Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 – Bayangan yang Kembali
Malam menggantung berat di atas Manhattan.
Lampu-lampu kota menyala seperti bintang buatan manusia, tetapi di dalam St. Helena Medical Center, cahaya terasa dingin dan sunyi. Di ruang ICU, Valeria terbaring tak bergerak. Mesin ventilator membantu napasnya. Monitor jantung berbunyi pelan, ritmis—rapuh.
Seluruh kampus masih gempar.
Mahasiswa berkumpul dalam kelompok kecil, membicarakan tragedi yang terjadi. Beberapa menangis. Beberapa menyalahkan sistem keamanan. Beberapa hanya terdiam dalam rasa takut.
Daniel belum beranjak dari lorong ICU.
Alexander duduk tak jauh dari sana, wajahnya pucat, kedua tangannya saling menggenggam erat. Sementara Eduardo Alejandro Castillo tegap seperti biasa, tetapi tatapannya tak bisa menyembunyikan kecemasan seorang ayah—bukan hanya untuk putranya, tapi juga untuk gadis yang kini terbaring antara hidup dan mati.
Namun di luar gedung rumah sakit, di taman kecil yang diterangi lampu taman redup, seseorang duduk sendirian di bangku kayu.
Camille.
Untuk pertama kalinya sejak ia mengenal Valeria, hatinya terasa kosong.
Tidak ada iri.
Tidak ada amarah.
Hanya ketakutan.
Ia menatap kedua tangannya yang tadi dipenuhi darah Valeria.
Darah itu masih terasa hangat dalam ingatannya.
“Aku tidak pernah ingin ini terjadi…” gumamnya pelan.
Air mata mengalir tanpa ia sadari.
Selama ini ia menganggap Valeria sebagai ancaman. Sebagai pesaing. Sebagai bayangan yang menutupi cahayanya.
Namun ketika peluru itu menembus tubuh Valeria, semua kompetisi terasa tak berarti.
Bagaimana jika Valeria tidak pernah membuka mata lagi?
Bagaimana jika kata-kata terakhir yang mereka tukar hanyalah sindiran?
Camille menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Ia tak pernah membenci Valeria sepenuhnya.
Ia hanya takut kalah.
Takut tak terlihat.
Takut tak dianggap.
Langkah pelan terdengar mendekat.
Camille menghapus air matanya cepat-cepat.
Seorang wanita berdiri beberapa meter darinya.
Usianya sekitar akhir empat puluhan. Wajahnya anggun, namun sorot matanya menyimpan luka yang dalam. Rambut hitamnya tersisir rapi, meski beberapa helai putih tampak jelas di bawah cahaya lampu taman.
Wanita itu memandang gedung rumah sakit dengan tatapan kosong.
Lalu perlahan duduk di ujung bangku yang sama.
Mereka terdiam beberapa menit.
Angin malam berhembus lembut.
Wanita itu akhirnya berbicara, suaranya lembut namun sarat kesedihan.
“Apakah kau juga menunggu seseorang?”
Camille terdiam sejenak. “Teman saya. Dia… tertembak.”
Wanita itu menoleh perlahan. “Gadis muda?”
Camille mengangguk. “Namanya Valeria.”
Nama itu membuat tubuh wanita tersebut menegang sangat halus—hampir tak terlihat.
“Valeria…” ulangnya pelan, seolah nama itu adalah sesuatu yang sangat lama tak ia rasakan. Menghangat.
Camille tak menyadari perubahan itu.
“Dia orang yang sangat baik,” lanjut Camille lirih. “Dan sangat pintar. Tapi aku… aku tidak selalu memperlakukannya dengan baik.”
Wanita itu memandangnya lembut. “Kadang kita baru menyadari arti seseorang saat hampir kehilangannya.”
Camille menunduk.
“Aku iri padanya. Semua orang mengaguminya. Dia mendapatkan program bedah. Dia dekat dengan keluarga Alejandro Castillo. Aku merasa… tersingkir.”
Wanita itu tersenyum tipis, sedih.
“Apakah dia pernah menyakitimu?”
Camille menggeleng pelan. “Tidak.”
“Lalu mungkin luka itu bukan dari dia. Tapi dari dirimu sendiri.”
Kalimat itu membuat Camille terdiam lama.
Wanita itu kembali menatap gedung rumah sakit.
“Aku pernah kehilangan seorang anak,” katanya tiba-tiba.
Camille mengangkat wajahnya.
“Bayi perempuan. Empat bulan usianya.” Suara wanita itu bergetar halus. “Dia diculik dari rumah kami bertahun-tahun lalu.”
Jantung Camille berdegup lebih cepat.
“Apa… belum ditemukan?”
Wanita itu menggeleng.
“Suamiku berasal dari keluarga yang tidak sederhana. Dunia bisnis internasional. Banyak musuh. Polisi menduga penculikan itu bukan sekadar kejahatan biasa.” Ia menarik napas panjang. “Sejak hari itu, hidupku tidak pernah sama.”
Air mata mengalir pelan di pipinya.
“Aku masih datang ke rumah sakit ini setiap tahun di hari ulang tahunnya. Entah kenapa. Mungkin berharap suatu hari takdir mempertemukan kami kembali.”
Camille merasakan dadanya sesak.
“Apa namanya?” tanyanya pelan.
Wanita itu tersenyum samar. “Valentina.”
Dunia terasa berhenti.
Camille menatap wanita itu dengan mata membesar.
“Namanya Valeria?” suaranya hampir tak terdengar.
Wanita itu mengangguk, lalu tersenyum. Bukan, “Alessandra Valentina De Luca.”
Nama belakang itu terdengar asing bagi Camille, namun nama tengahnya…
Hampir Sama.
“Kebetulan yang aneh, ya?” lanjut wanita itu pelan. “Temanmu bernama mirip dengannya.”
Camille tak bisa langsung menjawab.
Di dalam kepalanya, potongan-potongan kecil mulai berputar.
Valeria tidak pernah banyak bercerita tentang masa kecilnya.
Ia hanya mengatakan dibesarkan oleh keluarga sederhana di Meksiko.
Tidak pernah menyebut orang tua kandungnya.
Tidak pernah menunjukkan foto bayi.
Camille menelan ludah.
“Maaf… apakah Anda yakin anak Anda…” ia ragu melanjutkan.
Wanita itu tersenyum getir. “Seorang ibu tidak pernah berhenti berharap.”
Keheningan menyelimuti mereka lagi.
Camille menatap wanita itu lebih saksama.
Ada sesuatu dalam sorot matanya yang terasa… familiar.
Entah kenapa, bayangan wajah Valeria saat tersenyum melintas dalam pikirannya.
Struktur wajah.
Lengkungan alis.
Tatapan mata yang dalam.
Mirip.
Sangat mirip.
Jantung Camille berdebar tak beraturan.
Tidak mungkin.
Atau… mungkin?
“Apakah Anda tinggal di Manhattan?” tanya Camille hati-hati.
Wanita itu mengangguk. “Keluargaku memiliki beberapa perusahaan di sini. Tapi sebagian hidupku terasa kosong.”
Camille memejamkan mata sejenak.
Jika ini hanya kebetulan, maka terlalu kejam.
Namun jika ini bukan kebetulan…
Maka takdir sedang memainkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar persaingan kampus.
Wanita itu berdiri perlahan.
“Aku harus kembali. Terima kasih sudah mendengarkan.”
Camille ikut berdiri.
“Semoga… temanmu selamat,” ucap wanita itu tulus.
Camille menatapnya dalam.
“Terima kasih.”
Wanita itu berjalan menjauh, langkahnya anggun namun sarat kesedihan.
Camille tetap berdiri di taman, pikirannya kacau.
Ia datang ke bangku itu dengan hati penuh penyesalan.
Namun ia bangkit dengan sesuatu yang jauh lebih berat—
Sebuah kemungkinan.
Jika Valeria benar-benar anak yang hilang itu…
Maka hidupnya bukan hanya tentang beasiswa.
Bukan hanya tentang program bedah.
Bukan hanya tentang keluarga petani di Meksiko.
Ada dunia lain.
Dunia yang lebih besar.
Dan mungkin lebih berbahaya.
Camille menatap ke arah gedung ICU.
Untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan dirinya sendiri.
Ia hanya berdoa dalam hati—
Bangunlah, Valeria.
Karena mungkin… hanya dia yang bisa menjawab misteri ini.
Dan mungkin pula—
Camille baru saja menemukan alasan untuk berubah.
Sementara di dalam ruang ICU, jari Valeria bergerak sangat pelan.
Hampir tak terlihat.
Namun cukup untuk menjadi tanda—
Bahwa kisahnya belum selesai.
ayah nya miguel basah mukanya dengan air wudu?
dengan latar luar negri kok kesan janggal nya