NovelToon NovelToon
Akhir Dari Penghianatan

Akhir Dari Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Wanita perkasa
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Penikmat_lara

Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pinjam uang

Indira lalu memeluk Tantenya dengan sangat erat seolah olah tidak mau berpisah sekarang, namun ia harus berpisah karena masih ada banyak hal yang harus ia lakukan saat ini. Indira lalu membuka tas miliknya dan mengeluarkan dompetnya dari dalam tas itu.

"Tante, ini nanti berikan sama keponakanku ya. Tapi jangan bilang bilang kalo dari aku, dan Tante nggak usah ngasih uang ke mereka biar aku saja. Kalo sampek ketahuan nanti takutnya malah dibuang," Ucap Indira sambil memberikan uang diam diam kepada Mahmudah.

"Kenapa nggak bilang bilang? Kan biar mereka tau kalo kamu masih peduli dengan anaknya Riri," Tanya suami dari Mahmudah.

"Nggak usah bilang bilang, pliss... Kalian rahasiakan ini ya, masak ngasih keponakan harus bilang bilang,"

"Baiklah, kami nggak akan bilang kalo itu dari dirimu."

"Terima kasih,"

"Terus rencana kalian habis ini mau kemana?" Tanya Mahmudah.

"Mungkin ke rumah Bunda atau nggak kerumahnya Wisma,"

"Oalah begitu, yaudah hati hati dijalan. Hari hari seperti ini jalanan akan macet,"

"Siap."

Indira lalu berpisah dari Tantenya, dua motor itu sekarang berlalu dengan berlawanan arah satu sama lainnya. Wisma yang kini tengah membonceng Indira pun melaju pergi meninggalkan tempat itu, hal itu langsung disusul oleh Mahmudah beserta suaminya pergi ke arah yang berbeda dari keduanya.

"Tadi kamu ngasih uang ke Tante mu buat apa?" Tanya Wisma.

"Bukan urusanmu," Jawab Indira.

"Kamu kan mau jadi istriku, seharusnya urusanmu juga adalah urusanku."

******

Tiga hari setelah lebaran, sore hari itu Indira tengah duduk sendirian didalam rumahnya sambil memainkan ponselnya. Meskipun lebaran, namun desa itu terlihat sangat sepi bahkan suara anak anak kecil pun tidak terdengar disana, mungkin saja mereka masih mudik dan belum kembali.

Tiba tiba ponsel Indira berdering pertanda ada pesan yang masuk kedalam ponselnya itu, Indira lalh melihat siapa yang tengah mengirimkan pesan kepadanya saat ini, dan melihat bahwa Wisma tengah mengirimkan pesan kepadanya. Indira pun membalas pesan tersebut, ia melihat bahwa Wisma seperti tengah mengetik sangat panjang.

*Aku mau ngomong penting sama kamu,* Pesan kiriman dari Wisma.

*Mau ngomong apa? Tumben nggak langsung ngomong. Biasanya kalo mau ngomong penting langsung bilang,* Balasan dari Indira.

*Aku merasa tidak enak mau bilangnya,*

*Bilang aja langsung nggak papa, kenapa nggak enakan? Kayak sama siapa aja kamu itu,*

Tidak biasanya Wisma mengirimkan pesan seperti itu kepada Indira, entah apa yang ingin dikatakan oleh Wisma kepadanya saat ini, sepertinya ada hal penting yang harus dikatakan. Indira pun bersiap siap untuk mengetahui hal sepenting apakah yang akan dikatakan oleh Wisma kepadanya, entah hal itu akan melukainya atau tidak.

Indira sudah pernah berada diposisi seperti ini, dulunya Indira pernah dekat dengan seorang lelaki yang pernah menjadi teman satu kelasnya waktu SD. Indira terlalu tertutup sehingga tidak ada yang mengetahui keluarganya satu orang pun dikelas itu, dan lelaki tersebut adalah anak orang kaya dan Ayahnya adalah seorang tentara dengan pangkat yang tinggi.

Mereka berdua juga pernah sedekat ini seperti Indira dan Wisma sebelumnya, namun setelah mengetahui tentang keluarga Indira yang bukan termasuk orang kaya, lelaki itu perlahan lahan menjauh dari Indira. Entah kesalahan apa yang telah Indira lakukan kepadanya, dan Indira sendiri pun tidak mengetahuinya.

Lelaki itu mengatakan bahwa keduanya sama sekali tidak cocok, dan lelaki itu juga telah dijodohkan dengan orang lain dengan wanita anak dari teman satu kantornya. Indira yang sudah berharap kepada lelaki itu pun menjadi kecewa, dan hal itu tidak akan pernah Indira lupakan sampai kapanpun itu.

Indira memang bukan anak orang kaya ataupun keluarganya terpandang, namun ia juga tidak akan hidup bersama dengan orang yang merendahkan dirinya, orang yang tidak bisa menerima keluarganya maka orang itu tidak layak untuk mendapatkan cintanya. Oleh karenanya, ia hanya bisa diam tanpa harus meminta penjelasan dari siapapun itu, yang pergi tidak akan ia kejar, dan yang bertahan akan ia perjuangkan.

Indira pun terlihat sangat kecewa dengan kejadian waktu itu, setelah memutuskan hubungannya dengan Indira lelaki itu langsung memosting sebuah fotonya dengan seorang wanita. Betapa sakit hatinya Indira kala itu, namun dirinya hanya bisa diam sambil melihat postingan itu, ia juga tidak membalas postingan tersebut meskipun dirinya melihatnya.

Wisma memang memiliki keluarga yang lengkap, dirinya juga adalah anak kesayangan di keluarga tersebut, dia tidak akan pernah bisa merasakan apa yang Indira rasakan yang dimana harus mengusahakan semua keinginannya sendiri. Mungkin Wisma ingin memutuskannya, sehingga Indira harus bersiap siap untuk mendengar kabar itu dengan sendirinya.

*Aku mau bilang sesuatu kepadamu, Dira.*

*Iya tinggal bilang aja, kenapa harus berbelit belit seperti ini?*

*Tapi aku nggak enak sama dirimu,*

*Nggak papa bilang aja,*

*Aku mau pinjam uang, kalo nggak ada nggak usah kok, nggak papa kalo nggak bisa.*

Indira pun terdiam membaca pesan balasan dari Wisma, padahal baru lebaran ketiga uangnya sudah habis, entah perginya kemana. Lagian sebelumnya Wisma merantau ke Jakarta yang jelas gajinya tinggi, apalagi ia tidak keluar uang sama sekali karena ia tinggal dirumah Bos nya dan makan pun ikut bersama Bos nya.

Sementara gajinya yang tidak seberapa ditambah lagi ia harus mencari makan sendirian, saat ini gajinya pun masih ada dan masih bisa bertahan hingga semingguan lebih. Entah kenapa gaji dari Wisma sudah habis bahkan baru saja pulang merantau, jikalau pun ia berikan kepada orang tuanya itu pun tidak pasti semuanya diberikan.

*Lah uangmu kemana?* Tanya Indira.

*Sudah habis,* Ucap Wisma.

Padahal selama keluar dengan Indira, Wisma sama sekali tidak mengeluarkan uang sepeserpun, Indira yang keluar uang hanya untuk biaya bengsin motornya, dan bahkan mereka keluar pun menggunakan motor milik Indira. Wisma terus merayu Indira hingga membuat Indira merasa tidak enak jika tidak meminjamkan uang kepada Wisma, dan Indira sendiri kini berada diposisi terdesak.

*Pinjam berapa?* Pesan yang Indira kirim untuk Wisma.

*Dua ratus ribu saja,* Jawab Wisma.

Indira akhirnya pun meminjamkan uang miliknya kepada Wisma setelah Wisma mengatakan begitu banyak hal kepada Indira, dan Indira sendiri pun larut kedalam ucapan ucapan manis dari Wisma. Indira lalu memberikan uangnya kepada Wisma, dan Wisma sendiri berjanji kalau akan membayarnya ketika ia sudah memiliki gaji sendiri.

Indira yang kurang akan kasih sayang seorang Ayah pun tidak ingin Wisma pergi meninggalkan dirinya begitu saja, ia bahkan tidak ingin kehilangan sosok seperti Wisma. Oleh karenanya, Indira tanpa berpikir panjang pun mau meminjamkan hal itu kepada Wisma, dan hal itu adalah penyesalan terbesar bagi Indira dan akan selalu menjadi hal yang paling Indira sesali selama hidupnya.

Melihat Indira yang mudah sekali dibujuk, hal itu membuat Wisma menjadikan Indira sebagai ATM berjalan miliknya, dan kemanapun ia pergi harus mengajak Indira karena Indira yang akan membayarnya nanti. Indira sendiri tidak bisa keluar dari zona tersebut, karena ia tidak mau kehilangan lelaki yang peduli kepadanya.

Wisma pun berbuat seenaknya tanpa memikirkan perasaan Indira sendiri, ia tahu bahwa Indira mudah dimanfaatkan sehingga ia tidak mau menyia nyiakan hal itu. Wisma terus berusaha membuat Indira patuh kepadanya meskipun Indira sendiri terkadang sering memberontak, namun hal itu saja tidak cukup untuk membuat Indira jauh darinya.

*Dira, pinjam lagi,* Ucap Wisma tiga hari kemudian.

*Lah uang yang sebelumnya udah habis?* Tanya Indira.

*Sudah,*

Padahal baru sebentar saja namun uang yang dipinjamkan oleh Indira sebelumnya sudah habis, sementara Indira uang segitu sudah cukup buat seminggu namun kenapa baru 3 hari sudah habis di tangan Wisma. Inilah benar benar tidak memegang uang saat ini, apalagi ia belum masuk kerja dan masih libur kerja panjang.

*Aku nggak ada uang, belum gajian,* Indira pun membalas pesan tersebut.

*Terus gimana loh?* Tanya Wisma.

*Kamu pinjam dulu sama siapa gitu nanti aja diganti, saudaramu kan banyak teman temanmu juga kan banyak, pinjam saja dulu sama mereka.*

*Udah aku udah tanya sama semuanya tapi nggak ada yang bisa minjemin, saudara saudaraku juga lagi kesusahan sekarang dan mereka pada pinjam sama aku tapi aku nggak ada.*

*Aku juga nggak ada sekarang,*

*Kamu usaha gitu kek cari pinjaman, masak pacarnya butuh uang nggak kamu bantu,*

Melihat balasan dari Wisma membuat Indira hanya bisa diam, Indira tidak bisa berbuat apa apa untuk saat ini bahkan untuk membantunya, padahal dirinya sendiri juga sedang kekurangan uang apalagi kerjanya belum masuk. Indira harus berbuat apa untuk bisa membantu Wisma, padahal dirinya sendiri belum pernah meminjam uang kepada siapapun bahkan temannya sendiri ataupun keluarganya.

*Kamu pinjam Adik keponakanmu yang ada dirumah depan rumahmu itu loh, dia kan kerjanya lancar,* Balas Indira.

*Kasihan dia, ditinggal orang tuanya pergi entah kemana dan dia harus cari uang sendiri. Masak harus pinjam sama dia,*

Apakah di saat itu Wisma sama sekali tidak mengetahui tentang Indira? Padahal Indira sendiri sudah mengatakan kepada Wisma bahwa dirinya hidup sendirian dan tidak pernah meminta uang kepada orang tuanya. Indira selalu apa apa sendiri tidak ada seorangpun yang bisa membantunya, lantas apa bedanya dirinya dengan keponakannya itu? Mereka sama sama berjuang sendirian.

Wisma merasa kasihan dengan saudaranya yang apa apa serba sendiri, namun dirinya sendiri tidak memandang ke arah Indira yang di mana Indira juga apa apa serba sendiri. Keduanya juga sama jauh dari kedua orang tuanya dan bahkan keluarga Indira sudah memiliki keluarga sendiri, sementara gadis itu kedua orang tuanya hanya pergi bekerja dia ada kabar terkadang masih mengirimkan uang.

Wisma sama sekali tidak menganggap Indira itu kekurangan tidak sama seperti saudaranya, namun ia tidak mengetahui seberapa berisiknya pikiran Indira saat ini. Bahkan untuk makan saja ya kebingungan harus seperti apa, gajinya sendiri juga tidak seberapa dan bahkan lebih kecil dari gaji UMR pada umumnya.

Indira hanya bisa diam mendengar ucapan dari Wisma yang mengatakan bahwa ia merasa kasihan dengan saudaranya itu, sementara Wisma sendiri sama sekali tidak memiliki rasa kasih yang dengan Indira. Apalah daya Indira waktu itu, ia yang kekurangan kasih sayang dari keluarganya pun tanpa berpikir panjang langsung memberikan uang itu kepada Wisma.

Entah sampai kapan dirinya akan berada di dalam posisi seperti ini, bahkan Wisma sendiri sama sekali tidak memiliki usaha untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Indira tidak tahu apakah uangnya akan kembali kepadanya atau tidak, inilah sama sekali belum memikirkan hal itu dan ia hanya berambisi untuk membuat Wisma tetap berada di sisinya.

Seberapapun Wisma menyakiti perasaannya tersebut, inilah sama sekali tidak pernah ada sedikitpun niat untuk meninggalkannya meskipun ucapannya akan meninggalkan dirinya. Wisma tahu bahwa dirinya setengah dicintai oleh Indira saat ini, sehingga ia terus berbuat seenaknya tanpa memikirkan bagaimana perasaan Indira, karena ia tahu bahwa seberapa besar ia menyakiti Indira wanita itu tidak akan meninggalkannya.

Cinta tulus yang diberikan oleh Indira kepadanya sama sekali tidak dihargai olehnya, ia hanya menganggap apa yang dilakukan oleh Indira adalah hal yang seharusnya Indira lakukan kepadanya. Wisma juga mengatakan bahwa dirinya tidak akan segan segan jika meninggalkan seorang wanita, karena banyak wanita yang mengantri untuk menjadi pasangannya.

1
Lee Mba Young
syukurin indira jd wanita bloon banget di peras laki mau mau saja hnya dng modal mulut manis 🤣. tipe tipe wanita kl dah di nikahi walau laki selingkuh gk akn mau di ceraikan.
masih jd pacar ae di Peres mau saja 🤣. pa lagi dah di nikahi di jadi kan BABU gratisan pun mau di indira ini.
Lee Mba Young
kasih lah uang dira kamu gk kasian ma pacar tercintamu itu gk Ada rokok. 🤣😄🤣🤣🤣.
cewek kok bego mau di manfaat kan laki.
Aku ae orang kampung kurang kasih sayang Dr ortu pun gk sebego itu kok, gk bucin ma laki.
Riskejully: wkwkw...🤭🤭🤭
total 1 replies
Lee Mba Young
ceweknya tolol, bucin nya smp tulang 🤣
Riskejully: hustt... tulangnya masih proses remuk
total 1 replies
Ifah Al Azzam Jr.
maaf ya thor saya sampai dsinibaja baca nya soalnya gak suka sama karakter cwe nya🙏🙏🙏
Riskejully: Iya kak nggak papa, silahkan cari novel yang lain🙏
total 1 replies
Ifah Al Azzam Jr.
bisa gak Thor Indira nya di bikin pintar jgn bodoh banget bikin malu aja jd perempuan seakan² mudah dibodohin...
bikin indira nya jd perempuan yg kuat, tegas dan pintar jd gak mudah diperalat oleh laki2 sperti wisnu
Riskejully: Hallo kakak, terima kasih sudah mampir 🙏
Sebenarnya agak malu sih dalam nulis novelnya soalnya itu masa bodoh"nya... Alhamdulillah sekarang sudah nggak lagi seperti dulu 🤭
total 1 replies
JELINA,S.PD.K JELINA,S.PD.K
Ndak seru ceritanya ga bisa dilanjutkan
Riskejully: Nggak mau baca juga nggak papa kak, ini cerita hanya untuk mengenang kisahku dan seseorang yang aku cintai saja. terima kasih sudah baca sampai sini🙏
total 1 replies
Lee Mba Young
what 3 bln tp gk tau rumah RT nya. lah berarti waktu mau tinggal gk laporan dulu dong.
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.
Riskejully: bukan komplek ya, awalnya dia tinggal sama budenya disatu tempat dan para tetangganya sudah tau, tapi budenya tiba tiba pindah ditempat lain namun masih tetanggaan + indira jarang bersosialisasi dengan siapapun. pulang kerja langsung masuk rumah di kunci rapat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!