Beberapa bulan setelah Leon lulus dari SMA, gurunya menawarkan Leon untuk bekerja di villa sang guru. Setahun setelah itu, Leon berhasil menembus tahap pemurnian qi level satu, dan secara resmi dijadikan murid oleh sang guru. Pada malam peresmian murid, gurunya memberikan sebuah bola hitam misterius kepada Leon. Keesokan harinya, kehidupan Leon mulai berubah secara drastis!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdagangan Senjata
Keesokan paginya, Leon berangkat menuju lokasi yang ditentukan oleh Hendrickson dengan sebuah mobil yang dia sewa. Tempatnya berada di lokasi pegunungan dengan banyak pepohonan di sekitar area.
"Ini adalah senjata varian HK. Yang ini adalah HK-47. Karena cukup terkenal, kamu pasti pernah mendengarnya."
"Tentu saja."
Hendrickson membawa tujuh jenis senjata. Lima berjenis pistol, dan dua merupakan senjata varian HK. Setelah menunjukkan dan menjelaskan senjata yang dia bawa kepada Leon, kini giliran penampilan senjata Leon.
"Bagaimana dengan milikmu?"
"Hahahaha, kamu akan terkejut melihatnya."
Pertama, Leon membuka sebuah koper berisi salah satu senjata miliknya, yaitu OP-4 dan mengeluarkannya ke atas meja.
"Kelihatannya hebat. Apakah ini lebih baik dari HK?"
"Aku tidak yakin. Aku belum pernah mencoba senjata varian HK."
"Perlihatkan yang lain padaku!"
Hendrickson melihat dua koper yang tersisa dan mendesak Leon untuk menunjukkan senjata lainnya.
"Kali ini kamu akan benar-benar terkejut."
Leon mulai membuka kedua koper yang masih tertutup. Ketika Leon membuka koper pertama, Hendrickson sudah memiliki dugaan senjata jenis apa yang telah dibawa Leon. Dan ketika koper kedua dibuka, dia menjadi benar-benar terdiam.
"Kamu benar-benar memiliki senapan antimaterial, sungguh menakjubkan!"
"Namanya adalah Eagle-2100. Dengan sistem pengoperasian bolt action, senjata ini menggunakan peluru berkaliber 17,7 x 115 milimeter. Senjata ini dapat menghancurkan beton pada jarak 2500 meter."
Leon tidak yakin apakah beton di kota Erulean lebih kuat dibandingkan kualitas beton di bumi. Namun ketika Leon mencobanya di toko senjata, Eagle-2100 dapat menembus dinding beton setebal 10 centimeter ketika berada pada jarak 2500 meter!
Hendrickson sangat tercengang setelah mendengarkan penjelasan Leon dan mengacungkan jempol kepadanya. Meskipun Hendrickson juga memiliki senjata berjenis sniper, dia tidak membawanya ke Bali. Selain itu, sniper miliknya bukanlah senapan antimaterial!
"Aku akan merakitnya terlebih dahulu. Bisakah kamu menunggu?"
"Tentu, aku juga tertarik untuk melihatnya."
Karena ukurannya yang mencapai dua meter, Eagle-2100 dapat dipisahkan menjadi dua bagian. Memisahkan dan menggabungkannya kembali tidak membutuhkan suatu alat khusus. Meskipun itu cukup merepotkan, Leon memasang kembali dua bagian hanya dalam beberapa saat saja.
"Bagaimana menurutmu?"
"Aku benar-benar ingin mencobanya!"
"Hahahaha, aku akan menunjukkan padamu bagaimana caranya. Apakah ada target yang cukup baik untuk menunjukkan kemampuan senjata ini?"
"Tunggu sebentar. Hei, pasang target dengan kaca anti peluru di sana!"
Hendrickson memerintahkan bawahannya untuk memasang target yang lebih baik daripada boneka yang sudah terpasang.
Eagle-2100 merupakan senapan yang sangat berat, yaitu 20 kilogram. Setelah Eagle-2100 ditumpukan di atas tanah, Leon mulai menjelaskan pengaturan senjata kepada Hendrickson sambil mempraktekkannya. Kemudian.....
Bum!
"Itu menembusnya dan masih masuk ke dalam batang pohon di sana!
"Hahahaha, gila bukan?"
"Itu lebih dari gila! Bahkan fungsi peredamnya berjalan dengan sangat baik. Bagaimana bisa senapan antimaterial bisa mengeluarkan suara yang tidak keras?"
Hendrickson menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ekspresi kekaguman seolah melihat wanita tercantik di dunia. Karena Leon sudah memperagakannya, Leon membiarkan Hendrickson untuk mencoba Eagle-2100. Leon juga tertarik untuk mencoba senjata yang dibawa Hendrickson dan mulai mencobanya satu persatu.
"Apa lagi nama senapan ini? Ini bahkan lebih baik dari senjata yang kumiliki!"
Leon melihat Hendrickson sedang mencoba senjata OP-4 miliknya. OP-4 memiliki jangkauan akurasi efektif sejauh 750 meter. Dengan sistem operasi semi otomatis, dan menggunakan kaliber peluru sedang..
"Itu adalah OP-4. Jika kamu tertarik, aku dapat menyediakannya untukmu."
"Benarkah? Bagaimana dengan Eagle-2100?"
"Yahhh, itu cukup sulit. Bagaimana dengan ini, aku akan menjual satu untuk setiap 50 pcs OP-4 yang kamu beli. Dan lagi, aku akan membawanya langsung ke timur tengah."
Leon tidak ingin terendus sebagai penjual senjata ilegal di Indonesia. Jadi, lebih baik dia langsung membawanya ke tempat Hendrickson.
Meskipun saat ini dia kelebihan uang, Robenyo baru saja menerima 10 ton emas darinya. 10 ton emas bukanlah jumlah yang sedikit! Robenyo akan membutuhkan banyak waktu untuk menyalurkan semua emas tersebut.
Terlebih lagi, Leon juga baru saja mendirikan sebuah perusahaan. Dia harus memiliki cadangan lain sebagai sumber penghasilannya.
"Berapa harganya?"
"500 dollar per unit untuk OP-4, sedangkan untuk Eagle-2100 adalah 15.000 dollar. Selain itu, aku tidak akan mengambil biaya pengiriman jika kamu memesan dalam jumlah banyak."
Hendrickson merasa itu harga yang cukup wajar. Apalagi, kedua senjata ini jelas lebih unggul daripada senapan lain yang umumnya beredar di timur tengah. Karena Hendrickson juga menjual senjata kepada kelompok-kelompok sekutunya, dia dapat memperoleh keuntungan besar dengan harga yang disebutkan oleh Leon.
"Jika aku memesannya sekarang, kapan barangnya akan datang ke tempatku?"
"Hmm... Aku berjanji itu akan kurang dari setengah tahun. Aku akan menghubungimu ketika barangnya sudah tersedia."
"Itu terdengar baik bagiku. Kalau begitu, aku akan memesan 5000 unit OP-4, dan 100 unit Eagle-2100."
Hendrickson kemudian membawa Leon ke restoran favoritnya. Restoran itu cukup kecil, dan menu yang tersedia tidak banyak. Namun ketika Leon mencobanya, itu benar-benar menjadi makan siang yang sangat memuaskan.
Ketika Leon kembali ke hotel, dia melihat sebuah keributan di lobby hotel.
"Bukankah itu mereka?"
Leon menemukan empat gadis yang bertemu dengannya beberapa hari lalu di tengah-tengah keributan.
"Apa yang sedang terjadi?"
"""Leon!"""
Keempat gadis itu berseru melihat kedatangan Leon.
"Ini orang itu. Dia berusaha melecehkan kami berempat!"
Salah satu diantara gadis menunjuk seorang pria di akhir usia dua puluhan.
"Apa buktinya? Tidak ada yang menunjukkan aku melecehkan kalian bukan?"
"Tapi kamu terus berusaha mengundang kami ke dalam ruanganmu!"
Leon kemudian bertanya kepada staf hotel apakah tidak ada bukti rekaman cctv.
"Yah, karena tidak terlihat bentuk pelecehan apapun pada rekaman, kami tidak dapat membuktikan siapa yang benar diantara mereka pak."
Staf itu menjelaskan kepada Leon dengan lelah. Kedua kelompok itu sudah bertengkar selama beberapa waktu di lobby hotel. Dan itu cukup mengganggu pengunjung hotel yang lain.
"Baiklah, karena tidak ada yang terjadi dengan kalian berempat, mari kita abaikan saja pria itu. Jika kalian khawatir, aku akan menemani kalian semua, bagaimana?"
"Benarkah?"
"Aku mau ikut dengan Leon!"
"Mmm, mari abaikan pria sesat itu."
Sementara mereka telah mengabaikan keberadaan pria tersebut, pria itu langsung emosi melihat keempat gadis yang dia incar memiliki reaksi berbeda ketika bersama orang lain.
"Apa yang ingin kalian lakukan selanjutnya?"
"Kami hanya ingin berjalan dan melihat-lihat saja. Tidak ada rencana khusus apapun."
Untungnya mereka tidak berencana bepergian jauh. Jika tidak, Leon akan merasa bodoh karena dia baru saja mengembalikan mobil yang telah dia sewa tadi pagi.
Suasana sore di Bali cukup menyenangkan. Apalagi bersama empat gadis cantik yang sedang menikmati es krim mereka.
"Apakah ada tatto yang tidak permanen?"
Salah satu gadis bertanya kepada seniman tatto.
"Ada. Tunggu sebentar, aku akan mengambil yang menarik bagi para gadis."
Artist tatto itu kemudian pergi ke sebuah rak untuk melihat persediaannya. Sementara para gadis menunggu, gadis di samping Leon berbicara.
"Menurut kalian yang mana yang cocok untuk Leon?"
"Bagaimana dengan sebuah mata di dahi?"
Yang lain tertawa mendengar candaan teman mereka. Kemudian salah satu gadis menyarankan.
"Bagaimana kalau sebuah sayap di punggung? Kelihatannya akan keren bukan?"
"Ohhh, benar, benar, itu akan keren."
Leon hanya tersenyum mengikuti keinginan para gadis. Sementara dia tidak masalah dengan tatto sementara, dia tidak menginginkan tatto permanen di tubuhnya.
Bukan karena ada larangan bagi Leon untuk melakukannya. Namun bahkan jika dia terkesan dengan tatto di tubuhnya, jika itu akan selalu ada di sana, dia yakin dia akan benar-benar bosan suatu saat nanti. Yahhh, setiap orang memiliki seleranya masing-masing.
Ketika artist tatto kembali, dia menunjukkan berbagai stiker tatto dan menjelaskannya kepada para gadis.
"Coba kulihat. Yang ini mungkin cocok untuk dipasang di punggung tanganmu. Kemudian yang ini....."
Setelah para gadis memilih tattonya masing-masing, artist tatto itu membantu memasangkannya untuk para gadis.
"Rangkaian bunganya sangat bagus..."
"Hehehehe benar bukan? Punyamu juga bagus."
Lalu seorang gadis menunjuk Leon dan bertanya kepada artist tatto.
"Pak, kami juga mau memasang tatto sementara untuk Leon. Apakah ada yang seperti gambar sayap di punggung?"
"Gambar sayap di punggung ya..."
Pria itu memandang Leon sambil mengelus dagu, kemudian melanjutkannya.
"Boleh dibuka bajunya dulu? Aku ingin melihat punggungmu untuk memilih yang benar-benar cocok."
"Tidak masalah."
Leon menyetujui permintaan tersebut dan membuka bajunya.
"Woaaah, tubuhmu sangat bagus!"
"Hehehehe, benar bukan pak? Kami berempat juga tergiur ketika melihat tubuh Leon sebelumnya."
"Jangan harap! Tubuhku sudah ada yang punya."
Gadis itu menjulurkan lidahnya ketika Leon menyiratkan dia sudah memiliki seorang wanita.
"Kalau begitu yang ini mungkin akan cocok. Kita akan menempelkannya berdiri pada sudut miring di sisi kiri punggung."
Pria itu menunjukkan sebuah tatto setengah sayap dengan bagian pangkalnya diteruskan garis-garis yang membentuk sebuah ornamen sederhana. Setelah pria itu mencontohkannya langsung pada punggung Leon, semua orang mengangguk setuju.
Para gadis mulai mengerumuni Leon setelah tatto selesai terpasang.
"Itu benar-benar keren."
"Kamu benar. Ini sangat hot."
"Dan juga sangat keras."
"Hei, berhenti mengelus-elus punggungku! Tunggu, siapa itu? Jangan mencubitnya!"