Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.
Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.
Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka
Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.
Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?
Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangkitnya Sayap Emas
Malam di Kadipaten tak lagi gelap, tak juga damai. Di puncak menara tertinggi istana, yang puncaknya seolah menusuk rembulan, Subosito berdiri tegak. Angin kencang mencambuk jubahnya yang kini compang-camping, dan tak bergeming.
Di dalam dadanya, segel terakhir yang selama ini mengunci inti kekuatan Garuda Paksi telah lebur sepenuhnya—bukan karena amarah yang meledak-ledak, melainkan karena keikhlasan untuk memikul beban sebagai pelindung.
"Manunggal...!" bisik Subosito seraya memejamkan matanya.
Seketika, sebuah ledakan cahaya emas yang murni memancar dari tubuhnya. Suaranya tidak memekakkan telinga, melainkan menyerupai dengung ribuan lebah yang menjadi satu.
Dari tulang belikatnya, tumbuh dua sayap raksasa yang tidak lagi sekadar pancaran energi, melainkan jalinan bulu-bulu cahaya emas yang padat dan nyata.
Setiap kepakannya mengeluarkan embusan api yang tidak terbakar, namun menggemparkan udara dari sisa-sisa sihir hitam.
Wujud Subosito berubah secara parsial. Rambutnya yang hitam kini bersinar perak keemasan, dan di dahi muncul guratan cahaya berbentuk sayap kecil—tanda keberadaan sang mitos.
Inilah Sang Garuda yang berjalan di bumi, kesatria yang lahir dari rahim penderitaan dan kepedihan.
Dengan satu sentakan kaki, Subosito melesat ke angkasa. Kecepatannya membelah langit malam, menciptakan garis emas yang memanjang seperti bintang jatuh yang mendaki kembali ke langit.
Rakyat Kadipaten yang tadinya terdiam ketakutan di dalam rumah, kini memberanikan diri membuka jendela. Mereka menatap ke atas dengan rasa campur aduk, antara harapan yang membuncah dan ketakutan akan makhluk kuno.
Di mata mereka, Subosito adalah simbol keajaiban sekaligus pengingat akan kekuatan yang mampu meratakan kota mereka jika dia menghendakinya.
Di bawah sana, di dalam aula istana yang mulai retak, Resi Bhaskara sedang merapalkan mantra terakhirnya. Wajah sang Resi tampak mengerikan, urat-urat di pelipisnya menonjol saat menyalurkan energi api merahnya ke seluruh penjuru kota melalui jaringan lampion dan gudang-gudang mesiu yang telah dirangkai.
"Jika aku tidak bisa memilikimu sebagai senjataku, maka tidak akan ada yang memiliki kota ini!" teriak Bhaskara, matanya merah padam karena obsesi.
Resi Bhaskara menghantamkan tongkatnya ke lantai, bersiap memicu ledakan besar yang akan mengubah Kadipaten menjadi lautan api. Namun, ledakan itu tidak segera terjadi.
“Apa yang terjadi!” lirihnya seraya menoleh ke arah kota.
Di atas langit, Subosito merentangkan kedua sayapnya selebar mungkin. Pemuda itu memejamkan mata, menetralkan setiap partikel api jahat yang sedang mengalir di bawah tanah dan di dinding-dinding kota.
Dengan kekuatan Gada Sungsang Aji yang telah melebur dalam sayapnya, Subosito memanggil energi bumi untuk menyerap panas tersebut.
Wush!
Cahaya emas turun dari langit seperti hujan rintik yang lembut. Setiap kali butiran cahaya itu menyentuh lampion atau sumbu mesiu, mantra Resi Bhaskara tiba-tiba lenyap.
Api merah yang merusak itu tersedot masuk ke dalam tanah, dinetralisir oleh aura pemurnian Garuda Paksi. Resi Bhaskara terhuyung mundur, dari sudut bibirnya mengalir darah segar karena serangan baliknya sendiri. Mantra penghancur massalnya telah diredam total tanpa sisa.
"Tidak mungkin..., dia telah menguasai pengendalian tingkat langit," gumam Resi Bhaskara dengan tangan gemetar.
Melihat kekuatannya yang melemah, Patih Mangkubumi yang licik tidak kehilangan akal. Menyadari bahwa dirinya tidak bisa menang melawan Subosito dalam adu kesaktian fisik. Patih memiliki senjata lain yang lebih tajam dari keris mana pun: lidah yang penuh bisa dan manipulasi kebenaran.
Mangkubumi segera memerintahkan para prajuritnya untuk membunyikan kentongan bertalu-talu—tanda bahaya besar. Dia berlari ke balkon istana yang menghadap ke alun-alun kota, di mana rakyat mulai berkumpul karena melihat cahaya emas di langit.
"Rakyat Kadipaten! Lihat ke atas!" teriakan Mangkubumi dengan suara yang diperkuat oleh sihir agar terdengar hingga ke ujung kota. "Monster api itu..., Setan Lawu itu telah kembali! Dia telah menyusup ke kamar pribadi Adipati dan membunuh junjungan kita dengan kejam!"
Suaranya pecah menggelegar di alun-alun.
"Jangan tertipu oleh sayap emasnya!" lanjut Mangkubumi, air mata buaya mengalir di pipinya. "Itu adalah cahaya iblis yang menyamar! Dia baru saja mematikan lampion-lampion kita agar dia bisa membantai kita dalam kegelapan! Sang Adipati telah gugur di tangan putra sang pengkhianat Arga Sangkara!"
Fitnah itu menyebar seperti wabah, rakyat yang baru saja merasa takjub, kini diserang oleh keributan massal. Mereka melihat Subosito yang terbang di atas sana bukan lagi sebagai pelindung, melainkan sebagai predator yang sedang mengincar nyawa mereka.
Ketidaktahuan dan trauma masa lalu tentang "Setan Api" membuat mereka mudah disulut.
"Tangkap pembunuh Adipati! Kematian bagi Setan Lawu!" terak massa yang terhasut.
Di dalam kamar, Sang Adipati sebenarnya masih hidup, berbaring lemah di pelukan Dyah Ayuwangi. Matanya terbuka sayu, namun bibirnya tak mampu bersuara.
Dyah mencoba berteriak dari jendela, mencoba menjelaskan bahwa ayahnya masih bernapas, percuma, suaranya tenggelam oleh sorak-sorai kemarahan rakyat dan perintah Mangkubumi.
"Barang siapa yang bisa membawa kepala Subosito atau memberikan informasi yang menyebabkan penangkapannya, akan dihadiahi sepuluh ribu keping emas dan jabatan bangsawan!" Pengumuman Mangkubumi menutup harapan bagi perdamaian malam itu.
Subosito yang berada di ketinggian bisa mendengar setiap kata fitnah itu dengan indra pendengarannya yang tajam. Hatinya perih, padahal baru saja menyelamatkan kota ini dari ledakan besar, malah kini justru menjadi musuh publik nomor satu.
Subosito melihat para prajurit mulai menyiapkan panah-panah besar dari menara pengawas, mengarahkannya tepat ke sekitarnya.
Pemuda itu bisa saja menyapu bersih mereka semua dengan satu kibasan sayap. Namun, dirinya teringat akan janjinya: api ini tidak membalas dendam.
"Subosito! Pergilah!" Suara itu berasal dari batinnya. Itu adalah suara Dyah Ayuwangi yang dikirimkan melalui koneksi batin lencana Garuda yang mereka pegang. "Mangkubumi telah menutup semua akses informasi. Jika kau tetap di sini, rakyat akan mati hanya karena mencoba menyerangmu. Pergilah, selamatkan dirimu, cari sisa-sisa kesatria tua di perbatasan. Aku akan menjaga Ayahanda dan mencari cara untuk membuktikan kebenaran!"
Subosito menatap ke bawah, ke arah jendela kamar Adipati di mana Dyah berdiri dengan wajah penuh kecemasan. Dia tahu bahwa tinggal di sini hanya akan memperburuk keadaan. Kadipaten belum siap menerima kebenaran.
"Aku akan kembali, Dyah. Demi kau, dan demi kebenaran!" bisik Subosito ke arah angin.
Dengan satu kepakan sayap yang menghasilkan dorongan udara, Subosito melesat ke arah selatan, menuju kegelapan hutan yang jauh dari jangkauan panah istana.
Subosito terbang rendah, menghindari deteksi menara pengawas, hingga akhirnya menghilang di balik kabut tebal yang menyelamatkan dinkaki Gunung Lawu.
Istana Kadipaten tertinggal di belakang, kini menjadi sarang intrik Mangkubumi yang semakin kuat. Sang Patih tersenyum puas melihat Subosito melarikan diri.
Baginya, status buronan Subosito adalah kemenangan politik yang sempurna. Dirinya kini memiliki alasan sah untuk mengerahkan seluruh kekuatan militer Kadipaten—dan mungkin memanggil bantuan dari kekuatan "Macan Putih"—untuk memburu sang pemuda emas.
Malam itu berakhir dengan kesunyian yang mencekam. Di tembok-tembok kota, poster-poster baru mulai ditempel dengan tergesa-gesa. Gambar seorang pemuda dengan sayap emas, dengan tulisan besar: "BURONAN NEGARA: PEMBUNUH ADIPATI".
Subosito kini kembali ke titik nol, bukan lagi hanya seorang pelarian dari desa, melainkan buronan yang paling dicari di seluruh tanah Jawa.
Namun kali ini, Subosito tidak lagi lari karena ketakutan, dia lari dengan tujuan. Di belakang, sayap emas tidak menghilang; ia hanya meredup, menunggu saat yang tepat untuk kembali membakar kegelapan yang sesungguhnya.
Subosito telah menyelamatkan kota dari api, namun dirinya kini terbakar oleh fitnah yang lebih panas dari magma. Di tengah pelariannya, Subosito mulai menyadari bahwa menjadi pahlawan tidak selalu mendapatkan sanjungan, terkadang itu berarti memikul kebencian dari orang-orang yang dilindungi.
Ke mana langkah Subosito selanjutnya? Dan mampukah Dyah Ayuwangi bertahan di tengah kepungan ular-ular istana tanpa perlindungan sang Garuda?
Simak terus kelanjutan kisah Subosito.