Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pecahan Kaca di Masa Lalu
Malam itu, badai pegunungan mengamuk dengan intensitas yang mengerikan. Petir menyambar puncak-puncak pinus, menciptakan kilatan putih yang menembus tirai beludru di ruang kerja Maximilian. Rebecca masih terduduk di meja besar, dikelilingi oleh tumpukan manifes kapal dan skema pencucian uang yang baru saja ia pelajari. Namun, perhatiannya teralih saat ia mendengar suara gelas pecah dari arah balkon dalam yang menghubungkan ruang kerja dengan kamar pribadi Max.
Rebecca berdiri, langkahnya hati-hati saat ia mendekat. Di sana, di tengah kegelapan yang hanya diterangi kilatan petir, ia menemukan Maximilian. Pria itu tidak lagi berdiri tegak dengan keangkuhan seorang Alpha. Ia terduduk di kursi kulit tua, napasnya berat dan tidak teratur. Gelas kristal di tangannya telah hancur, serpihannya berserakan di lantai marmer bersama tumpahan wiski yang tampak seperti darah di bawah cahaya redup.
"Max?" bisik Rebecca pelan.
Maximilian tidak menyahut. Matanya menatap kosong ke arah kegelapan di luar jendela, namun Rebecca tahu pria itu tidak sedang melihat badai. Ia sedang melihat sesuatu yang jauh lebih menakutkan di dalam ingatannya.
"Ada apa, Max? Apa yang terjadi sampai kau bersikap seperti ini?" tanya Rebecca semakin penasaran dengan yang terjadi pada Max.
Rebecca berlutut di depan Max, mengabaikan serpihan kaca yang mungkin melukai lututnya. Ia mencoba menyentuh tangan Max, namun pria itu tersentak, menarik tangannya seolah sentuhan Rebecca adalah api yang membakar.
"Jangan," suara Max serak, hancur, dan penuh luka yang tidak pernah ia tunjukkan pada dunia. "Pergilah, Rebecca. Aku... tiba-tiba saja aku ingin sendiri. Menjauhlah, ini bukan tempatmu."
"Aku tidak akan pergi dari sini," sahut Rebecca tegas. Ia menangkap tangan Max yang gemetar, memaksa pria itu untuk merasakan kehadirannya. "Kau baru saja mengajariku tentang kompleksitas duniamu. Kau bilang kita adalah satu. Jangan tutup pintu itu sekarang. Apa yang terjadi saat aku tak berada di dekatmu?"
Maximilian perlahan menunduk, menatap wajah Rebecca. Di bawah kilatan petir berikutnya, Rebecca melihat air mata yang tertahan di sudut mata pria yang dianggap iblis oleh musuh-musuhnya itu. Trauma yang selama ini terkunci rapat di balik topeng es Moretti mulai retak, mengeluarkan nanah luka lama yang tidak pernah sembuh.
"Kau melihatku sebagai penyelamat, bukan?" Max tertawa getir, sebuah tawa yang mencekik lehernya sendiri. "Tapi kau tidak tahu bagaimana aku menjadi seperti ini. Kau tidak tahu bau daging yang terbakar di mansion ayahku dua puluh tahun lalu."
Suara guntur menggelegar, dan Max seolah ditarik kembali ke malam kelam di Naples. Ia mulai bercerita, kata-katanya keluar seperti muntahan darah—pedih dan tak tertahankan.
"Ayahku bukan hanya seorang penguasa; dia adalah target. Musuh-musuhnya tidak datang untuk menembaknya di jalanan. Mereka datang ke rumah kami saat makan malam. Aku bersembunyi di dalam lemari dapur yang sempit, Rebecca. Aku melihat dari celah pintu bagaimana mereka mengikat ibuku di depan meja makan. Mereka tidak membunuhnya dengan cepat. Mereka ingin ayahku menyaksikan kehancurannya sebelum mereka membakar seluruh rumah itu."
Napas Maximilian memburu. Ingatan tentang asap yang menyesakkan dan teriakan ibunya yang memanggil namanya kembali menghujam jiwanya.
"Aku mencium bau itu setiap kali aku menutup mata," Max mencengkeram tangan Rebecca begitu kuat hingga jemari gadis itu memucat. "Itulah sebabnya aku sulit membuka diri. Itulah sebabnya setiap kali aku merasa terlalu mencintaimu, aku ingin mendorongmu menjauh. Karena di duniaku, mencintai seseorang berarti memberi musuhmu sebuah peta menuju jantungmu. Aku takut... aku takut jika aku membiarkanmu terlalu dekat, sejarah itu akan terulang. Aku takut akan melihatmu hancur di meja makan yang sama."
Rebecca merasakan hatinya remuk mendengar pengakuan itu. Ia kini memahami mengapa Max begitu posesif, mengapa ia sering kali memasang dinding dingin tepat setelah mereka melewati momen intim, dan mengapa Max begitu terobsesi melatihnya menjadi seorang pembunuh. Itu bukan karena Max tidak percaya padanya, tapi karena Max sedang berperang dengan ketakutannya sendiri—ketakutan kehilangan satu-satunya cahaya yang tersisa di hidupnya.
"Max, lihat aku," Rebecca menangkup wajah Maximilian, memaksa pria itu menatap matanya. "Aku bukan ibumu. Aku bukan wanita lemah yang bisa diikat dan dihancurkan tanpa perlawanan. Kau sendiri yang melatihku. Kau yang memberiku pedang, busur, dan senjata ini."
Rebecca menuntun tangan Max ke arah jantungnya yang berdegup kencang. "Traumamu adalah bagian darimu, tapi itu bukan masa depan kita. Jika mereka datang untuk membakar rumah ini, aku tidak akan bersembunyi di dalam lemari. Aku akan berdiri di sampingmu, memegang senjata yang sama, dan kita akan memadamkan api itu dengan darah mereka."
Maximilian menatap Rebecca lama sekali. Kejujuran dan keberanian di mata gadis itu perlahan-lahan meruntuhkan benteng pertahanannya yang terakhir. Ia menyadari bahwa dengan mencoba melindungi Rebecca melalui jarak emosional, ia justru melukai wanita itu dengan cara yang berbeda.
"Aku menghabiskan dua puluh tahun untuk memastikan tidak ada seorang pun yang bisa menyentuh perasaanku," bisik Max, suaranya mulai stabil namun penuh kelelahan. "Aku membangun Moretti sebagai perisai. Tapi saat aku melihatmu di Grand Astoria, saat Bianca menghinamu... aku menyadari bahwa perisaiku gagal. Aku lebih takut kehilanganmu daripada takut pada kematian itu sendiri."
Rebecca memeluk leher Maximilian, menarik kepala pria itu untuk bersandar di bahunya. Di ruang kerja yang sunyi itu, hanya terdengar suara hujan dan detak jantung mereka yang bersahutan. Maximilian melepaskan napas panjang yang seolah telah ia tahan selama dua dekade. Ia membalas pelukan Rebecca dengan erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu, membiarkan dirinya menjadi rentan untuk pertama kalinya.
"Jangan pernah mendorongku menjauh lagi, Max," bisik Rebecca. "Beban masa lalumu terlalu berat untuk kau panggul sendirian. Berbagilah denganku. Biarkan aku menjadi tempatmu beristirahat dari monster-monster di kepalamu."
Malam itu, luka lama yang terbuka tidak membawa kehancuran, melainkan sebuah ikatan yang lebih dalam. Maximilian menyadari bahwa membuka diri bukanlah sebuah kelemahan, melainkan keberanian tertinggi yang bisa dilakukan oleh seorang penguasa mafia. Di bawah langit pegunungan yang masih mengamuk, Max akhirnya memahami bahwa untuk menjaga cintanya tetap hidup, ia tidak perlu membangun dinding—ia hanya perlu memastikan bahwa mereka berdua memiliki senjata yang cukup kuat untuk menjaga gerbangnya.
Trauma itu masih ada, namun kehadirannya tidak lagi mencekik. Dengan Rebecca di sampingnya, Maximilian merasa siap untuk menghadapi bayang-bayang dari Naples yang mungkin akan datang menagih janji. Ia bukan lagi anak kecil di dalam lemari; ia adalah Maximilian Moretti, dan ia memiliki seorang ratu yang sanggup menanggung beban kegelapannya.
𝐰𝐚𝐥𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐛𝐢𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠 𝐤𝐫𝐧 𝐦𝐚𝐱 𝐮𝐝𝐡 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐤𝐨𝐤 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐥𝐠 😭😭😭
𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐛 𝟗𝟖 𝐦𝐚𝐱 𝐮𝐝𝐡 𝐝𝐢𝐣𝐦𝐩𝐭 𝐝𝐠𝐧 𝐡𝐞𝐥𝐢 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐦𝐮𝐢 𝐜𝐚𝐩𝐨𝟐 𝐭𝐮𝐚 𝐲𝐠 𝐦𝐬𝐡 𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐢𝐤𝐮𝐭 𝐝𝐥𝐦 𝐤𝐞𝐧𝐝𝐚𝐥𝐢 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚, 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐣𝐮 𝐤𝐞 𝐭𝐦𝐩𝐭 𝐦𝐚𝐱 𝐝𝐢 𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐱 𝐛𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐱 𝐛𝐚𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐭𝐩 𝐣𝐠 𝐧𝐠𝐞𝐫𝐢, 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐦𝐫𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐩𝐞𝐥𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐧𝐤𝐞𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐛𝐫𝐢𝐤𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐝𝐢𝐥𝐞𝐝𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐒𝐜𝐚𝐫𝐥𝐞𝐭 𝐫𝐨𝐬𝐞́ 🤔🤔🤔
𝐤𝐨𝐤 𝐝𝐢𝐣𝐦𝐩𝐭 𝐥𝐠 🤔🤔
𝐚𝐪 𝐣𝐝 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧-𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐨 𝐚𝐪 𝐛𝐬 𝐣𝐝 𝐤𝐲𝐤 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚, 𝐚𝐪 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐧𝐮𝐡 𝟏 𝐩𝐞𝐫𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐤𝐨𝐫𝐮𝐩𝐭𝐨𝐫 𝐈𝐧𝐝𝐨𝐧𝐞𝐬𝐢𝐚🤪🤪🤪
𝐠𝐞𝐦𝐞𝐬 𝐚𝐪 𝐤𝐨𝐤 𝐦𝐬𝐭𝐢 𝐧𝐲𝐚𝐫𝐢 𝐦𝐮𝐬𝐮𝐡 🥺🥺🥺