Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perisai Keluarga
Tiga hari setelah malam yang menghancurkan pintu kamar itu, rumah mereka tidak pernah lagi mengenal kegelapan. Lampu-lampu di seluruh sudut ruangan dibiarkan menyala, membanjiri sela-sela furnitur dengan cahaya putih yang tajam. Namun, bagi Bram, cahaya itu justru memperjelas retakan dalam hidupnya. Ia masih berusaha merangkai logika, mencari penjelasan mekanis tentang bagaimana memar jari dewasa bisa muncul di leher seorang balita di kamar terkunci.
Malam itu, jam dinding menunjukkan pukul satu pagi. Bram duduk di meja makan, menatap cangkir kopi yang sudah dingin. Maria dan Lauren sudah berada di kamar utama, berusaha mencuri waktu tidur dalam lindungan cahaya lampu yang benderang. Bram mendesah lelah. Punggungnya terasa kaku, namun matanya menolak untuk terpejam.
Ia bangkit menuju dapur, berniat menuangkan air putih ke tenggorokannya yang terasa kering. Suasana dapur begitu sunyi, hanya ada suara dengung pelan dari lemari es. Bram meraih gelas kaca di atas konter. Tiba-tiba, suhu di ruangan itu merosot tajam. Ia bisa melihat uap tipis keluar dari napasnya sendiri, padahal mesin pendingin ruangan tidak sedang menyala.
Ini hanya sugesti, batin Bram. Ia mencengkeram pinggiran meja, mencoba mengusir rasa merinding yang merayap di tengkuknya.
Tiba-tiba, suara derit kayu yang berat terdengar dari arah lemari gantung di atas kepalanya. Bram mendongak. Lemari tempat Maria menyimpan set piring kristal dan gelas berat itu tampak bergetar hebat. Padahal, lemari itu dipaku kuat ke tembok beton dengan baut-baut besar.
Kriet. Kriet.
"Sial," gumam Bram. Ia mengira ada gempa bumi kecil, namun lampu gantung di tengah ruangan sama sekali tidak bergoyang. Getaran itu hanya berpusat pada lemari tersebut.
Bram baru saja akan melangkah mundur ketika ia merasakan udara di belakangnya bergeser. Sebuah hawa dingin yang pekat seolah-olah mendorongnya untuk tetap diam di tempat. Ia merasa kakinya terpaku pada lantai, seberat timah.
"Pa! Awas!"
Suara teriakan melengking itu datang dari arah pintu dapur. Bram menoleh cepat dan melihat Lauren berdiri di sana. Mata putrinya tidak tampak mengantuk; mata itu melebar, berkilat karena ketakutan yang murni. Lauren tidak berlari mendekat, ia justru merentangkan tangannya ke depan, telapak tangannya terbuka lebar ke arah Bram.
"Lari, Pa! Dia mendorongnya!" jerit Lauren lagi.
Dalam hitungan detik yang terasa melambat, baut-baut lemari gantung itu terlepas secara paksa dari tembok. Bukan sekadar jatuh karena gravitasi, lemari itu seolah dilempar dengan kekuatan besar tepat ke arah kepala Bram.
Bram masih mematung, namun ia merasakan sebuah sentuhan hangat tak kasatmata menarik kerah bajunya dengan kasar ke belakang. Ia terjatuh ke lantai tepat saat lemari berat itu menghantam meja makan.
Prang!
Suara kaca pecah dan kayu yang hancur memekakkan telinga. Pecahan piring kristal terbang ke segala arah. Jika Bram masih berdiri di posisi semula, kepalanya pasti sudah hancur tertimpa beban ratusan kilogram itu.
Napas Bram tersengal. Ia duduk di lantai di antara puing-puing kaca, menatap tempat di mana ia berdiri sedetik lalu. Tembok beton tempat lemari itu tadinya menempel menunjukkan bekas lubang baut yang tercungkil kasar, seolah-olah ada tangan raksasa yang merenggutnya dari dinding.
"Mas! Lauren!" Maria berlari masuk ke dapur dengan wajah pucat pasi. Ia terbelalak melihat kekacauan di depan matanya.
Lauren segera berlari menghampiri ayahnya. Ia memeluk leher Bram erat-erat, tubuhnya yang mungil menggigil hebat.
"Dia marah karena Papa tidak percaya. Dia ada di sana tadi, berdiri di atas lemari."
Bram tidak menjawab. Ia menatap telapak tangan Lauren yang masih gemetar. Perlahan, Bram mengangkat tangannya yang besar, mengelus rambut Lauren dengan jemari yang masih berguncang. Logika yang selama ini ia agung-agungkan hancur berkeping-keping bersama pecahan gelas di lantai.
"Kamu melihatnya, Nak?" suara Bram terdengar serak, nyaris tak terdengar.
Lauren mengangguk di bahu ayahnya.
"Dia besar, Pa. Hitam. Dia bilang Papa terlalu berisik dengan pikiran Papa."
Maria berlutut di samping mereka, merangkul kedua orang yang paling dicintainya itu. Air matanya jatuh mengenai lengan kemeja Bram.
"Sudah kubilang, Bram. Ini bukan soal psikologi. Kita tidak bisa melawannya sendirian."
Bram menatap istrinya. Untuk pertama kalinya, tidak ada perlawanan di matanya. Rasa bangganya sebagai pria rasional telah runtuh, digantikan oleh rasa takut yang luar biasa akan keselamatan keluarganya. Ia menyadari bahwa ketidakyakinannya selama ini justru membuat Lauren berjuang sendirian di garis depan sebuah perang yang tidak terlihat.
"Maafkan aku," bisik Bram. Ia memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata jatuh.
"Maafkan Papa, Lauren. Papa tidak tahu... Papa tidak mau percaya karena Papa takut tidak bisa melindungimu."
"Papa percaya sekarang?" tanya Lauren pelan, mendongak menatap wajah ayahnya.
Bram mencium kening Lauren lama sekali.
"Iya. Papa percaya. Mulai sekarang, kita hadapi ini sama-sama. Tidak akan ada lagi yang bilang kamu aneh di rumah ini."
Suasana dapur yang hancur itu mendadak terasa sedikit lebih tenang, meski hawa dingin masih tersisa di sudut-sudut ruangan. Bram berdiri, menggendong Lauren dalam dekapannya. Ia merasakan beban berat yang selama ini dipikul Maria berpindah sebagian ke pundaknya.
Mereka kembali ke kamar utama. Bram tidak membiarkan Lauren turun dari gendongannya sampai mereka sampai di atas tempat tidur. Ia menyalakan lampu meja tambahan, memastikan setiap jengkal ruangan itu terang benderang.
Beberapa jam kemudian, saat fajar mulai mengintip dari balik gorden, Lauren akhirnya jatuh tertidur karena kelelahan. Maria juga tampak terlelap di sisi lain tempat tidur, masih memegang tangan putrinya.
Bram tetap terjaga. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap punggung Lauren yang naik turun secara teratur. Ia memperhatikan bekas memar di leher Lauren yang kini mulai membiru. Selama ini ia menganggap dirinya pelindung keluarga karena ia bekerja keras mencari nafkah, namun malam ini ia sadar betapa tidak berdayanya ia di hadapan kegelapan yang mengincar anaknya.
Ia meraih ponselnya, mencari kembali nomor kontak yang pernah ditunjukkan Maria secara sembunyi-sembunyi beberapa hari lalu. Nama Mbah Minto muncul di layar. Bram menatap nomor itu lama. Ia tahu, menghubungi pria itu berarti ia harus masuk sepenuhnya ke dunia yang selama ini ia anggap takhayul.
Dunianya yang tertata rapi kini telah lenyap. Ruang tamunya, dapurnya, dan bahkan kamar tidurnya kini menjadi medan pertempuran. Bram menoleh ke arah jendela, merasa seolah-olah di luar sana, ribuan pasang mata sedang mengawasi rumah mereka, menunggu cahaya lampu dipadamkan.
"Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu lagi," gumam Bram pada Lauren yang terlelap.
Ia menggenggam tangan kecil Lauren. Saat itulah, ia merasakan sebuah denyutan energi hangat mengalir dari telapak tangan putrinya ke jemarinya. Itu bukan sekadar panas tubuh; itu adalah getaran kehidupan yang kuat, sebuah kekuatan yang belum ia pahami sepenuhnya.
Bram menyadari bahwa mulai besok, ia tidak akan lagi menanyakan kenapa pada setiap kejadian aneh. Ia akan mulai bertanya bagaimana cara melawannya. Keluarga mereka telah menyatu dalam satu ketakutan yang sama, dan dalam ketakutan itu, mereka menemukan sebuah kekuatan baru untuk bertahan.
Bram menatap bayangan dirinya di cermin lemari yang retak. Ia bukan lagi pria yang percaya hanya pada apa yang dilihat matanya. Ia adalah ayah dari seorang gadis indigo, dan ia baru saja menerima takdirnya sebagai perisai pertama di antara dua dunia. Namun, saat ia mulai merasa tenang, lampu di langit-langit kamar tiba-tiba berkedip sekali, dan suara bisikan halus terdengar dari balik dinding, menyebutkan namanya dengan nada yang sangat dingin.