NovelToon NovelToon
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Wanita perkasa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.

Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Kamar yang Dulu

Gema Langkah di Lorong Kenangan

Kesunyian di sayap barat istana terasa seperti selimut tebal yang menyesakkan. Elara duduk di tepi tempat tidur kayunya yang keras, jemarinya bergerak mekanis mengusap butiran garam di atas meja—garam yang ia bawa dari kegelapan penjara sebagai jangkar realitasnya. Di luar jendela, menara jam tua berdentang pelan, getaran mekanisnya merambat melalui lantai batu, menciptakan distorsi mana yang melindungi privasinya dari sensor sihir istana. Namun, perlindungan itu tidak bisa melindungi batinnya dari tarikan yang lebih kuat: resonansi jiwanya yang bergejolak.

"Nyonya, Anda harus memejamkan mata," bisik Rina yang sedang merapikan jubah ungu Elara di sudut ruangan. "Hari esok akan sangat panjang. Kaisar mengharapkan laporan pertahanan utara yang sempurna."

Elara tidak menoleh. Matanya terpaku pada cahaya lampu kristal yang berpendar jauh di sayap utama, tepat di mana kamar permaisuri berada. "Tidurlah lebih dulu, Rina. Tubuhku mungkin di sini, tapi ada sesuatu yang tertinggal di sana, di balik pintu-pintu emas itu, yang terus memanggil namaku dengan suara yang sangat parau."

Rina menghentikan gerakannya, wajahnya yang pucat tampak ragu di bawah cahaya lilin. "Apakah itu... sisa sihir hitam yang Anda rasakan tadi?"

"Bukan sihir, Rina. Itu adalah identitas yang dicuri," Elara berdiri, langkahnya tidak lagi goyah seperti saat ia pertama kali keluar dari sel. "Elena tidak hanya mengambil posisiku. Dia mengambil setiap inci ruang yang pernah kuberi napas. Dia tidur di sepraiku, bercermin di kacaku, dan menghirup aroma lavender yang dulu kuusahakan dengan tanganku sendiri."

"Nyonya, jangan ke sana," Rina mendekat dengan tangan gemetar. "Utusan logistik tadi baru saja pergi. Elena pasti sudah menempatkan lebih banyak pengawal di koridor setelah Anda mempermalukan pelayannya."

Elara meraih kunci perak Perpustakaan Terlarang di meja, merasakannya sebagai pemberat di telapak tangannya. "Dia bisa menempatkan seribu pengawal, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang bisa melihat hantu yang sudah tahu setiap jalan tikus di dinding istana ini. Tetaplah di sini. Jika Silas atau pengawal kaisar datang, katakan aku sedang bermeditasi dalam sunyi dan tidak boleh diganggu oleh siapa pun."

"Tapi jika Anda tertangkap..."

"Aku tidak akan tertangkap oleh orang-orang yang menganggap aku hanyalah tawanan yang beruntung," potong Elara dingin. "Aku pergi bukan sebagai Elara yang takut, tapi sebagai pemilik sah yang ingin melihat seberapa jauh pencuri itu telah merusak rumahnya."

Elara melangkah keluar tanpa suara. Ia mengaktifkan analisis struktur molekul Void-nya, membiarkan energi ungu tipis mengalir ke telapak kakinya untuk meredam bunyi langkah. Lorong sayap barat yang lembap perlahan berganti menjadi koridor utama yang megah. Setiap kali ia berpapasan dengan penjaga, Elara berhenti di balik bayangan pilar marmer, menghitung ritme napas mereka dan menunggu titik buta yang ia petakan saat kedatangannya tadi sore.

Semakin dekat ia dengan kamar permaisuri, aroma mawar yang tajam mulai menyerang indra penciumannya. Itu bukan lagi aroma bunga segar, melainkan bau yang dipaksakan oleh sihir untuk menutupi sesuatu yang busuk di bawahnya. Elara merasakan luka bakar di punggungnya berdenyut panas, bereaksi terhadap frekuensi sihir hitam Elena yang tersebar di udara sebagai penanda wilayah.

Pintu yang Terluka

Di depan pintu ganda besar yang terbuat dari kayu jati putih, Elara berhenti. Jantungnya berdegup kencang, sebuah reaksi fisiologis irasional yang tidak bisa ia kendalikan sepenuhnya. Pintu ini pernah ia buka dengan senyuman setiap kali Valerius pulang dari medan perang. Di balik pintu ini, ia pernah merasa menjadi wanita paling bahagia di seluruh Asteria sebelum pengkhianatan itu membakar segalanya.

"Gagang pintu ini... masih dingin yang sama," bisik Elara saat jemarinya menyentuh logam perak berbentuk kepala singa.

Tiba-tiba, ia merasakan getaran sihir pengintai di permukaan pintu. Sebuah jebakan frekuensi yang dirancang untuk mendeteksi siapa pun kecuali Elena atau Valerius. Elara menyipitkan mata, Void Lv 0.8 miliknya bekerja cepat membedah sirkuit energi tersebut. Ia tidak mencoba menghancurkannya, karena itu akan memicu alarm di menara penyihir. Sebaliknya, ia menyisipkan sedikit energi netralnya, menciptakan lubang sementara dalam jaring sihir tersebut—sebuah solusi cerdas yang tidak meninggalkan jejak kerusakan.

Pintu terbuka dengan suara desis yang halus. Elara melangkah masuk ke dalam kegelapan ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya bulan yang pucat. Ia membeku. Aroma lavender seketika menyambutnya, namun itu adalah lavender yang sudah layu, tercampur dengan bau kemenyan yang tajam dari Sekte Void.

"Beraninya dia..." gumam Elara, suaranya bergetar oleh amarah yang tertahan.

Ia berjalan menuju meja rias di tengah ruangan. Di sana, di atas permukaan marmer yang dingin, tergeletak sisir emas miliknya—sisir yang dulu diberikan ibunya saat ia dinobatkan. Sekarang, sisir itu dikelilingi oleh botol-botol ramuan hitam dan simbol-simbol aneh yang digambar dengan darah kering.

"Dia menggunakan barang-u untuk ritual sihir hitam," Elara menyentuh meja tersebut, merasakan residu energi korosif yang menempel di sana. "Dia mengubah tempat suci ini menjadi laboratorium kegelapan."

Tiba-tiba, bayangan di cermin besar di depannya bergerak. Elara tidak melihat pantulan dirinya yang sekarang, melainkan sekilas bayangan Aurelia yang sedang duduk menyisir rambut, tertawa lembut. Namun bayangan itu meledak, digantikan oleh pemandangan api yang menjilat-jilat seprai sutra. Elara mundur selangkah, napasnya memburu, tangannya gemetar hebat saat trauma api itu kembali menyerang sistem sarafnya.

"Jangan sekarang... jangan di sini," bisiknya pada dirinya sendiri, mencengkeram pinggiran meja hingga kuku-kukunya memutih dan menggores kayu mahal tersebut.

"Kau kembali untuk mencari sisa-sisa mayatmu, Aurelia?"

Sebuah suara dingin dan merdu terdengar dari balik tirai besar di sudut ruangan. Elara segera menenangkan detak jantungnya, memutar energi Void-nya untuk menyembunyikan getaran tangannya. Dari kegelapan, Elena melangkah keluar. Ia tidak mengenakan gaun merah menyalanya, melainkan jubah hitam tipis yang memperlihatkan kulitnya yang pucat dan mata yang berkilat dengan kegilaan yang samar.

Elara berdiri tegak, martabatnya sebagai ratu segera mengambil alih kendali raga Elara yang ringkih. "Aku tidak mencari mayat. Aku sedang melihat seorang pencuri yang tampak sangat gelisah di tengah harta jarahannya."

Elena tertawa, langkahnya mendekati Elara hingga aroma mawar dan belerang itu mencekik udara. "Pencuri? Aku mengambil apa yang memang seharusnya menjadi milikku. Valerius, istana ini, dan bahkan kenanganmu. Kau lihat kamar ini? Dia masih datang ke sini setiap malam, memanggil namamu dalam tidurnya, sementara aku yang berada di pelukannya memberikan kekuatan padanya melalui sihir yang tidak akan pernah kau pahami."

"Kau memberinya racun, bukan kekuatan, Elena," sahut Elara dengan nada datar yang menusuk. "Aku bisa mencium bau busuk jiwamu dari ambang pintu. Kau menggunakan barang-barangku sebagai jangkar karena sihir hitammu tidak akan stabil tanpa sisa-sisa cahaya yang pernah kutinggalkan di sini. Kau adalah parasit yang tidak bisa hidup tanpa inangnya, bahkan setelah inang itu kau bakar."

Wajah Elena mengeras, matanya menyipit penuh kebencian. "Beraninya kau bicara seperti itu! Kau hanya tawanan rendahan yang kebetulan memiliki wajah yang mirip dengannya. Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di ruangan ini."

"Aku tahu lebih banyak daripada yang kau duga," Elara melangkah satu langkah maju, tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun pada aura sihir hitam yang mulai meluap dari tubuh Elena. "Aku tahu kau mulai kehilangan ingatanmu. Aku bisa melihat getaran tidak stabil di pupil matamu. Itu adalah harga yang harus kau bayar kepada entitas Void, bukan? Semakin kau mencoba menjadi Aurelia, semakin jiwamu sendiri terkikis habis."

"Diam!" bentak Elena, tangannya terangkat, siap meluncurkan serangan sihir. "Aku bisa melenyapkanmu sekarang juga dan Valerius tidak akan peduli. Dia akan percaya jika kukatakan kau mencoba menyerangku karena gila."

"Lakukanlah," Elara menatap langsung ke mata Elena dengan tatapan yang sangat tenang, seolah kematian bukanlah ancaman baginya. "Tapi ingatlah ini: Jika kau membunuhku di sini, sirkuit sihir pertahanan yang sudah kumodifikasi di pintu tadi akan meledak, mengirimkan sinyal langsung ke kamar kaisar. Kau ingin dia melihatmu berdiri di atas mayat penasihat barunya di tengah malam dengan tangan berlumuran sihir hitam?"

Elena menghentikan gerakannya, dadanya naik turun karena amarah yang tidak tersalurkan. "Kau... kau licik."

"Aku hanya belajar dari yang terbaik," Elara tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Kemewahan ini cocok untukmu, Elena. Karena seperti mawar-mawar ini, kau indah di luar namun sudah mati di akarnya. Nikmatilah selagi kau bisa, karena saat aku kembali ke ruangan ini nanti, aku tidak akan hanya berdiri di ambang pintu."

Elara berbalik tanpa menunggu jawaban, jubah ungunya menyapu lantai dengan suara desis yang penuh otoritas. Ia melangkah keluar dari kamar itu, meninggalkan Elena yang berdiri terpaku dalam kemarahan yang membara di tengah aroma lavender yang busuk.

Bara di Balik Sutra

Perjalanan kembali ke sayap barat terasa lebih lambat bagi Elara. Setiap langkahnya terasa berat oleh beban emosional yang baru saja ia alami. Saat ia melewati lorong yang sepi, ia berhenti sejenak di depan jendela besar yang menghadap ke taman. Sinar bulan menerangi wajahnya, memperlihatkan jejak air mata yang mengering secara instan karena panas dari energi Void-nya.

"Itu menyakitkan, bukan?" bisik suara di dalam pikirannya.

"Sangat menyakitkan," jawab Elara pada dirinya sendiri. "Melihatnya menyentuh sisir itu... melihatnya tidur di sana. Tapi rasa sakit ini adalah pengingat bahwa aku masih hidup. Aurelia mungkin sudah mati di atas tumpukan kayu bakar, tapi dendamnya telah menemukan rumah baru."

Ia mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menembus kulit telapak tangannya, meneteskan sedikit darah ke lantai marmer. Ia menggunakan darah itu sebagai medium untuk melepaskan sisa-sisa emosi irasionalnya ke udara, mengubahnya menjadi fokus yang tajam.

"Nyonya!" Rina menyambutnya di depan pintu kamar sayap barat dengan wajah yang menunjukkan kelegaan luar biasa. "Anda kembali. Saya hampir saja memanggil pengawal karena Anda pergi terlalu lama."

Elara masuk dan segera menutup pintu, menyandarkan punggungnya pada kayu yang kasar. "Ambilkan air dingin, Rina. Dan siapkan garam penawar yang baru. Residu sihir Elena di kamar itu jauh lebih pekat daripada yang kuduga."

Rina segera bergerak cepat, melihat kegelapan yang lebih dalam di mata majikannya. "Apakah Anda bertemu dengannya?"

"Dia ada di sana, sedang merayakan kemenangannya yang semu," Elara duduk di kursi meja kerjanya, menatap peta utara yang masih terbentang. "Dia menggunakan barang-barang masa laluku untuk memperkuat sihir hitamnya. Dia sudah sangat putus asa, Rina. Dia tahu bahwa Valerius tidak mencintainya, hanya mencintai bayangan yang dia ciptakan."

"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Rina sambil menyerahkan kain basah.

"Kita akan memberinya apa yang dia inginkan," Elara mengusap wajahnya dengan kain dingin itu, merasakannya sebagai kontras yang tajam terhadap panas batinnya. "Dia ingin aku menjadi ancaman, maka aku akan menjadi ancaman yang paling nyata. Besok, saat sarapan bersama kaisar, dia pasti akan mencoba meracuniku lagi. Dia akan mencoba membuktikan bahwa aku hanyalah Elara yang lemah."

"Tapi Anda tidak akan membiarkannya, kan?"

"Tentu saja tidak," Elara menatap butiran garam di meja. "Aku akan membiarkan racun itu masuk ke tubuhku, lalu aku akan mengembalikannya kepadanya dengan cara yang tidak akan pernah ia lupakan. Tapi sebelum itu, aku harus menyelesaikan draf laporan untuk Valerius. Kita butuh alasan yang sangat kuat untuk pergi ke Lembah Perak."

"Lembah Perak itu sangat jauh dan berbahaya, Nyonya," gumam Rina.

"Bahaya di sana lebih jujur daripada bahaya di istana ini," Elara mengambil pena bulu, matanya berkilat dengan kecerdasan kalkulatif. "Di sana ada sirkuit mana kuno yang bisa kumanfaatkan untuk membangkitkan Void-ku melampaui level 1.0. Jika aku bisa mencapai level itu, Elena tidak akan lagi menjadi masalah."

Elara mulai menulis dengan cepat, setiap coretannya adalah bagian dari jaring laba-laba yang sedang ia rajut. Ia menyisipkan istilah-istilah teknis militer Asteria yang hanya diketahui oleh keluarga kerajaan, memberikan kesan otoritas yang tidak bisa dibantah oleh Valerius.

"Tidurlah, Rina. Besok fajar akan tiba lebih cepat dari yang kita duga," ucap Elara tanpa mengalihkan pandangan dari kertasnya.

"Baik, Nyonya. Selamat malam."

Rina mematikan lampu minyak, menyisakan cahaya rembulan yang masuk melalui celah jendela. Elara terus bekerja dalam sunyi, dikelilingi oleh bayangan menara jam yang bergerak lambat di dinding. Ia merasa lelah, namun pikirannya terus berputar pada detail-detail di kamar lamanya tadi. Setiap pergeseran letak barang, setiap aroma yang berubah, semuanya ia catat dalam ingatan untuk dijadikan senjata di masa depan.

"Kau pikir kau sudah menang karena memiliki mahkotanya, Elena," bisik Elara saat ia menyelesaikan halaman terakhir drafnya. "Tapi mahkota hanyalah logam dingin. Kekuasaan yang sebenarnya ada pada siapa yang memiliki jiwa dari kerajaan ini. Dan jiwa itu... tidak pernah meninggalkan sisiku."

Ia meletakkan penanya dan menatap tangannya yang mulai menunjukkan garis-garis hitam halus di bawah kulit—harga dari penggunaan Void yang dipaksakan malam ini. Ia merasakannya sebagai lencana kehormatan, sebuah tanda bahwa ia semakin dekat dengan tujuannya.

"Sedikit lagi," gumamnya. "Hanya butuh sedikit lagi kesabaran."

Elara bangkit dan berdiri di depan jendela, menatap ke arah timur di mana ufuk mulai menunjukkan semburat biru pucat. Ia tahu bahwa di sayap utama, Elena mungkin sedang menghancurkan barang-barang karena frustrasi. Dan di kamar kaisar, Valerius mungkin sedang terbangun karena mimpi buruk yang baru saja Elara tanamkan melalui sirkuit mana tadi.

Pembalasan dendam bukanlah sebuah ledakan, melainkan pembakaran yang lambat dan terukur. Dan Elara baru saja menyulut api yang paling panas di jantung musuhnya. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara dingin pagi hari mengisi paru-parunya, memberikan kesegaran yang ia butuhkan untuk menghadapi panggung sandiwara berikutnya.

"Fajar yang indah," ucapnya dengan nada yang sangat dingin.

Ia merapikan draf laporannya, menyusunnya dengan rapi di dalam map kulit. Setiap kata di sana dirancang untuk memancing rasa ingin tahu dan ketakutan Valerius akan ancaman sihir utara, sekaligus memposisikan dirinya sebagai satu-satunya solusi. Ia harus memastikan bahwa Valerius akan sangat bergantung padanya sebelum ia menghancurkan ketergantungan itu berkeping-keping.

"Nyonya? Anda belum tidur sama sekali?" Rina terbangun, melihat Elara yang sudah berdiri tegak dengan pakaian yang rapi meskipun fajar baru saja menyingsing.

"Waktu untuk tidur sudah habis, Rina," Elara berbalik, matanya tajam dan penuh fokus. "Bersiaplah. Kita akan segera pergi ke ruang makan pribadi kaisar. Pastikan kau membawa kantong garam yang sudah kuberi tanda khusus. Jika rencanaku berjalan lancar, kita akan mendapatkan izin untuk meninggalkan istana ini minggu depan."

Rina mengangguk patuh, meskipun ia masih merasa takut. Ia bisa merasakan perubahan atmosfer pada Elara—ada sesuatu yang lebih gelap dan lebih absolut dalam sikapnya pagi ini. Bukan lagi sekadar rasa takut seorang tawanan, tapi otoritas seorang ratu yang sudah memutuskan untuk tidak lagi menoleh ke belakang.

Mereka melangkah keluar dari kamar sayap barat, meninggalkan kesunyian menara jam yang masih terus berdetak. Di koridor, para pelayan mulai sibuk dengan kegiatan pagi mereka, namun setiap kali Elara lewat, mereka menepi dan membungkuk dalam, terintimidasi oleh aura dingin yang ia pancarkan. Elara berjalan menuju sayap utama dengan kepala tegak, siap untuk menghadapi racun, fitnah, dan obsesi yang menantinya di meja sarapan kaisar.

Luka yang Bersuara

Elara melangkah mendekati cermin besar berbingkai perak di sudut ruangan, satu-satunya benda yang tampaknya belum berani diganti oleh Elena. Ia berdiri di sana, menatap pantulan dirinya di bawah keremangan cahaya bulan yang menembus jendela. Wajah Elara yang pucat, dengan garis rahang yang terlalu tirus dan mata yang menyimpan badai ungu, menatap balik ke arahnya. Ini bukan wajah Aurelia. Ini adalah wajah seorang penyintas yang telah merangkak keluar dari liang lahat.

"Kau membencinya, bukan?" bisik Elara pada bayangannya sendiri. "Kau membenci kenyataan bahwa dia menghirup udaramu, memakai gaunmu, dan mencoba mencuri sisa-sisa cinta yang kau tinggalkan untuk pria yang telah membakarmu."

Ia menyentuh permukaan cermin itu. Dinginnya kaca terasa seperti es yang menusuk ujung jarinya. Tiba-tiba, penglihatan Elara memburam. Void Lv 0.8 miliknya bergejolak hebat, memicu resonansi memori yang tidak terkendali. Ia melihat dirinya—Aurelia—berdiri di depan cermin ini, tertawa saat Valerius memeluk pinggangnya dari belakang, menjanjikan keabadian yang ternyata hanya berupa abu.

Rasa sakit itu datang secara fisik. Punggungnya, di mana bekas luka bakar itu berada, terasa seolah-olah ditarik oleh ribuan jarum panas. Elara terhuyung, tangannya menyapu meja rias hingga sebuah botol parfum kecil jatuh dan pecah di lantai. Aroma mawar yang pekat meledak di udara, namun di hidung Elara, itu berbau seperti daging yang terpanggang.

"Nyonya? Apakah ada orang di dalam?" sebuah suara penjaga terdengar dari luar koridor, diikuti bunyi denting baju zirah.

Elara membeku. Ia segera menekan emosinya, memaksa energi Void-nya untuk mendinginkan saraf-sarafnya yang terbakar trauma. Ia tidak boleh ditemukan di sini. Dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi, ia menyelinap ke balik tirai beludru berat yang menutupi pintu balkon. Ia menahan napas, membiarkan tubuhnya menyatu dengan kegelapan.

Pintu kamar terbuka. Dua penjaga masuk dengan obor yang menyala terang. Cahaya jingga itu menari-nari di dinding, membuat bayangan di kamar itu tampak hidup dan mengerikan.

"Hanya botol yang pecah. Mungkin karena angin," ujar salah satu penjaga sambil menendang pecahan kaca di lantai.

"Aneh. Selir Elena sangat teliti soal barang-barang di sini. Jika dia tahu ada yang rusak, dia akan mencambuk pelayan yang bertugas malam ini," sahut yang lain. "Ayo pergi. Aku benci berada di ruangan ini. Baunya seperti orang mati."

Begitu pintu tertutup kembali, Elara keluar dari persembunyiannya. Ia tidak lagi gemetar. Amarahnya telah mengkristal menjadi fokus yang absolut. Ia menatap botol parfum yang pecah itu—aroma mawar yang selama ini menjadi kebanggaan Elena. Elara berjongkok, mengambil satu serpihan kaca, dan dengan sengaja menyayatkan ujungnya yang tajam ke telapak tangannya.

Darah segar menetes, bercampur dengan minyak wangi yang tumpah. Elara membisikkan sebuah mantra Void tingkat rendah, mengubah struktur molekul cairan tersebut. Ia tidak merusaknya, ia hanya menambahkan "kejutan" kecil di dalamnya. Besok, saat Elena menggunakan parfum ini, residu sihir hitam di tubuhnya akan bereaksi, menciptakan rasa gatal yang samar namun akan merusak konsentrasinya saat ia mencoba meracuni Elara. Ini adalah strategi Third Option—serangan yang tidak kasat mata namun melumpuhkan martabat lawan.

Kesunyian Sebelum Badai

Elara kembali ke sayap barat tepat saat lonceng menara jam berdentang tiga kali. Rina masih terjaga, duduk di lantai dekat pintu dengan wajah yang sangat cemas. Begitu melihat Elara masuk, ia hampir saja berteriak lega.

"Nyonya, tangan Anda berdarah!" Rina segera mengambil air hangat dan kain bersih.

"Ini hanya pengingat, Rina," ucap Elara sambil duduk di meja kerjanya. "Pengingat bahwa di istana ini, bahkan barang pecah belah pun memiliki taring."

Elara membiarkan Rina mengobati lukanya, sementara matanya kembali menatap draf laporan militer yang ia kerjakan sebelumnya. Ia menambahkan satu paragraf terakhir mengenai anomali sihir di Lembah Perak, menggunakan istilah teknis yang akan membuat Valerius merasa bahwa hanya Elara yang memiliki "kunci" untuk menstabilkan perbatasan utara.

"Rina, besok saat kita makan bersama kaisar dan Elena, kau akan berdiri di belakangku," instruksi Elara dengan nada yang sangat serius. "Jangan pernah menatap mata Elena. Tetaplah fokus pada cangkir tehku. Jika kau melihat sedikit saja pendaran hijau atau aroma mawar yang terlalu tajam muncul dari makanan, berikan kode padaku dengan mengetukkan jarimu di nampan."

"Saya mengerti, Nyonya. Tapi... apakah Anda benar-benar akan memakan apa yang mereka sajikan?"

"Aku harus memakannya," Elara menatap butiran garam di meja yang kini telah ia proses menjadi bubuk halus. "Untuk menghancurkan Elena, aku harus membiarkan dia mengira bahwa dia telah berhasil menjeratku. Racunnya adalah panggungku, Rina. Aku akan menunjukkan pada Valerius bahwa mawar yang ia puja sebenarnya memiliki racun yang bisa membunuh kaisarnya sendiri."

Elara berdiri dan berjalan menuju jendela. Langit mulai berubah menjadi ungu kelabu, pertanda pagi akan segera tiba. Ia merasa tubuhnya sangat lelah, saraf-sarafnya berdenyut akibat penggunaan Void yang melampaui batas stabilnya malam ini. Namun, jiwanya merasa sangat jernih. Kunjungan ke kamarnya yang dulu telah memberikan jawaban yang ia butuhkan: Elena hanyalah seorang wanita ketakutan yang bersembunyi di balik bayang-bayang Aurelia.

"Kau merindukannya, bukan, Valerius?" bisik Elara pada angin fajar. "Besok, kau akan melihat bayangan itu kembali. Tapi kali ini, bayangan itu akan membawa belati, bukan mawar."

Ia berbaring di tempat tidurnya yang keras, memejamkan mata sejenak untuk memulihkan sedikit energi. Ia tidak bermimpi tentang api lagi. Kali ini, ia bermimpi tentang salju yang turun di Lembah Perak, menutupi segala noda darah dan pengkhianatan dengan warna putih yang murni dan dingin.

Ketika fajar benar-benar menyingsing, Elara bangun dengan kekuatan baru. Ia mengenakan gaun ungunya yang paling formal, merapikan rambutnya dengan sisir kayu sederhana, dan menyembunyikan bungkusan garam penawar di dalam lengan bajunya. Ia menatap dirinya di cermin kecil di kamarnya sekali lagi.

"Mari kita mulai babak kedua dari permainan ini," ucapnya.

Ia melangkah keluar dari kamar sayap barat, diikuti oleh Rina yang membawa nampan berisi dokumen laporan. Di koridor, udara pagi terasa segar, namun Elara tahu bahwa beberapa jam lagi, udara itu akan dipenuhi oleh ketegangan yang mematikan. Ia berjalan melewati para pengawal yang kini menatapnya dengan rasa hormat yang dipaksakan, menuju ruang makan pribadi kaisar di mana takdirnya akan diuji sekali lagi.

Pintu ruang makan terbuka, menampakkan Valerius yang sudah duduk di kepala meja, dan Elena yang duduk di sampingnya dengan senyum yang tampak seperti sayatan luka.

"Selamat pagi, Penasihat Elara," sapa Valerius, matanya memindai wajah Elara dengan intensitas yang meresahkan. "Aku berharap kau tidur nyenyak di kamar barumu."

"Sangat nyenyak, Yang Mulia," Elara membungkuk dengan sempurna, sudut matanya melirik Elena yang tampak memegang botol parfumnya dengan gelisah. "Kesunyian di sayap barat memberikan kejernihan yang saya butuhkan untuk menyelesaikan laporan ini."

Elena tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Kejernihan memang penting. Itulah sebabnya saya secara khusus meminta koki untuk menyiapkan teh herbal spesial pagi ini agar pikiran Anda tetap tajam, Penasihat."

Elara menatap cangkir teh yang mengepul di depannya. Aroma lavender yang sangat tipis tercium, namun di bawahnya, Void Elara mendeteksi getaran energi korosif yang sudah ia kenali.

"Terima kasih atas perhatian Anda, Selir Utama," ucap Elara sambil mengangkat cangkir tersebut. "Saya sangat menghargai... segala upaya Anda."

Elara membawa cangkir itu ke bibirnya, sementara di bawah meja, tangannya menggenggam butiran garam dengan erat, siap untuk memulai menetralisir racun di dalam nadinya saat setetes pertama menyentuh lidahnya. Permainan maut baru saja dimulai, dan di ruangan ini, hanya Elara yang tahu bahwa sang Ratu tidak sedang menikmati sarapannya, melainkan sedang menelan senjata untuk pembalasannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!