“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”
Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.
Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1 - CH 2 : RUTE BERLUBANG MENUJU SURGA
"Aduh! Pelan-pelan napa, Mang! Ini donat bisa jadi prekedel kalau diguncang terus!"
Bara berteriak sambil menahan tumpukan kardus di pangkuannya. Mobil Daihatsu Espass tua berwarna putih yang catnya sudah mengelupas itu baru saja menghajar lubang jalanan yang dalamnya setara kolam lele. Suspensi per daun yang mati membuat guncangannya terasa sampai ke ulu hati.
"Maaf, Den! Lubangnya nggak kelihatan, ketutup genangan!" sahut Mang Ojak panik sambil memutar setir yang berat karena power steering-nya bocor. "Lagian ini pemerintah gimana sih, jalan ke desa kok kayak trek offroad."
Di kursi tengah, Lintang malah tertawa girang. Dia duduk bersila di jok penumpang yang busanya sudah kempes, menghadap ke jendela samping yang terbuka lebar. Tangan kirinya memegang pegangan tangan, tangan kanannya memegang HP dengan stabilizer.
"Hai Guys! Welcome back to Vlog Admin Tersakiti! Hari ini kita lagi OTW nganterin Secret Menu ke pelosok naik 'Ferrari' kesayangan kita si Putih Turbo!" Lintang mengarahkan kamera ke punggung Bara. "Liat tuh Mas Bara, mukanya udah kayak adonan bantat karena pantatnya kepanasan mesin di bawah jok. Aesthetic banget kan penderitaannya?"
"Tang, sekali lagi lo sorot muka gue, gaji bulan depan gue potong," ancam Bara tanpa menoleh, sambil mengipas-ngipas pahanya yang memang terasa hangat karena posisi mesin Espass persis di bawah pantat sopir dan penumpang depan.
"Dih, Mas Bara mah gitu. Orang mah senyum, siapa tahu masuk FYP terus ada investor masuk," Lintang membela diri, tapi dia menurunkan HP-nya.
Mereka sudah masuk ke area pinggiran kota. Gedung-gedung ruko berganti jadi hamparan sawah yang mulai digusur proyek perumahan mangkrak. Jalan aspal mulus berubah jadi tanah berbatu.
Sreeekk... Klontang!
Suara pintu geser samping berbunyi nyaring setiap kali mobil bergoyang.
"Mang, itu pintu samping udah dikunci belum? Jangan sampe Lintang ngegelinding keluar," tanya Bara paranoid.
"Aman, Den! Udah diganjel karet gelang!" sahut Mang Ojak mantap.
Mobil melambat.
"Alamat pertama, Den. Gubuk Nek Ijah. Bawah jembatan gantung," kata Mang Ojak.
Espass berhenti di pinggir jalan setapak. Mang Ojak menarik tuas rem tangan yang keras.
Sreeekk!
Lintang membuka pintu geser dengan tenaga penuh. "Sampe! Yuk turun!"
Bara turun dari pintu depan, menepuk debu di celana kagonya. Dia mengambil satu kotak donat. "Gue turun. Lo berdua tunggu sini. Jaga mobil," perintah Bara.
"Ikut dong, Mas! Buat dokumentasi laporan ke si Anonim!" Lintang melompat turun dari kabin tengah sebelum dilarang.
Mereka menuruni jalan tanah yang licin. Bau sungai yang bercampur sampah menyengat hidung. Di depan gubuk reot dari triplek bekas spanduk caleg, seorang nenek tua sedang duduk memilah botol plastik bekas. Matanya rabun, katarak sudah memutihkan sebagian bola matanya.
"Nek?" panggil Bara kaku. Jujur, dia paling nggak bisa berhadapan sama orang tua. Canggung.
Nenek itu menoleh, menyipitkan mata. "Siapa ya?"
"Ini... ada titipan. Donat," Bara menyodorkan kotak itu.
Si Nenek meraba kotak itu dengan tangan gemetar. Saat dibuka, aroma manis langsung menguar, mengalahkan bau sampah sungai.
"Ya Allah... Gusti..." Mata Nenek itu berkaca-kaca. "Ini buat Emak? Beneran?"
"Bener, Nek. Dari orang baik," sambung Lintang cepat, suaranya mulai serak menahan tangis. "Dimakan ya, Nek. Mumpung anget."
"Makasih ya, Cep, Neng... Emak udah lama nggak makan roti empuk gini. Biasanya cuma makan kerak nasi..." Air mata si Nenek jatuh, menetes ke punggung tangan Bara.
Bara terdiam. Ada sensasi aneh di dadanya. Sesak, tapi bukan karena sakit.
"Iya, Nek. Sama-sama. Udah jangan nangis, nanti donatnya asin kena air mata," kata Bara ketus, berusaha menutupi rasa canggungnya. "Kita pamit dulu. Masih banyak antrean."
Mereka kembali ke mobil. Bara diam saja sepanjang jalan menuju lokasi kedua. Lintang juga diam, sibuk mengedit video sambil sesekali mengusap ujung matanya.
Perjalanan berlanjut.
Alamat kedua: Pos Ronda Lama. Di sana, segerombolan anak kecil kumuh dengan karung goni di punggung langsung menyerbu mobil mereka. "Om! Om bawa apa Om?!" Saat pintu geser dibuka Lintang, teriakan mereka memekakkan telinga. "Aku yang pink! Aku yang biru!" Bara membagikan donat satu per satu dari jendela depan. Melihat mulut-mulut kecil yang belepotan gula halus, Bara diam-diam tersenyum tipis.
Alamat ketiga: Kontrakan Ibu Sari (Gang Becek, Pintu Biru). Seorang ibu muda dengan dua balita kurus menerima kotak itu sambil menangis sesenggukan. Suaminya baru saja di-PHK, dan mereka belum makan nasi seharian.
Dan akhirnya, alamat keempat.
"Waduh... Den..." Mang Ojak mengerem mendadak. Wajahnya pucat. "Ini beneran alamatnya?"
Di depan mereka, berdiri sebuah pohon beringin raksasa yang akar gantungnya menjuntai sampai tanah. Di bawah naungan pohon yang gelap itu, ada sebuah rumah kayu tua yang nampak suram.
Bu Lastri (Rumah Bawah Beringin Besar).
"Bener kok, sesuai Maps," kata Bara, meski bulu kuduknya sedikit meremang. "Kenapa, Mang? Takut?"
"Bukan takut, Den... tapi konon katanya di sini tuh..." Mang Ojak menelan ludah. "Ah sudahlah. Ayo turun."
Suasana di bawah beringin itu hening dan dingin. Angin berdesir pelan, bikin daun-daun beringin bergesekan menimbulkan suara srek... srek...
Tok... Tok... Tok...
Pintu kayu berderit terbuka.
Seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul rapi keluar. Wajahnya teduh, tapi matanya kosong.
"Bu Lastri?" tanya Lintang pelan, bersembunyi di balik punggung Bara.
Ibu itu tersenyum sedih. "Kalian... temannya anak saya? Anak saya mau pulang ya?"
Bara dan Lintang saling pandang. Mang Ojak di belakang komat-kamit baca Ayat Kursi.
"Bukan, Bu. Kami... kurir donat. Ada titipan buat Ibu," Bara menyerahkan kotak keempat.
Bu Lastri menerima kotak itu, menatapnya lama sekali, lalu tertawa pelan. Tawanya terdengar pilu.
"Anak saya suka sekali donat... Dulu dia janji mau belikan Ibu donat kalau sudah gaji pertama..." Bu Lastri mengusap kotak itu sayang. "Tapi dia nggak pernah pulang... kecelakaan di pabrik tahun lalu..."
Deg. Suasana hening seketika.
"Terima kasih ya, Nak," Bu Lastri menatap Bara dengan mata yang memerah karena menahan air mata. "Ibu jadi merasa anak Ibu pulang hari ini."
Bara menelan ludah yang terasa pahit. Dia mengangguk kaku. "Sama-sama, Bu. Kami... permisi dulu."
Mereka berjalan kembali ke mobil dalam diam. Mang Ojak bahkan lupa menutup pintu mobilnya saking buru-burunya mau pergi dari situ.
Baru saja mesin mobil dinyalakan (agak tersendat sedikit), HP Lintang berbunyi nyaring memecah keheningan.
TING!
"Mas..." Lintang mengecek HP-nya dengan tangan gemetar sisa emosi tadi. "Si Anonim... dia kirim alamat terakhir."
Bara menghela napas panjang, membuang sisa rasa sesak. Dia menatap jalanan di depan yang mulai gelap karena matahari terbenam.
"Di mana?" tanya Bara.
Lintang membaca pesan itu. Matanya membulat.
"Pinggir rel kereta atas nama pak Jamil, Mas. Tapi kali ini... dia bilang 'Hati-hati, penerimanya istimewa'."