NovelToon NovelToon
THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Nia Rmdhn

Rian, cowok populer ber-skill indigo, effort banget ngejagain Arini yang amat dicintainya lewat penglihatan masa depan yang nggak pernah fail.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KONTRAK CINTA DI ATAS MATERAI

Bel pulang sekolah berbunyi nyaring, menandakan berakhirnya pelajaran hari itu. Rian sudah bersiap di depan gerbang, duduk tenang di atas motornya sambil menahan sedikit rasa perih di kakinya.

Arini keluar dari kelas bersama teman-temannya. Ia melambaikan tangan dengan ceria. "Dah! Hati-hati ya, guys!" serunya kepada Siska dan Yusa.

Dari kejauhan, Rian berteriak memanggilnya. "Arin!"

"Rian!" balas Arini sambil setengah berlari menghampiri Rian yang sudah menunggunya di luar gerbang sekolah.

"Sebelum pulang, mau ke rumahku dulu? Bunda mengajak makan bareng," ajak Rian dengan senyum ramah.

Arini tampak terkejut sekaligus senang. "Ke rumah kamu? Ya sudah, tapi aku izin dulu ya sama Mama biar dia ga nyariin," jawabnya sambil merogoh ponsel.

"Iya," Rian menunggu dengan sabar.

Tak butuh waktu lama, Arini mengangguk. "Sudah, aku sudah izin. Yuk, mau berangkat sekarang?"

"Ayo naik. Peluk saja ya, Arini. Takut kamu jatuh," goda Rian sambil melirik dari kaca spion.

Plak! Arini menepuk bahu Rian dengan gemas. "Yee... modus kamu!"

Rian tertawa renyah. "Dih, bukan modus! Ini kan demi keselamatan kamu juga. Kalau tiba-tiba nanti aku menengok dan kamu sudah tidak ada di belakang bagaimana?"

"Apa sih kamu itu, Rian, Rian... ya sudah ayo kita jalan!" Arini akhirnya naik ke boncengan motor.

"Oh iya, Arin. Sebelum kita ke sana, kita belanja dulu yuk. Mama kan mau mengajak makan bareng, jadi biar dia masak dulu," ajak Rian saat motor mulai melaju membelah jalanan.

"Ya sudah, aku ikut saja," jawab Arini santai.

Motor Rian berhenti di sebuah pasar tradisional. Mereka berjalan beriringan menuju tukang sayur.

Tanpa bertanya, Rian langsung mengambil bahan-bahan untuk sayur asem. Dalam benaknya, sebuah bayangan samar telah memberitahunya bahwa itu adalah makanan favorit gadis di sampingnya.

Arini heran. "Kenapa kamu beli sayur asem?"

Rian menoleh dan tersenyum misterius. "Aku tahu kamu suka ini. Jadi, aku mau Bunda masak ini khusus buat kamu,".

Arini tertawa kecil, merasa takjub. "Dari mana kamu tahu?"

"Ya dari penerawangan aku dong," jawab Rian bangga.

"Wah, memang makin hebat ya kemampuan menerawang kamu!" puji Arini dengan mata berbinar, mulai benar-benar percaya pada keajaiban cowok di depannya itu

Sesampainya di rumah Rian, Ibu Rian langsung keluar menyambut dengan wajah berseri-seri. "Ah, si cantik akhirnya ke sini lagi!" seru Ibu Rian bahagia melihat kehadiran Arini di depan pintunya.

Arini tersenyum sopan sambil menyalimi tangan Ibu Rian. "Iya, Bunda. Memang benar Bunda mengajak Arin makan bareng?" tanya Arini memastikan.

"Benar dong, Bunda sendiri yang minta Rian ajak kamu," jawab Ibu Rian mantap.

Rian menyodorkan kantong plastik berisi belanjaan dari pasar tadi. "Rian sudah belikan itu, Bun. Sayuran kesukaan Arini," ucap Rian sambil melirik Arini yang tampak tersipu.

"Wah, anak Bunda memang peka ya" puji Ibunya sambil mengambil belanjaan itu. "Ya sudah, kalau begitu Bunda masak dulu. Kalian tunggu di sini ya, jangan nakal," goda Ibu Rian sebelum melangkah ke dapur.

Arini dan Rian kemudian duduk berhadapan di meja makan. Suasana mendadak menjadi sedikit canggung namun manis.

"Rin, bisa kamu keluarkan buku tulis dan pulpen?" pinta Rian tiba-tiba.

Arini heran. "Buat apa?"

"Sudah, keluarkan saja dulu," paksa Rian dengan wajah serius yang dibuat-buat.

Arini akhirnya merogoh tasnya dan memberikan apa yang diminta Rian. "Nih,".

Rian mulai menggoreskan pulpen di atas kertas putih itu. Ia menuliskan sebuah kalimat yang membuat jantungnya sendiri berdegup kencang: "Apa kamu mau jadi pacar aku? Aku akan meramal setiap hal yang terjadi setiap hari saat bersamamu."

Rian menggeser buku itu ke hadapan Arini. "Nih, kamu baca ya,".

Arini membaca tulisan itu dan seketika tertawa kecil. Wajahnya merona merah hingga ke telinga. "Kamu ada-ada saja deh, Rian. Lucu banget," ucapnya sambil menggelengkan kepala.

Tanpa ragu, Arini mengambil pulpen dan menuliskan balasannya di bawah tulisan Rian: "Iya, aku mau. Dan aku juga siap diramal kamu setiap hari." Ia memberikan kembali buku itu kepada Rian.

Rian melotot tidak percaya, lalu tertawa kecil dengan perasaan lega yang luar biasa. "Serius, Arini?"

Arini hanya mengangguk pasti dengan senyum termanis yang pernah Rian lihat.

Dengan semangat, Rian menulis lagi dengan kalimat yang lebih panjang dan formal: "Hari ini, tanggal ini, dan bulan ini, tepat di rumah Rian dengan duduk di meja makan, Arini dan Rian resmi jadian dan berpacaran. Harap saling tanda tangan sebagai tanda resmi."

"Baca, Rin," pinta Rian.

Tawa Arini semakin kencang pecah di ruang makan itu. Ia segera membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut.

Namun, kejutan Rian belum berakhir. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar meterai, lalu menempelkannya di samping tanda tangan mereka.

"Pakai meterai segala?" tanya Arini sambil memegangi perutnya karena tertawa.

"Iya, biar makin resmi dan berkekuatan hukum cinta, hehe!" sahut Rian sambil menandatangani bagiannya di atas meterai tersebut.

Rian menyerahkan buku itu kembali kepada Arini. "Nih, sekarang kamu simpan ya. Jangan sampai hilang. Ini dokumen paling berharga sebagai tanda jadi kita," ucap Rian menggoda.

Aroma sedap sayur asem dan lauk-pauk lainnya mulai menyerbak dari arah dapur.

Ibu Rian melangkah keluar sambil membawa nampan berisi masakan yang masih mengepul hangat.

Namun, langkahnya terhenti sejenak saat telinganya menangkap percakapan seru antara Rian dan Arini tentang sebuah "tanda jadi".

Ibu Rian meletakkan piring-piring itu dengan perlahan di atas meja makan. "Jadi apa hayo?" goda Ibu Rian sambil menatap keduanya bergantian dengan senyum penuh selidik.

"Bunda!" seru Arini, wajahnya kembali memerah karena malu.

Rian justru tersenyum lebar, tampak sangat bangga. "Tanda jadi Arini dan Rian, Bun!" jawab Rian penuh semangat.

Ibu Rian berkacak pinggang, pura-pura tidak tahu. "Jadi apa dulu nih? Jangan bikin Bunda penasaran,".

"Arini sudah resmi jadi pacar Rian, Bun" ucap Rian dengan lantang, seolah baru saja memenangkan sebuah kejuaraan besar.

Mata Ibu Rian membelalak bahagia. "Wah, serius beneran, Arini?" tanya Ibunya memastikan.

Arini tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya lagi. Ia mengangguk pelan sambil tersenyum malu-malu.

Tanpa membuang waktu, Ibu Rian langsung menghampiri dan memeluk Arini dengan erat. "Kalau begitu, kamu resmi jadi calon anak Bunda dong" seru Ibu Rian dengan nada haru sekaligus gembira. Pelukan itu terasa begitu tulus, membuat Arini merasa benar-benar diterima di rumah ini.

"Ya sudah, sekarang kita makan dulu ya. Ayo duduk, duduk! Kita rayakan hari jadian kalian dengan masakan Bunda ini," ajak Ibu Rian sambil mempersilakan mereka menyantap hidangan yang tersedia.

1
Jade Meamoure
mampir thor ☺️
Nurdin Hamzah
mantap thor
Nurdin Hamzah
semangat thor 😄 suka banget sama drama percintaan nya🤣
Niarmdhn: tengcu
total 1 replies
saniscara patriawuha.
saya lebih seneng dimsum mentai....
Niarmdhn: boleeee
total 1 replies
saniscara patriawuha.
lanjottttt deuiiii.....
Niarmdhn: gassss
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gasssss polllllll mbokk minnn
Niarmdhn: maaciw ganteng 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!