Cerita tentang Najma, gadis 24 tahun yang sedang mengusahakan hidupnya untuk jadi semenarik mungkin. Tapi, bayang-bayang masa lalu dari cowok di masa kuliahnya, serta persahabatan yang kandas karena cinta segitiga buat Najma harus menghindar dari segalanya. Tanpa Najma sadari, ada cowo aneh yang ngejar Najma dan buat hidupnya jadi tarik-menarik beneran
Najma dan Fedi yang Menyukainya
“Thanks, Najma. Lo beneran nggak mau gue antar pulang?”
Aku menggelengkan kepala pada Rasya, pria imut yang sebenarnya lebih tua satu tahun dariku. Cukup melelahkan juga mengerjakan event roadshow untuk produk kecantikan di tiga kota besar dan sepuluh kota pinggiran di pulau Jawa. Walaupun aku seorang perempuan, rasanya sulit untuk menaruh sudut pandang sebagai salah satu target segmentasi produk ini. Aku tak suka hand body lotion dengan kemasan plastik ringan dan kecil yang memiliki penutup sehingga praktis dibawa-bawa. Tapi, untunglah Rasya lebih mengerti perasaan para perempuan segmentasi ini sehingga aku tinggal membantunya untuk mengisi konten-konten acara.
Aku beranjak keluar gedung dan bersiap untuk mencari bis kota, atau taksi berhubung ini sudah jam sebelas malam. Kulihat jalanan masih ramai lancar, walaupun kendaraan umum sudah cukup banyak yang menghilang.
“Najma.”
Aku menoleh ke belakang dan melotot sesudahnya.
“Ngapain disini, Fedi?”
Ia mendekatiku sambil memberi satu kantong makanan, “gue beli makanan, nih. Kita makan, yuk!”
“Kok lo nggak ngabarin kalau mau ke sini?” Tanyaku masih pada posisi yang sama.
“Gue bosan di rumah dan lo bilang mau lembur sampai malam. Jadi, begitulah.” Jawabnya sambil menarik tanganku. Ia membawaku ke suatu tempat di dekat gedung yang memiliki bangku taman dan lampu temaram. Disebabkan sudah cukup larut, tempat yang biasanya selalu penuh dengan gerombolan karyawan yang nongkrong sambil bercanda tawa kini sepi tak berpenghuni.
“Ngerjain apalagi sampai lembur semalam ini?”
“Ini belum malam. Gue pernah pulang jam tiga pagi.”
“What? Pekerjaan macam apa yang membuat lo pulang pagi?”
“Pekerja kreatif sudah biasa, Fedi. Itulah realita.”
“Sebenarnya, ada satu realita yang lo ngga sadari.”
“Apa?”
“Realita kalau gue menganggap lo sebagai teman, teman hidup.”
Aku langsung membeku, bahkan sorot mataku langsung mati dan dua bola mataku berubah menjadi hitam, seperti alien.
“Halo, Najma. Yuhuuu…”
“Becanda, ya?” tanyaku, akhirnya. Di dalam hati, aku memohon agar ia serius dan tidak menjadikan pernyataannya sebagai gurauan belaka.
Tapi, kenapa?
“Nggak lucu banget kalau jenis lawakan gue seperti itu. You lame.”
“Maksudnya lo suka sama gue?”
“Iya.” Jawabnya kembali dengan pandangan intens. Aku menutup kedua mataku saking gugupnya.
“Tapi gue suka sama orang lain.”
“I know. But I don’t care.”
Aku langsung membuka mataku, memandanginya. Memperhatikannya begitu detil untuk meyakinkan bahwa ia sungguh-sungguh dengan perkataannya barusan.
“Walaupun lo suka sama orang yang ngga gue ketahui identitasnya itu, gue nggak peduli. Asal gue bisa bersama lo, rasanya sudah cukup. Hehe.”
Najma dan Aga di sebuah café susu.
“Kamu ngapain sih?” tanyaku risih dengan Aga yang terus menatapku sambil tersenyum.
“Nggak tahu, senang aja lihat kamu kayak gini.”
Aku melihat sekitar, berusaha keras agar wajahku tidak kepanasan karena sudah memerah pekat dan tak kunjung selesai.
“Apa yang bikin kamu suka sama aku, sih?”
“Karena nama kamu Najma.”
“Maksudnya?”
“Artinya bintang, kan? Sekarang aku ngerti kenapa kamu begitu bersinar.”
“Pret.”
“Ahaha! Kamu sendiri, kenapa suka sama aku?”
“Karena … nggak tahu. Menurutku, cinta itu nggak butuh alasan.”
“Yap, kamu benar. Bersama kamu aja seperti ini, aku sudah merasa cukup. Aku nggak butuh apa-apa lagi.”
“Yang bener?” tanyaku menggoda. Aga hanya tertawa.
“Mari kita selalu berdoa agar bisa saling memiliki. Suatu hari, aku akan bersama kamu sehingga kita bisa bepergian ke semua tempat yang sudah kamu cita-citakan. Kita bisa melakukan apapun yang kita suka tanpa merasa bersalah kepada siapapun.”
“Iya, kita akan bersenang-senang tanpa harus menyakiti seseorang.” Ucapku juga kepadanya.
Lalu, jari kelingkingku dan Aga bertautan, tanda janji kami sudah diikat dan tidak bisa diganggu gugat.
Kembali ke masa kini
“Sabtu kita jalan-jalan yuk. Gue nggak sabar untuk berpetualang sama lo.”
“Kemana, nih?” tanyaku sambil melihat Fedi yang berdiri dan sangat antusias.
“Kita ke air terjun, yuk.”
“Kalau sore biasanya tutup loh.”
“Siapa bilang sore? Kita bolos kursus aja!”
“Hah?”
“Kenapa? Lo takut? Hey, challenging yourself. Be stupid, don’t overthink. Lo sendiri loh yang nulis itu.”
Fedi, kamu tahu? Sudah berapa kejadian yang berimbas akibat kebodohanku akhir-akhir ini?
“Tapi harus bolos, ya? Gue bayar biaya kursus pakai uang sendiri, loh! Jadi, sayang kalau nggak masuk sehari aja.”
“Lo pikir gue nggak pakai uang sendiri?” tanyanya sambil duduk dan mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku mundur sejenak karena sikapnya kini sudah begitu terbaca olehku.
“Iya deh. Gimana kalau gini aja? Kita kursus sampai jam istirahat, terus udah gitu kabur?”
Fedi tersenyum lebar hingga giginya terlihat putih sekali. Lama-lama aku iri pada susunan giginya yang super rapi dan putih itu.
“Oke!” sahutnya semangat dan menawarkan telapak tangannya padaku, aku tak mengerti.
“High five, would you?”
Akhirnya aku mengerti dan membalasnya kencang. Fedi kesakitan tapi sepertinya ia malah senang.
**
Daftar Jidat nomor sembilan: berpetualang.
Waktu jam makan siang yang biasanya dihabiskan di tepi danau dengan bekal kini dipakai untuk bepergian ke suatu tempat yang cukup jauh dari lokasi kursus. Hari ini Fedi membawa skuternya sehingga aku dan Fedi bepergian dengan memakai kostum khusus agar kami berdua tidak berakhir masuk angin. Bagaimanapun penampilannya, aku selalu merasa seperti menjadi manajer Fedi yang sedang membawakan acara jelajah petualang. Walaupun kini ia jelas sudah mengungkapkan perasannya padaku, aku masih tak bisa menyamakan persepsi bahwa ia juga merupakan teman hidup untukku. Yap, aku belum bisa menganggapnya begitu. Keberadaan Aga di dalam hidupku terlalu besar.
Tapi, hari ini terlalu menakjubkan untuk membandingkan Aga dan Fedi.
Aku mengunyah permen karet pemberian Fedi sambil menikmati jalanan yang mulai dingin karena kami menuju daratan yang cukup tinggi dibanding sebelumnya. Dengan tas gendong biru di punggung, aku duduk mendekat kepada Fedi yang begitu santai mengemudikan skuter putihnya. Aku bernyanyi dan melambaikan tangan sesekali kepada orang-orang yang memperhatikan kami. Fedi juga sesekali membetulkan kaca spion dan memandangku dari refleksi yang terlihat dari sudut pandangnya. Aku hanya bisa tersenyum senang ke arahnya lalu meneruskan nyanyianku yang cukup kencang terdengar di tengah angin yang menyerang kami dari arah depan.
Aku merasa kembali hidup.
Kami sudah sampai di sebuah curug yang tak jauh dari Jakarta. Dengan bekal seadanya, termasuk pakaian ganti dan makanan, kami siap untuk berteman dengan alam yang bisa kami nikmati hanya dengan membayar Rp 15.000 per orangnya.
Dengan sedikit berjalan menanjak, kami tiba di air terjun yang tidak terlalu tinggi, namun cukup memuaskan hati kami yang rindu dengan suara air yang mengucur alami seperti ini. Fedi dengan seenaknya membuka baju dan sepatunya di depanku, lalu menyebur dan hilang sejenak di kedalaman air yang tak bisa kuterka. Aku mencarinya sejenak karena khawatir apakah ia sudah mati, tapi ternyata tidak. Ia masih hidup dan begitu ceria. Ia menarikku yang masih memakai setelan lengkap dengan sepatu oxford hitam dan kaos kaki merah. Aku basah kuyup tanpa bisa menghindar.
“WOY! Basaaaaah!”
“I know! Ngapain ke sini kalau nggak mau basah?”
“Iya, tapi kan gue bisa buka sepatu dulu, kali! Lihat, sekarang sepatu gue udah kebasahan! Tanggung jawab!”
Fedi hanya diam menatapku, ia keheranan melihatku yang berteriak kesal kepadanya.
Aku mencepol rambutku yang panjang dengan tali yang sedari tadi ada di pergelangan tangan, lalu kubuka cardigan hitamku dan kutaruh di bebatuan terdekat. Aku langsung masuk dan menyelam ke dalam air hingga Fedi kebingungan dan melihat pergerakanku dalam air.
“WUAAAA!” jerit Fedi maksimal. Aku tertawa terbahak-bahak.
“Ahahaha! Rasain tuh, emang enak!”
Iya menatapku sebal, tak suka aku sudah menggelitiknya dari bawah air.
“Gue boleh kelitikin balik?”
“Enak aja!” seruku sambil melempar rintikan air padanya, tapi Fedi tetap berenang menuju posisiku berada. Aku waspada dan terus menyerangnya dengan air sambil tertawa.
Kami berdua berjalan di bebatuan hendak menuju pusat bawah air terjun. Rencana kami berdua adalah bermeditasi di bawah curahan air terjun yang tidak terlalu besar volumenya. Karena batu-batunya cenderung licin, Fedi menuntunku dan memegang tanganku kencang hingga aku merasa aman melangkah setelahnya. Kami sudah sampai di pusat batu di mana air terjun jatuh dan memecahkan airnya menjadi tirai-tirak kecil yang membuat tubuh merasa seperti dipijat refleksi. Aku mengikuti gerakan Fedi yang duduk menyila dan menyilangkan kedua tangan di dada. Fedi memandangku di antara pecahan air yang menghalangi kami, namun bisa kulihat bahwa ia menyuruhku untuk menutup mata dan mendengarkan suara lingkungan.
Aku dan Fedi terserap oleh semua komponen alam yang bersinergi di sekitar kami.
Setelah cukup lama diam di bawah curahan air terjun, aku mengajak Fedi untuk sama-sama loncat ke tempat di mana kami merasa cukup aman untuk menjatuhkan diri. Fedi kembali memegang tanganku dan mendekatkan diriku kepadanya.
“Are you ready?”
“Untuk?”
“Nyeburlah. Jangan lupa teriak dan sebut nama gue.”
“Biar apa?”
“Just because. Yuk, satu …. Dua … tiga ….”
Kami berdua loncat dari batu yang cukup tinggi itu menuju muara. Untungnya, aku dan Fedi selamat walau sempat panik karena ternyata muara air tempat kita menyebur cukup dalam hingga aku tak bisa berpijak. Tapi, setelah kepala kami berdua muncul ke permukaan, kami saling menertawakan diri masing-masing dan kembali berenang menuju batu di mana kami menaruh semua barang-barang kami.
“Thanks!”
“Untuk?”
“Teriakkin nama gue di saat lo loncat tadi. Gue seneng loh.”
“Thanks juga.”
“Untuk?”
“Karena lo juga teriakkin nama gue.”
Fedi tersenyum dan membantuku naik ke daratan.
**
Karena kondisi sepatu dan kaos kaki yang basah, akhirnya aku hanya bertahan dengan sandal jepit warna oranye yang dibelikan Fedi dari warung dekat lokasi air terjun. Ia juga bertanggung jawab untuk membawa tas gendongku yang beratnya diluar rencana (karena ada sepatu yang basah di dalamnya) sehingga beban tubuhnya menjadi tiga kali lipat, ditambah dengan tas gendong biru tuanya yang juga basah karena sempat terjatuh di genangan air terjun ketika ia berganti pakaian.
“Gue ingin berterima kasih karena sudah membawa tas gue, tapi berhubung itu adalah hukuman jadinya nggak jadi.”
“It’s okay, terima kasih udah kasih informasi tentang niat lo.”
Kami berjalan menuju tukang jagung bakar yang letaknya cukup terjal sehingga butuh usaha ekstra untuk berjalan menanjak dengan bawaan Fedi yang penuh di kedua bahunya. Sebagai teman yang baik, aku wajib membantunya dengan mendorong punggungnya menuju puncak hingga tibalah kami di tempat tukang jagung bakar.
“Bang, dua jagung bakar ya! Jangan lupa pakai saos!” Seruku setengah berteriak pada Abang Jagung lalu menoleh pada Fedi, “lo nggak apa-apa kan, kalau makan di jalan raya kayak gini?”
“Iyalah. Jangan mengolok gue cuma karena gue nggak pernah makan jagung bakar sebelumnya!”
Aku tertawa, “gue pikir kan lo sama kayak Vanya. High maintanance.”
“Wah, sembarangan. Itu adalah hinaan yang paling menyakitkan hati.”
“Oke, saya minta maaf ya, Pak. Tak akan pernah diulangi lagi.”
Fedi duduk dan menarikku yang berdiri di dekatnya karena sibuk memandang langit yang penuh dengan kabut menutupi pemandangan hingga radius pandang hanya lima ratus meter.
“Lo pikir gue layangan kali, ya. Main tarik-tarik aja.”
“Iya. Lo layangan. Sama lo, gue harus tarik ulur agar tetap bisa memandang lo dan merasa aman.”
“Yasek.”
“Reaksi macam apa itu? Lo kok sering mengeluarkan bahasa tabu yang nggak gue pahami, sih?”
Sekali lagi, aku hanya menertawakannya.
“Apapun yang gue bilang tentang lo, ingat bahwa semuanya adalah serius.”
“Oh, ya?”
Dua jagung bakar datang menghampiri kami berdua. Aku langsung melahapnya dengan senang hati dan sempat lupa bahwa aku sedang bersama Fedi, si mulut kejam yang bisa saja mengomentari perilaku yang aku lakukan saat ini, bahwa aku tak memiliki geliat ayu nan lembut jika sedang melahap makanan. Kulirik Fedi hati-hati, dan aku salah menilai. Ia lebih liar daripada macan yang baru menangkap mangsa impala, rakus dan langsung jadi manusia anti sosial.
“Kenapa?” tanyanya seraya menunda kunyahan di mulutnya yang penuh dengan jagung.
“Nggak apa-apa.” Jawabku melanjutkan kunyahanku juga.
“It’s a perfect day. Kita berpetualang tanpa gangguan dan berakhir dengan jagung bakar yang matang dengan sempurna.”
“Setuju.” Jawabku lagi terus menggerogoti jagung bakar yang nyaris habis tak berkulit.
Kami berdua menikmati hawa udara yang makin mendingin dan memandangi pemandangan lampu kota dari kejauhan yang begitu terang menyala. Aku kemudian menoleh pada Fedi yang ternyata memiliki tatapan di objek yang berbeda, ia mendongak ke atas dan tersenyum kepada para bintang yang cukup berserakan di langit yang biru gelap.
“Lo suka bintang?”
“Suka bukan kata yang tepat, tapi lo bisa menyebutnya obsesi.”
“Wah, obsesi! Lo memandang dan tersenyum sama mereka semua seolah-olah mereka tahu tentang rahasia lo, ya?”
Fedi kemudian memandangku dan kembali memandangi satu bintang yang paling terang.
“By the way, nama gue artinya bintang dalam bahasa arab. In case you wanna now.”
Fedi kemudian menatapku tak percaya, seperti terkesima, “sekarang gue tahu kenapa gue begitu obsesi sama lo.”
“What? Nggak mungkin kalau lo terobsesi sama gue. Gue nggak percaya.”
“Ya, lo nggak tahu aja selama ini gue selalu di dekat lo.”
“Hah?”
Fedi membenarkan posisi duduknya yang kini tepat menghadapku, “momen di saat lo sendirian di kelas dan melamun sambil menulis selama tiga puluh menit, lo inget? Gue ada di situ. Lo cuma terlalu fokus sama kesedihan lo sehingga lo nggak sadar bahwa ada orang yang memperhatikan lo.”
“Kapan?”
“Hari sebelum adegan lo nguping itu, hari di mana gue menolak Vanya ratusan kalinya.”
“Oh.” Aku langsung ingat saat-saat itu. Saat di mana aku baru bertengkar dengan Magi dan Iman. Saat paling gelap dalam hidupku.
“Lalu, ketika lo menghampiri Vanya di foodcourt dan ketemu gue, ketika lo argumen sama Vanya di lift. Gue lihat semuanya.” Terangnya terkekeh.
“Jadi, lo tahu gue sama Vanya sedang tidak berhubungan baik?”
“Gue sih sudah menduga dari pertama dia ngajak lo pulang bareng naik kereta.”
“Makanya lo mau ikut?”
Fedi mengangguk lembut. Ia kemudian menatapku, “lo hebat karena nggak pernah mengeluhkan Vanya ke gue selama ini. Gue salut sama lo. Meski dia adalah jenis manusia yang sulit dikontrol, tapi lo membuktikan bahwa lo juga bukan cewek biasa. Gue hanya berjaga-jaga kalau lo sedang bersama Vanya. Tindakan dia kan unpredictable. Gue selalu bertanya sama Mbak Esya kapan aja lo datang ke Sambung.”
Aku hanya melongo dibuatnya. Jika Vanya adalah orang gila, Fedi adalah seorang penguntit profesional.
“Kenapa?” tanyanya lagi setelah melihatku terus menatapnya.
“Kayaknya lo bohong deh sama gue.”
“Bohong apa?”
“Nggak mungkin rasanya kalau lo belum pernah punya teman. Untuk perlakuan lo yang nggak pernah kikuk menarik tangan gue seenaknya dan juga cara bicara lo yang penuh penghakiman sama gue sebelumnya, gue nggak yakin kalau lo adalah jenis orang yang susah bergaul.”
Fedi diam dan menatap langit untuk menghindari pandanganku.
“Bener kan? Dasar tukang bokis!”
“Hei, sekarang gue tau artinya bokis, ya! Jadi berhenti ngomong gitu sama gue.” Fedi merengut dan kembali duduk menghadap pemandangan lampu kota, “yea, gue pernah punya temen sebelumnya. Pacar juga.”
“Yeee, tuh kan! Lo sebenarnya adalah manusia normal. Untuk apa lo bohong sama gue segala?”
“Untuk menghindari rasa simpati yang lo punya untuk gue.”
“Maksudnya?”
“Gue memang punya teman dari kecil. Gue suka main ke rumahnya dan kita benar-benar tumbuh jadi dewasa bersama. Gue ngerasa gue udah nggak butuh teman yang lain karena bersama dia semua udah komplit.”
“Terdengar seperti masa lalu yang indah, ya? Jadi, sekarang dia di mana?”
“Udah meninggal.”
Aku terkejut dalam makna sebenarnya. Baru kudengar Fedi begitu sedih dan merana. Pasti orang ini sangat berarti baginya.
“Maaf, gue ikut berduka. Dia meninggal kenapa?”
“Kecelakaan mobil, terjadi ketika jemput adiknya.”
Aku hanya diam dan berusaha untuk terus mendengarkannya.
“Dia kakaknya Vanya, namanya Bima. Mereka berdua hanya berselang dua tahun. Jadi, sekarang jangan heran kalau gue dan Vanya terlihat lebih dekat dari seharusnya.”
Ucapan Fedi barusan benar-benar mengejutkanku hingga aku tak bisa berkata-kata. Aku tak pernah berniat untuk menanyakan tentang Vanya dalam hidup Fedi, meskipun ingin sekali. Aku tahu dari matanya bahwa Vanya adalah satu-satunya hal yang tak menarik minatnya untuk dibahas dan akhirnya aku biarkan saja ribuan pertanyaan yang bergumul di kepala tentang Vanya dan dirinya tak terjawab hingga saatnya tiba.
Dan saat itu betul-betul ada.
“Gue belum terlalu ikhlas dia pergi gitu aja. Kalau aja Vanya nggak usah ngambek dan kabur dari rumahnya saat itu, Bima nggak usah repot cari dia dan jemput dia larut malam. Vanya juga sempat koma, tapi dia selamat. Yang gue nggak pernah maafkan dari Vanya adalah bahwa dia nggak merasa bersalah sedikitpun, bahkan merasa kehilangan kakaknya. Dia bilang kalau dia masih punya gue. Sejak saat itu, dia selalu ngikutin gue kemana pun gue pergi. Dia nggak pernah membiarkan siapapun mendekati gue, bahkan di Perth sekali pun. Orang-orang yang mencoba berteman sama gue menjauhi gue tanpa sebab. Belakangan gue tahu kalau gue tetap diawasi oleh Vanya dari kejauhan. Mereka ngerasa nggak aman berteman sama gue. “ Fedi menatapku berkaca-kaca, aku pun ikut menangis mendengarnya. Tapi segera kuhapus agar Fedi tidak menggodaku, walaupun aku tahu ia tak akan melakukannya.
“Satu-satunya pacar yang pernah gue punya, dia ninggalin gue karena Vanya juga mengganggunya. Padahal posisi kita berdua sedang di Perth dan Vanya di Singapura. Gue nggak tahu sebanyak apa dia menghabiskan uang hanya untuk membayar orang untuk ngawasin gue.”
“Menurut gue, dia nggak akan pernah berhenti untuk terus mengganggu lo dan semua orang yang dekat sama lo sampai tujuannya tercapai.”
Fedi menatapku nanar, “apa lo mau ninggalin gue juga?”
Aku diam membisu. Tak terasa air mataku mengalir lebih deras dari sebelumnya.
“Najma.” Lirihnya seakan meminta aku menjawab pertanyaannya.
“Lo tahu, sebelumnya gue juga punya kisah naas yang harus mempertemukan gue sama cewek yang gilanya mirip-mirip Vanya. Gue jadi berpikir, apakah gue adalah perempuan yang nggak baik sampai harus terus berhadapan sama cewek freak yang begitu obsesi dengan cowok yang dekat sama gue? Ataukah ini adalah tantangan yang harus gue lewati karena gue adalah perempuan yang pernah meminta sama Tuhan untuk diberi hidup yang begitu menarik? Gue rasa jawabannya adalah yang kedua.” Ujarku tersenyum padanya, Fedi membalas senyumanku dengan wajah sedihnya.
“Vanya pasti terus akan mengganggu gue. Gue sadar betul akan hal itu. Tapi, gue juga bukan perempuan yang gampang untuk dilawan. Gue super keras kepala dan nggak gampang menyerah. Jika memang gue harus membebaskan lo dari kekangan dia selama bertahun-tahun, gue kira gue mampu untuk melakukan itu walau sedikit makan waktu sih.”
Fedi tiba-tiba memelukku, aku membeku.
“Fedi, jangan kenceng-kenceng. Gue sesak.”
Fedi melepaskan pelukannya dan tersenyum super lebar.
“Apa?” tanyaku melihat pandangannya padaku, seperti tampak ingin mengatakan sesuatu.
“Terima kasih.”
“Untuk?”
“Telah hadir di dunia ini.”
Cukup, Fedi. Kamu mulai terdengar seperti Aga.
**