NovelToon NovelToon
Beda Umur, Sama Rasa (Katanya!)

Beda Umur, Sama Rasa (Katanya!)

Status: tamat
Genre:Berondong / Beda Usia / CEO / Tamat
Popularitas:32.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
​Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
​Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Cahaya matahari pukul sepuluh pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden sutra yang sengaja tidak ditutup rapat semalam.

Kamar utama itu masih diselimuti keheningan yang nyaman, hanya terdengar deru napas teratur dari dua insan yang baru saja melewati "malam penagihan utang" yang sangat panjang dan melelahkan, namun penuh bunga.

Rengganis menggeliat kecil di balik selimut down feather yang tebal.

Tubuhnya terasa jauh lebih rileks, meski ada rasa pegal yang manis di beberapa bagian ototnya.

Ia perlahan membuka mata dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah Permadi yang berada hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.

Permadi ternyata sudah bangun lebih dulu. Pria itu bertumpu pada satu siku, menatap Rengganis dengan binar mata yang begitu cerah dan penuh kemenangan.

Rambutnya berantakan, namun ketampanannya justru bertambah berkali-kali lipat dalam pencahayaan pagi.

"Selamat pagi, Anjali..." bisik Permadi dengan suara serak khas bangun tidur, masih membawa sisa-sisa candaan India mereka semalam.

Rengganis tersenyum lebar, menyembunyikan separuh wajahnya di balik selimut karena tersipu.

"Mas, berhenti memanggilku begitu. Malu tahu!"

"Kenapa malu? Semalam kamu sangat menikmati tarian dan nyanyian 'Rahul'-mu ini, kan?" goda Permadi sambil menarik selimut yang menutupi wajah istrinya. Ia mengecup hidung Rengganis dengan gemas.

Rengganis tertawa kecil, melingkarkan tangannya di leher Permadi, menarik suaminya agar lebih dekat

"Terima kasih ya, Mas. Semalam, kamu benar-benar pelan dan sangat hati-hati. Aku merasa sangat dicintai."

Permadi mengusap pipi Rengganis yang merona.

"Itu karena aku sangat menghargaimu, Sayang. 'Kitty' juga sudah sangat kooperatif, kan? Dia tahu kapan harus bersikap lembut pada dokternya."

Mendengar kata 'Kitty' lagi, tawa Rengganis kembali pecah.

"Dasar! Pagi-pagi sudah bahas itu lagi."Mereka berdua berbaring bersisian, menatap langit-langit kamar dengan tangan yang saling bertautan.

Tidak ada beban berita di TV, tidak ada jadwal operasi, dan tidak ada rapat direksi. Hanya ada kedamaian yang luar biasa.

"Mas," panggil Rengganis lembut.

"Hmm?"

"Aku benar-benar bahagia. Terima kasih sudah membawaku kembali ke titik ini setelah semua kekacauan kemarin."

Permadi memiringkan tubuhnya, memeluk Rengganis erat seolah tak ingin melepaskannya lagi.

"Ini baru permulaan, Anjali. Kita masih punya sisa libur sampai Senin. Aku akan pastikan setiap detiknya membuatmu lupa kalau dunia luar itu pernah jahat padamu."

Rengganis memejamkan mata, menikmati detak jantung Permadi yang stabil di dadanya.

Pagi yang manis itu berlanjut dengan kemanjaan yang tak habis-habisnya.

Permadi, yang biasanya sigap dan disiplin, kini enggan melepaskan dekapan tangannya. Dengan sedikit bujukan nakal, ia akhirnya berhasil mengajak Rengganis untuk mandi bersama—sebuah ritual pagi yang penuh tawa dan sapaan "Kitty" yang membuat Rengganis hampir terpeleset karena geli.

Setelah segar dan mengenakan pakaian rumah santai, mereka duduk di ruang makan terbuka yang menghadap ke kolam renang.

Sarapan sederhana namun mewah telah tersaji, namun suasana damai itu kembali "terganggu" oleh kedatangan tamu yang sudah seperti keluarga sendiri.

Dokter Sinta, senior sekaligus sahabat Rengganis, masuk bersama Dina, perawat kepercayaan mereka di rumah sakit.

Keduanya membawa keranjang buah besar dan beberapa bingkisan hadiah cantik.

"Aduh, aduh! Sepertinya kita datang di waktu yang salah, ya?" goda Dokter Sinta begitu melihat Permadi yang sedang menyuapkan potongan pepaya ke mulut Rengganis.

"Pengantin baru nempel terus kayak prangko!" timpal Dina sambil terkikik, membuat pipi Rengganis merona merah dalam sekejap.

Permadi hanya tersenyum tenang, sama sekali tidak merasa terganggu.

Ia justru menarik kursi untuk kedua tamu itu. "Silakan duduk. Anggap saja rumah sendiri, tapi jangan ganggu 'Anjali' saya terlalu lama."

Rengganis mencubit lengan Permadi pelan sebelum menatap kedua rekannya.

"Sinta, Dina,.maaf ya soal berita heboh kemarin. Aku benar-benar merasa tidak enak pada kalian dan pihak rumah sakit."

Dina langsung menggeleng cepat, wajahnya serius.

"Dokter Ganis, jangan dipikirkan! Kami ke sini justru mau bilang kalau semua dokter dan staf medis di sana sama sekali tidak peduli dengan berita kampungan itu. Kami tahu siapa Dokter Ganis."

Dokter Sinta mengangguk setuju. "Benar, Ganis. Meskipun semua orang tahu pemilik rumah sakit itu orang tuamu, mereka tetap mendukungmu bukan karena jabatan papamu, tapi karena dedikasimu. Mereka semua tahu kualitasmu."

Mendengar itu, Rengganis merasa dadanya sesak oleh rasa haru.

Selama ini, ia memang selalu merasa sungkan. Ia sering merasa terbebani dengan status "anak pemilik rumah sakit", sehingga ia selalu bekerja dua kali lebih keras untuk membuktikan bahwa ia layak berada di sana karena kemampuannya, bukan karena koneksi.

"Terima kasih, aku sempat takut kalian akan memandangku rendah," bisik Rengganis lirih.

"Memandang rendah? Justru kami semua ingin memberikan pelajaran pada si Laras itu kalau dia berani muncul lagi!" seru Dina berapi-api.

"Dokter Ganis itu pahlawan di bagian obgyn, mana mungkin kami percaya fitnah murahan begitu."

Permadi menggenggam tangan istrinya di bawah meja.

"Dengar itu, Sayang? Dunia medis pun tahu mana emas, mana sampah."

Suasana haru itu segera berganti menjadi obrolan seru tentang gosip-gosip lucu di rumah sakit, membuat pagi itu terasa semakin lengkap bagi Rengganis. Ia merasa kekuatannya kembali sepenuhnya.

Suasana ruang makan yang tadinya penuh haru biru mendadak berubah menjadi sunyi yang mencekam bagi Rengganis.

Dokter Sinta, yang memang terkenal memiliki mata setajam elang saat melakukan operasi, tiba-tiba menghentikan tawanya.

Matanya tertuju pada satu titik di leher samping Rengganis yang tidak tertutup rambut cepolnya.

Sinta menyunggingkan senyum penuh arti, lalu menyenggol lengan Dina yang sedang asyik mengunyah kue lumpur sisa pasar tadi pagi.

"Wah, wah, sepertinya pengobatan semalam jauh lebih manjur daripada antibiotik manapun ya, Ganis?" goda Sinta sambil menunjuk ke arah leher Rengganis dengan dagunya.

Rengganis yang sedang menyeruput susu hangat langsung tersedak.

"Uhuk! Maksudmu apa, Sin?"

Dina ikut menoleh dan langsung menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan tawa yang meledak.

"Ya ampun, Dokter Ganis! Itu, di leher sebelah kiri. Warnanya merah keunguan cantik sekali, persis seperti cap stempel tanda kepemilikan ya?"

Wajah Rengganis seketika berubah menjadi merah padam, jauh lebih merah daripada sambal mie ayam kemarin.

Ia refleks menutup lehernya dengan telapak tangan, namun terlambat.

Semua orang di meja itu sudah melihat "karya seni" yang ditinggalkan Permadi semalam.

Permadi, bukannya merasa bersalah atau malu, justru menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai.

Ia melingkarkan tangannya di bahu Rengganis, seolah sengaja memamerkan hasil kerjanya.

"Yah, itu efek samping dari pertunjukan India semalam," ucap Permadi dengan nada bicara yang sangat tenang dan tanpa dosa.

"Pertunjukan India?" Sinta mengernyitkan dahi, bingung.

"Iya," jawab Permadi sambil melirik Rengganis dengan tatapan nakal.

"Gara-gara Kuch Kuch Hota Hai. Biasalah, kalau Rahul sudah ketemu Anjali, energinya memang suka meluap-luap sampai meninggalkan bekas."

"MAS! Berhenti!" teriak Rengganis lirih sambil mencubit paha Permadi di bawah meja.

Sinta dan Dina pecah dalam tawa yang menggelegar.

"Oh, jadi CEO Wijaya Group kalau di rumah berubah jadi bintang Bollywood ya? Hahaha! Pantas saja Dokter Ganis sampai bangun siang, dancenya pasti sangat intens!"

"Sangat intens," timpal Permadi bangga.

"Sampai-sampai 'Kitty' kehabisan napas."

Rengganis ingin sekali rasanya menghilang ke dalam kolam renang saat itu juga.

Ia benar-benar tidak menyangka suaminya akan se-frontal itu di depan rekan kerjanya. Namun, di balik rasa malunya, ada rasa hangat yang menjalar.

Ia tahu, tanda itu adalah bukti bahwa Permadi sangat memujanya.

"Sudah, sudah! Jangan digoda terus, kasihan Ganis sudah mau meledak itu wajahnya," lerai Sinta sambil menghapus air mata tawanya.

"Tapi jujur Ganis, kami senang melihatmu sebahagia ini. Lupakan si Laras, fokus saja pada 'Rahul'-mu ini."

Rengganis hanya bisa menunduk pasrah, sambil diam-diam merencanakan pembalasan untuk Permadi nanti malam.

1
falea sezi
ya tamat
Endang Sulistia
keren
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰🙏
total 1 replies
sitanggang
jalan ceritanya agak sedikit kebodohan👎👎👎
falea sezi
bibir mu bekas jalang permadi
Rais Raisya
selamt ya buah rahul dan anjali 😅🤣
Anonymous
Ini lirik melompat lebih tinggi... klo pemuja rahasia
Ku awali hariku dengan mendoakanmu
Agar kau selalu sehat dan bahagia di sana
Sebelum kau melupakanku lebih jauh
Sebelum kau meninggalkanku lebih jauh
my name is pho: 🤭🤭 terimakasih kak
total 1 replies
Nur Rsd
🤣🤣🤣
falea sezi
hyper ne bahaya bgt lo klo dia g puas biasa sih selingkuh
Ita Putri
hyoer seksual dapat nya Tante" umur 40 th
falea sezi
lanjut
Rais Raisya
lanjut ka
falea sezi
Permadi jaga nafsu deh istrimu bukan gadis abg di ajak. gaya gaya demi nafsu egois gk sih
Ita Putri
ya jelas la wong masih 25 th
Endang Sulistia
asem si Permadi 🤭
Endang Sulistia
modus 🤦🤦
Endang Sulistia
🤪🤣🤣🤣
Fitra Sari
lanjut KK
awesome moment
👍😄👍😄
Fitra Sari
lanjut donk KK doubel
Ita Putri
seru banget thor😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!