NovelToon NovelToon
Pelakor Berkedok Sahabat

Pelakor Berkedok Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gusmon

Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.


Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.


Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 : Delusi Tingkat Tinggi

Momen ini benar-benar menjadi puncak dari "sihir" Stefani, Mas Ariel. Kain sutra itu bukan sekadar penutup mata, tapi dinding pemisah terakhir antara kenyataan dan kegilaan Marlon. Dengan penglihatan yang terputus, indra penciuman dan pendengaran Marlon menjadi berkali-kali lipat lebih tajam terhadap aroma mawar dan bisikan Stefani.

Berikut kelanjutan adegannya yang makin gelap dan menghipnotis:

Stefani meraih selembar kain sutra halus berwarna merah marun yang sudah ia siapkan di bawah bantal. Dengan gerakan yang sangat lamban dan terukur, ia melingkarkan kain itu ke kepala Marlon. Marlon hanya diam, napasnya memburu, membiarkan dirinya ditelan kegelapan total saat Stefani mengikat simpul di belakang kepalanya.

Kini, dunia Marlon hanya berisi kegelapan, aroma mawar yang menyesakkan dada, dan suara Stefani yang berubah drastis.

Stefani mendekatkan bibirnya ke telinga Marlon, napasnya yang hangat terasa menggelitik. Dengan nada dan intonasi yang rendah, lembut, dan sedikit bergetar—persis seperti suara Nadya saat sedang manja atau ketakutan—ia mulai membisikkan mantra delusinya.

"Marlon... ini aku, Nadya," bisik Stefani, suaranya terdengar begitu manis hingga menyayat hati Marlon. "Lihatlah aku di dalam pikiranmu. Aku sedang menunggumu di kamar kita yang tenang... tanpa ada Erian di antara kita."

Marlon mengerang pelan, jemarinya mencengkeram sprei hotel dengan kuat. Di balik kegelapan kain sutra itu, imajinasinya mulai bekerja liar. Ia seolah melihat Nadya sedang tersenyum malu-malu padanya, mengenakan gaun tidur putih tipis, menantinya dengan tangan terbuka.

"Erian tidak pernah mencintaimu seperti aku mencintaimu, Marlon," lanjut Stefani, suaranya kini terdengar sangat meyakinkan, menghipnotis setiap saraf di otak Marlon. "Dia hanya beban bagiku. Dia suamiku, tapi jiwaku milikmu... Sentuh aku, Marlon. Rasakan kulitku. Ini adalah Nadya yang selama ini kamu dambakan."

Marlon benar-benar terjebak dalam delusi tingkat tinggi. Setiap sentuhan tangan Stefani di dadanya kini ia rasakan sebagai sentuhan lembut jemari Nadya yang polos. Setiap hembusan napas Stefani ia yakini sebagai napas Nadya yang jujur.

"Nadya... oh, Nadya-ku," igau Marlon dengan suara parau. Air mata hampir menetes di balik ikatan sutra itu karena rasa bahagia yang semu. "Aku akan melakukan apa pun... apa pun untuk memilikimu. Erian harus pergi. Dia harus lenyap!"

Stefani tersenyum iblis di balik topeng rendanya. Ia terus membisikkan kata-kata yang memicu adrenalin dan obsesi Marlon, mengarahkan tangan Marlon untuk menyentuhnya seolah-olah Marlon sedang menyentuh altar suci.

"Bunuh bayangan Erian di kepalamu, Marlon. Dan buatlah dia menghilang dari dunia nyata, agar aku bisa menjadi milikmu seutuhnya... selamanya," bisik Stefani sebagai penutup mantranya, sebelum ia kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Marlon dalam sebuah ciuman yang mematikan.

Malam itu, Marlon tidak lagi bercinta dengan seorang wanita; ia sedang bercinta dengan sebuah delusi, sebuah bayangan yang diciptakan oleh mulut berbisa Stefani.

Suasana di kamar penthouse itu semakin memanas, hanya menyisakan suara deru napas yang memburu dan aroma mawar yang memabukkan. Di bawah pengaruh kain sutra yang menutupi matanya, Marlon benar-benar kehilangan pijakan pada realita. Kegelapan itu menjadi kanvas bagi delusi terliarnya tentang Nadya.

Stefani, dengan gerakan yang anggun namun penuh perhitungan, perlahan merebahkan tubuh kekar Marlon di atas ranjang yang empuk. Ia menatap mangsanya dari balik topeng renda dengan tatapan predator yang puas. Marlon hanya bisa pasrah, tangannya mencengkeram sprei, sementara jantungnya berdegup kencang menantikan sentuhan "Nadya" yang ia bayangkan.

Tanpa memutuskan kontak kulit, Stefani mulai menaiki tubuh Marlon. Ia bergerak perlahan, membiarkan Marlon merasakan setiap inci lekukan tubuhnya yang kini ia yakini sebagai milik Nadya.

"Marlon... milikilah aku seutuhnya," bisik Stefani dengan suara yang lembut dan bergetar, persis seperti nada bicara Nadya yang polos saat sedang menyerahkan diri.

Dengan satu gerakan yang mantap dan sensual, Stefani membenamkan lubang gairahnya, membiarkannya tenggelam sepenuhnya di dalam batang hasrat milik Marlon yang sudah berdiri kokoh menantang.

"ARGHH... NADYA!"

Marlon mengerang keras, sebuah teriakan yang penuh dengan campuran antara kepuasan lahiriah dan keputusasaan batin. Di balik kain sutra yang gelap, ia seolah melihat wajah Nadya yang sedang menatapnya dengan penuh cinta saat mereka menyatu. Ia tidak tahu bahwa yang sedang bergerak di atas tubuhnya dengan liarnya adalah Stefani, wanita yang sedang menanamkan "racun" di setiap jengkal sel tubuhnya.

Stefani terus bergerak dengan ritme yang menghipnotis, sambil terus membisikkan kata-kata manis yang mematikan di telinga Marlon. Ia membiarkan Marlon tenggelam dalam ilusinya, membiarkan pria itu percaya bahwa ia akhirnya berhasil merebut surga milik Erian.

"Hancurkan dia, Marlon... hancurkan Erian untukku... untuk kita," desis Stefani di sela-sela gairah yang memuncak.

Marlon hanya bisa mengangguk dalam igauan gairahnya. Di titik ini, jiwanya telah benar-benar tergadai. Ia telah mencicipi "buah terlarang" yang disuguhkan oleh iblis berwajah malaikat, dan ia tidak akan pernah bisa kembali lagi menjadi pria yang sama.

Kamar hotel itu seolah kehilangan gravitasi bagi Marlon. Di balik kegelapan kain sutra yang mengikat matanya, dunia nyata telah lebur, menyisakan sensasi fisik yang meledak-ledak. Ia tidak lagi berada di sebuah hotel; dalam delusinya, ia sedang berada di surga yang selama ini hanya menjadi mimpina.

Pinggul Stefani mulai bergoyang meliuk-liuk dengan ritme yang sangat lambat namun menekan kuat, sebelum akhirnya berputar-putar dengan gerakan sensual yang sangat terampil. Setiap putaran itu terasa seperti pusaran air yang menyedot kesadaran Marlon lebih dalam ke dasar gairah.

Marlon mengerang parau, otot-otot di lengan dan perutnya menegang keras. Ia merasakan sensasi kenikmatan yang tiada tara—sebuah kepuasan yang selama ini ia tahan, ia simpan, dan ia pupuk hanya untuk satu nama: Nadya. Dan kini, melalui tubuh Stefani yang licik, Marlon merasa seolah-olah seluruh dambaannya telah terbayar lunas.

"Nad... Nadya... ahh," igau Marlon, suaranya pecah di antara napas yang tersengal.

Stefani, yang mendengar nama sahabatnya dipanggil dengan nada penuh pemujaan, justru semakin bersemangat. Ia menunduk, membiarkan rambutnya yang harum mawar menyapu dada Marlon, sambil terus memutar pinggulnya dengan gerakan yang semakin berani. Ia tahu persis titik-titik sensitif pria, dan ia menggunakan keahliannya itu untuk memastikan Marlon benar-benar bertekuk lutut di bawah kendalinya.

Sensasi hangat dan jepitan gairah dari Stefani membuat Marlon merasa seolah-olah ia sedang terbang menembus awan. Ia mencengkeram pinggul Stefani dengan kuat, membimbing gerakan itu agar semakin dalam dan semakin intens. Baginya, setiap inci kulit yang ia sentuh, setiap liukan yang ia rasakan, adalah bukti kemenangan atas Erian.

"Aku... aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilmu lagi dariku, Nadya," desis Marlon di sela-sela kenikmatan yang memuncak.

Stefani hanya tersenyum tipis di balik topeng rendanya, terus memberikan "servis" terbaiknya untuk mengunci kesetiaan Marlon pada rencana busuk mereka. Ia membiarkan Marlon tenggelam dalam lautan kenikmatan semu itu, sementara di dalam otaknya, ia sudah menyusun langkah berikutnya untuk menghancurkan rumah tangga Nadya dan Erian berkeping-keping.

1
katty
up
Ovha Selvia
Nadya bodohnya minta ampun wkwkwkwkw
Lee Mba Young
Kbanyakan istri sah ki mesti baik nya kbanyakan bodoh mudah di tipu. masukin wanita lain ke rumah pdhl itu TDK bnar menurut agama.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭
katty
lanjut
katty
/Shy/
katty
lanjut
Indi_Dedy77
nadya oon, suaminya CEO tp oon juga, jd ada lubang si ular bs masuk se enaknya. kan bs pake ancaman utk stefani biar keluar dr rumahnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!