"Hanya karena arloji murah ini, kau membuang tiga tahun hubungan kita?"
Vandiko Elhaz hanyalah pemuda miskin yang bekerja keras demi masa depan kekasihnya, Clarissa. Namun, di hari ulang tahun Clarissa, Vandiko justru dipermalukan di depan kaum elit dan dicampakkan demi seorang pewaris kaya.
Di titik terendah hidupnya, di bawah guyuran hujan dan hinaan yang membakar dada, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya
Sejak malam itu, hidup Vandiko berubah total.
Orang-orang yang dulu meludahi kakinya, kini mengemis di depan kantornya.
Wanita yang dulu mencampakkannya, kini menangis memohon kesempatan kedua.
Dengan kekayaan tak terbatas dan sistem yang terus memberinya misi rahasia, Vandiko akan menunjukkan pada dunia: Siapa yang sebenarnya berkuasa?
"Dulu kau bilang aku sampah? Sekarang, bahkan seluruh hartamu tidak cukup untuk membeli satu jam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Undangan Berdarah
Keesokan paginya, kota itu dikejutkan oleh berita besar
The Abyss, klub malam paling bergengsi, telah berpindah tangan hanya dalam satu malam
Namun, bagi Vandiko Elhaz, itu hanyalah permainan kecil .
Kini, ia berdiri di depan cermin unit Penthouse yang baru saja ia beli
Setelan jas Tom Ford yang melekat di tubuhnya mempertegas bahunya yang tegap
[Ting! Misi Utama Diperbarui: Hancurkan Fondasi Keluarga Sanjaya (Keluarga Clarissa)]
[Informasi: Perusahaan tekstil keluarga Sanjaya sedang melakukan presentasi untuk merger di Hotel Mulia hari ini]
[Hadiah Misi: Akses ke Jaringan Intelijen Global]
Vandiko tersenyum dingin "Hari ini adalah hari terakhir mereka merasa tinggi"
Di ballroom Hotel Mulia, suasana sangat formal
Ayah Clarissa, Surya Sanjaya, sedang berdiri dengan bangga di atas panggung
Di sampingnya, Clarissa tampak cantik dengan gaun mahalnya, meski matanya sembab
Di barisan depan, Evan dan ayahnya duduk dengan angkuh, merasa akan segera menguasai aset keluarga Sanjaya melalui pernikahan .
"Dengan merger ini, perusahaan kita akan menjadi pemimpin pasar!
" seru Surya disambut tepuk tangan meriah
Tiba-tiba, pintu ballroom terbuka lebar
Suara langkah sepatu kulit yang tegas memutus pidato Surya
Semua mata menoleh..
Vandiko Elhaz melangkah masuk dengan tangan di saku celana
Di belakangnya, dua asisten pribadi yang disediakan sistem mengikuti dengan koper metalik
Vandiko?! Beraninya kau datang ke sini! Keamanan, usir gelandangan ini! "teriak Surya Sanjaya, wajahnya memerah karena merasa terhina"
Clarissa gemetar hebat...
"V-Vandiko... kenapa kau ada di sini?"
Vandiko berhenti tepat di tengah ruangan, Ia menatap Surya dengan tatapan meremehkan
[Mata Dewa Aktif]
[Target: Surya Sanjaya
Status: Melakukan korupsi pajak sebesar 100 Miliar
Bukti: Tersimpan di flashdisk hitam di sakunya]
"Aku datang bukan untuk mengemis"
suara Vandiko menggema, tenang namun penuh tekanan.
"Aku datang sebagai pemilik baru dari 51% saham perusahaan yang sedang kau banggakan ini, Tuan Surya."
Keheningan mencekam menyelimuti ruangan
"Bohong! Kau hanya sampah miskin!"
teriak Evan sambil berdiri
Vandiko memberi isyarat pada asistennya
Sebuah dokumen digital diproyeksikan ke layar besar di panggung, menggantikan slide presentasi Surya
Di sana tertera jelas: Vandiko Elhaz - Pemegang Saham Mayoritas
"Mulai detik ini, aku membatalkan merger dengan keluarga Evan," ucap Vandiko dingin
"Dan Nona Clarissa... terima kasih telah membuangku
Tanpa pengkhianatanmu, aku tidak akan pernah sadar bahwa kalian semua hanyalah debu di bawah sepatuku"
Surya Sanjaya jatuh terduduk di kursinya
Clarissa menangis histeris, menyadari bahwa pria yang dulu ia injak-injak kini memegang seluruh napas kehidupan keluarganya .
Aula Hotel Mulia yang tadinya megah kini terasa seperti ruang sidang yang menyesakkan bagi keluarga Sanjaya dan Evan .
Surya Sanjaya menatap layar proyeksi dengan mata tak percaya
Lima puluh satu persen saham, Itu berarti Vandiko adalah pemilik mutlak dari kerja keras yang ia bangun selama tiga puluh tahun
"Tidak mungkin... Bagaimana kau bisa membeli saham itu?
Itu saham tertutup!" suara Surya bergetar, keringat dingin membanjiri dahinya .
Vandiko melangkah maju, setiap ketukan sepatunya di lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian bagi karier Surya.
Ia berhenti tepat di depan Surya, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit
"Di dunia ini, Tuan Surya, tidak ada yang benar-benar tertutup bagi mereka yang memiliki kunci yang tepat," bisik Vandiko
"Kunci itu adalah uang yang jauh lebih banyak daripada gabungan seluruh tujuh turunan keluargamu"
Vandiko menoleh ke arah Clarissa yang berdiri mematung di sisi panggung
Air mata wanita itu mengalir deras, merusak riasan wajahnya yang mahal
"Vandiko... kumohon, mari kita bicara Aku... aku melakukannya karena terpaksa oleh ayahku!"
Clarissa mencoba meraih lengan jas Vandiko dengan tangan gemetar .
Vandiko dengan dingin mengibaskan tangannya, seolah-olah Clarissa adalah kotoran yang menempel di kain mahalnya .
"Tadi malam kau bilang bau kemiskinanku membuatmu mual, Clarissa.
Sekarang, bau keputusasaanmu justru membuatku sangat tidak nyaman"
[Ting! Misi Sampingan Tercapai: Penghancuran Mental Keluarga Sanjaya]
[Hadiah: Poin Atribut +10 (Dialokasikan ke Karisma dan Kecerdasan)]
[Fungsi Baru: 'Audit Instan' — Anda bisa melihat aliran dana ilegal perusahaan manapun dalam radius 1 km]
Vandiko menggunakan fungsi barunya
Matanya bersinar biru tipis sesaat, Ia melihat ke arah Evan yang mencoba menyelinap keluar dari ballroom bersama ayahnya
"Tuan Evan, mau ke mana?" suara Vandiko menghentikan langkah mereka.
"Ayahmu berhutang 20 miliar pada kasino bawah tanah, dan pagi ini, aku baru saja membeli surat hutang itu
Jadi, secara teknis, ayahmu adalah budakku sekarang"
Ayah Evan, seorang pria tua yang biasanya angkuh, langsung berlutut di lantai
"Tolong, Tuan Elhaz! Berikan kami waktu! Kami akan membayar!"
"Waktu adalah kemewahan yang tidak kalian berikan padaku saat aku memohon biaya rumah sakit ibuku kemarin," jawab Vandiko tanpa emosi
"Manajer! Seret mereka keluar dan serahkan pada departemen penagihan utangku."
Saat keributan pecah, sebuah tepuk tangan pelan terdengar dari arah pintu masuk VIP
Isabella Wijaya melangkah masuk dengan gaun merah yang kontras dengan suasana kelam di aula itu
Kehadirannya membuat suasana semakin mencekam
"Pertunjukan yang sangat menarik, Tuan Vandiko,"
ucap Isabella dengan senyum misterius"
Tapi menghancurkan lalat seperti mereka hanya akan membuang-buang tenagamu
Bagaimana kalau kita membicarakan hiu yang sebenarnya?
Isabella berdiri di samping Vandiko
Perbedaan kasta antara Isabella dan Clarissa terlihat begitu nyata
Jika Clarissa adalah bunga plastik yang murahan, Isabella adalah mutiara hitam yang tak ternilai .
"Nona Isabella?" Surya Sanjaya ternganga
"Anda... Anda mengenal pemuda ini?"
"Mengenalnya?" Isabella melirik Vandiko dengan tatapan yang sulit diartikan"
Dia adalah mitra strategis tertingginya Wijaya Group mulai hari ini
Dan bagi siapa pun yang berurusan dengannya, berarti berurusan dengan seluruh kekuatan keluarga Wijaya"
Kalimat itu adalah paku terakhir di peti mati keluarga Sanjaya dan Evan
Di mata publik, Vandiko bukan lagi sekadar orang kaya baru, tapi seseorang yang telah direstui oleh penguasa ekonomi tertinggi
Vandiko menatap Isabella, lalu beralih ke arah luar jendela besar hotel yang memperlihatkan gedung-gedung pencakar langit .
"Ini baru permulaan, Isabella," gumam Vandiko"
Kota ini butuh raja baru, dan aku baru saja duduk di takhtanya"
[Ting! Misi Utama Berikutnya: Membangun Menara Elhaz — Simbol Kekuasaan Baru]
[Target: Membeli Lahan di SCBD yang sedang diperebutkan oleh 5 Konglomerat Besar]
Vandiko tersenyum,
Permainan catur yang sebenarnya baru saja dimulai
Musuhnya bukan lagi mantan pacar yang dangkal, melainkan para naga yang bersembunyi di balik gedung-gedung kaca itu