja memperoleh sebuah kitab pusaka milik Santo Cinta—sebuah buku misterius yang menyimpan tak terhitung kemampuan luar biasa, khusus digunakan untuk menaklukkan hati para gadis. Sejak saat itu, hidupnya pun berubah drastis.
Tak hanya meraih keberhasilan dalam urusan asmara, ia juga mulai menapaki jalan kesuksesan dalam dunia bisnis. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan beragam perempuan menawan: teman sekelas yang cantik, putri seorang tokoh dunia bawah tanah, gadis super imut yang menggemaskan, hingga selebritas terkenal dengan pesona memikat.
Di antara cinta, kekuatan rahasia, dan perubahan nasib, kisahnya berkembang menjadi perjalanan penuh romansa, peluang, dan godaan yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Jika seseorang ingin mempelajari seluruh kemampuan yang tercatat di dalam kitab ini, maka energi yang dibutuhkan akan mencapai jumlah yang nyaris tak terbayangkan—sebuah angka astronomis yang jauh melampaui akal sehat manusia biasa.
Menurut penjelasan Roh Buku, setiap wanita dinilai berdasarkan peringkat kecantikan yang ditentukan oleh kualitas menyeluruh, mulai dari penampilan fisik, aura, temperamen, hingga pesona batin. Peringkat tersebut dibagi menjadi tujuh tingkatan, dari yang tertinggi hingga terendah: SSS, SS, S, A, B, C, dan D.
Mereka yang mampu masuk dalam daftar peringkat ini bukanlah wanita sembarangan. Setiap orang di dalamnya merupakan sosok luar biasa, kecantikan langka yang sulit ditemukan di antara kerumunan biasa.
Apabila Zhang Yuze berhasil menaklukkan salah satu dari mereka—sesuai dengan hukum yang ditetapkan oleh Hukum Afeksi—maka Cermin Pusaka Dewa akan memberinya Energi Iman yang setara dengan tingkatan wanita tersebut.
“Maksudmu… menaklukkan itu seperti apa, sebenarnya?” tanya Zhang Yuze dengan raut bingung.
Roh Buku menjawab dengan nada datar namun tegas, “Tentu saja, itu mencakup afeksi dan hasrat. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Tanpa salah satu di antaranya, proses penaklukan tidak dianggap sah.”
Begitu mendengar penjelasan itu, ekspresi Zhang Yuze berubah seketika. Matanya berbinar, napasnya sedikit memburu.
Cermin Pusaka Dewa ini benar-benar terasa seperti pusaka yang diciptakan khusus untuk dirinya!
Menjadi dewa dengan cara seperti ini—jalan yang penuh keindahan dan godaan—benar-benar belum pernah ia dengar sebelumnya. Bahkan dalam khayalan paling liar sekalipun, ia tak pernah membayangkan bahwa takdir Dewa dapat ditempuh melalui jalur yang begitu… menyenangkan.
Ketika Zhang Yuze melihat rincian hadiah Energi Iman yang tertera di halaman tersebut, jantungnya nyaris meloncat keluar dari dadanya.
Menaklukkan seorang wanita peringkat D saja akan memberinya 5.000 poin Energi Iman.
Dan yang lebih mencengangkan, hadiah energi itu bersifat akumulatif—semakin tinggi peringkat kecantikan, semakin besar energi yang diperoleh. Jika berhasil menaklukkan wanita peringkat S, ia akan langsung menerima 80.000 poin Energi Iman.
Angka itu membuat Zhang Yuze tertegun.
Mulutnya sedikit terbuka, dan tanpa sadar air liurnya hampir menetes.
Perlahan, ia mengalihkan pandangannya ke daftar kemampuan yang tercantum di halaman pertama kitab. Ada lima kemampuan awal yang bisa dipelajari:
Koordinasi Tubuh (50)
Angin Cepat (100)
Penguatan Fisik (120)
Pelarian Tanah (200)
Pengembangan Daya Otak (300)
Angka-angka di dalam tanda kurung jelas menunjukkan kebutuhan Energi Iman untuk mengaktifkan masing-masing kemampuan.
“Namun,” suara Roh Buku kembali terdengar, mematahkan kegembiraan Zhang Yuze, “saat ini kau sama sekali tidak memiliki Energi Iman. Seluruh kemampuan ini memerlukan energi untuk digunakan.”
Zhang Yuze langsung membeku.
Ia benar-benar terpaku di tempatnya.
“Tidak punya… sama sekali?” gumamnya lirih.
Lalu dari mana ia harus mendapatkan energi itu sekarang?
Jika syarat awal untuk memperoleh energi adalah menaklukkan seorang wanita, dan sementara itu ia tidak memiliki satu pun kemampuan untuk mendukung proses tersebut, maka situasinya jelas tidak sederhana. Terlebih lagi, untuk benar-benar “menaklukkan”, ia harus mencapai tingkat afeksi dan hasrat tertentu—bukan sekadar basa-basi.
Seolah membaca kegundahannya, Roh Buku kembali berbicara dengan nada serius.
“Selain itu, mulai sekarang kau juga harus berlatih sebuah teknik penempaan tubuh. Seluruh kemampuan harus dimuat ke dalam tubuhmu sendiri. Untuk menempa besi, besi itu sendiri harus kuat. Jika kondisi fisikmu terlalu lemah, kau tidak akan mampu mengaktifkan kemampuan apa pun, karena energi pemicu tetap harus disuplai oleh tubuhmu sendiri.”
Begitu kata-kata itu diucapkan, Zhang Yuze merasakan sesuatu mengalir ke dalam benaknya.
Informasi asing—berupa rangkaian kalimat yang tampak rumit dan sulit dipahami—muncul begitu saja di pikirannya. Namun dengan bimbingan Roh Buku, makna dari setiap kalimat itu perlahan menjadi jelas.
Itu adalah sebuah metode penempaan tubuh bernama Seni Naga Tersembunyi Sejati.
Malam itu, Zhang Yuze tidak tidur sama sekali.
Sepanjang malam, ia duduk bersila di kamarnya, mengikuti alur pernapasan dan postur yang diajarkan dalam Seni Naga Tersembunyi Sejati. Keringat membasahi tubuhnya, otot-ototnya terasa nyeri, tetapi ia sama sekali tidak mengeluh.
Anehnya, meskipun semalaman tanpa tidur, Zhang Yuze justru merasa segar dan berenergi. Tubuhnya terasa lebih ringan, pikirannya lebih jernih, seolah ada sesuatu yang perlahan dibangkitkan dari dalam dirinya.
Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang terus mengganjal hatinya.
Ia masih belum bisa mengaktifkan satu pun kemampuan.
Kelima kemampuan itu terasa begitu menggoda—terutama Angin Cepat dan Penguatan Fisik. Terlebih lagi, tantangan dari Ruan Zixiong di arena lima belas hari mendatang terus terngiang di kepalanya.
Jika ia tidak bisa menguasai kemampuan apa pun sebelum hari itu tiba, maka kekalahannya sudah dapat dipastikan.
Tanpa tidur yang cukup, Zhang Yuze meninggalkan rumah tepat pukul enam pagi. Ia sengaja berangkat lebih awal untuk menghindari jam sibuk para pelajar dan pekerja di dalam bus. Setelah membersihkan diri seadanya, ia membeli sarapan sederhana dan menyantapnya di perjalanan.
Sejak Cermin Pusaka Dewa mengakuinya sebagai tuan, kitab itu pun menyatu dengan tubuh Zhang Yuze, tersembunyi jauh di dalam dirinya.
Saat tiba di sekolah, suasana masih sangat lengang. Hanya beberapa sosok terlihat di kejauhan. Udara pagi terasa sejuk dan tenang.
Ketika Zhang Yuze hampir mencapai gedung pengajaran dan hendak menaiki tangga, sebuah suara rintihan tiba-tiba terdengar.
“Aduh…”
Zhang Yuze terkejut. Ia segera menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seorang nenek tua terjatuh di dekat halaman depan.
Itu adalah Nenek Wang, petugas kebersihan sekolah yang setiap hari menyapu dan merapikan lingkungan sekolah.
Tanpa berpikir panjang, Zhang Yuze segera berlari menghampirinya dan membantu sang nenek berdiri.
“Nenek, apakah Anda tidak apa-apa?” tanyanya dengan penuh kepedulian.
Nenek Wang menggeleng pelan, lalu tersenyum hangat. “Terima kasih, Nak. Nenek baik-baik saja.”
Zhang Yuze mengangguk lega. Saat ia hendak mengucapkan terima kasih kembali, tiba-tiba ia merasakan getaran halus dari dalam tubuhnya.
Cermin Pusaka Dewa bereaksi.
Terkejut, Zhang Yuze segera mundur ke sudut yang sepi, memanggil Cermin Pusaka itu. Di permukaannya, muncul barisan informasi bercahaya:
Afeksi +20
Energi Iman saat ini: 20
“Apa?!”
Mata Zhang Yuze membelalak.
Belum selesai keterkejutannya, informasi tambahan kembali muncul:
Nama: Wang Alan
Jenis kelamin: Perempuan
Pekerjaan: Petugas kebersihan
Usia: 58 tahun
Informasi kontak: 77…
Zhang Yuze nyaris tidak bisa menutup mulutnya.
Cermin Pusaka ini bukan hanya mampu mengumpulkan Energi Iman, tetapi juga dapat menyelidiki data seseorang hingga sedetail ini. Benar-benar alat curang tingkat dewa!
Namun yang membuatnya paling merinding adalah kenyataan bahwa Nenek Wang memiliki dua puluh poin afeksi terhadapnya hanya karena satu tindakan kecil.
Seluruh tubuh Zhang Yuze merinding.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Roh Buku?” tanyanya dengan suara bergetar karena kegembiraan.
“Rasa terima kasih dan afeksi adalah energi tak kasatmata yang muncul dari aktivasi emosi batin sesaat. Keduanya termasuk dalam kategori Energi Iman,” jelas Roh Buku dengan tenang. “Sebagai wadah, aku mengumpulkan energi-energi tersebut. Saat ini, kau telah memiliki dua puluh poin Energi Iman.”
Zhang Yuze menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya.
“Lalu… berapa batas maksimum afeksi seseorang?” tanyanya tiba-tiba.
“Batas maksimum afeksi setiap individu adalah seribu poin,” jawab Roh Buku. “Jika seorang wanita memiliki enam ratus poin afeksi terhadapmu, itu berarti ia telah memiliki perasaan yang cukup dalam. Jika mencapai sembilan ratus poin, maka kau dapat menembus batas fisik dengannya.”
Wajah Zhang Yuze langsung memerah.
Penjelasan itu terlalu blak-blakan, sama sekali tidak halus.
Namun justru pada saat itulah, Zhang Yuze menyadari sesuatu yang penting.
Musim semi dalam hidupnya… telah tiba.
Hal-hal yang sebelumnya terasa mustahil dan membingungkan kini mulai menunjukkan arah yang jelas. Selama ia berusaha lebih keras, selama ia mengumpulkan Energi Iman dengan konsisten, semua kemampuan luar biasa itu bukan lagi sekadar impian.
Mengingat arena lima belas hari lagi, mata Zhang Yuze memancarkan tekad yang belum pernah ada sebelumnya.
Ia mengepalkan tinjunya perlahan.
Waktu tidak banyak.
Dan ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.