"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏
Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Udara di dalam Aula Besar universitas terasa sejuk namun sesak oleh riuhnya ribuan mahasiswa dari berbagai fakultas. Acara "Seminar Sinergi Lintas Ilmu" ini merupakan agenda besar yang mempertemukan mahasiswa dari disiplin ilmu yang berbeda untuk mendiskusikan masa depan teknologi dan kemanusiaan. Aula yang luas itu terbagi menjadi beberapa blok besar.
Sesuai dengan abjad dan pembagian fakultas, blok mahasiswa Teknik Mesin ternyata ditempatkan berdampingan dengan blok mahasiswa Psikologi. Namun, karena luasnya aula dan banyaknya kepala yang menghalangi pandangan, kehadiran satu sama lain belum terdeteksi.
Aydan duduk di barisan tengah blok Teknik. Ia mengenakan jaket almamater kuning yang disampirkan di bahunya, matanya tetap lurus menatap panggung utama. Di telinganya, ia masih bisa mendengar bisikan teman-teman satu departemennya yang sibuk mengagumi desain gedung atau membicarakan mesin bus kampus. Aydan tetap pada tabiatnya, diam, tenang, dan tidak pernah memutar kepalanya untuk mencari perhatian sekitar.
Baginya, berada di keramaian seperti ini adalah ujian konsentrasi untuk menjaga pandangan.
Tepat di sisi kanan, hanya terpisah oleh satu lorong kecil yang lebarnya tak sampai dua meter, duduklah Dayana. Gadis itu mengenakan jilbab berwarna abu-abu lembut yang ia kaitkan dengan bros kecil pemberian Bunda Ameera. Dayana tampak sibuk mencatat poin-poin seminar di buku agendanya. Ia tidak sadar bahwa hanya berjarak empat hingga lima kursi di sebelah kirinya, sang pemilik separuh hatinya sedang duduk dengan gagah.
Acara memasuki sesi tanya jawab. Seorang moderator dengan suara lantang mengundang mahasiswa untuk memberikan kritik atau pertanyaan terkait integrasi mesin cerdas dalam kehidupan sosial.
Aydan, yang sejak tadi mencerna materi dengan logika teknisnya yang tajam, mengangkat tangan kanannya. Langkahnya tenang saat seorang panitia memberikan mikrofon kepadanya.
"Terima kasih. Saya Aydan dari Teknik Mesin," suara itu menggema melalui sound system aula yang canggih. Berat, bariton, dan penuh kewibawaan. "Saya ingin menanyakan tentang batasan etika pada pengembangan mesin otonom. Bagaimana kita memastikan bahwa efisiensi mesin tidak mengabaikan variabel psikologis manusia yang tidak bisa diprogram secara algoritmik? Bukankah tanpa empati, mesin tercanggih pun hanya akan menjadi logam dingin yang berbahaya?"
Di barisan kursi Psikologi, Dayana tersentak. Pena yang ia pegang hampir jatuh ke pangkuannya. Jantungnya berdetak liar. Suara itu. Ia sangat mengenali intonasi itu, suara yang menenangkannya lewat telepon saat ia sakit tengah malam tempo hari.
Dayana perlahan menoleh ke arah sumber suara. Di sana, berjarak hanya sekitar empat kursi darinya, Aydan berdiri tegak. Sinar lampu aula menonjolkan rahangnya yang tegas dan sorot matanya yang fokus. Dayana terpaku. Selama dua minggu mereka tidak bertemu dan baru bertukar pesan dan doa, ternyata hari ini takdir menempatkan mereka dalam satu koordinat yang begitu dekat.
Melihat Aydan berdiri dengan penuh percaya diri, entah mengapa muncul keberanian di dalam diri Dayana. Ia ingin Aydan tahu bahwa ia juga ada di sana. Ia ingin menunjukkan bahwa ia sedang belajar sungguh-sungguh untuk menjadi wanita yang sepadan bagi pemikiran-pemikiran besar Aydan.
Dayana mengangkat tangannya. Saat mikrofon berpindah ke tangannya, ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya yang sedikit gemetar.
"Saya Dayana dari Psikologi," ucapnya lembut namun jelas.
Mendengar nama itu, Aydan yang baru saja akan duduk kembali, mendadak membeku. Ia menoleh perlahan ke arah samping kanan. Matanya menyipit, mencari sosok yang memanggil nama itu. Dan di sana, di antara ribuan mahasiswa, ia menemukannya.
"Melanjutkan pertanyaan dari rekan saya dari Teknik tadi," Dayana melanjutkan, matanya sempat melirik ke arah Aydan selama sedetik, sebuah lirikan yang sarat akan makna. "Dari sudut pandang psikologi, variabel yang disebut jiwa itulah yang tidak bisa digantikan. Maka, pertanyaan saya, apakah teknologi masa depan siap untuk tetap berada di bawah kendali nurani manusia, atau kita justru sedang menciptakan tuan baru bagi diri kita sendiri?"
Setelah Dayana menyelesaikan kalimatnya, suasana aula terasa semakin hidup oleh diskusi yang memanas. Namun bagi Aydan, suara moderator dan riuh tepuk tangan tiba-tiba terasa seperti suara latar yang menjauh.
Aydan menatap Dayana dari jarak empat bangku itu. Ia bisa melihat dengan jelas profil wajah Dayana. Gadis itu tampak jauh lebih cantik daripada saat terakhir mereka bertemu. Jilbabnya yang menutup dada dengan sempurna memberikan aura kesucian yang membuat Aydan berdesir. Dayana tidak lagi terlihat seperti gadis yang mencari pengakuan, ia terlihat seperti wanita yang sudah menemukan tujuannya.
“Masya Allah,” batin Aydan. Ia beristighfar berkali-kali di dalam hatinya, mencoba mengendalikan rasa kagum yang meluap-luap. Ia menyadari bahwa doa-doanya dan doa Bundanya benar-benar bekerja. Dayana bukan hanya berhijrah dalam pakaian, tapi juga dalam kecerdasan berpikir.
Dayana yang menyadari sedang diperhatikan, hanya berani melirik sekilas lalu kembali menatap ke depan dengan senyum tipis yang tertahan. Pipinya merona merah di balik kain jilbabnya. Ia merasa sangat bahagia bisa berada sedekat ini dengan Aydan tanpa harus melanggar prinsip mereka untuk tidak berduaan.
Hingga sesi seminar berakhir, keduanya tidak ada yang beranjak untuk menghampiri. Aydan tetap di kursinya sampai massa mulai mencair, begitu juga Dayana. Mereka hanya saling bertukar pandang dari jarak empat bangku itu, sebuah komunikasi tanpa kata yang jauh lebih dalam daripada ribuan kalimat di ponsel.
Saat Aydan berdiri untuk keluar dari barisan, ia melewati lorong yang tepat berada di samping Dayana. Langkahnya melambat. Ia tidak berhenti, tidak juga menyentuh, namun saat ia sejajar dengan posisi duduk Dayana, Aydan memberikan sebuah anggukan sopan yang sangat dalam.
"Tumbuhlah dengan baik, Ay," bisik Aydan sangat pelan, hampir tertutup oleh bisingnya langkah kaki mahasiswa lain.
Dayana mendengarnya. Ia mendongak, menatap punggung Aydan yang mulai menjauh di kerumunan jaket kuning Teknik. Air mata haru hampir saja menetes. Jarak empat bangku tadi terasa seperti sebuah jembatan yang menguatkan janji mereka.
Aydan berjalan keluar aula dengan dada yang terasa sesak oleh rasa syukur. Ia tahu, di universitas yang luas ini, Allah masih memberinya kesempatan untuk melihat hasil dari penantiannya.
Dayana-nya, Ay-nya telah tumbuh menjadi bidadari yang berilmu. Dan bagi Aydan, tidak ada mesin tercanggih di dunia ini yang bisa menandingi indahnya proses hidayah yang sedang mekar di wajah gadis itu.
Malam itu, asrama mereka akan kembali sunyi, namun kenangan akan jarak empat bangku di aula besar itu akan menjadi bahan bakar semangat baru bagi Aydan untuk segera menyelesaikan studinya. Ia ingin segera menjadi pria yang pantas untuk menjemput Dayana, bukan lagi di kursi aula, tapi di depan penghulu.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰