Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu yang Tak Diundang
Sinar matahari pagi menembus celah gorden apartemen, memaksa Luna untuk mengerjapkan matanya. Ia terbangun dengan perasaan asing; ini adalah pagi pertamanya terbangun di kediaman yang sama dengan Isaac sejak hubungan mereka kandas tiga tahun lalu. Saat ia melangkah ke dapur dengan piyama sutranya, ia mendapati Isaac sudah rapi dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung, sedang menyesap kopi sembari membaca dokumen di tabletnya.
"Kau bangun kesiangan, Luna. Aku hampir mengira kau pingsan karena terlalu banyak memikirkanku semalam," ujar Isaac tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya. Nada bicaranya setajam biasanya.
Luna mendengus sembari menuang air ke gelas. "Jangan terlalu percaya diri, Isaac. Aku hanya kelelahan karena harus membereskan barang-barangku sendiri tanpa bantuanmu."
"Aku menawarkan bantuan, tapi kau menolak dengan angkuh, bukan?" Isaac meletakkan tabletnya dan menatap Luna lekat-lekat. "Lain kali, buang gengsimu itu jika kau tidak ingin pinggangmu encok."
Baru saja Luna hendak membalas ejekan itu, bel pintu apartemen berbunyi nyaring. Keduanya saling pandang dengan kening berkerut. Isaac melangkah menuju pintu dan membukanya. Di ambang pintu, berdiri seorang pria tinggi berambut cokelat dengan senyum ramah yang tampak sangat kontras dengan ekspresi dingin Isaac.
"Adrian?" gumam Luna pelan saat melihat sosok itu.
Adrian adalah rekan bisnis sekaligus sahabat lama Luna yang baru saja kembali dari luar negeri. Ia membawa sebuah buket bunga lili putih kesukaan Luna.
"Halo, Luna. Aku dengar dari ibumu kau sudah pindah ke sini," ujar Adrian dengan suara hangat. Ia kemudian menoleh ke arah Isaac yang berdiri mematung di depan pintu dengan tatapan mengintimidasi. "Dan kau pasti Isaac Waren. Senang bertemu denganmu lagi setelah sekian lama."
Isaac tidak membalas jabatan tangan Adrian. Ia justru menyandarkan bahunya di kusen pintu, melipat tangan di dada dengan sikap defensif. "Apa yang kau lakukan di sini sepagi ini, Adrian? Apartemen ini bukan tempat penitipan bunga."
"Isaac, jaga bicaramu!" tegur Luna sembari menghampiri mereka. Ia mengambil bunga dari tangan Adrian dengan senyum tipis. "Masuklah, Adrian. Maafkan sikap Isaac, dia memang belum minum kopi dengan benar pagi ini."
Isaac mendengus kasar. "Aku sudah menghabiskan dua cangkir, Luna. Dan kehadirannya sama sekali tidak ada dalam jadwal sarapanku."
Suasana di ruang tamu seketika berubah menjadi tegang. Adrian duduk di sofa dengan tenang, sementara Isaac terus berdiri di dekat jendela, mengawasi setiap gerak-gerik pria itu seolah-olah Adrian adalah ancaman besar. Luna merasa terjepit di antara dua pria yang memiliki sejarah berbeda dalam hidupnya: yang satu adalah masa lalu yang dipaksa menjadi masa depan, dan yang satu lagi adalah sahabat yang selalu ada di masa sulitnya.
"Jadi," Adrian memulai pembicaraan, memecah kesunyian yang mencekam. "Bagaimana rasanya tinggal bersama mantan kekasih, Luna? Apakah ia masih menyebalkan seperti dulu?"
Luna melirik Isaac yang kini menatap Adrian dengan kilatan amarah yang tersembunyi di balik ketenangannya. Permainan baru saja dimulai.
Pertanyaan Adrian menggantung di udara, menciptakan keheningan yang menyesakkan. Luna melirik Isaac yang kini meremas pinggiran meja makan dengan buku jari yang memutih. Ketegangan itu begitu nyata, seolah oksigen di ruangan itu baru saja disedot keluar.
"Dia bukan hanya mantan kekasih, Adrian. Dia calon suamiku," potong Isaac dengan suara rendah namun tajam. Ia melangkah mendekati sofa, berdiri tepat di samping Luna seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya. "Dan seingatku, aku tidak mengundangmu untuk sesi wawancara pagi ini."
Adrian terkekeh pelan, tidak merasa terintimidasi sedikit pun. "Aku hanya memastikan Luna baik-baik saja, Isaac. Kau tahu sendiri bagaimana temperamenmu dulu sering membuat Luna menangis."
"Itu dulu," desis Isaac. Ia beralih menatap Luna yang tampak gelisah. "Luna, bukankah kau bilang kau harus bersiap-siap untuk fitting baju pengantin hari ini? Kenapa kau masih duduk di sini melayani tamu yang tidak diundang?"
Luna mengerutkan kening. "Fitting? Bukankah jadwalnya besok, Isaac?"
"Aku memajukannya menjadi hari ini. Sekarang," bohong Isaac dengan wajah datar yang sangat meyakinkan. Ia menatap Adrian dengan pandangan mengusir yang sangat jelas. "Jadi, kurasa kau harus pergi sekarang, Adrian. Calon istriku punya banyak urusan penting."
Adrian berdiri, merapikan jasnya dengan tenang. Ia menatap Luna dengan tatapan simpati yang membuat Isaac semakin geram. "Baiklah, Luna. Aku pergi dulu. Jika kau butuh teman bicara—atau seseorang untuk membantumu kabur—kau tahu di mana harus mencariku."
Setelah pintu apartemen tertutup rapat, Luna langsung berdiri dan menghadap Isaac dengan amarah yang meluap.
"Apa-apaan kau ini, Isaac?! Kau berbohong soal jadwal itu hanya untuk mengusir Adrian? Kau sangat tidak sopan!" seru Luna.
Isaac berbalik, menatap Luna dengan kilatan mata yang sulit diartikan. Ia melangkah maju hingga Luna terpojok ke sandaran sofa. "Aku tidak suka cara dia menatapmu, Luna. Dan aku lebih tidak suka kau menerima bunga darinya di rumahku."
"Ini bukan rumahmu saja, ini rumah kita! Dan Adrian adalah temanku!" balas Luna, suaranya sedikit bergetar karena posisi mereka yang terlalu dekat.
"Teman yang ingin membantumu kabur?" Isaac mencemooh, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Luna. "Dengarkan aku baik-baik, Luna. Kau mungkin membenciku, kau mungkin merasa terjebak dalam perjodohan ini. Tapi selama cincin itu ada di jarimu, jangan pernah biarkan pria lain menginjakkan kaki di sini saat aku ada."
"Kau cemburu?" tantang Luna dengan nada mengejek, meski jantungnya berdegup kencang.
Isaac terdiam sejenak. Ia menatap bibir Luna, lalu kembali ke matanya. Sebuah seringai tipis muncul di wajahnya yang tampan. "Cemburu? Jangan konyol. Aku hanya menjaga reputasiku sebagai calon suami yang sah. Aku tidak mau namaku tercoreng karena calon istrinya bermain api di depan matanya sendiri."
Isaac kemudian berbalik pergi menuju kamarnya tanpa kata lagi, meninggalkan Luna yang mematung dengan perasaan yang berkecamuk. Di balik kemarahannya, Luna bisa merasakan bahwa ejekan Isaac barusan hanyalah tameng untuk menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih dalam—sesuatu yang Isaac sendiri pun takut untuk mengakuinya.