NovelToon NovelToon
Benang Merah Yang Patah

Benang Merah Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.

Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBANGUN DI ATAS ABU

Jakarta setelah badai konspirasi itu terasa seperti kota yang sedang terbangun dari mimpi buruk yang sangat panjang. Matahari pagi menyengat aspal jalanan Menteng yang masih menyisakan bekas garis polisi di depan reruntuhan kediaman Aksara. Bagi Vivien, setiap kali ia melewati gerbang itu, ia tidak hanya melihat dinding yang hangus; ia melihat akhir dari sebuah era dan awal dari sesuatu yang ia sendiri belum tahu namanya.

Di sebuah griya tawang (penthouse) baru di pusat Jakarta—bukan lagi milik Alfarezel Group, melainkan sebuah properti netral yang dibeli Vivien atas namanya sendiri—keheningan terasa sangat berat. Maximilian duduk di kursi roda di balkon yang luas, menatap cakrawala Jakarta yang berkabut. Bahunya masih dibalut penyangga, dan wajahnya yang dulu selalu terlihat angkuh kini tampak lebih tirus, dengan gurat-gurat kelelahan yang tak bisa disembunyikan oleh kekayaan mana pun.

Vivien melangkah keluar membawa nampan berisi teh hangat dan obat-obatan. Langkah kakinya kini lebih mantap, tanpa sepatu hak tinggi yang menyiksa, hanya alas kaki rumah yang sederhana. Ia mengenakan kemeja putih longgar, gaya yang jauh lebih santai daripada gaun-gaun mahalnya di Melbourne.

"Kau sudah duduk di sini selama tiga jam, Max," ucap Vivien pelan, meletakkan cangkir di meja kecil di samping Maximilian. "Dokter bilang kau harus banyak istirahat di dalam, bukan menantang polusi Jakarta."

Maximilian tidak menoleh. Matanya tetap terpaku pada gedung-gedung tinggi di kejauhan. "Aku tidak sedang menantang polusi, Vivien. Aku sedang mencoba melihat apakah aku masih mengenali kota ini tanpa rasa benci. Ternyata sulit. Setiap sudut jalan ini mengingatkanku pada laporan intelijen yang kubeli untuk menghancurkan ayahmu. Rasanya seperti mencoba melihat lukisan indah melalui kacamata yang sudah retak."

Vivien duduk di kursi di seberangnya. Ia mengambil tangan Maximilian—tangan yang kini tidak lagi memegang senjata, melainkan tangan yang terasa hangat dan nyata. "Mungkin itu masalahnya. Kau mencoba melihat masa lalu, bukan masa depan. Kita tidak bisa menghapus apa yang sudah terjadi, tapi kita bisa memilih untuk tidak membiarkannya mendikte sisa hidup kita."

Maximilian akhirnya menoleh. Tatapannya melunak saat melihat Vivien. "Kau bicara seolah itu mudah. Kau kehilangan rumahmu, namamu diseret ke publik karena Project Crimson, dan kau hampir mati karenaku. Bagaimana bisa kau tetap tenang seperti ini?"

"Karena aku sudah lelah untuk marah, Max," jawab Vivien dengan tulus. "Kemarahan adalah beban yang sangat berat. Aku sudah memikulnya sejak kau menculikku ke Melbourne, dan sekarang, setelah aku tahu kebenaran tentang Ayah, aku hanya ingin bernapas. Aku ingin membangun kembali Aksara Group, bukan sebagai alat kekuasaan, tapi sebagai warisan yang sebenarnya diinginkan Ayah: sesuatu yang berguna bagi orang banyak."

Diskusi mereka terhenti ketika pintu balkon terbuka dan Gideon masuk. Tangan kanan Maximilian itu kini tampil dengan perban di dahinya, namun tetap dengan setelan jas yang rapi. Ia membawa sebuah koper perak yang tampak berat.

"Maaf mengganggu, Tuan, Nyonya," Gideon membungkuk hormat. "Laporan dari tim likuidasi sudah selesai. Sebagian besar aset yang dibekukan oleh pemerintah dari para konspirator sudah mulai dialihkan ke dana kompensasi. Namun, ada satu hal yang memerlukan tanda tangan Anda berdua segera."

Gideon membuka koper itu dan mengeluarkan dokumen tebal. "Penggabungan resmi antara Alfarezel Group dan Aksara Group menjadi satu entitas baru: Alfarezel-Aksara International. Ini adalah wasiat terakhir yang sah secara hukum dari Alaric dan Aksara yang ditemukan di server rahasia kemarin. Mereka menginginkan satu perusahaan yang dikelola oleh kalian berdua secara setara."

Vivien dan Maximilian saling berpandangan. Inilah momen yang mereka takuti sekaligus harapkan. Penggabungan ini berarti mereka akan terikat selamanya—bukan hanya sebagai suami istri, tapi sebagai mitra dalam membangun kembali kehormatan keluarga mereka.

"Setara?" Maximilian membaca draf dokumen itu. "Artinya aku tidak memiliki kendali mutlak?"

"Benar, Tuan," jawab Gideon dengan nada sedikit jenaka yang jarang ia tunjukkan. "Nyonya Vivien memiliki hak veto atas setiap keputusan strategis. Ayah Anda memastikan bahwa jika salah satu dari kalian menjadi terlalu ambisius, yang lain bisa menarik rem."

Maximilian tertawa kecil, suara tawa yang masih terdengar nyeri karena luka di perutnya. "Tua bangka itu benar-benar tahu bagaimana cara mengaturku bahkan setelah dia meninggal." Ia menoleh pada Vivien. "Bagaimana menurutmu, Nyonya Veto? Apa kau siap bekerja denganku tanpa mencoba meracuni kopiku di ruang rapat?"

Vivien tersenyum tipis, sebuah senyum yang mencapai matanya. "Hanya jika kau berjanji untuk tidak memecat sekretaris yang tidak kau sukai dalam lima menit pertama. Kita akan melakukan ini bersama, Max. Tapi dengan syarat: Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi tim intelijen pribadi yang memata-matai hidupku."

"Setuju," ucap Maximilian tegas.

Namun, kedamaian itu hanyalah lapisan tipis di atas air yang masih bergejolak. Saat malam tiba, Jakarta kembali menunjukkan sisi gelapnya. Meskipun para pelaku utama sudah ditangkap, sisa-sisa dari Project Crimson masih berkeliaran di luar sana—orang-orang menengah yang merasa dikhianati dan kehilangan sumber kekayaan mereka.

Vivien sedang berada di perpustakaan griya tawang mereka, mencoba memilah buku-buku yang berhasil diselamatkan dari kebakaran, ketika ia merasakan firasat buruk. Lampu di lorong berkedip sesaat. Sistem keamanan pintar di dinding menunjukkan peringatan merah: Sensor perimeter di balkon utara terpicu.

Vivien segera berdiri. Ia tidak lagi menjadi wanita yang tak berdaya. Ia meraih sebuah alat kejut listrik yang diberikan Maximilian untuk perlindungan diri. Dengan langkah pelan, ia menuju ruang tamu.

Di sana, di tengah kegelapan yang hanya diterangi cahaya kota dari jendela besar, Maximilian sedang berdiri di depan kursi rodanya. Ia memegang sebuah benda di tangannya—bukan pistol, melainkan sebuah amplop hitam yang tergeletak di lantai, seolah baru saja dilemparkan melalui celah pintu darurat.

"Max? Apa itu?" tanya Vivien, suaranya sedikit gemetar.

Maximilian tidak menjawab. Ia membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat sebuah foto: sebuah gedung perkantoran tinggi di Singapura, tempat di mana ibu Vivien sedang menjalani perawatan medis. Di atas foto itu terdapat coretan tinta merah berbentuk lingkaran, dan satu kalimat singkat:

"Darah dibayar darah. Permainan baru dimulai."

Wajah Maximilian mengeras. Seluruh ketenangan yang baru saja ia bangun hancur berkeping-keping. "Mereka belum selesai, Vivien. Mereka mengincar ibumu."

Vivien merasa dunianya kembali berputar. Ibunya adalah satu-satunya anggota keluarga yang tersisa, satu-satunya alasan ia bertahan selama ini. "Kita harus ke Singapura sekarang, Max!"

"Tidak," Maximilian menarik Vivien ke dalam pelukannya, melindunginya dari jendela yang transparan. "Itu yang mereka inginkan. Mereka ingin kita keluar dari perlindungan gedung ini. Ibumu sudah aman—aku sudah memindahkan tim keamanan tambahan ke sana sejak dua jam yang lalu saat Gideon melaporkan ada aktivitas mencurigakan di bursa saham."

Maximilian menatap mata Vivien dengan intensitas yang mengerikan. "Dengar, Vivien. Kita mungkin sudah mendapatkan kebenaran, tapi kita belum mendapatkan kedamaian. Musuh-musuh ayah kita bukan hanya orang-orang di dalam rekaman itu. Ini adalah sindikat. Dan mereka tidak akan berhenti sampai kita berdua lenyap."

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Vivien, air matanya mulai menggenang. "Apa kita akan terus lari selamanya?"

"Tidak," Maximilian melepaskan pelukannya dan berjalan (dengan tertatih) menuju meja kerjanya. Ia menyalakan layar monitor besar yang menampilkan jaringan data global. "Kita tidak akan lari. Kita akan menggunakan Project Crimson untuk menyerang balik. Jika mereka ingin bermain di dalam kegelapan, kita akan membakar kegelapan itu hingga mereka tidak punya tempat untuk bersembunyi."

Malam itu, di tengah kemewahan griya tawang Jakarta, Maximilian dan Vivien menyadari bahwa pernikahan mereka yang diawali dengan kontrak kebencian, kini telah bermutasi menjadi sebuah pakta pertahanan hidup. Mereka bukan lagi sekadar pasangan; mereka adalah dua panglima perang yang harus memimpin imperium mereka melawan musuh yang tak terlihat.

Maximilian mengambil ponselnya dan menghubungi nomor yang sangat rahasia. "Bara? Aku tahu kau masih hidup dan bersembunyi di Jakarta Selatan. Aku butuh bantuanmu. Kali ini bukan untuk Aksara, tapi untuk kita semua. Benang merahnya sedang ditarik oleh seseorang yang lebih besar dari yang kita duga."

1
Panda%Sya🐼
Kebayang gimana gantengnya si Maximilian ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!