NovelToon NovelToon
Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Horor / Slice of Life / Komedi
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: W. Prata

“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”

Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.

Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARC 3 - CH 16 : Masuk Kandang Singa

Si Putih membelah jalanan pesisir Kota X dengan kecepatan maksimalnya yang tak seberapa. Angin laut yang asin dan berbau amis ikan masuk melalui celah jendela, menampar wajah Bara yang sudah sekering kanebo jemuran.

Di kursi belakang, Lintang meringkuk memeluk tas P3K, sementara Mang Ojak mengemudi dengan tatapan lurus ke depan, merapal doa keselamatan lintas agama.

"Den," suara Mang Ojak bergetar, memecah kesunyian. "Ini beneran kita mau masuk ke Gudang Tiga Pelabuhan Utara? Abah denger dari tukang ojek, di sana tempat buang orang yang utangnya macet ke laut."

"Kalau kita nggak ke sana, kita yang dibuang ke laut, Mang," jawab Bara dengan mata setengah terpejam. "Terus jalan."

Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di gerbang besi karatan setinggi tiga meter. Tulisan 'GUDANG 3 - PRIVAT' terpampang jelas. Begitu Si Putih berhenti, empat pria berbadan tegap dengan jaket kulit hitam dan seragam standar preman elit Kota X mendekat. Salah satunya mengetuk kaca jendela dengan laras senapan angin yang sudah dimodifikasi.

Bara menurunkan kaca, berusaha mempertahankan wajah poker face andalannya, meski jantungnya berdebar seperti mesin mixer gigi tiga.

"Koki dari Bara's Kitchen?" tanya pria itu dengan suara serak.

"Ya, Pak. Diundang khusus sama Bang Kobra dan Haji Muhidin," jawab Bara, sengaja menyebut nama bos besar agar tak diintimidasi lebih jauh.

Pria itu mengangguk, memberi isyarat agar gerbang dibuka. Si Putih merayap masuk ke dalam area gudang raksasa.

Pemandangan di dalam sungguh kontras. Dari luar tampak seperti gudang kumuh, namun di dalamnya... ini adalah istana mafia. Mobil-mobil mewah berjejer. Di ujung ruangan yang sejuk oleh belasan AC standing, terdapat area ruang tamu VIP yang disekat dengan kaca tebal.

Bara turun dari mobil membawa tas pisau andalannya. "Kalian tunggu di sini. Mesin biarin nyala. Kalau dalam lima belas menit gue nggak keluar, gas pol ke kantor polisi. Jangan nengok ke belakang."

"M-mas... lo jangan mati dulu, gaji gue belom cair... kita juga belom nikah." Lintang mewek sungguhan, tak ada lagi niat untuk membuat konten TikTok.

Bara hanya mendengus, lalu berjalan mengikuti dua bodyguard menuju ruang kaca VIP tersebut.

Begitu pintu kaca dibuka, aura intimidasi langsung mencekik leher Bara. Di tengah ruangan, duduk seorang pria paruh baya berkumis tebal mengenakan kemeja batik sutra dan kopiah haji. Wajahnya tenang, tapi matanya setajam silet. Itulah Haji Muhidin, penguasa pelabuhan Utara Kota X.

Di seberangnya, Bang Kobra duduk kaku. Keringat sebesar biji jagung mengucur di pelipisnya yang bertato.

Dan di atas meja jati panjang di antara mereka, terbaring mahakarya Bara: Roti Buaya Frankenstein sepanjang dua meter, yang di dalam lambungnya bersemayam uang tunai dan emas batangan bernilai setengah miliar rupiah.

"Ini kokinya, Bos," lapor salah satu bodyguard.

Haji Muhidin menatap Bara dari atas sampai bawah. Bara sadar penampilannya saat ini sangat jauh dari kata meyakinkan: kaos hitam kumal, celemek penuh noda cokelat, dan wajah pucat kurang tidur.

"Kamu yang bikin monster ini, anak muda?" tanya Haji Muhidin santai, namun suaranya menggema penuh otoritas.

"Betul, Pak Haji," Bara menunduk sedikit, bersikap sopan namun tetap menatap mata sang bos. "Spesial pesanan Bang Kobra untuk Bapak."

Haji Muhidin tersenyum sinis. Dia mengetukkan jari cincin batu wacananya ke meja kayu. "Kobra datang ke mari, berani-beraninya bawa rombongan masuk ke wilayah saya cuma bawa roti rupa buaya. Katanya mau ngelamar anak saya."

Haji Muhidin mencondongkan tubuhnya ke depan. "Saya hargai nyalinya. Tapi saya pantang makan makanan dari luar. Apalagi dari orang yang rekam jejaknya mau ngambil anak gadis saya. Takutnya, di dalam tepung ini ada racun tikusnya."

Bang Kobra menelan ludah. Matanya melirik tajam ke arah Bara, memberikan sinyal mematikan: Lakukan dengan benar, atau kita mati berdua.

"Potong rotinya," perintah Haji Muhidin mutlak. "Makan bagian kepalanya di depan saya. Habis itu, potongin buat saya."

Bara mengangguk. Dia melangkah maju mendekati meja. Dia membuka tas pisaunya, mengeluarkan sebilah pisau roti bergerigi sepanjang tiga puluh sentimeter yang terbuat dari baja karbon berkualitas tinggi.

Bara menatap roti buaya raksasa itu. Otaknya yang sudah konslet karena kurang tidur dipaksa booting ulang. Dia mengingat kembali cetak biru arsitektur roti yang dia buat belasan jam lalu.

Panjang total: 210 cm.Kepala sampai leher: 40 cm.Ekor: 50 cm.Ruang kopong/brankas rahasia: 120 cm tepat di tengah perut, dengan ketebalan kerak sekitar 5 cm.

Kalau Bara salah memotong, pisaunya akan menembus tumpukan uang atau menggores emas batangan di dalam perut roti. Suara gesekan pisau dan logam akan langsung membongkar rahasia Trojan ini sebelum waktunya, dan bodyguard Haji Muhidin pasti langsung menarik pelatuk karena mengira itu bom atau senjata.

"Silakan, Pak Haji," Bara mengangkat pisaunya.

Dengan gerakan mantap, Bara memotong bagian leher buaya, tepat 5 sentimeter sebelum batas ruang kopong. Kres, kres, kres. Pisau bergerigi itu menembus roti yang dipanggang sempurna. Aroma mentega dan ragi yang wangi langsung menguar, memenuhi ruangan VIP yang tadinya berbau rokok cerutu.

Bara memotong satu slice tebal dari bagian leher, lalu tanpa ragu menggigitnya. Dia mengunyah perlahan, menelan roti manis itu di depan Haji Muhidin.

"Aman, Pak Haji. Seratus persen tanpa racun, murni premium butter dan cinta kasih," ucap Bara dengan senyum tipis. DKV marketing-nya tetap jalan meski nyawa di ujung tanduk.

Haji Muhidin mengangkat alis, tampak sedikit terkesan dengan ketenangan koki muda di depannya. "Bagus. Potong satu untuk saya."

Bara memotong bagian ekor yang padat berisi adonan roti lembut, meletakkannya di atas piring kecil, dan menyajikannya ke depan bos mafia itu. Haji Muhidin mengambil secuil, memasukkannya ke mulut, lalu mengunyah perlahan.

Selama lima detik, ruangan itu hening. Bara menahan napas. Bang Kobra menahan napas.

"Enak," gumam Haji Muhidin akhirnya. Matanya berbinar kecil. "Adonannya lembut, luarnya crunchy. Berapa harganya ini?"

"Nggak ternilai, Pak Haji," tiba-tiba Bang Kobra bersuara. Pria bertato itu berdiri perlahan dari kursinya. "Roti bagian kepala dan ekor itu cuma hidangan pembuka. Bagian utamanya... ada di dalam perut buaya ini."

Haji Muhidin mengerutkan kening. Para bodyguard di belakangnya langsung siaga memegang gagang pistol di balik jas mereka.

Bang Kobra menatap Bara. Dia mengangguk pelan. Sekarang. Bedah perutnya.

Bara memutar posisi berdirinya. Ini adalah momen puncak. Operasi Caesar.

Dia memegang gagang pisaunya erat-erat. Menutup sebelah mata untuk mengukur presisi, lalu menusukkan ujung pisau tepat di pangkal leher buaya, menembus kerak setebal lima sentimeter.

Trek. Pisau tidak menabrak apa pun di dalam. Ruang hampa. Sempurna.

Bara menarik pisaunya menyusuri garis lurus punggung buaya, membelah dari leher hingga ke pangkal ekor. Gerakannya harus stabil layaknya menarik garis menggunakan penggaris di atas kertas sketsa A3. Keringat dingin menetes dari dahi Bara, jatuh ke atas meja kayu.

Setelah garis lurus sepanjang satu meter itu tercipta, Bara memotong sedikit bagian ujung-ujungnya agar membentuk semacam 'pintu' atau tutup peti mati.

"Silakan, Bang Kobra. Kehormatannya ada di tangan Abang," Bara mundur selangkah, meletakkan pisaunya kembali ke dalam tas. Tugasnya selesai.

Bang Kobra maju. Di depan tatapan bingung Haji Muhidin dan para bodyguard-nya, Bang Kobra mengangkat 'tutup' punggung roti buaya yang sudah dipotong Bara.

KREEEEK. Kerak roti tebal itu terangkat, menyingkap isi perut si Monster Trojan.

Cahaya lampu kristal chandelier di langit-langit VIP room langsung memantul terang ketika mengenai tumpukan batangan emas mulia murni. Di sebelahnya, tergeletak rapi gepokan uang pecahan seratus ribu yang jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah, tersusun padat memenuhi lambung sang buaya.

Hening yang tercipta kali ini benar-benar absolut. Tidak ada yang berani bernapas.

Mata Haji Muhidin terbelalak. Mulutnya yang sedang mengunyah sisa roti tiba-tiba berhenti. Bahkan para bodyguard yang tadinya siaga kini melongo melihat brankas dadakan beraroma mentega itu.

"Apa... apaan ini, Kobra?" suara Haji Muhidin bergetar, separuh terkejut, separuh takjub.

"Ini mahar untuk anak perempuan Bapak," suara Bang Kobra bergema mantap. Nyalinya sudah kembali seratus persen. "Lima ratus juta tunai dan lima ratus gram emas batangan. Saya tahu anak buah Bapak bakal nembak saya kalau saya bawa brankas atau kardus masuk ke wilayah Utara. Jadi... saya minta koki gila ini buat bikin brankas yang nggak mungkin dicurigai orang."

Bang Kobra menundukkan kepalanya, gestur hormat yang sangat jarang dilakukan oleh seorang preman pasar kepada siapa pun. "Saya mungkin kasar, Pak Haji. Tapi saya berani mati dan berani usaha cerdas demi menghalalkan anak Bapak. Saya minta restunya."

Haji Muhidin menatap emas dan uang di dalam roti itu. Lalu dia menatap Bang Kobra. Perlahan, ujung bibir bos mafia tua itu tertarik ke atas, membentuk sebuah senyum lebar. Sedetik kemudian, tawa keras meledak dari mulutnya. Tawanya menggelegar, memenuhi ruangan kaca itu.

"HAHAHAHA! Gila! Kamu bener-bener preman gila, Kobra!" Haji Muhidin menepuk meja kayu itu keras-keras. "Sepuluh tahun saya pegang pelabuhan ini, belum ada orang yang berhasil nembus penjagaan saya bawa barang berharga tanpa ketahuan. Dan kamu... kamu nyelundupin mahar setengah miliar pakai roti buaya?! HAHAHA!"

Para bodyguard yang melihat bos mereka tertawa, perlahan ikut menurunkan bahu mereka yang tegang dan ikut tersenyum.

Haji Muhidin menyeka air mata tawanya, lalu menatap Bang Kobra dengan sorot mata yang berbeda. Penuh penghargaan. "Nyalimu gede. Otakmu juga jalan. Oke. Mahar saya terima. Anak saya pantas dapat pria yang berani nembus sarang naga demi dia."

Bang Kobra menghembuskan napas yang mungkin sudah dia tahan sejak subuh tadi. Dia menoleh ke arah Bara dan memberikan kedipan mata singkat. Sebuah kedipan terima kasih dari preman berbau kemenyan.

"Dan kamu, Koki," Haji Muhidin menunjuk Bara dengan sisa rotinya.

Bara langsung berdiri tegak. "S-siap, Pak Haji."

"Kerjaanmu rapi. Presisinya luar biasa. Kuenya juga enak." Bos mafia itu merogoh saku dalam kemeja batiknya, mengeluarkan sebuah koin emas padat bergambar naga, lalu melemparnya ke arah Bara.

Bara menangkapnya dengan refleks-nya. Koin itu berat, padat, dan dingin. Di satu sisinya tercetak logo naga melingkar yang sangat detail, sementara di sisi lainnya ada tulisan huruf Mandarin kuno. Ini bukan koin suvenir dari pasar malam; ini emas murni, dan yang lebih penting, ini adalah 'paspor' kekebalan di wilayah Pelabuhan Utara Kota X.

"Bulan depan cucu saya ulang tahun ke-lima," kata Haji Muhidin, menyandarkan punggung besarnya ke kursi kulit VIP. Asap cerutu kembali mengepul dari mulutnya. "Saya mau kamu bikin kue tingkat lima tema Robocar Poli. Kalau rasanya seenak buaya ini, saya bakal pakai Bara's Kitchen buat semua event pelabuhan. Paham?"

Bara menelan ludah. Mendapat endorsement eksklusif dari bos mafia Kota X? Ini ibarat berdiri di atas jembatan kaca kalau sukses lo bakal kaya raya, kalau pecah lo langsung nyium dasar jurang. Tapi sebagai pengabdi kapitalisme yang tagihan listriknya menanti, Bara hanya bisa mengangguk mantap.

"Paham, Pak Haji. Siap laksanakan. Kami sedia varian Red Velvet dan Opera Cake untuk acara anak-anak," jawab Bara.

Haji Muhidin terkekeh pelan, melambaikan tangannya. "Bagus. Kobra, kamu tinggal di sini. Kita bahas tanggal nikahan kamu sama anak saya. Dan kamu, Koki... bodyguard saya bakal ngawal kamu sampai gerbang depan. Jangan bawa cerita apa pun keluar dari gudang ini, atau lidah kamu yang saya potong buat topping kue."

"Lidah saya pait, Pak Haji. Nggak enak dibikin kue," sahut Bara refleks.

Beberapa bodyguard menahan tawa, sementara Bang Kobra hanya memutar bola matanya.

Bara membungkuk sedikit, menggendong tas pisaunya, dan berjalan keluar dari ruang kaca itu. Begitu Bara keluar dari pintu utama gudang, matahari Kota X sudah bersinar sangat terik, memanggang aspal pelabuhan. Angin laut yang asin menerpa wajahnya.

Di sudut halaman, Si Putih masih menyala dengan deru mesin yang menyedihkan. Lintang dan Mang Ojak menempelkan wajah mereka di kaca jendela seperti tawanan yang menunggu eksekusi. Melihat Bara berjalan utuh ke arah mereka, Lintang langsung membuka pintu geser dengan kasar.

"MAS BARA! LO IDUP! LO MASIH UTUH! NGGAK ADA LUBANG PELURU KAN?!" Lintang berteriak histeris, meraba-raba kemeja Bara.

"Diem, Tang. Gue masih napas. Jangan peluk gue, badan gue bau got campur ragi," Bara menepis tangan Lintang. "Mang Ojak! Gas sekarang! Jangan nengok ke belakang!"

Bara masuk ke kursi penumpang depan, membanting pintu, dan langsung menyandarkan kepalanya ke dashboard.

"Alhamdulillah ya Allah, Gusti Nu Agung..." Mang Ojak mengusap wajahnya yang pucat pasi, lalu langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Si Putih melesat keluar dari gerbang besi Gudang Tiga, meninggalkan wilayah kekuasaan Haji Muhidin.

Di dalam kabin yang panas itu, tidak ada yang bicara selama sepuluh menit pertama. Semuanya sibuk menetralisir adrenalin. Bara perlahan membuka matanya. Dia membuka kepalan tangan kanannya. Koin emas bergambar naga itu berkilau tertimpa sinar matahari yang masuk dari celah jendela.

Lintang yang duduk di tengah mencondongkan badannya ke depan. "Mas... itu... koin apaan? Lo abis ngerampok kuil Buddha?"

"Ini tips dari Haji Muhidin," suara Bara parau. Dia melempar koin itu ke pangkuan Lintang. "Coba lo gigit. Kalau asli, beratnya minimal dua puluh gram. Kalau dirupiahin... lumayan buat nambahin duit di brankas."

Lintang langsung mengambil koin itu, menimbangnya, dan menggigit pinggirannya seperti atlet olimpiade. "Gila, Mas! Ini emas asli! Padat banget! Lo di dalem tadi ngapain aja anjir? Ngepet pake media buaya?!"

Bara tersenyum tipis. "Gue cuma ngebelah perut buaya itu, Tang. Dan isinya... setengah miliar tunai sama emas batangan. Mahar buat anaknya si bos."

"HAH?!" Lintang dan Mang Ojak berteriak bersamaan. Mang Ojak nyaris menabrak gerobak batagor saking kagetnya.

"Bang Kobra selundupin maharnya pake Trojan Buaya buatan kita," Bara memejamkan matanya lagi, kepalanya berdenyut hebat. "Tang, buka notes di hape lo. Catet pembukuan ruko kita."

Lintang langsung mengeluarkan HP-nya. "S-siap, Bos! Catet apa?"

"Saldo dari drama salah alamat si buaya darat kemaren: Tiga juta. DP Bang Kobra: Sepuluh juta. Pelunasan Bang Kobra tadi pagi: Sepuluh juta. Laba bersih speedrun seratus box brownies kelurahan: Dua setengah juta. Plus... koin emas mafia ini, kita anggap aja value-nya dua puluh juta."

Lintang mengetik dengan cepat. "Jadi... aset likuid kita sekarang... LIMA PULUH JUTA, MAS?!" jerit Lintang. "Kita kaya, Mas! Kita beneran Crazy Rich!"

Bara tidak menjawab. Energinya sudah benar-benar minus. "Mang Ojak... jalan ke ruko yang pelan aja... jangan sampe ada polisi tidur yang bikin gue bangun..."

Setengah jam kemudian, Si Putih akhirnya terparkir dengan selamat di depan rolling door ruko Bara's Kitchen. Ketiganya turun dari mobil layaknya sekumpulan zombi.

Begitu Bara membuka gembok dan mengangkat pintu besi, kekacauan absolut menyambut mereka: Tumpukan kardus sisa brownies, cangkang telur berserakan, dan oven mutan yang masih terbengkalai.

"Mas... ini ruko apa lokasi syuting film kiamat?" Lintang meringis.

Bara berjalan gontai melewati meja kasir. "Biarin... besok aja kita panggil tukang bersih-bersih dari aplikasi. Duit kita banyak."

Bara menaiki anak tangga menuju mezzanine pribadinya. Begitu sampai di atas, dia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur kapuk tanpa repot-repot melepas sepatu atau celemeknya yang kotor.

Di bawah, Mang Ojak langsung menyusun sofa kulit imitasi untuk menjadi tempat tidurnya. Sedangkan Lintang, masih sempat membuka aplikasi e-commerce untuk mem-checkout keranjang skincare impiannya.

"Gue mau tidur," gumam Bara pada langit-langit mezzanine. "Kalau ada yang ketuk pintu... bilang gue udah pindah negara dan klo mau pulang jangan lupa di kunci"

Di luar, matahari Kota X bersinar terik. Arc ketiga dari buku menu kehidupan Bara Mahendra resmi ditutup, menyisakan tumpukan uang puluhan juta, koin naga, dan kewarasan yang tinggal selapis tipis fondant.

1
yumin kwan
kok jadi cerita horor sih.... padahal cerita keseharian dapur Bara sudah ok....
W. Prata: Wkwk sabar Kak Yumin! Ini demitnya cuma cameo bentar doang kok buat ngedorong Bara ngambil keputusan besar. Next bab udah otw balik ke kota buat ngurusin Bara's Kitchen lagi. Ditunggu kelanjutannya ya! thanks udah setia baca yaa...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!