"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Demam dan Memori di Balik Sterilitas
Malam itu, benteng pertahanan Calvin akhirnya runtuh. Efek "syok kuman" dari pasar induk dan kelelahan fisik membuat suhu tubuhnya melonjak drastis. Sang CEO yang biasanya tak tergoyahkan, kini terbaring lemah di ranjang king size-nya dengan wajah sepucat kertas.
Nirbi sibuk luar biasa. Ia mondar-mandir membawa kompres air hangat dan termometer. "Kak... ampun deh, baru ke pasar sekali aja langsung tumbang begini," gumamnya cemas sambil menyeka keringat di dahi Calvin.
Namun, saat tengah malam tiba, kondisi Calvin memburuk. Ia mulai menggeliat gelisah, napasnya memburu, dan bibirnya yang pucat mulai meracau.
"Ampun, Ma... ampun... Calvin nggak sengaja..." bisik Calvin dengan suara parau yang gemetar.
Nirbi membeku. Ia mendekatkan telinganya ke bibir Calvin.
"Calvin cuma mau ambil bola... bolanya masuk lumpur, Ma... maafin Calvin kotor..." air mata mulai merembes dari sudut mata Calvin yang terpejam rapat. "Jangan pukul lagi... Calvin janji bakal bersih... Calvin bakal cuci tangan terus..."
Nirbi merasakan dadanya sesak. Ia baru menyadari bahwa OCD yang diderita Calvin bukanlah sekadar kepribadian, melainkan trauma. Ia teringat cerita Varro bahwa Mama Calvin adalah seorang wanita yang sangat perfeksionis dan keras—didikan yang militeristik.
"Ma... jangan pergi dulu..." igauan Calvin semakin menjadi. "Maaf, waktu Mama sakit, Calvin belum sempet beresin kamar Mama sampai mengkilap... Maaf Calvin anak yang kotor..."
Calvin mencengkeram sprei dengan kuat, seolah sedang menahan rasa bersalah yang luar biasa. Rupanya, saat sang ibu meninggal dunia, Calvin kecil merasa ibunya pergi karena dia gagal menjaga kebersihan rumah, atau karena dia pernah bermain lumpur saat kecil. Rasa bersalah itu terkunci di otaknya, memaksanya untuk hidup dalam obsesi kebersihan yang ekstrem sebagai bentuk "penebusan dosa" seumur hidup.
Nirbi segera naik ke atas ranjang, ia tidak peduli lagi jika Calvin nanti akan marah karena kasurnya "terkontaminasi". Ia memeluk kepala Calvin, membawanya ke dalam dekapannya yang hangat.
"Sstt... Kak, udah ya. Mama udah nggak marah," bisik Nirbi lembut sambil mengelus rambut Calvin yang basah oleh keringat dingin. "Main lumpur itu nggak dosa, Kak. Kotor itu manusiawi. Kakak anak yang baik, Kakak anak yang bersih..."
Merasakan kehangatan manusia yang begitu nyata, racauan Calvin perlahan mereda. Ia seolah menemukan jangkar di tengah badai memorinya. Secara naluriah, Calvin membenamkan wajahnya di leher Nirbi, menghirup aroma stroberi yang selalu membuatnya tenang.
"Nirbi...?" gumam Calvin lirih, matanya terbuka sedikit, masih sayu karena demam.
"Iya, ini aku, Kak. Aku di sini," sahut Nirbi, matanya berkaca-kaca.
Calvin menatap Nirbi dengan tatapan yang sangat rapuh. "Tangan saya... kotor ya?"
Nirbi meraih tangan Calvin, lalu mengecup telapak tangan itu berkali-kali tanpa rasa jijik sedikit pun. "Enggak, Kak. Tangan Kakak bersih banget. Dan kalaupun kotor, aku bakal tetap pegang tangan ini."
Calvin tersenyum sangat tipis, sebuah senyuman yang penuh luka sekaligus kelegaan. "Terima kasih, kuman kecil saya... Jangan pergi."
"Nggak akan. Aku bakal di sini jagain Kakak sampe Kakak bisa marahin aku lagi soal remah biskuit," canda Nirbi sambil mengusap air mata di pipi Calvin.
Di ambang pintu yang sedikit terbuka, Varro berdiri mematung. Ia memegang segelas susu hangat yang niatnya ingin diberikan pada Calvin. Namun, melihat adiknya sedang memeluk musuh lamanya itu dengan begitu tulus, Varro mengurungkan niatnya.
Ia melihat bagaimana Calvin—pria yang selalu ia anggap sombong dan dingin—ternyata hanyalah seorang anak kecil yang merindukan pengampunan di dalam tubuh seorang CEO.
Varro menghela napas panjang, tersenyum kecil, lalu berbalik pergi menuju kamarnya. "Oke, Vin. Gue akuin, lo emang butuh Nirbi lebih dari siapa pun di dunia ini," batin Varro.
Malam itu, di tengah suhu tubuh yang perlahan turun, Calvin tidur dengan nyenyak untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun. Tanpa mimpi buruk, tanpa rasa bersalah, hanya ada aroma stroberi dan pelukan hangat dari gadis yang paling berantakan namun paling mampu membersihkan jiwanya.
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka