NovelToon NovelToon
Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Kehidupan di Kantor / POV Pelakor / Office Romance / Romantis / Tamat
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author:

Cerita tentang Najma, gadis 24 tahun yang sedang mengusahakan hidupnya untuk jadi semenarik mungkin. Tapi, bayang-bayang masa lalu dari cowok di masa kuliahnya, serta persahabatan yang kandas karena cinta segitiga buat Najma harus menghindar dari segalanya. Tanpa Najma sadari, ada cowo aneh yang ngejar Najma dan buat hidupnya jadi tarik-menarik beneran

Najma dan Daftar Hidupnya

Hari pertama implementasi daftar hidup yang lebih menarik, atau mungkin kita singkat saja menjadi DAHI agar lebih gampang diingat.

“Fedi, mulai sekarang mari panggil daftar yang telah kita buat kemarin menjadi DAHI alias Daftar Hidup.”

Send.

Lalu dibalas kilat oleh Fedi.

“DAHI? JIDAT? Yaudah, kita panggil daftar kita jidat. Deal!”

Aku mengenyeritkan kening, bertanya pada langit yang berawan di jam sembilan pagi hari ini. Mengapa Fedi selalu kepikiran hal yang tidak kepikiran olehku?

Sudahlah, aku lebih baik berangkat ke kantor agar tidak terlambat di hari senin yang selalu menjadi kejutan untukku, karena biasanya setiap pulang di malam harinya, ada saja kejadian aneh yang harus aku tangisi dan kupikirkan berlebihan.

Najma, jangan lupa daftar nomor enam: Be Stupid, Don’t overthink.

Berarti, hari ini jangan pernah kebanyakan mikir yang membuat suasana hati menjadi sedih. Jangan memikirkan masa lalu yang selalu menjebakku ke dalam kurungan kenangan pahit. Jangan memikirkan orang-orang yang membuat hari menjadi redup dan abu-abu. Lupakan mereka semua!

Karena senin kemarin sudah memakai skuter, maka hari ini adalah jatah bis kota yang selalu membuatku berkeringat di seluruh badan karena pengap dan panas yang berlebihan. Untung kostum hari ini berasal dari bahan penyerap keringat terbaik. Dengan kaos polos warna putih dan denim overall biru muda, juga sepatu pisang kesukaanku, aku siap melawan kekejaman ibu kota.

Akhirnya butuh satu jam untuk bisa keluar dari bis kota yang sudah tidak layak berkendara tersebut. Aku sangat bersyukur aku masih hidup.

Aku berjalan menuju lift dan menunggu giliranku masuk dan naik ke lantai tujuh belas. Kutengok sebelah kananku, ada Pak Bos yang juga baru datang dan mendelik ke arahku arogan. Ingat, Najma. Daftar nomor tiga: Menyapa setiap orang secara antusias.

“Selamat pagi PAK BOS! Apa kabarnya? Bagaimana akhir pekannya?!”

Aku tahu aku berlebihan dan kutenangkan diriku bahwa memang itulah tujuannya.

“Kamu nanya apa marah-marah sih? Ahahaha.”

Pak Bos tertawa. Semua orang disekitarku tertawa. Aku juga tertawa, walau beda bunyinya.

“Nanya, Pak.” Sahutku pelan sambil masuk lift yang sudah terbuka.

Malunyaaaaa.

“Najma!” Gian menyapaku lantang di pintu masuk kantor.

“Hai, Gian gendut! Apa kabar? Kok ganteng banget hari ini?” sapaku lagi berlebihan. Aku tidak menyerah.

“Lo kenapa sih, Ma?” tanyanya perhatian, lalu ia mengukur suhu badanku di jidat.

Jidat?

Semua gara-gara Fedi.

Kini sudah di meja dan bersiap mengerjakan pekerjaan yang terus mengalir bagai air. Kucek email yang menumpuk karena aku tak pernah menyalakan notifikasi di akhir pekan. Sebelum mulai kerja, aku ingat harus menulis untuk diriku sendiri dan kukirim agar dapat dibaca esok hari ketika aku sampai di kantor lagi.

Dear Najma yang aduhai,

Kamu tahu? Kamu keren. Keren keterlauan, tiada duanya. Pekerjaan memang tak pernah ada habisnya, tapi dari situlah kita akan terus belajar menjadi individu yang semakin kompeten, bukan?

Walau kadang harus lembur sampai lupa makan, jangan menyerah ya!

Walau masih jomblo di saat semua udah punya pacar, santai saja ya!

Walau Magi dan Iman entah di mana, jangan bersedih ya!

Walau nanti Vanya terus mengganggumu, jangan takut dan lawan dengan gagah ya!

Najma, kamu adalah bintang, dan bintang seharusnya memang bersinar. Itu kan alasan ibu memberi nama kamu menjadi Najma?

Goodluck!

Jangan berantem terus sama Fedi. Walaupun dia seenaknya, tapi dia orang baik.

Lots of love.

Najma.

Send later. Klik.

Oke, email untuk besok selesai. Sekarang, waktunya bekerja.

**

Aku hanya bisa melongo melihat seseorang yang basah kuyup karena keringat tersenyum dengan giginya yang rata di depanku. Ya, orang itu Fedi. Ia datang dan berdiri berkacak pinggang menghadap wajahku yang hanya bisa menatapinya keheranan. Aku yakin sampai tua pun aku masih selalu heran padanya, apalagi atas kelakuannya saat ini.

“Kecebur di mana?”

“Ini keringat, kali. Gue jalan kaki dari Sambung ke sini. I did it, Najma!”

“Ngapain?”

“Mewujudkan Daftar Jidat nomor dua, empat, dan lima. Hehe.”

“Maksudnya, mencoba kebiasaan baru lalu berjalan kaki dan menantang diri sendiri?”

“Super correct!”

“Oke, dan bagaimana hasilnya? Apakah hidup lo menjadi lebih menarik?”

“Iya! Iya banget! Gue jadi bisa tahu banyak hal! Bayangin, gue punya pengalaman kepanasan di Jakarta. Ini tuh keren banget! Parah! Ahahaha!”

Apakah ini layak menjadi sebuah prestasi, Fedi?

Fix, sinting nih orang.

“Sekarang temenin gue makan, laper.” Terang Fedi langsung menarik tanganku masuk ke dalam lobi gedung, “di mana kantinnya?”

“Di bawah ada, di lantai tengah juga ada.” Jawabku sambil mencoba melepas tangannya, tapi tak bisa. Genggamannya terlalu kuat,

“Oke, ke lantai tengah. Traktir gue makan siang, ya.” Lalu Ia menarikku hingga aku terseret ke dalam jebakannya lagi. Luar biasa, traktiran kini berlaku kapanpun dia minta.

**

Aku hanya memandangi Fedi yang sedang melahap semua nasi dan lauk pauk yang dia pesan di satu piring besar layaknya penyedot debu portebel. Dengan nafsu makan sebesar itu, aku bingung kemana semua makanan itu pergi. Fedi adalah pria dengan postur tubuh proporsional dan perut rata, kulit bersih, dan tinggi menjulang. Jadi, aneh buatku jika ia memang dikaruniai fisik sempurna tapi nafsu makannya seperti orang yang belum makan satu bulan. Jika aku tak mengenalnya, aku bisa pahami bahwa ia benar-benar jenis flower boy yang tak akan bisa kujangkau sampai kapanpun. Aku bisa lihat dia seperti magnet yang menarik semua curi-curi pandang karyawan perempuan yang juga makan di sekitar kami. Menemaninya makan di sini, rasanya seperti sedang menjadi LO seorang artis yang sebentar lagi tampil di panggung.

“Sampai kapan sih gue harus traktir lo makan siang?”

“Selamanya.”

“Hah? Eh, gila kali ya!”

Fedi hanya pamer gigi, aku berharap banyak nasi nyangkut di giginya. Tapi ternyata tidak ada karena giginya terlalu padat dan mengkilap, seperti porselen baru dipel.

“Gue kan udah tahu motif lo, jadi ngapain harus beliin lo makan? Dan bukannya gue nggak harus beli ya karena lo udah sepakat untuk makan bekal gue aja?”

“Najma, dengerin gue ya,” ungkapnya sambil terus mengunyah, “anggap ini sebagai tantangan buat lo untuk terus memberi gue makan siang. Walaupun lo tahu lo nggak mungkin sanggup, lo harus bertahan. Bukannya ini akan menjadi hal menarik dalam hidup lo? Bener, kan?”

Aku hanya mendeliknya kesal. Percuma debat sama mas SMK.

“Kemana sahabat lo? Pergi ke luar negeri?”

Aku hanya diam saja, rasanya malas mengatakan alasan yang sebenarnya.

“Berantem?” tanyanya lagi masih menyendoki nasi tanpa henti.

“Sahabat gue dua orang, laki-laki dan perempuan. Kita terlibat cinta segitiga.”

“You what?”

“Kenapa?” tanyaku tak mengerti.

“Bahkan lo mengkontaminasi persahabatan lo dengan masalah cinta. Luar biasa.”

Aku kembali diam tak mengatakan sepatah kata pun. Apa yang Fedi katakan memang benar adanya. Aku merasa tak berdaya.

“Kenapa, Najma?”

“Apanya?”

“Kenapa kalian harus berjauhan karena masalah ini? Kalian udah berapa lama bersahabat?”

“Sama Magi dari SMP, sama Iman dari SMA.”

“Woah. Lalu, semua lenyap gitu aja? Karena cinta segitiga?”

Aku diam. Fedi menatapku intens, entah mencari apa dalam kedua bola mataku.

“Gue selalu iri dengan orang-orang yang bisa bersahabat selama itu. Kayak apa sih rasanya punya sahabat yang selalu bersama lo dalam suka dan duka?”

“Rasanya, lo seperti orang yang paling benar di dunia. Walaupun kita berbuat salah di masa lalu, mereka tetap membenarkan perbuatan kita, ya meski mereka juga protes pada awalnya. Komplit aja punya sahabat yang bisa selalu menjadi tempat lo tinggal di saat lo merasa nggak berguna.”

“Ada niatan untuk baikan?”

Aku melihatnya tanpa berkata apapun. Aku tahu, pertanyaan Fedi adalah empat rangkaian kata yang selalu aku hindari untuk muncul di pikiranku. Mungkin, kini saatnya aku memikirkan kembali pertanyaan itu untuk dijawab secepatnya.

“Ada.”

“Ya udah, kita ke tempat sahabat lo.”

“Jangan. Gue … takut.”

“Najma, remember Jidat number six: be stupid, don’t overthink.

“Kalau gitu gue harus baikan sama Iman dulu.”

“Iman itu yang suka sama lo?”

“Yap.”

“Sejak kapan?”

“Entahlah, katanya sih dari dulu.”

“Lo suka nggak sama dia?”

“Hah?” pertanyaan tersulit tahun ini kembali muncul. Fedi terus mencari jawaban di kedua mataku. Tatapannya sangat mengintimidasi, membuatku deg-degan tak berkesudahan.

“Oke, ada yang lain selain Iman. Siapa dia?” katanya memberi kesimpulan. Ia berdiri dan mengajakku pergi.

“Siapa?! Ap-pa maksudnya, tuh?”

“Najma.” Ujar Fedi lirih sambil tersenyum padaku, tampak berhasil telah mengulik rahasia terbesar hidupku.

“Nggak ada.”

Fedi kembali tersenyum simpul. Ih, kenapa sih senyum-senyum? Aku tak suka.

“Fedi, lo sebaiknya balik ke kantor lo deh. Ini kan masih jam kantor. Waktu istirahat sudah habis. Gih, sana. Naik taksi aja.”

Fedi terus tersenyum dan lama-lama aku lihat, senyumannya seperti senyum Joker yang membuatmu ingin menendangnya hingga luar angkasa.

Sebagai reaksi ketidaksukaanku, yang bisa kulakukan hanya memberi hidung babi padanya. Sejauh itu.

**

Meeting lanjutan di Sambung berjalan lancar. Aku dan tim datang tepat waktu, semua klien yang menjadi penanggung jawab acara hadir tanpa satupun yang absen, dan yang paling penting, aku sudah sarapan nasi.

“Mbak Najma, bisa nggak kalau game content-nya ditambahin yang fokus ke laptopnya? Misalnya, hal yang bikin kita interaksi sama laptopnya gitu.” Aku melirik ke arah Mbak Esya yang paling perhatian dengan proposalku.

Aku berpikir ke udara, berusaha mencari jawaban secepatnya. “Gimana kalau kita buat arena Lab Sauna? Jadi, mereka akan kita kasih tugas di satu tempat dengan laptop AMD, tapi tempatnya panas gitu. Kita buat ambience lab yang rapi dan terstruktur, tapi mereka akan pakai kostum ala sauna dan harus bertahan selama mungkin, misal batas maksimal adalah tiga puluh menit. Dari situ, objektif laptop yang tak cepat panas akan terjawab karena cuma laptop tersebut yang masih dingin.”

“Is that possible?” Vanya bertanya padaku. Tumben.

“Everything is always possible unless the death.”

Semua menatapku dengan eksperesi yang beragam, sedangkan Vanya hanya tersenyum semanis yang ia bisa sebagai reaksi penghargaan jawabanku kepadanya. Suasana sunyi, namun untungnya tertolong oleh tawa Mr. Jang yang canggung dan sangat kering. Kamu tahu maksudku, kan?

“Ehm, jadi kita akan bikin island khusus untul Lab Sauna ini ya, Mbak?” Mbak Esya bertanya memecah kesunyian.

“Iya, Mbak.”

“How do you think to put this segment into your concept?” tanya Mr. Jang dengan logat Koreanya.

“Well, we can put this aside until we got the finalists list. To make it more interesting, we can make this lab sauna as a grandfinal stage and we let all students watch it online. I mean, we make this a special live session if you want to.”

Bener nggak, ya, bahasa Inggrisnya? Aku memandang semua wajah yang ada di ruang meeting sambil terus berdoa pada Tuhan bahwa aku sedang tidak melakukan kesalahan.

**

Waktu menunggu lift terbuka dan membawa kami menuju lantai dasar bisa menjadi sangat menyebalkan, apalagi jika aku tahu Vanya juga akan turun ke lantai tempat meja kubikelnya berada.

“Najma, gue penasaran deh sama lo.”

“Ya?”

“Kalau lo lancar berbahasa Inggris, kenapa lo masih kursus di akhir pekan?”

Apa? Apa tidak salah Vanya bertanya padaku seperti itu? Ia nggak ngaca apa?

“Karena gue punya uang yang cukup untuk bayar biaya kursus.” Jawabku tanpa melihat ke arahnya. Aku tak peduli dengan reaksinya.

“Woah, gaji jadi anak agensi gede juga, ya?”

Akhirnya aku menoleh padanya dan tersenyum, “Lo sendiri kenapa? Lo sangat fasih berbahasa Inggris dan gue rasa lo pernah kuliah di luar negeri, kan?”

“Kata siapa?”

Ups, aku lupa bahwa Vanya tidak tahu aku pernah nguping pembicaraannya dengan Fedi. Gawaaaat.

“Kelihatan aja dari penampilan lo.”

Vanya hanya tersenyum, seolah-olah aku telah memuji bahwa ia merupakan perempuan tercantik di dunia.

“Well, thanks. Kalau dilihat, penampilan kita jauh berbeda ya? Gue baru tahu kalau ada perempuan yang suka banget pakai topi dan sepatu cowok sesering lo. Maka dari itu mungkin Fedi senang menghampiri lo, karena buat dia lo cuma ‘cowok’.” Ujarnya lalu menatapku dari atas sampai bawah, “nah, kalau hari ini penampilan lo lumayan juga, pakai rok rempel kayak gitu. You know what, I think you look better with a skirt.” Sahutnya lagi terus mengulitiku dengan pandangannya yang meremehkan.

“Thanks,” aku tesenyum setulus yang aku bisa, “oh, and you, you look one hundred percent better when I can’t see you.”

Air muka Vanya berubah datar, “is that an insult?”

“I hope so.” Jawabku sambil tetap tersenyum.

Kami berpandangan cukup lama. Resmi sudah, genderang peperangan telah dibunyikan. Semua menyorak gembira di belakang kami tanda perseturuan sudah layak tayang, seakan-akan peristiwa ini adalah perayaan nasional, walau sebenarnya itu hanya khayalanku saja.

Lift terbuka tepat di depan kami berdua, Vanya pun masuk walau matanya masih menatapku tajam. Aku pun diam dan terus mengikuti pandangannya. Icana dan Mas Isa ikut masuk lift, namun diusir kembali oleh Vanya sambil tak hentinya ia menatapku, seperti tampak siap mengirisku.

“Sorry, sudah full.”

Lalu lift pun tertutup. Seketika itu aku langsung mengatur kembali pernafasanku. Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan?

Najma, kamu cari mati.

Okay! Be stupid, don’t overthink. Kamu sukses membuat hidupmu lebih menarik di urusan pekerjaan. Selamat pusing.

“Mbak, tadi tuh apa sih? Kalian kok nggak akur?” Icana bertanya keheranan, aku diamkan saja.

“Najma, lo ada masalah apa sama klien? Wah, repot deh urusannya.” Giliran Mas Isa yang kebingungan, aku pun masih diam saja.

**

Waktu makan siang telah habis, namun kantor masih terlihat sepi karena banyak orang yang belum kembali dan duduk di bangkunya masing-masing. Aku hanya duduk di tempatku dan menatap laptop dalam diam, walau sebenarnya di dalam tubuhku, aku berusaha keras untuk mengatur nafas dan degup jantung yang masih terasa kencang melebihi kecepatan seharusnya.

Aku tahu, Vanya akan berbuat sesuatu karena ia resmi sudah membenciku.

Aku tak peduli jika ia akan menggangguku, tapi karena aku sedang bekerja untuk perusahaannya, aku khawatir perlakuannya padaku akan mempengaruhi porsi kerja yang kukerjakan. Atau yang terburuk, ia akan mempersulit pekerjaanku. Lalu ia tiba-tiba membatalkan project ini dan memasukkan kantorku sebagai daftar hitam dan sebagainya.

Tapi, Najma, sebenarnya yang kamu lakukan sudah benar.

Ya, aku sudah berbuat sesuai hati nurani. Aku tidak mau ia menginjak-injakku seperti itu. Dia pikir dia siapa bisa seenaknya mengancamku dan membuatku rendah diri. Vanya memang cantik, tapi kalau gila buat apa?

“Mbak Naj, dipanggil Pak Bos tuh. Ditunggu di ruang meeting depan.”

“Ngapain?” Aku bertanya pada Icana yang memanggilku. Ia hanya menjawabnya dengan mengangkat bahu.

Aku bergegas ke ruang meeting dan tampak seorang lelaki dengan bahu super lebar sedang menungguku di dalam. Kutarik nafas dalam-dalam dan bersiap mendengarkan apapun yang ingin ia katakan. Tidak biasanya Pak Bos memanggilku hanya untuk bicara berdua, di siang bolong pula.

“Kenapa, Pak?”

“Najma, gimana AMD?”

“Baik-baik aja, Pak. Meeting terakhir membahas tentang konsep tambahan dan fiksasi desain. Biasa aja.”

“Masa?” tanyanya tak percaya.

Wah, ada yang aneh. Aku kembali deg-degan.

“Ada klien yang nelpon saya, dari Sambung. Dia ngomongin kamu.”

“Siapa, Pak? Vanya?”

Pak Bos menatapku tanya, “kamu akrab sama dia?”

“Nggak. Sebelumnya udah ketemu di tempat kursus, sebagai teman. Terus, ketemu lagi sebagai klien.”

“Dia minta project ini ganti Creative Planner.”

Aku melotot. Ternyata benar Vanya yang menghubungi Pak Bos sehingga aku dipanggil menemuinya secara darurat seperti ini.

“Alasannya, Pak?”

“Karena kamu nggak sopan.”

Ya ampun, yang benar saja. Aku ingin tertawa terbahak-bahak dan segera menusuk Vanya dengan light saber warna hijau karena dia lebih menyebalkan dari Darth Vader.

“Saya nggak ngerti, Pak. Saya beneran nggak ngerti maksud dia apa.”

“Najma.”

“Terus saya mau diganti? Lucu banget, Pak. Eventnya mau jalan dua minggu ke depan terus saya minta diganti? Kalau ganti saya berarti harus ganti konsep, dong?”

“Ya nggak bisa gitu.”

“Ya terus gimana dong?!” Tak sadar bahwa nada tanyaku ketinggian. Ini pertama kalinya aku bicara seperti ini dengan Pak Bos yang aku segani sejak aku menginjakkan kaki pertama kali ke kantor ini. Pak Bos hanya diam melihatku tanpa ekspresi.

“Pak, Vanya marah sama saya karena masalah pribadi. Nggak etis rasanya jika dia menelepon Bapak hanya untuk memecat saya dari proyek ini.”

“Siapa yang mecat kamu?”

“Terus?”

“Saya cuma pengen bilang sama kamu, jangan ulangi kejadian ini lagi. Jangan bawa masalah personal ke dalam pekerjaan. Paham?”

Aku diam saja, menatap dan mengangguk padanya.

“Saya udah jelasin ke dia supaya ini cuma jadi masalah kita aja, nggak usah di blow-up ke timnya yang lain. Untungnya dia ngerti.”

Sungguh, aku ingin sekali mengatakan pada Pak Bos bahwa Vanya tak akan pernah mengerti sepintar apapun ia menjelaskan semuanya. Ia tak pernah tahu bagaimana Vanya menatapku sampai ia ingin menghancurkanku berkeping-keping.

“Sebagai hukuman karena kamu udah bikin masalah sama klien, kamu nggak boleh pulang cepat. Bantuin Rasya untuk pitching handbody Lovey Dovey. Bantuin sampai jadi untuk dipresentasikan besok.”

Aku diam seribu bahasa, sedangkan Pak Bos tak membutuhkan jawabanku sehingga ia pergi begitu saja.

Ingin sekali rasanya segera menelepon Magi atau Iman untuk mengutuk Vanya dan mengungkapkan perasaanku bahwa aku sangat membencinya. Tapi rasanya tidak mungkin untuk menghubungi mereka berdua. Fedi? Ia tak boleh tahu urusanku dengan Vanya, atau semuanya bisa runyam dan Vanya malah akan semakin menyerangku tanpa ampun.

Aga? Sedang apa ya dia? Di saat seperti ini aku butuh melihat senyumnya yang dapat mengangkat segala penyakit yang hinggap dan tak ada obatnya.

Tapi malang sekali jadi diriku, aku tak punya siapapun yang bisa mendengarkanku sekarang. Akhirnya, aku hanya bisa menangis dengan menenggelamkan wajahku kedua lengan yang terlipat di meja.

**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!