NovelToon NovelToon
The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi
Popularitas:444
Nilai: 5
Nama Author: Lallunna

Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.

Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.

Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.



Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Hening Sebelum Badai

​Dua hari sebelum kedatangan tim verifikasi SMA Garuda Nusantara, SMP Negeri 12 berubah menjadi sarang lebah yang sibuk. Di lorong-lorong yang biasanya hanya dipenuhi candaan siswa, kini riuh oleh suara sapu, ketukan palu, dan instruksi guru yang panik. Cat tembok berwarna hijau telur asin yang sudah mengelupas di beberapa sudut kini ditutupi dengan poster-poster prestasi dan visi-misi sekolah yang baru saja dicetak.

​Senara berdiri di tengah lapangan upacara yang baru saja disapu bersih. Ia menatap tiang bendera yang tali pengikatnya baru saja diganti. Ada beban yang tidak kasat mata menindih pundaknya. Ia tahu, meskipun kunjungan ini bertujuan untuk memverifikasi datanya sebagai calon siswa jalur undangan, seluruh harga diri sekolahnya ikut dipertaruhkan. Jika ia gagal memberikan kesan yang sempurna, bukan hanya mimpinya yang hancur, tapi juga harapan para guru yang selama ini telah memberikan segala keringanan baginya.

​"Nara, ini draf pidato singkat dan presentasi portofolionya. Tolong diperiksa lagi ya," ujar Dewi sambil menyeka keringat di dahinya dengan tisu. Guru biologi itu tampak sangat lelah, ia secara sukarela lembur selama tiga hari terakhir untuk memastikan laboratorium komputer terlihat lebih layak dengan menata kabel-kabel yang berantakan.

​Senara menerima berkas itu, namun matanya tertuju pada tangan Ibu Dewi yang sedikit gemetar. "Ibu tidak perlu sejauh ini, biar saya yang merapikan sisanya nanti sore."

​"Jangan, Nara, kamu harus fokus belajar. Biar kami yang mengurus wajah sekolah ini, kamu fokus saja pada isinya. Kami ingin dunia tahu kalau sekolah pinggiran seperti kita bisa menghasilkan berlian sepertimu," jawab Dewi dengan senyum tulus yang membuat dada Senara sesak.

​Senara kembali ke kelasnya dengan perasaan campur aduk. Ia duduk di bangkunya, membuka buku catatan, namun pikirannya melayang pada Bima. Ia yakin, Bima tidak akan membiarkan momen ini berlalu dengan tenang.

​Di saat yang sama, di dalam laboratorium pribadi yang terletak di lantai dua rumahnya, Bima sedang tidak memikirkan soal cat tembok atau presentasi. Di depannya, sebuah koper hitam besar terbuka, menampakkan deretan perangkat elektronik yang terlihat seperti peralatan militer.

​Itu adalah High Frequency Portable Jammer berkekuatan tinggi yang telah ia modifikasi.

​"Tuan V, semua parameter sudah siap," lapor asisten teknisnya melalui sambungan video terenkripsi. "Radius isolasi bisa mencapai delapan ratus meter. Begitu alat ini dinyalakan, tidak akan ada sinyal seluler, Wi-Fi, bahkan frekuensi radio radio amatir yang bisa menembus area tersebut. Sekolah itu akan menjadi lubang hitam digital."

​Bima menatap perangkat itu dengan mata dingin. "Bagaimana dengan deteksi balik? Apa pihak berwenang bisa melacak sumber gangguannya?"

​"Sangat sulit. Kita menggunakan pola frequency hopping yang sangat cepat. Bagi detektor biasa, itu hanya akan terlihat seperti gangguan atmosfer atau kegagalan menara seluler setempat."

​Bima mengangguk puas. Tujuannya bukan untuk mencelakai Senara secara fisik, melainkan untuk melakukan eksperimen murni. Ia ingin membuktikan teorinya, bahwa Senara memiliki perangkat pelindung otomatis yang bergantung pada koneksi atau transmisi data. Jika ia mematikan semua jalur komunikasi di SMP 12 saat tim verifikasi berada di sana, ia ingin melihat bagaimana Senara bereaksi tanpa "keajaiban" yang biasanya muncul saat terjadi konflik digital.

​"Dua hari lagi, Senara," gumam Bima sambil menyentuh layar yang menampilkan denah SMP 12. "Kita lihat, apakah otak jeniusmu itu tetap berfungsi saat duniamu kembali ke zaman batu."

​Bagi Bima, ini adalah catur tingkat tinggi, ia merasa dirinya adalah penguji yang sedang menyaring kebenaran dari kebohongan. Jika Senara tetap bisa memukau tim Garuda tanpa gangguan aneh di sekitarnya, maka ia akan mengakui bahwa Senara adalah rival yang murni. Namun, jika terjadi kegagalan sistem tepat saat ia menyalakan jammer, maka ia akan tahu bahwa Senara adalah bagian dari konspirasi digital yang lebih besar.

​Malam harinya di Blok 4, Senara tidak bisa memejamkan mata. Kamarnya yang sempit terasa lebih pengap dari biasanya. Suara jangkrik di luar dan bising dari televisi tetangga biasanya menjadi musik latar yang menenangkan baginya, namun malam ini semuanya terasa mengganggu.

​Ia duduk di meja belajarnya, menatap robot biru kecil yang ada di samping cermin retaknya. Ia merasa ada yang aneh. Sejak sore tadi, robot itu terasa hangat, padahal suhu ruangan cukup dingin. Senara mengambilnya, menimangnya di telapak tangan.

​"Apa kamu benar-benar hanya mainan?" bisik Senara.

​Ia mencoba mengingat-ingat kembali semua kejadian aneh belakangan ini. Komputer warnet yang eror, sistem mobil Bima yang kacau, hingga komputer laboratorium yang menyala sendiri. Sebagai anak sains, Senara tidak percaya pada klenik, ia tahu pasti ada penjelasan logis di balik semua ini. Namun, logika itu selalu menuntunnya pada satu kesimpulan yang tidak masuk akal, bahwa ada sesuatu yang sedang menjaganya.

​Senara meraih sebuah obeng kecil yang biasa ia gunakan untuk membetulkan radio tua ibunya. Ia berniat membuka bagian belakang robot itu untuk melihat isinya. Namun, tepat saat ujung obeng menyentuh celah kecil di punggung robot, sebuah percikan statis kecil menyengat jarinya.

​"Aw!" Senara menarik tangannya dengan cepat.

​Ia menatap robot itu dengan waspada. Anehnya, lampu LED di mata robot itu sempat berkedip merah sekali, sangat cepat, seperti sebuah peringatan, sebelum kembali mati. Senara menelan ludah, ia memutuskan untuk tidak mengutak-atik benda itu lagi. Ia memasukkannya ke dalam saku jaket yang akan ia pakai lusa.

​"Apapun kamu... tolong jangan bikin masalah lagi," gumamnya penuh harap.

​Keesokan paginya, Bima melakukan persiapan terakhir. Ia tidak masuk sekolah dengan alasan mempersiapkan kunjungan tim Garuda, ia pergi ke sebuah bangunan tua di dekat SMP 12 yang ia sewa secara anonim melalui pihak ketiga. Bangunan itu memiliki ketinggian yang pas untuk menempatkan antena jammer miliknya.

​Bima memasang alat itu sendiri, ia tidak mempercayai siapa pun untuk bagian krusial ini. Dengan cekatan, ia merangkai kabel dan melakukan sinkronisasi dengan laptopnya.

​"Sistem aktif dalam mode standby," suara robotik dari laptopnya mengonfirmasi.

​Bima berdiri di balkon bangunan tua itu, menatap ke arah SMP 12 yang jaraknya hanya beberapa ratus meter. Dari sini, ia bisa melihat bendera merah putih berkibar di lapangan sekolah tersebut. Ia membayangkan Senara yang mungkin sedang gugup di dalam sana.

​Ada bagian kecil di hati Bima yang merasa bersalah, sebuah perasaan asing yang selalu ia tekan dalam-dalam. Ia tahu betapa pentingnya hari itu bagi Senara. Dengan melakukan isolasi jaringan, ia mungkin akan merusak jalannya presentasi Senara jika gadis itu bergantung pada data cloud. Namun, rasa ingin tahunya jauh lebih besar daripada rasa empatinya.

​"Ini demi ilmu pengetahuan, Senara. Kebenaran harus selalu di atas segalanya," Bima meyakinkan dirinya sendiri.

​Malam sebelum hari verifikasi, ketenangan yang mencekam menyelimuti kedua belah pihak.

​Senara sedang berlutut di samping tempat tidur ibunya, memijat kaki wanita yang sudah sangat lelah itu. "Ibu tidak perlu datang lusa kalau capek, Nara bisa sendiri."

​"Ibu harus datang, Nara. Ibu mau lihat anak Ibu berdiri di depan orang-orang hebat dari Jakarta itu," jawab ibunya dengan suara parau namun penuh kebanggaan.

​Senara hanya bisa mengangguk, menahan air mata yang hampir jatuh. Ia berjanji dalam hati, apa pun yang terjadi lusa, ia akan memberikan yang terbaik. Ia akan membuktikan bahwa kemiskinan dan lingkungan yang keras tidak akan pernah bisa memadamkan cahaya kecerdasan yang ia miliki.

​Di menara gadingnya, Bima sedang meneguk segelas air putih sambil menatap layar monitor yang menampilkan grafik kesiapan jammernya. Semuanya sempurna. Tidak ada celah.

​Dua dunia, dua rencana, dan satu tujuan. Esok, saat matahari terbit di atas kota, sebuah pertempuran yang tidak terlihat oleh mata akan dimulai di SMP Negeri 12. Senara akan berdiri dengan otaknya, sementara Bima akan mengintai dengan teknologinya. Dan di antara mereka, sebuah robot biru kecil di dalam saku jaket lusuh akan menjadi penentu siapa yang akan tetap berdiri saat semua sinyal di tempat itu mati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!