NovelToon NovelToon
CIREMAI: THE LAST SURVIVAL

CIREMAI: THE LAST SURVIVAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Epik Petualangan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.

Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Kamis, 23 Mei 03.24 WIB

Masjid Al-Ikhlas, Kuningan

Sakira dan Afuz bergerak ke pintu pagar dengan cepat tapi tidak terburu-buru.

Di luar, suara itu masih terdengar seorang perempuan, dari suaranya masih muda, ketukannya di pagar makin keras.

"Tolong! Ada orang nggak di dalam? Tolong!"

Sakira berdiri di balik pagar tanpa membukanya dulu. "Hei. Saya di sini. Kamu tidak apa-apa?"

Suara ketukan berhenti.

"Ada orang" suaranya langsung pecah. "Tolong buka, di luar.."

"Sebentar." Sakira potong pelan tapi tegas. "Saya perlu lihat kamu dulu. Mendekat ke pagar, hadap ke sini."

Dari celah pagar besi, Sakira lihat perempuan itu dua puluhan tahun, rambut berantakan, pipinya basah. Seragam minimarket masih dipakainya, name tag di dada bertuliskan Sari. Tangannya meraih jeruji pagar, matanya mencari-cari wajah Sakira.

Sakira periksa dengan cepat mata normal, tidak ada guratan di leher atau tangan, tidak ada luka gigitan yang terlihat. Napasnya tersengal tapi itu wajar.

"Putar badan," kata Sakira.

"Apa?"

"Putar badan. Saya perlu lihat punggung dan leher kamu."

Sari melakukan itu tanpa protes orang yang cukup takut tidak akan mempertanyakan hal kecil. Sakira perhatikan setiap bagian kulit yang terlihat. Bersih.

Dia angguk ke Afuz.

Afuz buka gembok pagar.

Sari masuk dan langsung pegang lengan Sakira dengan dua tangan cengkeramannya kuat, seperti kalau dia lepas dia akan hanyut ke sesuatu.

"Di luar..mereka..saya lihat tetangga saya, dia...dia makan" suaranya putus. "Dia makan orang, Dok, saya lihat sendiri, saya nggak mimpi kan? Saya nggak mimpi?"

"Kamu tidak mimpi," kata Sakira pelan.

Sari menangis.

Bukan nangis pelan nangis yang sudah ditahan sejak entah berapa lama dan sekarang keluar semua sekaligus, suaranya naik, bahunya berguncang.

Sakira lirik ke arah jalan di luar pagar. Gelap, tapi di kejauhan ada bayangan yang bergerak.

"Sari."

Sari tidak dengar, masih menangis.

"Sari." Sakira pegang kedua bahunya, hadapkan ke dirinya. Suaranya tidak keras tapi beratnya lain. "Dengarkan saya."

Sari lihat ke mata Sakira. Napasnya masih tersengal-sengal.

"Kamu boleh nangis," kata Sakira. "Tapi tidak sekarang. Di luar sana ada sesuatu yang bergerak ke arah suara. Kalau kamu nangis keras di sini, mereka akan tahu kita ada."

Sari letakkan tangan di mulutnya. Matanya melebar.

"Tarik napas," kata Sakira. "Pelan. Ikuti saya."

Sakira tarik napas panjang. Buang pelan.

Sari coba ikuti. Pertama masih terputus-putus. Kedua lebih baik. Ketiga cukup stabil.

"Bagus," kata Sakira. "Sekarang masuk."

Di dalam, semua mata tertuju ke Sari waktu dia masuk.

Sari berhenti di ambang pintu, lihat sekeliling delapan orang asing di ruangan remang, semua dengan ekspresi yang berbeda tapi punya satu kesamaan: mereka semua baru melalui sesuatu yang tidak punya nama yang layak.

Wulan yang paling muda di antara mereka langsung geser memberi tempat duduk.

Sari duduk. Tangannya masih gemetar di atas lututnya.

"Namaku Wulan," kata Wulan pelan. "Kamu aman sekarang."

Sari angguk meski matanya bilang dia tidak sepenuhnya percaya itu.

Sakira tutup pintu, duduk di depan Sari, dan beri waktu dua menit untuk napasnya benar-benar stabil sebelum mulai bicara.

"Kamu dari mana tadi?"

"Minimarket," kata Sari. Suaranya masih bergetar tapi lebih terkontrol sekarang. "Saya kerja shift malam. Jam setengah tiga tadi ada suara ribut dari arah RS saya pikir kecelakaan. Terus orang-orang mulai lari lewat depan minimarket. Saya keluar mau lihat apa yang terjadi" dia berhenti, telan ludah. "bapak warung sebelah, dia lagi dorong gerobak mau pulang. Terus ada yang dateng dari belakang dan..dan"

"Nggak perlu diceritain detailnya," potong Sakira pelan.

Sari tutup matanya sebentar. "Saya lari. Nggak tau ke mana. Lihat lampu masjid menyala, terus lari ke sini."

"Kamu sendirian?"

"Iya. Teman shift saya, Bagas dia lari ke arah yang beda. Saya nggak tau dia sekarang di mana." Matanya mulai berkaca lagi.

"Hei." Sakira pegang tangannya. "Fokus di sini dulu."

Sari tarik napas. Angguk.

Pak Hasan yang dari tadi diam angkat tangan pelan seperti orang mau nanya di kelas. "Dok, maaf ini mau sampai kapan? Maksud saya kita di sini. Kita nggak bisa di masjid selamanya."

"Saya tahu," kata Sakira.

"Keluarga saya di rumah," lanjut Pak Hasan. Suaranya mulai naik sedikit. "Istri saya nggak tau apa-apa. Anak saya"

"Pak Hasan." Wahyu yang bicara kali ini. Tenang, tapi ada sesuatu di nadanya yang membuat Pak Hasan langsung berhenti. "Kalau Bapak keluar sekarang, Bapak tidak akan sampai ke keluarga Bapak."

Pak Hasan menatapnya.

"Di luar," lanjut Wahyu, "mereka bergerak ke arah suara dan cahaya. Ini bukan film. Tidak ada yang bisa lari dari mereka kalau sendirian dan tanpa rencana. Bapak perlu bertahan di sini dulu sampai kita punya rencana yang lebih baik."

Ruangan hening.

Bu Lies mengusap ujung mukenanya. "Terus rencananya apa?"

Semua orang lirik ke Sakira.

Sakira lirik ke Wahyu.

Wahyu buka buku catatannya lagi. "Ada beberapa hal yang perlu kita sepakati dulu," katanya. "Pertama tidak ada yang keluar sendirian. Kedua ponsel di-silent semua, tidak ada yang menyalakan layar di dekat jendela. Ketiga" dia berhenti, lihat ke sekeliling ruangan. "Kalau ada yang mulai merasa tidak enak badan pusing, gatal di kulit, pandangan kabur langsung bilang ke Dr. Sakira. Jangan tunggu."

"Kenapa?" tanya Rafi.

"Karena lebih baik tahu lebih awal," kata Wahyu.

Cara dia bilang itu tidak memberi ruang untuk pertanyaan lanjutan. Rafi mengerti, meski kelihatan tidak suka dengan jawaban itu.

Sari yang sudah lebih tenang memeluk lututnya dan menatap lantai masjid. Di sebelahnya, Wulan masih duduk diam menemani tanpa banyak bicara.

"Dok," suara Sari pelan, hampir bisikan. "Orang-orang yang udah kena itu... bisa sembuh?"

Sakira tidak langsung jawab.

"Kami sedang cari caranya," kata Sakira akhirnya.

"Berarti belum ada?"

"Belum."

Sari angguk pelan. Matanya turun ke lantai lagi. "Teman saya, Bagas kalau dia kena... dia masih Bagas, nggak? Masih ada dia di dalamnya?"

Sakira menatap perempuan muda itu yang baru dua jam lalu masih jaga kasir minimarket, dan sekarang duduk di lantai masjid di tengah malam dengan pertanyaan yang bahkan para ilmuwan belum bisa jawab.

"Saya tidak tahu," kata Sakira jujur. "Tapi itulah kenapa kami perlu menemukan jawabannya."

Dari luar pagar, suara langkah kaki lewat lagi. Lebih banyak dari sebelumnya.

Tidak ada yang bicara sampai suara itu hilang.

Di sudut ruangan, Wahyu menulis di buku catatannya dengan tulisan yang kecil dan rapat. Sakira yang duduk di sebelahnya bisa lihat apa yang dia tulis bukan catatan medis, bukan analisis ilmiah.

Daftar nama. Dengan tanggal di sebelahnya.

"Ini semua korban sebelumnya?" bisik Sakira.

Wahyu angguk pelan.

"Berapa?"

Wahyu balik halaman. Satu halaman penuh nama. Lalu halaman berikutnya, setengah penuh.

"Dua belas tahun," kata Wahyu pelan. "Saya kira saya punya waktu lebih lama sebelum ini terjadi lagi."

"Tapi sekarang sudah terjadi."Jelas Sakira

"Ya." Wahyu tutup bukunya. "Dan kali ini lebih cepat dari yang saya takutkan."

Di luar, kota Kuningan yang tadinya tidur mulai terbangun tapi bukan dengan cara yang seharusnya. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu, suara-suara mulai ramai, dan di kejauhan sirene mulai terdengar tanda bahwa dunia di luar sana baru saja mulai menyadari ada yang salah, meski belum tahu seberapa salah.

Wahyu lihat jam tangannya.

"Fajar dua jam lagi," katanya ke Sakira. "Kita perlu putuskan sesuatu sebelum terang."

"Putuskan apa?"

Wahyu tatap Sakira. "Siapa yang perlu naik ke Ciremai."

1
Kustri
lanjutkan!!!
Kustri
oalah zidan... zidan orang terbirit" kamu malah nyantai😂
Kustri
semangat buat lanjutin karyamu ini
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
Kustri
hlaa py to, saya jg sdh siap melanjutkan, koq malah mentok😩
Kustri
kamu salah 1 dr mrk, tubuhmu ada zat yg sama dgn mrk zidaaaan... 😁bener gk sih thor🤭
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
Kustri
mayan di swalayan stok makanan & minuman aman👌🤭
Kustri
☕tak sogok biar crazy up🤭😁
Kustri
weh zidan 🎷🎼ada apa dgnmu...
Kustri
ngeyel BGT👊👊👊wae
Kustri
qu msh capek, dok masa iya baru nyampe bawah, istirahat jg blm masak suruh naik lagi😫😫😫
Kustri
ky'a satria gk nyebut zidan, koq sakira tau yg terpapar itu zidan🤔ampe qu ulang baca'a🤭
NR: wkwk, terimakasih kak.
total 1 replies
Kustri
diminumin air kelapa ijo x yaa🤭
Kustri
memukul jgn hanya pukul
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
Kustri
wah zidan ky'a terpapar dr serbuk nih, melihat kondisi'a
Kustri
eumm... dr jamur yg fajar makan waktu kelaparan itu yaa
Kustri
kira" apa obat penyembuh'a ya🤔
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
t-rex
suka banget upnya langsung banyak gini. btw Thor, perkiraan end dibab berapa? wkwk. mau nabung bab😭😭🤭
NR: Up banyak kalo lagi ada ide aja kak wkwk, kalo up nya cuman 1 bab itu lagi stuck alur ceritanya mao dibawa kemana yak ini wkwk,
total 1 replies
Kustri
qu koq deg"an klu zidan terpapar😫
lanjut lagii
Kustri
lanjuuut 👉👉👉
Kustri
bisa gk thor kalimat"nya diperhalus, perasaan dipart" awal kalimat'a enak dibaca
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪
NR: oke kak, terimakasih saran nya, 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!